لِتُنْذِرَ قَوْمًا مَا أُنْذِرَ آبَاؤُهُمْ فَهُمْ غَافِلُونَ

agar engkau memberi peringatan kepada suatu kaum yang nenek moyang mereka belum diberi peringatan, sehingga mereka lalai.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. لِتُنْذِرَ قَوْمًا مَا أُنْذِرَ آبَاؤُهُمْ فَهُمْ غَافِلُونَli-tundzira qawman maa undzira aabaa'uhum fa-hum ghaafiluunaagar engkau memberi peringatan kepada suatu kaum yang nenek moyang mereka belum diberi peringatan, sehingga mereka lalai

Terjemahan per kata (7 kata)

  1. لِتُنْذِرَli-tundziraagar engkau memperingatkan
  2. قَوْمًاqawmankaum
  3. مَاmaatidaklah
  4. أُنْذِرَundziradiperingatkan
  5. آبَاؤُهُمْaabaa'uhumleluhur mereka
  6. فَهُمْfa-hummaka mereka
  7. غَافِلُونَghaafiluunaorang-orang yang lalai

Inti bacaan

Kata (غَافِلُونَ, ghaafiluuna) muncul sembilan kali di Al-Qur'an, yaitu di 6:131, 7:179, 10:7, 10:92, 12:13, 16:108, 30:7, 36:6, dan 46:5.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (لِتُنْذِرَ, li-tundzira) yang berarti "agar engkau memberi peringatan". Bentuk ini tersusun dari awalan (لِ, li-) yang berarti "agar" dan kata kerja (تُنْذِرَ, tundzira) yang berarti "engkau memberi peringatan", dari akar ن-ذ-ر, dengan "engkau" menunjuk satu orang yang disapa sejak 36:3. Bentuk persis (لِتُنْذِرَ, li-tundzira) muncul enam kali, yaitu di 6:92, 7:2, 28:46, 32:3, 36:6, dan 42:7, dan di 6:92 bentuk itu didahului wa. Benda yang diperingatkan di 6:92 dan 42:7 adalah (أُمَّ الْقُرَىٰ, umma l-quraa) dan orang di sekitarnya, di 7:2 adalah sebuah Kitab yang disebut dengan bihi, "dengannya", dan di 28:46, 32:3, serta 36:6 adalah (قَوْمًا, qawman). Terjemahan memakai "agar engkau memberi peringatan" di keenam ayat itu.

Kata (قَوْمًا, qawman) yang berarti "kaum" berakar ق-و-م dan tidak memakai kata sandang, sehingga terjemahan menuliskan "suatu kaum". Nama dan tempat kaum itu tidak tertulis di ayat ini. Keterangan tentang mereka hanya datang dari anak kalimat sesudahnya.

Anak kalimat (مَا أُنْذِرَ آبَاؤُهُمْ, maa undzira aabaa'uhum) memuat kata (أُنْذِرَ, undzira) yang berarti "diberi peringatan", dari akar yang sama dengan tundzira. Bentuk jamaknya, (أُنْذِرُوا, undziruu), ada di 18:56 dan 46:3. Kata (مَا, maa) dapat dibaca dua cara, yaitu "apa yang" atau "tidak" atau "belum". Di 18:56, (وَمَا أُنْذِرُوا هُزُوًا, wa-maa undziruu huzuwan) berarti "dan apa yang diperingatkan kepada mereka mereka jadikan olok-olok", dan di 46:3, (عَمَّا أُنْذِرُوا, 'ammaa undziruu) berarti "dari apa yang diperingatkan kepada mereka"; data morfologi menandai maa di kedua ayat itu sebagai "apa yang". Di 36:6 data yang sama menandai maa sebagai penafian, dan terjemahan memilih "belum" karena dua alasan. Pertama, pembukanya sama dengan 28:46, (لِتُنْذِرَ قَوْمًا مَا أَتَاهُمْ مِنْ نَذِيرٍ مِنْ قَبْلِكَ, li-tundzira qawman maa ataahum min nadziirin min qablika) yang berarti "agar engkau memberi peringatan kepada kaum yang belum didatangi seorang pemberi peringatan sebelum engkau", dan di sana kata (مِنْ نَذِيرٍ, min nadziirin) yang berarti "seorang pemberi peringatan" menunjukkan bahwa maa menafikan. Pembuka yang sama dipakai di 32:3. Kedua, ayat ini ditutup dengan kelalaian sebagai keadaan kaum itu, dan keadaan itu terbaca sejalan dengan kaum yang belum didatangi pemberi peringatan. Bacaan "apa yang diperingatkan kepada nenek moyang mereka" tidak dipakai karena pembukanya tidak mengikuti pola 18:56 dan 46:3, tetapi pola 28:46 dan 32:3.

