إِنَّكَ لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ
sesungguhnya engkau benar-benar salah seorang dari para rasul,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- إِنَّكَ لَمِنَ الْمُرْسَلِينَinnaka la-mina l-mursaliinasesungguhnya engkau benar-benar salah seorang dari para rasul
Terjemahan per kata (3 kata)
- إِنَّكَinnakasesungguhnya engkau
- لَمِنَla-minasungguh termasuk
- الْمُرْسَلِينَl-mursaliinapara rasul
Inti bacaan
Kalimat (إِنَّكَ لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ, innaka la-mina l-mursaliina) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 2:252 dan 36:3.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (إِنَّكَ, innaka) yang berarti "sesungguhnya engkau". Bentuk ini tersusun dari (إِنَّ, inna) yang berarti "sesungguhnya" dan akhiran (كَ, -ka) yang berarti "engkau", yaitu satu orang yang disapa. Nama orang itu tidak tertulis di ayat ini, dan terjemahan tidak menambahkan nama atau gelar pada "engkau". Kalimat yang sama muncul di 2:252 dengan satu tambahan di depan, (وَإِنَّكَ, wa-innaka) yang berarti "dan sesungguhnya engkau". Di 36:3 kata itu langsung mengikuti sumpah di 36:2 tanpa wa.
Kata (لَمِنَ, la-mina) tersusun dari (لَ, la-) yang menegaskan dan (مِنَ, mina) yang berarti "dari". Penegas la- dipakai sesudah inna, sehingga kalimat ini memuat dua penegas dalam tiga kata, dan terjemahan menuliskan yang kedua sebagai "benar-benar". Kata mina sebelum bentuk jamak memberi arti keanggotaan: orang yang disebut berada di dalam kelompok itu, dan "salah seorang dari" menyampaikan arti itu. Frasa (لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ, la-mina l-mursaliina) muncul lima kali, yaitu di 2:252, 36:3, 37:123, 37:133, dan 37:139. Di 37:123, 37:133, dan 37:139 keanggotaan itu diberikan kepada Ilyas, Lut, dan Yunus, sedangkan di 2:252 dan 36:3 diberikan kepada "engkau", dan kalimat (إِنَّكَ لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ, innaka la-mina l-mursaliina) hanya muncul di dua ayat itu.
Kata (الْمُرْسَلِينَ, l-mursaliina) berakar ر-س-ل dan berbentuk jamak dari kata yang berarti "orang yang diutus". Bentuk persis ini muncul dua puluh empat kali di sepuluh surah, yaitu di 2:252, 6:34, 6:48, 7:6, 7:77, 15:80, 18:56, 25:20, 26:21, 26:105, 26:123, 26:141, 26:160, 26:176, 28:7, 28:65, 36:3, 36:20, 37:37, 37:123, 37:133, 37:139, 37:171, dan 37:181. Akar yang sama membentuk kata kerja (أَرْسَلْنَا, arsalnaa) yang berarti "Kami mengutus" di 34:44, dan kata "rasul" untuk satu orang ada pada (رَسُولٍ, rasuulin) di 36:30. Terjemahan memakai "para rasul" untuk bentuk jamak ini. Bentuk "yang diutus" menyatakan seseorang yang dikirim oleh pihak lain, sehingga kalimat di 36:3 mengandaikan pengutus yang tidak disebut namanya di ayat ini.
Di 2:252 kalimat yang sama didahului (تِلْكَ آيَاتُ اللَّهِ نَتْلُوهَا عَلَيْكَ بِالْحَقِّ, tilka aayaatu llaahi natluuhaa 'alayka bi-l-haqqi) yang berarti "tanda-tanda Allah ini Kami bacakan kepadamu dengan benar". Di 36:3 kalimat itu didahului sumpah demi Al-Qur'an. Pada kedua tempat kalimat tentang keanggotaan ini menyusul penyebutan bacaan, dan kalimat itu sendiri tidak menyebut siapa yang mengutus.
