تَنْزِيلَ الْعَزِيزِ الرَّحِيمِ
diturunkan oleh Sang Digdaya lagi Sang Pengasih,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- تَنْزِيلَ الْعَزِيزِ الرَّحِيمِtanziila l-'aziizi r-rahiimiditurunkan oleh Sang Digdaya lagi Sang Pengasih
Terjemahan per kata (3 kata)
- تَنْزِيلَtanziiladiturunkan
- الْعَزِيزِl-'aziiziSang Digdaya
- الرَّحِيمِr-rahiimiSang Pengasih
Inti bacaan
Pasangan (الْعَزِيزِ الرَّحِيمِ, l-'aziizi r-rahiimi) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 26:217 dan 36:5, dan bentuk (تَنْزِيلَ, tanziila) hanya ada di 36:5.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (تَنْزِيلَ, tanziila) yang berarti "diturunkan", kata benda dari akar ن-ز-ل yang menyebut peristiwa penurunan. Bentuk persis dengan akhiran -a ini hanya muncul di 36:5. Bentuk dengan akhiran -u, (تَنْزِيلُ, tanziilu), ada di enam ayat, yaitu 26:192, 32:2, 39:1, 40:2, 45:2, dan 46:2, dan bentuk (تَنْزِيلٌ, tanziilun) ada di empat ayat, yaitu 41:2, 41:42, 56:80, dan 69:43. Teks 36:5 tidak memuat kata kerja yang menjadi pasangan bentuk -a itu, sehingga terjemahan tidak menambahkan "Kami turunkan" atau pelaku lain.
Terjemahan memakai "oleh" bila pihak penurun menyambung langsung pada kata penurunan, seperti (لَتَنْزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ, la-tanziilu rabbi l-'aalamiina) di 26:192 yang berarti "diturunkan oleh Tuhan seisi alam". Terjemahan memakai "dari" bila ada kata (مِنْ, min) di antaranya, seperti (تَنْزِيلٌ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ, tanziilun min rabbi l-'aalamiina) di 56:80 yang berarti "diturunkan dari Tuhan seisi alam". Di 36:5 tidak ada min, sehingga terjemahannya "diturunkan oleh".
Kata (الْعَزِيزِ, l-'aziizi) yang berarti "Sang Digdaya" berakar ع-ز-ز. Bentuk persis ini muncul delapan belas kali, yaitu di 3:126, 6:96, 12:30, 12:51, 14:1, 26:217, 34:6, 36:5, 36:38, 38:9, 39:1, 40:2, 40:42, 41:12, 45:2, 46:2, 62:1, dan 85:8. Di 12:30 dan 12:51 kata ini menjadi sebutan bagi seorang pejabat dalam (امْرَأَتُ الْعَزِيزِ, imra'atu al-'aziizi) yang berarti "istri al-Aziz". Di enam belas ayat lain kata ini menjadi sifat, dan pasangannya berbeda-beda: (الْحَكِيمِ, l-hakiimi) di 3:126, 39:1, 45:2, 46:2, dan 62:1, (الْعَلِيمِ, l-'aliimi) di 6:96, 36:38, 40:2, dan 41:12, (الْحَمِيدِ, l-hamiidi) di 14:1, 34:6, dan 85:8, (الْوَهَّابِ, l-wahhaabi) di 38:9, (الْغَفَّارِ, l-ghaffaari) di 40:42, serta (الرَّحِيمِ, r-rahiimi) di 26:217 dan 36:5.
Kata (الرَّحِيمِ, r-rahiimi) yang berarti "Sang Pengasih" berakar ر-ح-م, dan terjemahan memakai "Sang Pengasih" tanpa "Maha" bila kata ini bertanda tentu. Pasangan (الْعَزِيزِ الرَّحِيمِ, l-'aziizi r-rahiimi) dengan akhiran seperti ini hanya muncul di 26:217 dan 36:5. Pasangan dengan akhiran -u, (الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ, l-'aziizu r-rahiimu), muncul sebelas kali, yaitu di 26:9, 26:68, 26:104, 26:122, 26:140, 26:159, 26:175, 26:191, 30:5, 32:6, dan 44:42. Di 26:9, (وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ, wa-inna rabbaka la-huwa l-'aziizu r-rahiimu) berarti "dan sesungguhnya Tuhanmu, Dialah Sang Digdaya lagi Sang Pengasih". Ayat 36:5 sendiri tidak menyebut nama pihak yang disifati, dan sifat yang sama dikenakan pada Tuhanmu di 26:9.
