وَالْقُرْآنِ الْحَكِيمِ
Demi Al-Qur'an yang penuh hikmah,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَالْقُرْآنِ الْحَكِيمِwa-l-qur'aani l-hakiimidemi Al-Qur'an yang penuh hikmah
Terjemahan per kata (2 kata)
- وَالْقُرْآنِwa-l-qur'aanidemi Al-Qur'an
- الْحَكِيمِl-hakiimiyang penuh hikmah
Inti bacaan
Kata (الْحَكِيمِ, l-hakiimi) tercatat sembilan kali di Al-Qur'an, yakni di 3:58, 3:126, 10:1, 31:2, 36:2, 39:1, 45:2, 46:2, dan 62:1.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (وَالْقُرْآنِ, wa-l-qur'aani) yang berarti "demi Al-Qur'an". Bentuk ini tersusun dari awalan (وَ, wa), kata sandang al-, dan qur'aan, nama bacaan yang berakar ق-ر-أ. Bentuk persis ini muncul empat kali, yaitu di 9:111, 36:2, 38:1, dan 50:1. Di 9:111, (وَالْإِنْجِيلِ وَالْقُرْآنِ, wa-l-injiili wa-l-qur'aani) menutup daftar "Taurat, Injil, dan Al-Qur'an", dan wa di sana menyambung nama ketiga sesudah Taurat dan Injil, sehingga terjemahannya "dan". Di 36:2, 38:1, dan 50:1 tidak ada kata benda sebelum wa yang dapat disambungnya, sebab huruf pembuka yang mendahuluinya tidak diberi arti, dan terjemahan memakai "demi". Di 36:2 huruf pembuka bahkan berada di ayat lain, yaitu 36:1, sehingga wa menjadi kata pertama dalam ayatnya.
Ayat ini tidak memuat kata kerja "bersumpah" dan tidak menyebut pelaku sumpah. Terjemahan karena itu tidak menambahkan "aku bersumpah" atau pelaku lain, dan menuliskan "demi" disusul benda sumpahnya saja.
Kata (الْحَكِيمِ, l-hakiimi) yang berarti "yang penuh hikmah" berakar ح-ك-م dan mengikuti Al-Qur'an dengan kata sandang yang sama. Bentuk persis ini muncul sembilan kali, yaitu di 3:58, 3:126, 10:1, 31:2, 36:2, 39:1, 45:2, 46:2, dan 62:1. Di 3:58, (وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ, wa-dz-dzikri l-hakiimi) berarti "dan peringatan yang penuh hikmah", dan di 10:1 serta 31:2, (الْكِتَابِ الْحَكِيمِ, l-kitaabi l-hakiimi) berarti "Kitab yang penuh hikmah". Di 3:126, 39:1, 45:2, 46:2, dan 62:1 sifat yang sama dikenakan pada Allah, dan terjemahan 39:1 menuliskannya "Sang Penuh Hikmah". Satu padanan dengan demikian dipakai untuk bacaan dan untuk Allah. Padanan "penuh hikmah" juga menjaga kaitan dengan kata benda dari akar yang sama, (الْحِكْمَةَ, l-hikmata) yang di 62:2 diterjemahkan "hikmah".
Sumpah demi bacaan memakai keterangan yang berbeda di tiap ayatnya. Di 38:1 keterangannya (ذِي الذِّكْرِ, dzii dz-dzikri) yang berarti "yang mengandung peringatan", dan di 50:1 (الْمَجِيدِ, l-majiidi) yang berarti "yang luhur". Di 43:2 dan 44:2 yang disumpahkan adalah (الْكِتَابِ, l-kitaabi) yang berakar ك-ت-ب, bukan Al-Qur'an, dan keterangannya (الْمُبِينِ, l-mubiini) yang berarti "yang jelas". Sifat hikmah dikenakan pada benda sumpah hanya di 36:2. Terjemahan menjaga perbedaan itu dan tidak meleburkan "luhur", "jelas", dan "penuh hikmah" menjadi satu kata.