Koma di ujung terjemahan menandai bahwa kalimat berlanjut ke 36:4. Terjemahan tidak menambahkan "yaitu" atau kata penghubung lain, karena ayat Arab ini berdiri tanpa kata penghubung di antara 36:3 dan 36:4.
Tafsiran
Ayat ini menyusul sumpah di 36:2 dengan pernyataan tentang pihak yang disapa, yaitu bahwa pihak itu termasuk para rasul. Pernyataan itu muncul kembali di dalam surah ini sebagai perkara yang diperdebatkan. Di 36:13 sampai 36:16 para utusan datang ke sebuah negeri, dan penduduknya menjawab (مَا أَنْتُمْ إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُنَا, maa antum illaa basyarun mitslunaa) yang berarti "kalian tidak lain manusia seperti kami". Para utusan menjawab (رَبُّنَا يَعْلَمُ إِنَّا إِلَيْكُمْ لَمُرْسَلُونَ, rabbunaa ya'lamu innaa ilaykum la-mursaluuna) yang berarti "Tuhan kami mengetahui bahwa kami benar-benar diutus kepada kalian". Kalimat itu memakai susunan yang sama dengan 36:3, yaitu penegas inna disusul la- dan kata dari akar ر-س-ل. Di 36:52 orang-orang yang dibangkitkan berkata (وَصَدَقَ الْمُرْسَلُونَ, wa-shadaqa l-mursaluuna) yang berarti "dan benarlah para rasul". Pernyataan di 36:3 dengan demikian ditegaskan di awal surah, ditentang di tengahnya, dan dibenarkan oleh orang-orang yang baru dibangkitkan di bagian akhirnya.
Di surah lain tuduhan yang berlawanan tertulis jelas. Di 13:43, (لَسْتَ مُرْسَلًا, lasta mursalan) yang berarti "engkau bukanlah seorang yang diutus" diucapkan orang-orang yang kufur kepada pihak yang disapa dengan "engkau", dan jawaban di ayat yang sama berbunyi (كَفَىٰ بِاللَّهِ شَهِيدًا, kafaa bi-llaahi syahiidan) yang berarti "cukuplah Allah menjadi saksi". Ayat 36:3 tidak memuat tuduhan itu, tetapi sumpah di 36:2 yang mendahuluinya memberi kesaksian lebih dulu sebelum pernyataan itu disebut.
Ayat 36:3 menyatakan kedudukan dan belum menyatakan isinya. Isi kedudukan itu baru berbentuk tugas di 36:6, ketika disebut tujuan agar "engkau memberi peringatan", dan di antaranya 36:4 menambahkan tempat serta 36:5 menyebut sumber. Penetap keanggotaan itu tidak diberi nama di ayat ini, dan tetap tak bernama sampai sifat sumbernya disebut di 36:5.
Renungan dan Hikmah
- Kalimat tentang keanggotaan di 36:3 memakai susunan yang sama dengan kalimat tentang Ilyas di 37:123, Lut di 37:133, dan Yunus di 37:139. Satu susunan dipakai untuk beberapa orang, dan tidak ada ayat yang menaruh salah satunya di atas yang lain. Pembaca yang membayangkan para rasul sebagai tokoh-tokoh yang berjauhan satu sama lain mendapati bahwa teks menaruh mereka dalam satu barisan dengan kalimat yang bisa saling menggantikan. Apa yang terjadi pada cara seseorang membayangkan orang-orang yang diutus bila orang itu berhenti mengurutkan mereka menurut tinggi rendahnya, dan membacanya sebagai anggota satu kelompok yang sama?