Kata (الرَّحْمَٰنِ, r-rahmaani) dari akar yang sama tidak dipakai di ayat ini. Kata itu ada di surah 36 sendiri, yaitu di 36:11, 36:15, 36:23, dan 36:52, dan terjemahan memakai "Ar-Rahman" untuknya, berbeda dari "Sang Pengasih" untuk rahiim.
Koma di ujung terjemahan menandai bahwa kalimat berlanjut ke 36:6. Terjemahan tidak menambahkan "sebagai wahyu" atau "Allah", karena tidak ada kata Arab di ayat ini yang melahirkannya.
Tafsiran
Ayat ini menyebut dari siapa bacaan berasal, dan menyebutnya lewat dua sifat tanpa nama. Urutan di 36:2 sampai 36:6 menaruh sumber sesudah sumpah, kedudukan, dan tempat berdiri, dan sebelum tujuan. Pembaca dengan demikian mengetahui sifat pengirim lebih dulu daripada namanya, dan nama itu tidak tertulis di enam ayat pertama surah ini.
Pembagian sifat di rangkaian ini berbeda dari tiga ayat lain yang memakai pasangan penurunan dan sumber. Di 39:1, 45:2, dan 46:2 sifat hikmah dikenakan pada pengirim, yaitu Allah Sang Digdaya lagi Sang Penuh Hikmah. Di surah 36 sifat hikmah sudah dipakai untuk bacaan di 36:2, dan pengirim di 36:5 diberi sifat yang lain, yaitu digdaya dan pengasih. Hikmah berada pada bacaan, dan kekuatan serta kasih berada pada yang menurunkannya.
Ayat 36:4 menyebut jalan yang lurus dan 36:5 menyebut Sang Digdaya, dua kata yang di 34:6 tersambung langsung dalam (إِلَىٰ صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ, ilaa shiraathi l-'aziizi l-hamiidi) yang berarti "ke jalan Sang Digdaya lagi Sang Terpuji", dan juga di 14:1. Di 36:4 dan 36:5 kedua kata itu dipisahkan batas ayat dan tidak disambung, sehingga 36:5 tidak menyatakan bahwa jalan itu milik Sang Digdaya.
Penurunan yang dinyatakan di 36:5 disangkal di dalam surah yang sama. Di 36:15 penduduk sebuah negeri berkata (وَمَا أَنْزَلَ الرَّحْمَٰنُ مِنْ شَيْءٍ, wa-maa anzala r-rahmaanu min syay'in) yang berarti "dan Ar-Rahman tidak menurunkan sesuatu apa pun". Kata kerja (أَنْزَلَ, anzala) yang berarti "menurunkan" di sana berakar sama dengan tanziila di 36:5. Ayat 17:110 menyebut (ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَٰنَ, d'uu llaaha awi d'uu r-rahmaana) yang berarti "serulah Allah atau serulah Ar-Rahman", sehingga dua nama itu dipakai untuk satu pihak yang diseru. Penurunan dinyatakan di awal surah dan disangkal di tengahnya, sebagaimana kedudukan di 36:3 dinyatakan di awal dan diperdebatkan di 36:15 sampai 36:16.
Ayat 36:5 menyiapkan 36:6. Sesudah sifat pengirim disebut, 36:6 menyebut apa yang dikehendaki dari penurunan itu, yaitu agar pihak yang disapa memberi peringatan kepada suatu kaum.
Renungan dan Hikmah
- Sang Digdaya disebut bersama Sang Pengasih tanpa kata penghubung apa pun di 36:5, dan sifat yang sama berpasangan untuk Tuhanmu di 26:9. Kedua sifat itu diletakkan berdampingan, sehingga pembaca tidak diberi kesempatan membayangkan yang satu tanpa yang lain. Pembaca yang cenderung memikirkan sumber sebuah bacaan lewat salah satunya saja, kekuasaan yang mengatur atau kasih yang menenangkan, mendapati ayat ini menyebut keduanya sekaligus. Pembaca dapat bertanya, sifat mana yang lebih dulu terbayang ketika memikirkan Dia yang menurunkan bacaan ini, dan apa yang hilang dari gambarannya bila yang satu ditinggalkan?
