إِنَّا جَعَلْنَا فِي أَعْنَاقِهِمْ أَغْلَالًا فَهِيَ إِلَى الْأَذْقَانِ فَهُمْ مُقْمَحُونَ
Sesungguhnya Kami memasang belenggu di leher mereka hingga ke dagu, maka mereka tertengadah.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- إِنَّا جَعَلْنَا فِي أَعْنَاقِهِمْ أَغْلَالًا فَهِيَ إِلَى الْأَذْقَانِinnaa ja'alnaa fii a'naaqihim aghlaalan fa-hiya ila l-adzqaanisesungguhnya Kami memasang belenggu di leher mereka hingga ke dagu
- فَهُمْ مُقْمَحُونَfa-hum muqmahuunamaka mereka tertengadah
Terjemahan per kata (10 kata)
- إِنَّاinnaasesungguhnya Kami
- جَعَلْنَاja'alnaaKami menjadikan
- فِيfiidi
- أَعْنَاقِهِمْa'naaqihimleher mereka
- أَغْلَالًاaghlaalanbelenggu
- فَهِيَfa-hiyamaka ia
- إِلَىilakepada
- الْأَذْقَانِl-adzqaanidagu
- فَهُمْfa-hummaka mereka
- مُقْمَحُونَmuqmahuunaorang-orang yang tertengadah
Inti bacaan
Susunan (جَعَلْنَا فِي, ja'alnaa fii) muncul sembilan kali di Al-Qur'an, yaitu di 6:123, 15:16, 21:31, 29:27, 36:8, 36:34, 57:26, 57:27, dan 77:27.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (إِنَّا جَعَلْنَا, innaa ja'alnaa) yang berarti "sesungguhnya Kami memasang". Kata (إِنَّا, innaa) tersusun dari kata penegas (إِنَّ, inna) dan akhiran (نَا, -naa) yang berarti "Kami", sehingga pelaku di ayat ini ditulis dengan kata ganti pertama jamak. Kata kerja (جَعَلْنَا, ja'alnaa) berakar ج-ع-ل. Kata per kata memberinya arti dasar "Kami menjadikan", dan terjemahan ayat memakai "memasang" karena yang ditaruh berupa belenggu. Susunan ja'alnaa fii muncul di sembilan ayat dari tujuh surah, yaitu 6:123, 15:16, 21:31, 29:27, 36:8, 36:34, 57:26, 57:27, dan 77:27. Di 36:34, (وَجَعَلْنَا فِيهَا جَنَّاتٍ, wa-ja'alnaa fiihaa jannaatin) berarti "dan Kami jadikan padanya kebun-kebun", sedangkan di 34:33, (وَجَعَلْنَا الْأَغْلَالَ فِي أَعْنَاقِ, wa-ja'alnaa l-aghlaala fii a'naaqi) berarti "dan Kami pasangkan belenggu di leher". Benda yang ditaruh menentukan padanannya: kebun dengan "jadikan" dan belenggu dengan "pasang".
Kata (أَعْنَاقِهِمْ, a'naaqihim) yang berarti "leher mereka" tersusun dari (أَعْنَاقِ, a'naaqi) yang berarti "leher-leher" dan akhiran (هِمْ, -him) "mereka". Bentuk a'naaqi muncul enam kali di enam surah, yaitu 8:12, 13:5, 34:33, 36:8, 38:33, dan 40:71. Dengan akhiran -him, bentuk a'naaqihim muncul tiga kali, yaitu 13:5, 36:8, dan 40:71.