Kata (آبَاؤُهُمْ, aabaa'uhum) yang berarti "nenek moyang mereka" berakar ا-ب-و dan muncul empat kali, yaitu di 2:170, 5:104, 11:109, dan 36:6. Di 2:170, (أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ شَيْئًا, a-wa-law kaana aabaa'uhum laa ya'qiluuna syay'an) berarti "apakah walaupun nenek moyang mereka tidak berakal sedikit pun", dan 5:104 memakai susunan yang serupa. Di dua ayat itu nenek moyang menjadi ukuran yang diikuti. Di 36:6 nenek moyang menjadi pihak yang belum diberi peringatan, sehingga kata yang sama menunjuk ke arah yang berlawanan dengan 2:170 dan 5:104.

Kata (فَهُمْ غَافِلُونَ, fa-hum ghaafiluuna) yang berarti "sehingga mereka lalai" tersusun dari awalan (فَ, fa) yang berarti "maka" atau "sehingga", kata ganti (هُمْ, hum) yang berarti "mereka", dan (غَافِلُونَ, ghaafiluuna) dari akar غ-ف-ل. Bentuk ghaafiluuna muncul sembilan kali, yaitu di 6:131, 7:179, 10:7, 10:92, 12:13, 16:108, 30:7, 36:6, dan 46:5. Di empat ayat kata ini disusul keterangan tentang yang dilalaikan dengan kata (عَنْ, 'an): (عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ, 'ani l-aakhirati hum ghaafiluuna) di 30:7, (عَنْ دُعَائِهِمْ غَافِلُونَ, 'an du'aa'ihim ghaafiluuna) di 46:5, dan (عَنْ آيَاتِنَا غَافِلُونَ, 'an aayaatinaa ghaafiluuna) di 10:7 serta 10:92. Di 36:6 dan 6:131, (وَأَهْلُهَا غَافِلُونَ, wa-ahluhaa ghaafiluuna), kata ini berdiri tanpa keterangan tentang yang dilalaikan. Terjemahan memakai "lalai" di 36:6, 6:131, 10:7, 12:13, 16:108, 30:7, dan 46:5.

Titik di ujung terjemahan menutup kalimat panjang yang dimulai di 36:2. Terjemahan tidak menambahkan nama atau gelar pada "engkau" dan tidak menambahkan keterangan tentang apa yang dilalaikan, karena tidak ada kata Arab di ayat ini yang melahirkannya.

Tafsiran

Ayat ini menutup kalimat panjang 36:2 sampai 36:6 dengan tujuan. Sumpah, kedudukan, tempat berdiri, dan sumber penurunan disebut lebih dulu, dan baru di sini pembaca mengetahui untuk apa semuanya disusun: agar pihak yang disapa memberi peringatan kepada suatu kaum. Kaum itu disebut lewat keadaan mereka, yaitu nenek moyangnya belum diberi peringatan dan mereka lalai.

Surah 35, yang mendahului surah ini, memuat (وَإِنْ مِنْ أُمَّةٍ إِلَّا خَلَا فِيهَا نَذِيرٌ, wa-in min ummatin illaa khalaa fiihaa nadziirun) di 35:24 yang berarti "dan tidak ada satu umat pun kecuali telah berlalu padanya seorang pemberi peringatan". Ayat 36:6 menyebut kaum yang nenek moyangnya belum diberi peringatan. Dua ayat itu memakai kata yang berbeda, umat di 35:24 dan kaum di 36:6, dan tidak ada keterangan tentang bagaimana keduanya selaras. Dapat dibaca bahwa umat dan kaum menunjuk kelompok dengan batas yang berbeda, tetapi tidak ada ayat yang menyatakannya. Pernyataan serupa 36:6 ada di 28:46 dan 32:3 untuk kaum yang belum didatangi pemberi peringatan sebelum "engkau", dan di 34:44 yang menyebut bahwa kepada mereka tidak diutus pemberi peringatan sebelum "engkau".

