بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
Dengan nama Allah, Ar-Rahman, Sang Pengasih.
يس
Yaa Siin.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- يسyaa siinYa Sin
Terjemahan per kata (1 kata)
- يسyaa siinYaa Siin
Inti bacaan
Sumpah (وَالْقُرْآنِ, wa-l-qur'aani) tercatat empat kali di Al-Qur'an, yakni di 9:111, 36:2, 38:1, dan 50:1, dan tiga yang terakhir mengikuti deretan hurufnya.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini berisi satu rangkaian huruf saja, (يس, yaa siin), tersusun dari dua huruf, yaitu (ي, yaa) dan (س, siin). Tulisan Arabnya tidak memuat tanda baris, sehingga kerangka kedua huruf saja tertera di sana. Terjemahan menuliskan nama kedua huruf apa adanya, Yaa Siin, dengan huruf awal besar dan vokal panjang digandakan seperti ejaan di seluruh terjemahan ini. Huruf Siin ditulis dengan cara yang sama di 26:1 dan 28:1, yaitu (طسم, thaa siin miim) yang terjemahannya "Taa Siin Miim". Titik di ujung terjemahan ada karena 36:2 membuka kalimat baru, sedangkan terjemahan 36:2 berakhir dengan koma karena kalimat sumpahnya berlanjut sampai 36:6.
Data morfologi korpus memperlakukan (يس, yaa siin) lain dari kata biasa. Kata-kata di 36:2 diberi akar dan bentuk dasar, misalnya (وَالْقُرْآنِ, wa-l-qur'aani) berakar ق-ر-أ dan (الْحَكِيمِ, l-hakiimi) berakar ح-ك-م. Rangkaian di 36:1 hanya diberi satu tanda, yaitu tanda huruf pembuka, tanpa akar dan tanpa bentuk dasar. Karena akarnya tidak ada, padanan Indonesia tidak dapat dipilih dengan membandingkan pemakaian akar yang sama di ayat lain, cara yang dipakai untuk kata-kata di 36:2 sampai 36:6. Pembandingnya ayat-ayat lain yang dibuka dengan huruf, dan tak satu pun di antaranya bertuliskan Yaa Siin.
Ejaan Yaa pada nama huruf ini sama dengan ejaan kata panggilan (يَا, yaa) di 2:21, (يَا أَيُّهَا النَّاسُ, yaa ayyuhaa n-naasu) yang berarti "wahai manusia". Di 2:21 kata itu bertanda baris dan berdiri di depan pihak yang dipanggil, dan korpus menandainya sebagai kata panggilan. Di 36:1 huruf yang sama tidak bertanda baris, bersambung dengan (س, siin) menjadi satu rangkaian, dan ditandai sebagai huruf pembuka. Karena itu terjemahan tidak menulis "Wahai Siin" dan tidak memperlakukan Siin sebagai nama yang dipanggil.
Huruf (ي, yaa) membuka ayat hanya di dua tempat, yaitu 19:1 dan 36:1. Di 19:1 huruf itu berada di tengah rangkaian lima huruf yang diterjemahkan "Kaaf Haa Yaa Ain Saad", sedangkan di 36:1 huruf itu membuka rangkaian dua huruf. Huruf (س, siin) ada di lima ayat pembuka, yaitu 26:1, 27:1, 28:1, 36:1, dan 42:2, dan di kelimanya Siin menempati urutan kedua. Huruf di depannya Taa di 26:1, 27:1, dan 28:1, 'Ain di 42:2, dan Yaa di 36:1.
Dari ayat yang seluruh isinya huruf pembuka, sembilan memuat tepat dua huruf, yaitu 20:1 "Taa Haa", 36:1 "Yaa Siin", dan tujuh ayat "Haa Miim" di 40:1, 41:1, 42:1, 43:1, 44:1, 45:1, dan 46:1. Rangkaian Yaa Siin menjadi ayat utuh satu kali, di 36:1, sedangkan Haa Miim berulang tujuh kali.
Maksud kedua huruf itu tidak diterangkan di ayat ini, dan 36:2 langsung beralih ke sumpah tanpa menengok kembali ke huruf. Terjemahan karena itu tidak menambahkan keterangan di dalam maupun di samping nama huruf, misalnya kata "huruf", "tanda", atau "wahai".
Tafsiran
Ayat ini membuka surah dengan dua huruf tanpa kalimat, sehingga arah bacaan baru terlihat dari ayat sesudahnya. Ayat 36:2 menyusul dengan sumpah (وَالْقُرْآنِ الْحَكِيمِ, wa-l-qur'aani l-hakiimi) yang berarti "demi Al-Qur'an yang penuh hikmah". Sumpah semacam itu sesudah huruf pembuka ada di enam surah, yaitu di 36:2, 38:1, 43:2, 44:2, 50:1, dan 68:1. Di 38:1, 50:1, dan 68:1 huruf dan sumpah berada dalam satu ayat, sedangkan di surah 36, 43, dan 44 huruf menempati ayatnya sendiri dan sumpah mengisi ayat berikutnya. Di 43:2 dan 44:2 benda yang disumpahkan adalah (الْكِتَابِ الْمُبِينِ, l-kitaabi l-mubiini) yang berarti "Kitab yang jelas", dan di 36:2 Al-Qur'an yang penuh hikmah.
