أَوَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَيَنْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَكَانُوا أَشَدَّ مِنْهُمْ قُوَّةً ۚ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعْجِزَهُ مِنْ شَيْءٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ ۚ إِنَّهُ كَانَ عَلِيمًا قَدِيرًا

Tidakkah mereka bepergian di bumi lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka, padahal orang-orang itu lebih besar kekuatannya dari mereka? Dan tidak ada sesuatu pun yang dapat melemahkan Allah, baik di langit maupun di bumi. Sesungguhnya Dia berilmu lagi berkuasa.

Terjemahan bertahap (4 jeda)

  1. أَوَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَيَنْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْa-wa-lam yasiiruu fi l-ardhi fa-yanzhuruu kayfa kaana 'aaqibatu lladziina min qablihimtidakkah mereka bepergian di bumi lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka
  2. وَكَانُوا أَشَدَّ مِنْهُمْ قُوَّةًwa-kaanuu asyadda minhum quwwatanpadahal orang-orang itu lebih besar kekuatannya dari mereka
  3. وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعْجِزَهُ مِنْ شَيْءٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِwa-maa kaana llaahu li-yu'jizahu min syay'in fi s-samaawaati wa-laa fi l-ardhidan tidak ada sesuatu pun yang dapat melemahkan Allah, baik di langit maupun di bumi
  4. إِنَّهُ كَانَ عَلِيمًا قَدِيرًاinnahu kaana 'aliiman qadiiransesungguhnya Dia berilmu lagi berkuasa

Terjemahan per kata (30 kata)

  1. أَوَلَمْa-wa-lamdan tidakkah
  2. يَسِيرُواyasiiruumereka berjalan
  3. فِيfidi
  4. الْأَرْضِl-ardhibumi
  5. فَيَنْظُرُواfa-yanzhuruumaka mereka memperhatikan
  6. كَيْفَkayfabagaimana
  7. كَانَkaanaadalah
  8. عَاقِبَةُ'aaqibatukesudahan
  9. الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
  10. مِنْmindari
  11. قَبْلِهِمْqablihimsebelum mereka
  12. وَكَانُواwa-kaanuudan mereka selalu
  13. أَشَدَّasyaddalebih keras
  14. مِنْهُمْminhumdari mereka
  15. قُوَّةًquwwatankekuatan
  16. وَمَاwa-maadan tidaklah
  17. كَانَkaanaadalah
  18. اللَّهُllaahuAllah
  19. لِيُعْجِزَهُli-yu'jizahuuntuk melemahkan-Nya
  20. مِنْmindari
  21. شَيْءٍsyay'insesuatu
  22. فِيfidi
  23. السَّمَاوَاتِs-samaawaatilangit
  24. وَلَاwa-laadan tidak pula
  25. فِيfidi
  26. الْأَرْضِl-ardhibumi
  27. إِنَّهُinnahusesungguhnya Dia
  28. كَانَkaanaadalah
  29. عَلِيمًا'aliimanberilmu
  30. قَدِيرًاqadiiranMahakuasa

Inti bacaan

Pembuka (أَوَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَيَنْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ, a-wa-lam yasiiruu fii l-ardhi fa-yanzhuruu kayfa kaana 'aaqibatu lladziina min qablihim) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 30:9 dan 35:44.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (أَوَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ, a-wa-lam yasiiruu fii l-ardhi) yang berarti "tidakkah mereka bepergian di bumi". Rangkaian ini muncul tiga kali, yaitu di 30:9, 35:44, dan 40:21. Dengan huruf tanya yang disusul fa, (أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ, a-fa-lam yasiiruu fii l-ardhi), rangkaian yang hampir sama ada di empat ayat, yaitu 12:109, 22:46, 40:82, dan 47:10. Kata kerja (فَيَنْظُرُوا, fa-yanzhuruu) yang berarti "lalu melihat" berakar ن-ظ-ر dan disusul (كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ, kayfa kaana 'aaqibatu) yang berarti "bagaimana kesudahan". Susunan fa-yanzhuruu kayfa kaana 'aaqibatu muncul enam kali di lima surah, yaitu 12:109, 30:9, 35:44, 40:21, 40:82, dan 47:10, dan terjemahan memakai "melihat" di 30:9 dan 35:44. Akar yang sama dipakai di ayat sebelumnya, 35:43, pada (يَنْظُرُونَ, yanzhuruuna) yang diterjemahkan "menunggu", karena di sana kata kerja disusul illaa dan sebuah hal yang akan datang, sedangkan di 35:44 disusul kayfa yang menanyakan keadaan sesuatu.