- Di 26:217 perintah bertawakal ditujukan kepada Sang Digdaya lagi Sang Pengasih, dengan dua sifat yang sama dengan 36:5. Dari dua ayat itu dapat dibaca bahwa pihak yang menurunkan bacaan juga pihak yang kepadanya orang menyandarkan diri, meskipun 36:5 sendiri tidak memuat kata bertawakal. Ayat-ayat itu berbeda konteks dan tidak saling menafsirkan. Orang yang sedang bergantung pada sesuatu, misalnya pekerjaan, hubungan, atau kebiasaan, dapat memperhatikan sifat apa yang diandalkan dari sandarannya. Apakah sandaran itu kuat tetapi tidak pernah mengasihi, atau mengasihi tetapi tidak sanggup menopang, dan sifat mana dari keduanya yang dicari lebih dulu?
- Kata yang di 36:5 menjadi sifat Sang Digdaya dipakai di 12:30 dan 12:51 sebagai sebutan bagi seorang pejabat, dalam kalimat tentang istrinya. Satu kata dengan demikian dikenakan pada manusia dalam sebuah kisah dan pada pihak yang menurunkan bacaan dalam ayat ini, tanpa ayat yang menyamakan keduanya. Pembaca dapat memperhatikan bahwa kata yang sama tampil di dua lingkungan yang sangat berbeda, di samping kasih pada 36:5 dan di samping urusan keluarga seorang pejabat pada 12:30. Seseorang dapat bertanya, kepada siapa saja kata digdaya atau perkasa pernah ia ucapkan, dan apakah apa yang menyertai kata itu pada tiap pihak pernah diperiksa?
- Ayat 36:5 menyebut bacaan diturunkan oleh pihak yang disifati, dan di 36:15 penduduk sebuah negeri berkata bahwa Ar-Rahman tidak menurunkan sesuatu apa pun. Di 17:110 Allah dan Ar-Rahman disebut sebagai dua nama yang boleh diseru. Dapat dibaca bahwa ucapan di 36:15 menyangkal penurunan yang dinyatakan di 36:5, tetapi 36:5 tidak menyebut nama itu dan 36:15 tidak menyebut dua sifat tadi. Surah ini membiarkan penyangkalan itu tercatat tanpa menyelanya dengan bantahan. Pembaca yang pernah mendengar penyangkalan terhadap sesuatu yang dipercayainya dapat memperhatikan sikapnya sendiri ketika mendengarnya. Ingin segera menyelakah, atau kalimat itu dapat dibiarkan selesai seperti surah ini membiarkannya?
- Di 28:46 sebuah ayat menyebut bahwa pihak yang disapa diutus sebagai rahmat dari Tuhanmu, agar pihak itu memberi peringatan kepada kaum yang belum didatangi pemberi peringatan sebelumnya. Rahmat dan peringatan di sana disebut dalam satu kalimat. Di 36:5 sifat pengasih disebut lebih dulu, dan di 36:6 peringatan menyusul sebagai tujuan, dengan urutan yang sama dengan 28:46 walaupun ayatnya berbeda. Pembaca yang terbiasa menganggap peringatan sebagai ancaman dapat memperhatikan bahwa ayat-ayat ini menaruhnya di samping kasih. Dari peringatan yang pernah diterima sebagai bentuk kepedulian, siapa yang pertama diingat ketika peringatan semacam itu dibayangkan datang dari Tuhan yang disebut Sang Pengasih?
- Sifat Sang Digdaya dan Sang Berilmu dikenakan di 36:38 pada ketetapan matahari yang berjalan menuju tempat ketetapannya, dalam surah yang sama dengan 36:5. Digdaya yang sama disebut di awal sebagai pengirim bacaan dan di tengah sebagai penentu peredaran matahari. Dua penyebutan itu berbeda konteks, dan tidak ada ayat yang menyatakan bahwa bacaan dan matahari berasal dari sumber yang sama dalam satu kalimat. Pembaca yang melihat matahari bergerak tiap hari dapat bertanya apakah keteraturan itu pernah dihubungkannya dengan sifat pengirim bacaan yang sedang dibacanya, dan apa yang berubah pada pembacaannya bila hubungan itu ditarik?