Surah berhuruf lain memilih jalan yang berbeda sesudah hurufnya. Ayat 10:1, 12:1, 13:1, 15:1, 26:2, 27:1, 28:2, dan 31:2 melanjutkan dengan (تِلْكَ آيَاتُ, tilka aayaatu) yang berarti "tanda-tanda itu", dan 32:2, 40:2, 45:2, serta 46:2 melanjutkan dengan (تَنْزِيلُ الْكِتَابِ, tanziilu l-kitaabi) yang berarti "diturunkannya Kitab". Ayat 36:2 tidak memakai kedua jalan itu. Ayat itu langsung bersumpah, dan 36:3 menyusul dengan (إِنَّكَ, innaka) yang berarti "sesungguhnya engkau". Urutan di awal surah 36 dengan demikian dua huruf, sumpah, lalu pernyataan kepada pihak yang disapa, dan kata tentang pengirim bacaan baru tiba di 36:5.
Surah sebelumnya, surah 35, berakhir di 35:45 dengan kalimat tentang Allah yang menangguhkan manusia sampai waktu yang sudah ditentukan dan melihat hamba-hamba-Nya. Ayat 36:1 tidak menyambung kalimat itu dengan kata apa pun. Hubungan antara dua huruf ini dan ayat sebelum atau sesudahnya tidak dinyatakan, sehingga dibiarkan terbuka.
Renungan dan Hikmah
- Ayat 36:1 memuat dua huruf, dan 36:2 beralih ke sumpah tanpa menengok kembali kepada huruf itu. Pembaca yang biasa menutup tiap celah dengan dugaan mendapati satu celah yang dibiarkan terbuka oleh teksnya sendiri. Dugaan yang ditempelkan pada dua huruf itu akan ikut terbawa ke ayat-ayat sesudahnya, sehingga 36:2 sampai 36:6 terbaca lewat dugaan itu dan tidak lewat bunyinya sendiri. Seseorang dapat memeriksa berapa banyak dari apa yang dipegangnya tentang bacaan ini berasal dari bunyi ayat dan berapa banyak dari tebakan yang dulu dipasang pada dua huruf. Sanggupkah pembaca membaca 36:2 dengan tangan kosong, tanpa membawa tebakan itu?
- Enam ayat pertama surah 36 tidak memuat kata Allah. Sesudah huruf pembuka, 40:2, 45:2, dan 46:2 langsung menyebut Kitab dari Allah, dan 3:2 membuka dengan "Allah, tidak ada tuhan selain Dia". Di surah 36 sumpah mengisi 36:2, isi sumpah mengisi 36:3 dan 36:4, dan pengirim bacaan baru muncul di 36:5 lewat dua sifat tanpa nama. Selama jeda itu pembaca menerima bacaan tanpa diberi tahu dari siapa, dan dapat memperhatikan apa yang diisikannya sendiri pada kekosongan itu. Samakah nama yang ditaruhnya di sana dengan sifat yang akhirnya tertulis di 36:5?
- Ayat penutup surah sebelumnya menyebut Allah, penangguhan sampai waktu yang sudah ditentukan, dan penglihatan-Nya terhadap hamba-hamba-Nya. Sesudah ayat yang penuh sebutan itu, 36:1 datang dengan dua huruf tanpa menyebut siapa pun. Pembaca yang masih membawa gambaran tentang penangguhan dan penglihatan itu tidak diberi jembatan berupa kata, dan harus memutuskan sendiri apakah dua huruf itu bagian dari bacaan yang sama atau titik awal yang lain. Teks sendiri tidak mengisi ruang di antara kedua ayat itu. Bagaimana seseorang menimbang keheningan yang datang tepat sesudah kalimat tentang Allah yang melihat hamba-hamba-Nya?
- Dalam urutan mushaf, surah 36 adalah yang pertama menaruh dua huruf di ayatnya sendiri lalu menyusulkan sumpah di ayat berikutnya. Pola yang sama baru kembali di surah 43 dan 44, sedangkan 38:1, 50:1, dan 68:1 menyatukan huruf dan sumpah dalam satu ayat. Pembaca yang menempuh mushaf dari awal bertemu pola ini di sini tanpa pembanding, dan baru di surah 43 dapat berkata bahwa susunan seperti ini pernah dilihatnya. Apa yang terbaca jernih pada pertemuan pertama, dan apa yang baru terbaca ketika sudah ada pertemuan kedua?
- Dua huruf di 36:1 tidak diberi arti, tetapi surah yang sama memperkenalkan pengirim bacaannya di 36:5 lewat dua sifat, Sang Digdaya lagi Sang Pengasih. Dua sifat itu berpasangan juga di 26:9 untuk Tuhanmu, dan sesudah huruf pembuka 41:2 menyebut penurunan dari Ar-Rahman, Sang Pengasih. Pembaca dengan demikian mendapat kepastian tentang sifat pihak yang mengirim, walaupun isi dua huruf itu tidak diketahuinya. Orang yang menerima kiriman yang sebagian isinya tak dipahaminya dapat bertanya pada apa kepercayaannya dipasang. Pada isi yang sudah terbaca, atau pada sifat Tuhan yang mengirimnya?
- Ayat 36:1 tidak memberi arti pada dua hurufnya, lalu 36:2 menyebut Al-Qur'an dengan sifat penuh hikmah. Sifat yang sama dikenakan pada Allah di 39:1, 45:2, dan 46:2, dan pada Kitab di 10:1 dan 31:2. Pembaca dengan demikian bergerak dari bagian yang tidak menyatakan alasannya ke bagian yang menyebut dirinya penuh hikmah, dan keduanya berada dalam satu bacaan. Orang yang menilai sebuah bacaan bagian demi bagian akan menemukan satu bagian yang tak bisa dinilainya, sedangkan orang yang menilai dari sifat yang dinyatakan bacaan itu tentang dirinya memakai ukuran lain. Ukuran mana yang dipakainya untuk bacaan yang sebagian bunyinya tidak bisa diterangkannya?