Koma di ujung terjemahan menandai bahwa kalimat berlanjut ke 36:3, yang dibuka dengan (إِنَّكَ, innaka) yang berarti "sesungguhnya engkau". Terjemahan tidak menambahkan "yang sedang dibaca" atau kata sejenis pada Al-Qur'an, karena tidak ada kata Arab di ayat ini yang melahirkannya.
Tafsiran
Ayat ini menaruh Al-Qur'an sebagai benda yang disumpahkan, dan ayat tidak menyebut siapa yang bersumpah. Ayat 36:3 sampai 36:6 menyambung dalam satu kalimat dengan 36:2: 36:3 menyatakan kedudukan pihak yang disapa, 36:4 menambahkan tempatnya, 36:5 menyebut sumber penurunan, dan 36:6 menyebut tujuan. Sumpah di 36:2 karena itu terbaca sebagai pembuka yang menunggu pernyataan, dan pernyataannya menyusul langsung.
Pernyataan yang menyusul sumpah demi bacaan tidak sama di tiap surah. Di 43:3, (إِنَّا جَعَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا, innaa ja'alnaahu qur'aanan 'arabiyyan) berarti "sesungguhnya Kami menjadikannya bacaan berbahasa Arab", dan di 44:3, (إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ, innaa anzalnaahu fii laylatin mubaarakatin) berarti "sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi". Kedua ayat itu berbicara tentang bacaan itu sendiri. Di 68:2, (مَا أَنْتَ بِنِعْمَةِ رَبِّكَ بِمَجْنُونٍ, maa anta bi-ni'mati rabbika bi-majnuunin) berarti "engkau, dengan nikmat Tuhanmu, bukanlah orang gila", dan ayat itu berbicara tentang pihak yang disapa dengan kata "engkau", sama seperti 36:3. Di 38:2 dan 50:2 sumpah disusul (بَلِ الَّذِينَ كَفَرُوا, bali lladziina kafaruu) yang berarti "bahkan orang-orang yang kufur" dan (بَلْ عَجِبُوا, bal 'ajibuu) yang berarti "bahkan mereka heran", yaitu kalimat tentang orang lain, dan tidak ada pernyataan yang langsung menyatakan apa yang dikukuhkan sumpah. Surah 36 dengan demikian sejalan dengan surah 68 dalam menyusulkan pernyataan kepada "engkau", berbeda dari 43 dan 44 yang menyusulkan pernyataan tentang bacaan, dan berbeda dari 38 dan 50 yang berbelok kepada orang-orang yang kufur dan yang heran.
Benda yang disumpahkan di 36:2 adalah bacaan yang sama dengan yang sedang dibaca, dan ayat ini sendiri termasuk di dalamnya. Dapat dibaca bahwa bacaan itu dihadirkan sebagai saksi bagi pernyataan tentang pihak yang disapa, tetapi ayat tidak menyatakan fungsi saksi itu dengan kata. Keterangan "penuh hikmah" mendahului pernyataan kedudukan di 36:3 dan keterangan sumber di 36:5, dan tidak ada ayat yang menyatakan bahwa hikmah itu alasan bagi pernyataan sesudahnya.
Renungan dan Hikmah
- Benda yang disumpahkan di 36:2 adalah bacaan yang sedang sedang dibaca atau didengar pembaca, dan ayat 36:2 sendiri termasuk di dalamnya. Pembaca dengan demikian tidak menyaksikan sumpah itu dari luar, sebab kesaksian yang dipanggil berada dalam kegiatan membaca yang sedang berlangsung. Orang yang biasa menilai sebuah klaim dari jarak, sebagai penonton, mendapati bahwa kesaksian yang disebut ayat ini tidak bisa ditonton, hanya bisa dibaca. Apa artinya menjadi pembaca dari saksi yang sedang dipanggil, dan bagaimana kesaksian itu ditimbang bila pembaca tidak bisa mundur selangkah untuk melihatnya?