Kata (عَاقِبَةُ, 'aaqibatu) yang berarti "kesudahan" berakar ع-ق-ب. Bentuk lengkap (عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ, 'aaqibatu lladziina min qablihim) muncul lima kali, yaitu 12:109, 30:9, 35:44, 40:82, dan 47:10. Ayat 35:44 tidak menyebut apa kesudahan itu. Isinya disebut di sebagian ayat lain, misalnya di 47:10, (دَمَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ, dammara llaahu 'alayhim) yang berarti "Allah menghancurkan mereka", dan di 40:21, (فَأَخَذَهُمُ اللَّهُ بِذُنُوبِهِمْ, fa-akhadzahumu llaahu bi-dzunuubihim) yang berarti "lalu, Allah mengazab mereka karena dosa-dosa mereka".

Kekuatan orang-orang itu dinyatakan dengan (وَكَانُوا أَشَدَّ مِنْهُمْ قُوَّةً, wa-kaanuu asyadda minhum quwwatan) yang berarti "padahal orang-orang itu lebih besar kekuatannya dari mereka". Rumus (أَشَدَّ مِنْهُمْ قُوَّةً, asyadda minhum quwwatan) ada di tiga ayat, yaitu 30:9, 35:44, dan 40:21, sedangkan 40:82 memuat susunan yang berdekatan, (وَأَشَدَّ قُوَّةً, wa-asyadda quwwatan). Kata (قُوَّةً, quwwatan) berakar ق-و-ي dan muncul sebelas kali di delapan surah, yaitu 9:69, 11:52, 11:80, 28:78, 30:9, 30:54, 35:44, 40:21, 40:82, 41:15, dan 47:13. Di 30:54, (ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً, tsumma ja'ala min ba'di dha'fin quwwatan) yang berarti "kemudian menjadikan kekuatan setelah keadaan lemah", kata yang sama menyebut kekuatan yang dijadikan.

Pernyataan tentang Allah dibuka dengan (وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعْجِزَهُ, wa-maa kaana llaahu li-yu'jizahu) yang berarti "dan tidak ada ... yang dapat melemahkan Allah". Susunan (وَمَا كَانَ اللَّهُ لِ, wa-maa kaana llaahu li-) muncul enam kali, yaitu 2:143, 3:179, 8:33, 9:115, 29:40, dan 35:44. Di lima ayat lainnya kata kerja sesudahnya menyangkut tindakan Allah terhadap manusia, misalnya mengazab di 8:33 dan menzalimi di 29:40. Di 35:44 kata kerja itu menyangkut sesuatu yang mungkin melemahkan Allah, dan bentuk (لِيُعْجِزَهُ, li-yu'jizahu) hanya ada di ayat ini. Akar ع-ج-ز bentuk keempat dipakai pula di 9:2, (غَيْرُ مُعْجِزِي اللَّهِ, ghayru mu'jizii llaahi) yang berarti "tidak dapat melemahkan Allah", sehingga terjemahan "melemahkan" mengikuti ayat itu.

