عَلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
di atas jalan yang lurus,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- عَلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ'alaa shiraathin mustaqiimindi atas jalan yang lurus
Terjemahan per kata (3 kata)
- عَلَىٰ'alaaatas
- صِرَاطٍshiraathinjalan
- مُسْتَقِيمٍmustaqiiminyang lurus
Inti bacaan
Kalimat (عَلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ, 'alaa shiraathin mustaqiimin) muncul enam kali di Al-Qur'an, yaitu di 6:39, 11:56, 16:76, 36:4, 43:43, dan 67:22.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (عَلَىٰ, 'alaa) yang berarti "di atas". Kata itu berdiri tanpa kata kerja, sehingga ayat ini tidak memuat tindakan apa pun dan hanya menambahkan tempat pada kalimat yang dimulai di 36:3. Terjemahan menuliskan "di atas" untuk 'alaa, dan tidak menambahkan "yang berada" atau "yang tegak", karena tidak ada kata Arab di ayat ini yang melahirkannya.
Pasangan (صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ, shiraathin mustaqiimin) muncul delapan belas kali, yaitu di 2:142, 2:213, 3:101, 5:16, 6:39, 6:87, 6:161, 10:25, 11:56, 16:76, 16:121, 22:54, 23:73, 24:46, 36:4, 42:52, 43:43, dan 67:22. Dua belas di antaranya didahului (إِلَىٰ, ilaa) yang berarti "ke", dan enam didahului 'alaa, yaitu 6:39, 11:56, 16:76, 36:4, 43:43, dan 67:22. Dengan ilaa jalan menjadi tujuan yang dituju: di 2:142, (يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ, yahdii man yasyaa'u ilaa shiraathin mustaqiimin) berarti "Dia memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus", dan di 3:101, (هُدِيَ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ, hudiya ilaa shiraathin mustaqiimin) berarti "diberi petunjuk ke jalan yang lurus". Dengan 'alaa jalan menjadi tempat berdiri atau berjalan: di 67:22, (يَمْشِي سَوِيًّا عَلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ, yamsyii sawiyyan 'alaa shiraathin mustaqiimin) berarti "berjalan tegak di atas jalan yang lurus". Terjemahan membedakan keduanya dengan "ke" dan "di atas", sehingga 36:4 memakai "di atas".
Kata ganti "engkau" muncul bersama kedua kata depan itu. Di 43:43, (إِنَّكَ عَلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ, innaka 'alaa shiraathin mustaqiimin) berarti "sesungguhnya engkau berada di atas jalan yang lurus", sama dengan gabungan 36:3 dan 36:4 tanpa kata tentang para rasul. Di 23:73, (لَتَدْعُوهُمْ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ, la-tad'uuhum ilaa shiraathin mustaqiimin) berarti "engkau benar-benar menyeru mereka ke jalan yang lurus", dan di 42:52, (لَتَهْدِي إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ, la-tahdii ilaa shiraathin mustaqiimin) berarti "engkau benar-benar memberi petunjuk ke jalan yang lurus". Di dua ayat terakhir "engkau" bertindak terhadap orang lain, sedangkan di 43:43 dan 36:4 yang disebut keadaan pihak yang disapa sendiri.
Kata (صِرَاطٍ, shiraathin) berakar ص-ر-ط dan bertanda tak tentu, sehingga terjemahan memakai "jalan" tanpa "itu". Bentuk bertentu (الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ, sh-shiraatha l-mustaqiima) hanya muncul di dua ayat, yaitu 1:6 dan 37:118, dan 36:4 tidak termasuk di antaranya.
Kata (مُسْتَقِيمٍ, mustaqiimin) berakar ق-و-م dan diterjemahkan "yang lurus". Sifat itu tidak khusus untuk jalan, sebab di 17:35 dan 26:182, (بِالْقِسْطَاسِ الْمُسْتَقِيمِ, bi-l-qisthaasi l-mustaqiimi) berarti "dengan timbangan yang lurus". Akar ق-و-م yang sama ada pada (قَوْمًا, qawman) yang berarti "kaum" di 36:6, tetapi bentuk dan artinya berbeda, dan ayat-ayat ini tidak menghubungkan keduanya.