- Ayat 36:2 memuat kata "demi" tanpa menyebut siapa yang mengucapkannya, dan sapaan "engkau" baru hadir di ayat berikutnya untuk menunjuk pihak yang disapa. Pembaca mendapat sebuah penegasan yang pemiliknya tidak diperkenalkan, dan dapat memperhatikan siapa yang dibayangkannya sebagai pembicara dan dari mana bayangan itu berasal, dari bunyi ayat atau dari kebiasaannya. Di ayat ini pembaca tidak punya pembicara untuk dipercaya atau dicurigai, hanya isi yang menyusul. Seberapa jauh pembaca sanggup menimbang isi 36:3 sampai 36:6 sebelum memutuskan siapa yang dianggapnya sedang berbicara?
- Di 56:76 sebuah sumpah disebut "sumpah yang agung seandainya kalian mengetahui", dan 56:77 sampai 56:80 menyebut Al-Qur'an yang mulia dalam Kitab yang terpelihara, diturunkan dari Tuhan seisi alam. Ayat 56:75 memuat sumpah demi tempat beredarnya bintang, dan sumpah demi Al-Qur'an tidak ada di sana, sehingga kedua ayat itu tidak disamakan. Ayat 36:2 tidak memberi penilaian apa pun pada sumpahnya dan tidak menyebut dari siapa bacaan itu diturunkan, sedangkan 56:80 menyebutnya. Pembaca yang membawa 56:76 ke 36:2 mendapat satu ukuran bobot dari ayat lain, dan dapat bertanya apakah bacaan yang menurut 56:80 diturunkan dari Tuhan seisi alam itu ditimbangnya dengan bobot yang disebut di 56:76 atau dengan bobot buatannya sendiri.
- Ayat 4:82 mengajukan pertanyaan, "Tidakkah mereka menadaburi Al-Qur'an?", dan menyambungnya dengan pengandaian bahwa seandainya Al-Qur'an dari selain Allah, tentu mereka menemukan di dalamnya banyak pertentangan. Ayat 36:2 menyebut Al-Qur'an dengan sifat penuh hikmah dan tidak memberi cara untuk memeriksa sifat itu, sedangkan 4:82 memberi satu cara, yaitu menimbang ada atau tidaknya pertentangan di dalamnya. Konteks 4:82 adalah pertanyaan tentang menadaburi, sedangkan konteks 36:2 adalah sumpah. Pembaca dapat memperlakukan sifat yang dinyatakan di satu tempat sebagai bahan uji di tempat lain, dan dapat bertanya apakah sifat itu pernah diuji dengan membaca sampai ke pertentangan yang dicari, atau diterima karena kebiasaan.
- Ayat 62:1 menyebut Allah dengan sifat Sang Penuh Hikmah, dan 62:2 menyebut Dia yang mengutus seorang rasul yang membacakan tanda-tanda-Nya serta mengajarkan Kitab dan hikmah. Hikmah di 62:2 menjadi sesuatu yang diajarkan di samping Kitab, sedangkan di 36:2 hikmah menjadi keterangan bagi Al-Qur'an itu sendiri. Konteks 62:2 adalah pengutusan, sedangkan konteks 36:2 adalah sumpah, dan tidak ada ayat yang menyamakan keduanya. Pembaca dapat memperhatikan bahwa akar yang sama hadir sebagai sifat, sebagai pokok ajaran, dan sebagai keterangan bacaan, lalu menanyakan di bagian mana dirinya sendiri berada: sebagai penerima sifat, sebagai murid dari ajaran itu, atau sebagai orang yang mendengar keterangannya.
- Al-Qur'an dan Kitab disumpahi dengan keterangan yang berlainan: penuh hikmah di 36:2, mengandung peringatan di 38:1, luhur di 50:1, dan jelas di 43:2 serta 44:2. Satu bacaan digambarkan dari empat sisi, dan tiap surah memilih satu sisi untuk dinyatakan lebih dulu. Pembaca yang mengenal bacaan ini lewat satu keterangan saja, misalnya yang paling sering didengarnya, memegang gambaran yang belum utuh. Tidak ada ayat yang menyatakan urutan di antara keempat keterangan itu. Keterangan mana yang paling dulu terlintas ketika bacaan ini dipikirkan, dan keterangan mana yang belum pernah diperhatikan sampai ayat-ayat sumpah yang lain dibaca?