Ayat berikutnya berakhir dengan kalimat yang bentuknya sama dengan akhir 36:6. Ayat 36:6 berakhir dengan (فَهُمْ غَافِلُونَ, fa-hum ghaafiluuna) yang berarti "sehingga mereka lalai", dan 36:7 berakhir dengan (فَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ, fa-hum laa yu'minuuna) yang berarti "maka mereka tidak beriman". Yang pertama menyebut lalai sebagai keadaan kaum yang belum diperingatkan, dan yang kedua menyebut tidak beriman sebagai keadaan yang menyusul (لَقَدْ حَقَّ الْقَوْلُ عَلَىٰ أَكْثَرِهِمْ, la-qad haqqa l-qawlu 'alaa aktsarihim) yang berarti "sungguh telah berlaku perkataan atas kebanyakan mereka". Sesudah itu 36:10 menyatakan (سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ, sawaa'un 'alayhim) yang berarti "sama saja bagi mereka" apakah peringatan diberikan atau tidak, dan 36:11 menyempitkan sasaran peringatan kepada orang yang mengikuti peringatan itu dan takut kepada Ar-Rahman tanpa melihat-Nya. Tujuan di 36:6 tidak membatasi kaum itu pada sebagian orang, sedangkan 36:10 dan 36:11 menyebut bahwa tidak semuanya akan menyambut.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat 36:6 menyebut kelalaian kaum itu dalam satu kalimat dengan keadaan nenek moyangnya yang belum diberi peringatan, sehingga kelalaian itu tidak berdiri sebagai cacat watak. Kelalaian itu datang bersama sebuah kekosongan yang tertulis di tempat yang sama. Pembaca yang cepat menilai seseorang lalai dapat memperhatikan bahwa ayat ini menaruh sebab di samping keadaan, dan tidak menyebut kelalaian itu sebagai pilihan. Sebelum mencap seseorang lalai terhadap sesuatu, apakah sesuatu itu pernah sampai kepadanya, dan lewat siapa?
  • Di 6:131 Tuhanmu disebut tidak membinasakan negeri-negeri secara zalim sedangkan penduduknya lalai, dan 28:59 menyebut bahwa Tuhanmu tidak akan membinasakan negeri-negeri sebelum Dia mengutus seorang rasul di ibukotanya yang membacakan tanda-tanda Kami kepada mereka. Ayat-ayat itu berbicara tentang pembinasaan, sedangkan 36:6 berbicara tentang peringatan, sehingga tiganya tidak disamakan. Pada ketiganya kelalaian dan peringatan disebut berdampingan. Pembaca dapat memperhatikan bahwa dalam bacaan ini penduduk yang lalai belum menjadi sasaran penghakiman sebelum peringatan sampai kepada mereka. Apa yang berubah pada cara seseorang menilai orang yang belum mendengar, bila membaca ayat-ayat yang menyebut pembinasaan negeri hanya sesudah peringatan atau rasul sampai kepada penduduknya?
  • Di 5:104 orang diajak mengikuti sesuatu yang Allah turunkan, dan mereka menjawab cukuplah bagi mereka apa yang didapati pada nenek moyang mereka. Di 36:6 kata yang sama menunjuk nenek moyang yang belum diberi peringatan, sehingga ukuran yang dipegang kaum di 5:104 dan kekosongan yang disebut di 36:6 sama-sama berasal dari generasi sebelumnya. Konteks 5:104 adalah ajakan mengikuti yang Allah turunkan, sedangkan konteks 36:6 adalah tujuan peringatan. Orang yang memegang sesuatu karena diwarisi dapat bertanya apakah warisan itu berisi peringatan, atau kekosongan yang sudah terbiasa. Apa yang dipegang dari generasi sebelumnya, dan pernahkah diperiksa terhadap apa yang Allah turunkan?
  • Di 30:7 kelalaian disebut berdampingan dengan pengetahuan: mereka mengetahui yang tampak dari kehidupan dunia, dan mereka lalai terhadap akhirat. Kelalaian di sana tidak berarti tidak tahu apa pun. Ayat 36:6 menyebut kelalaian tanpa menyebut terhadap apa, sehingga pembaca bisa mengisinya dari 30:7 atau dari ayat lain, atau membiarkannya terbuka. Seseorang yang sibuk dan banyak tahu dapat memeriksa wilayah mana dalam hidupnya yang diisi pengetahuan sampai penuh, dan wilayah mana yang dibiarkan tanpa perhatian.
  • Di 36:10 disebut bahwa sama saja bagi mereka apakah peringatan diberikan atau tidak, dan 36:11 menyebut bahwa peringatan hanya berguna bagi orang yang mengikuti peringatan itu dan takut kepada Ar-Rahman tanpa melihat-Nya. Tujuan di 36:6 mencakup kaum yang belum diberi peringatan, lalu ayat-ayat sesudahnya memerinci bahwa tidak semuanya menyambut. Pembaca yang memberi peringatan kepada orang lain, misalnya dalam keluarga atau pekerjaan, dapat memperhatikan bahwa ayat-ayat ini menaruh hasil di luar kendali pemberi peringatan. Sanggupkah seseorang memberi peringatan tanpa menggantungkan hasilnya pada sambutan, seperti rangkaian ayat ini menempatkan tugas dan sambutan di dua tempat yang berbeda?
  • Di 28:46 pembukanya sama dengan 36:6 dan disusul (لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ, la'allahum yatadzakkaruuna) yang berarti "agar mereka mendapat pelajaran", sedangkan di 32:3 disusul (لَعَلَّهُمْ يَهْتَدُونَ, la'allahum yahtaduuna) yang berarti "agar mereka mendapat petunjuk". Ayat 36:6 berhenti pada keadaan kaum itu dan tidak memuat tujuan lanjutan seperti itu. Pembaca dapat memperhatikan bahwa tujuan memberi peringatan disebut di dua tempat sebagai pelajaran dan petunjuk, dan di tempat ketiga dibiarkan terbuka. Ketika seseorang memberi peringatan, apakah sudah ada jawaban tentang apa yang diharapkan terjadi pada orang yang diperingatkan?