Kata (أَغْلَالًا, aghlaalan) yang berarti "belenggu" berakar غ-ل-ل dan berbentuk jamak tak tentu. Kata aghlaal, dengan atau tanpa kata sandang, muncul enam kali di enam surah, yaitu 7:157, 13:5, 34:33, 36:8, 40:71, dan 76:4. Di empat ayat di antaranya belenggu disebut bersama api, azab, atau rantai. Di 13:5 belenggu berdampingan dengan (أَصْحَابُ النَّارِ, ash-haabu n-naari) yang berarti "penghuni api", di 34:33 belenggu muncul ketika mereka melihat (الْعَذَابَ, l-'adzaaba) yang berarti "azab itu", di 40:71 belenggu bersama (وَالسَّلَاسِلُ, wa-s-salaasilu) yang berarti "dan rantai-rantai", dan di 76:4 bersama rantai dan api yang menyala-nyala. Di 7:157 belenggu disebut dalam (وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالْأَغْلَالَ, wa-yadha'u 'anhum ishrahum wa-l-aghlaala) yang berarti "dan melepaskan dari mereka beban mereka dan belenggu-belenggu itu", yaitu belenggu yang dilepaskan dari orang-orang yang mengikuti Rasul. Sebagai kontras, ayat 36:8 tidak menyebut api, azab, rantai, ataupun hari tertentu, dan tidak menyebut pelepasan.
Akar yang sama dipakai untuk tangan, yaitu (مَغْلُولَةٌ, maghluulatun) di 5:64 dan (مَغْلُولَةً إِلَىٰ عُنُقِكَ, maghluulatan ilaa 'unuqika) di 17:29 yang berarti "terbelenggu pada lehermu". Di 17:29 tangan disebut dengan katanya, (يَدَكَ, yadaka) "tanganmu". Di 36:8 tidak ada kata tangan, sehingga terjemahan tidak menambahkannya.
Kata (الْأَذْقَانِ, l-adzqaani) yang berarti "dagu" berakar ذ-ق-ن dan berbentuk jamak. Bentuk bersama kata sandang tanpa awalan muncul sekali, yaitu di 36:8. Kata yang sama dengan huruf li di depannya, (لِلْأَذْقَانِ, li-l-adzqaani), muncul dua kali di satu surah, yaitu 17:107 dan 17:109. Di 17:107, (يَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ, yakhirruuna li-l-adzqaani) diterjemahkan "mereka menyungkurkan wajah", dan di 17:109 kata itu mengiringi (يَبْكُونَ, yabkuuna) "mereka menangis". Dagu disebut tiga kali di Al-Qur'an, yaitu 17:107, 17:109, dan 36:8. Kata (إِلَى, ila) yang berarti "hingga ke" menyebut titik akhir, sehingga dagu di 36:8 berfungsi sebagai batas.
Kata (فَهِيَ, fa-hiya) yang berarti "maka ia" tersusun dari awalan (فَ, fa) "maka" dan kata ganti (هِيَ, hiya) bentuk perempuan tunggal. Ayat ini tidak mengulang nama benda yang sampai ke dagu. Terjemahan membacanya sebagai belenggu, yaitu benda yang disebut dipasang di leher mereka, dan menggabungkannya menjadi "belenggu di leher mereka hingga ke dagu".
Kata (مُقْمَحُونَ, muqmahuuna) yang berarti "tertengadah" berakar ق-م-ح dan muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 36:8, sehingga tidak ada ayat lain yang dapat dipakai untuk menguji artinya. Data morfologi menandainya sebagai bentuk yang menyatakan keadaan yang dikenakan pada pelakunya, jadi keadaan itu dialami mereka dan tidak dikerjakan mereka sendiri. Arti "tertengadah" bertumpu pada urutan dalam ayat ini: belenggu sampai ke dagu, lalu (فَهُمْ مُقْمَحُونَ, fa-hum muqmahuuna) yang berarti "maka mereka tertengadah". Kata kepala tidak tertulis di ayat ini, dan ayat tidak menyebut apakah mereka berusaha menunduk.
Tafsiran
Ayat ini menampilkan pelaku yang menyebut dirinya Kami. Di 36:5 Sang Digdaya lagi Sang Pengasih disebut sebagai pihak, di 36:6 pemberi peringatan, dan di 36:7 perkataan yang berlaku, sedangkan di 36:8 untuk pertama kalinya dalam rangkaian ini pembicara menulis dirinya dengan kata Kami dan menyebut apa yang dipasangnya. Belenggu itu dipasang di leher mereka hingga ke dagu, dan hasilnya satu keadaan, yaitu tertengadah.