Koma di ujung terjemahan menandai bahwa kalimat berlanjut ke 36:5. Terjemahan tidak mengulang "engkau" di ayat ini, karena kata itu tidak tertulis di sini dan hanya terbawa dari 36:3.
Tafsiran
Ayat ini melengkapi pernyataan di 36:3 dengan tempat berdiri, dan tidak berdiri sendiri karena tidak memuat kata kerja. Dibaca bersama 36:3, kalimatnya menyatakan dua hal tentang pihak yang disapa: pihak itu termasuk para rasul, dan berada di atas jalan yang lurus. Susunan yang hampir sama ada di 43:43, tetapi di sana kalimat itu menyusul perintah (فَاسْتَمْسِكْ بِالَّذِي أُوحِيَ إِلَيْكَ, fa-stamsik bi-lladzii uuhiya ilayka) yang berarti "maka berpegang teguhlah pada apa yang diwahyukan kepadamu". Dapat dibaca bahwa di 43:43 keadaan di atas jalan itu diberikan sebagai alasan bagi perintah berpegang pada wahyu. Di 36:4 tidak ada perintah semacam itu. Sebelum kalimatnya hanya ada sumpah di 36:2, dan sesudahnya 36:5 menyebut asal bacaan.
Urutan keterangan di 36:3 sampai 36:6 menaruh keadaan lebih dulu dan kegiatan kemudian. Ayat 36:3 menyatakan kedudukan, 36:4 menyatakan tempat berdiri, 36:5 menyatakan sumber penurunan, dan baru 36:6 menyatakan kegiatan terhadap orang lain, yaitu agar "engkau memberi peringatan". Dua ayat lain memasangkan "engkau" dengan ilaa dan kata kerja yang menyatakan kegiatan, yaitu menyeru di 23:73 dan memberi petunjuk di 42:52. Surah 36 tidak memakai pola itu di awalnya. Surah ini menyebut keadaan pihak yang disapa lebih dulu, dan kegiatan terhadap orang lain datang sesudah sumber bacaan disebut.
Ayat ini tidak memerinci jalan itu. Kata "lurus" tidak diberi isi, dan 36:5 serta 36:6 pun tidak menjabarkannya. Dapat dibaca bahwa isi jalan itu berkaitan dengan bacaan yang disebut diturunkan di 36:5, tetapi tidak ada ayat di rangkaian ini yang menyatakan hubungan itu.
Renungan dan Hikmah
- Di 22:54 Allah disebut pemberi petunjuk kepada orang-orang yang beriman ke jalan yang lurus, sedangkan 36:4 menyebut pihak yang disapa sudah berada di atasnya. Kata depan yang dipakai berbeda, ke dan di atas, dan dua ayat itu tidak saling menafsirkan. Dari keduanya dapat dibaca dua kedudukan terhadap jalan yang sama: sedang dituntun menuju, dan sudah berdiri di atasnya. Pembaca yang menyebut dirinya berada di jalan yang lurus dapat memeriksa kata depan mana yang pantas bagi dirinya. Masihkah pembaca sedang dituntun ke sana, ataukah sudah merasa berdiri di atasnya, dan apa yang berbeda dalam cara melangkah pada kedua keadaan itu?