- Di 6:124 sekelompok orang berkata, ketika datang suatu tanda kepada mereka, bahwa mereka tidak akan beriman sampai diberi seperti apa yang diberikan kepada rasul-rasul Allah, dan ayat itu menjawab bahwa Allah lebih mengetahui tempat Dia menempatkan tugas kerasulan-Nya. Ayat 36:3 menyatakan keanggotaan dan tidak menyebut siapa yang menempatkan, sedangkan 6:124 menyebut-Nya. Konteks 6:124 adalah tuntutan akan tanda, sedangkan konteks 36:3 adalah penegasan di bawah sumpah. Pembaca dapat memperhatikan bahwa penilaian tentang siapa yang pantas diberi tugas ditaruh di 6:124 pada Allah dan tidak pada orang yang menuntut. Seseorang yang pernah menuntut tanda lebih dulu sebelum percaya dapat bertanya, tanda macam apa yang disyaratkannya dan siapa yang dianggapnya berhak menentukan tanda itu.
- Di 13:43 orang-orang yang kufur berkata kepada pihak yang disapa, "Engkau bukanlah seorang yang diutus", dan jawaban dalam ayat yang sama tidak mengajukan bukti baru dan menyatakan bahwa cukuplah Allah menjadi saksi antara aku dan kalian. Ayat 36:3 menyatakan hal yang berlawanan dengan tuduhan itu dan dibuka dengan sumpah, dan tidak memuat tuduhan apa pun. Dari dua ayat itu dapat dibaca bahwa penegasan status diletakkan pada saksi, dan bukan pada kemampuan pembicaranya meyakinkan lawan bicara. Pembaca yang pernah dituduh tentang siapa dirinya dapat bertanya, kepada saksi mana pembelaannya diserahkan, dan apakah berhenti sebelum membuktikan sesuatu yang tidak dapat dibuktikan di hadapan lawannya itu mungkin?
- Di 36:15 penduduk negeri itu berkata kepada para utusan bahwa mereka tidak lain manusia seperti dirinya, lalu 36:16 mencatat jawaban para utusan, "Tuhan kami mengetahui bahwa kami benar-benar diutus kepada kalian", dan 36:17 menambahkan bahwa tugas mereka adalah penyampaian yang jelas. Para utusan tidak mengajukan bukti tambahan dalam jawaban itu. Mereka menyebut pengetahuan Tuhan dan batas tugas mereka sendiri. Orang yang kedudukan atau niatnya dipertanyakan dapat memperhatikan jawaban macam apa yang keluar dari mulutnya sendiri, apakah pembelaan panjang atau sebuah penyebutan, dan apakah batas tugasnya diketahui.
- Di 36:52 orang-orang yang dibangkitkan berkata, "Celakalah kami!", lalu mengucapkan bahwa para rasul benar. Kalimat yang di 36:3 ditegaskan dan di 36:16 diperdebatkan akhirnya diucapkan oleh orang-orang yang baru dibangkitkan. Teks tidak menyebut berapa jarak antara penegasan itu dan pembenarannya. Pembaca dapat memperhatikan bahwa pembenaran sebuah kalimat dapat datang di tempat yang jauh dari tempat kalimat itu pertama diucapkan. Seseorang yang menunggu orang lain mengakui sebuah kebenaran yang dipegangnya dapat bertanya, berapa lama pengakuan itu sanggup ditunggu tanpa mengubah apa yang dipegang?
- Ayat 36:3 menyatakan kedudukan, dan 36:6 menyebut bahwa kedudukan itu mengarah pada satu tujuan, yaitu agar pihak yang disapa memberi peringatan kepada suatu kaum. Sebutan sebagai rasul di sini disusul tugas dengan alamat yang disebut, dan ayat-ayat itu tidak menyebut keistimewaan apa pun yang dapat dinikmati. Pembaca yang menyandang sebutan, misalnya jabatan atau gelar, dapat memperhatikan apakah sebutan itu dipakainya sebagai keistimewaan atau sebagai tugas yang punya alamat. Sudahkah sebutan yang disandang dibaca bersama pertanyaan, kepada siapa penyandangnya diutus dan untuk apa?