Cakupan penolakannya dinyatakan dengan (مِنْ شَيْءٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ, min syay'in fii s-samaawaati wa-laa fii l-ardhi) yang berarti "sesuatu pun di langit dan tidak pula di bumi". Rangkaian (وَلَا فِي الْأَرْضِ, wa-laa fii l-ardhi) sesudah langit muncul empat kali, yaitu 10:18, 34:3, 34:22, dan 35:44. Di 34:3 yang disebut tidak tersembunyi bagi Allah adalah seberat zarah, (مِثْقَالُ ذَرَّةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ, mitsqaalu dzarratin fii s-samaawaati wa-laa fii l-ardhi), dan di 34:22 sesembahan selain Allah tidak memiliki seberat zarah di langit dan di bumi. Di 35:44 tidak ada sesuatu di langit dan di bumi yang dapat melemahkan Allah.

Ayat ditutup dengan (إِنَّهُ كَانَ عَلِيمًا قَدِيرًا, innahu kaana 'aliiman qadiiran) yang berarti "sesungguhnya Dia berilmu lagi berkuasa". Susunan persis ini hanya ada di 35:44. Kata (قَدِيرًا, qadiiran), dengan akhiran yang bisa berbeda, muncul enam kali di lima surah, yaitu 4:133, 4:149, 25:54, 33:27, 35:44, dan 48:21. Kedua sifat di 35:44 tidak memakai kata sandang, sehingga ditulis dengan huruf kecil dan tanpa "Maha", berbeda dari (الْعَلِيمُ الْقَدِيرُ, al-'aliimu l-qadiiru) di 30:54 yang memakai kata sandang pada keduanya dan diterjemahkan "Sang Berilmu lagi Sang Berkuasa".

Tafsiran

Ayat ini menaruh dua hal berdampingan, yaitu ajakan melihat kesudahan orang-orang terdahulu dan pernyataan bahwa tidak ada yang melemahkan Allah. Bagian tengahnya menghubungkan keduanya: orang-orang itu lebih besar kekuatannya dari mereka. Kekuatan dijadikan ukuran, dan ayat segera menyebut pihak yang tidak dapat dilemahkan oleh apa pun.

Ayat 35:43 bertanya apa yang mereka tunggu, dan 35:44 menyodorkan hal yang dapat dilihat dengan bepergian. Akar ن-ظ-ر dipakai untuk dua tindakan di dua ayat berurutan, menunggu di 35:43 dan melihat di 35:44. Ayat 35:43 menyatakan pola yang tidak berubah, dan 35:44 menunjukkan tempat memeriksanya, yaitu di bumi yang dapat dijelajahi.

Ayat 30:9 memuat pembuka yang sama sampai kata sebelum mereka, lalu menyebut kekuatan, pengolahan bumi, kedatangan rasul-rasul, dan menutup dengan bahwa Allah tidak menzalimi mereka. Ayat 35:44 melanjutkan dengan kekuatan, lalu menyatakan bahwa tidak ada yang melemahkan Allah. Dua ayat dengan pembuka yang sama itu menutup dengan dua penolakan yang berbeda, penolakan kezaliman di 30:9 dan penolakan kelemahan di 35:44.

Ungkapan kekuatan yang sama dipakai untuk Allah di 41:15, tempat kaum yang menyombongkan diri di bumi berkata, "Siapakah yang lebih hebat kekuatannya daripada kami?", dan ayat itu menjawab dengan (هُوَ أَشَدُّ مِنْهُمْ قُوَّةً, huwa asyaddu minhum quwwatan), yaitu Allah yang menciptakan mereka lebih kuat daripada mereka. Kekuatan orang-orang terdahulu di 35:44 dan kekuatan Allah di 41:15 memakai ungkapan yang sama, dan keduanya dibedakan oleh siapa yang disebut sebagai pemilik kekuatan itu.

Tiga ayat penutup surah ini berakhir dengan kalimat sifat yang dibuka kata kaana: penyantun lagi pengampun di 35:41, berilmu lagi berkuasa di 35:44, dan melihat di 35:45. Di 35:44 pasangan sifat itu ditaruh sesudah penegasan bahwa tidak ada yang melemahkan Allah, sehingga ilmu dan kekuasaan disebut tepat di belakang tantangan terhadap kekuatan.