- Di 43:43 kalimat tentang berada di atas jalan yang lurus menyusul perintah berpegang teguh pada apa yang diwahyukan, dan di 3:101 orang yang berpegang teguh pada Allah disebut telah diberi petunjuk ke jalan yang lurus. Konteks 43:43 adalah perintah kepada pihak yang disapa dan konteks 3:101 adalah kalimat tentang siapa saja yang berpegang, dan pada keduanya berpegang disebut sebelum jalan. Ayat 36:4 tidak memuat kata berpegang, dan 36:2 sudah menyebut bacaan sebelum kalimat itu. Pembaca dapat memperhatikan apa yang sebenarnya digenggam ketika dirinya disebut berada di jalan itu, bacaan, sebuah kebiasaan, atau gambaran tentang dirinya sendiri. Apakah genggamannya pada Allah dan pada bacaan itu lebih dulu ada, atau jalannya disebut dulu dan baru kemudian dicari apa yang digenggam?
- Di 67:22 dua orang dibandingkan: yang berjalan tertelungkup di atas wajahnya dan yang berjalan tegak di atas jalan yang lurus, lalu ayat itu bertanya siapa di antara keduanya yang lebih mendapat petunjuk. Ayat 36:4 memakai kata yang sama untuk jalan, dan menaruhnya sebagai tempat berdiri. Dua ayat itu berbeda konteks, tetapi sama-sama membayangkan jalan sebagai sesuatu yang dipijak. Kedua orang itu dibedakan lewat sikap tubuhnya, wajah yang tertelungkup dan badan yang tegak, dan tidak lewat apa pun yang mereka katakan. Pembaca dapat memeriksa sikap tubuhnya sendiri ketika berjalan di jalan yang disebutnya lurus. Ke arah apa wajahnya menghadap selama berjalan, dan kapan terakhir badannya ditegakkan untuk melihat arah jalan itu?
- Di 16:76 Allah membuat perumpamaan dua laki-laki, yang seorang bisu dan menjadi beban penanggungnya, dan yang seorang lagi memerintahkan keadilan sambil berada di atas jalan yang lurus. Ayat itu bertanya apakah keduanya sama. Susunan kalimat tentang orang kedua menaruh dua hal berdampingan, apa yang diperintahkan dan tempat berdirinya. Ayat 36:4 menyebut tempat berdiri dan tidak menyebut perintah, sehingga keselarasan antara perintah dan tempat itu menjadi bahan yang bisa diperiksa pembaca. Orang yang menasihati orang lain dapat bertanya apakah tempat berdirinya sendiri sejalan dengan apa yang diperintahkannya, dan seberapa sering hal itu diperiksa?
- Di 11:56 pembicara menyatakan bertawakal kepada Allah, Tuhannya dan Tuhan orang-orang yang diajaknya bicara, lalu menyatakan bahwa Dia memegang ubun-ubun tiap makhluk melata, dan menutup dengan "Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus". Frasa yang sama dengan 36:4 dipakai di sana untuk Tuhan dan di 36:4 untuk pihak yang disapa. Ayat-ayat itu berbeda konteks dan tidak ada ayat yang menyamakan keduanya. Dapat dibaca bahwa jalan yang lurus tidak dimiliki satu pihak saja dalam bacaan ini, sebab frasa itu dikenakan pada yang diutus dan, dalam ucapan seorang yang bertawakal, pada Tuhan. Seseorang dapat bertanya, jalan siapa yang dimaksud ketika seseorang berkata bahwa dirinya berada di jalan yang lurus?
- Urutan di 36:3 sampai 36:6 menyebut keadaan lebih dulu, yaitu kedudukan dan tempat berdiri, dan kegiatan terhadap orang lain baru sesudahnya, yaitu memberi peringatan. Dua ayat lain, 23:73 dan 42:52, menyebut kegiatan dengan kata kerja menyeru dan memberi petunjuk tanpa menyebut tempat berdiri lebih dulu. Pembaca yang memikirkan tugasnya terhadap orang lain dapat memperhatikan urutan mana yang diikuti: bergerak lebih dulu lalu mencari tempat berdiri, atau menemukan tempat berdiri lebih dulu lalu bergerak. Ketika menyerukan sesuatu kepada orang lain, apakah ia lebih dulu bertanya di atas apa dirinya sendiri berdiri?