Renungan dan Hikmah

  • Bukti dalam ayat ini diperoleh dengan bepergian, lalu melihat, dan urutan itu ditandai kata lalu. Ayat tidak meminta mereka membaca atau mendengar uraian tentang kesudahan orang-orang terdahulu. Pembaca yang terbiasa menerima kabar tentang masa lalu dari layar dapat memperhatikan bahwa ayat menaruh bukti di tempat yang dapat dijangkau kaki dan mata. Bagi pembaca yang tinggal jauh dari tempat-tempat itu, ayat tetap memuat pertanyaan yang sama, yaitu apakah kesudahan itu sudah pernah dilihatnya dengan sungguh-sungguh, atau hanya diketahuinya dari kabar?
  • Ayat menyebut kekuatan orang-orang terdahulu lebih besar daripada kekuatan mereka yang diajak bepergian, dan menaruhnya tepat di samping kesudahan. Kesudahan tidak dirinci, sedangkan perbandingan kekuatan disebutkan dengan jelas. Pembaca yang menimbang sandaran hidupnya, seperti modal, jabatan, jaringan, atau kesehatan, dapat menaruh sandaran itu di samping ukuran yang dipakai ayat. Apakah kekuatan yang diandalkan pembaca lebih besar daripada kekuatan orang-orang yang disebut ayat, dan bila tidak, apa yang membuatnya yakin bahwa kesudahannya akan berbeda?
  • Penegasan bahwa tidak ada sesuatu pun yang dapat melemahkan Allah ditaruh pada dua ruang, langit dan bumi, dan kedua ruang itu disebut satu per satu. Di 34:22 sesembahan selain Allah tidak memiliki seberat zarah di dua ruang itu. Pembaca yang mencari tempat di luar jangkauan, entah ketika menyembunyikan kesalahan atau ketika mengandalkan pihak yang dianggap tidak tersentuh, dapat memperhatikan bahwa ayat menutup dua ruang itu tanpa menyisakan ruang ketiga. Ke mana pembaca biasa menaruh hal-hal yang ingin dijauhkan dari pandangan Allah?
  • Dua sifat Allah ditaruh berpasangan sesudah penolakan atas kelemahan: berilmu dan berkuasa. Pembaca yang menilai pemimpin, atasan, atau dirinya sendiri dapat memperhatikan bahwa ayat tidak menyebut salah satu tanpa yang lain pada diri Allah, dan menyebut keduanya dengan urutan yang sama. Hubungan antara ilmu dan kekuasaan itu tidak diuraikan, dan ayat hanya menaruh keduanya di akhir, setelah pembahasan tentang kekuatan yang gagal.
  • Di 41:15 kaum yang menyombongkan diri di bumi bertanya siapa yang lebih hebat kekuatannya daripada mereka, dan ayat itu menjawab dengan menyebut Allah yang menciptakan mereka. Ayat 35:44 mendekati hal yang sama dari sisi lain: kekuatan orang-orang terdahulu disebut lebih besar, lalu Allah disebut tidak dapat dilemahkan. Pertanyaan "siapa yang lebih kuat dari kami" dapat dibaca sebagai pertanyaan yang terus diulang di setiap zaman oleh pihak yang sedang kuat. Siapa yang dibayangkan pembaca sebagai jawaban atas pertanyaan itu ketika kemampuannya sedang berada di puncak?
  • Ayat ini menanyakan kesudahan dan tidak menanyakan awal mula, misalnya kemegahan yang tampak, kekuatan yang terkumpul, atau kecepatan naik. Di 35:26 pembicaranya menyebut perenggutan orang-orang yang kufur lalu menyatakan, "Maka, betapa pengingkaran-Ku!". Pembaca dapat memperhatikan bahwa dua ayat dalam surah yang sama mengarahkan perhatian ke ujung dan tidak ke permulaan. Bila kisah hidup pembaca ditulis dari ujungnya, bagian mana yang kini ia anggap penting akan terbaca sebagai penghias belaka?