Empat ayat berturut-turut, 36:6 sampai 36:9, masing-masing memuat (فَهُمْ, fa-hum) yang berarti "maka mereka" sebelum menyebut keadaan: lalai di 36:6, tidak beriman di 36:7, tertengadah di 36:8, dan tidak melihat di 36:9. Susunan itu membuat 36:8 terbaca sebagai satu langkah dalam daftar keadaan yang sama, dengan bagian tubuh sebagai gambarnya: leher, dagu, dan keadaan tertengadah.
Di 17:107 dagu juga disebut, tetapi sebagai titik tempat orang yang mendengar bacaan menyungkurkan wajah. Di 36:8 dagu menjadi titik akhir belenggu. Kedua ayat berbeda konteks, sehingga keduanya tidak disamakan, tetapi titik yang sama pada tubuh disebut dalam dua arah yang berlawanan.
Ayat 36:8 tidak memuat penanda hari atau api, seperti yang dimuat 13:5, 34:33, 40:71, dan 76:4, dan tidak memuat pelepasan seperti 7:157. Letaknya di dalam rangkaian membuat ayat ini terbaca bersama 36:9 yang menambahkan penghalang di depan dan di belakang, dan bersama 36:10 yang menyatakan peringatan dan ketiadaan peringatan sama saja bagi mereka.
Renungan dan Hikmah
- Akar kata belenggu dipakai untuk tiga keadaan yang berbeda. Di 5:64 sebagian orang berkata tangan Allah terbelenggu, dan ayat itu menjawab bahwa tangan merekalah yang terbelenggu. Di 17:29 tangan yang terbelenggu pada leher digambarkan sebagai sesuatu yang dapat dijadikan oleh pemiliknya sendiri. Di 36:8 belenggu dipasang oleh Kami di leher dan sampai ke dagu. Ketiga ayat itu berbeda konteks dan tidak saling menafsirkan. Pembaca yang menemui kata belenggu di sebuah ayat dapat bertanya lebih dulu siapa yang tertulis memasangnya, sebab di tiga ayat itu jawabannya tidak sama.
- Dagu disebut tiga kali di Al-Qur'an. Di 17:107 dan 17:109 orang-orang yang mendengar bacaan menyungkurkan wajah ke arah dagu, ada yang bersujud dan ada yang menangis, dan di 17:108, di antara dua ayat itu, mereka berkata Mahasuci Tuhan kami. Di 36:8 dagu adalah titik akhir belenggu dan sesudahnya mereka tertengadah. Titik yang sama pada tubuh muncul dalam dua arah, ke bawah di 17:107 dan ke atas di 36:8, dan kedua ayat berbeda konteks. Ketika sebuah bacaan dibacakan kepada pembaca, ke arah mana kepalanya bergerak?
- Di 13:5, 34:33, 40:71, dan 76:4 belenggu disebut berdampingan dengan penghuni api, azab yang dilihat, rantai, atau api yang menyala-nyala. Di 36:8 belenggu berdiri tanpa satu pun penanda itu, dan 36:9 serta 36:10 juga tidak memuatnya. Pembaca yang membawa gambaran neraka ke ayat ini menambahkan sesuatu yang tertulis di empat ayat lain tetapi tidak di sini. Ayat 36:8 menulis leher, dagu, dan keadaan tertengadah. Ayat ini tidak mengatakan kapan keadaan itu dialami, dan pembaca yang ingin menetapkan waktunya perlu mengakui bahwa penetapan itu datang dari luar ayat.
- Kata yang menutup ayat ini menyebut keadaan yang dikenakan pada mereka, dan sebelum kata itu tertulis apa yang dipasang oleh Kami. Tidak ada kata kerja di ayat ini yang menyebut sesuatu yang mereka kerjakan sendiri, dan di 36:7 pun yang tertulis adalah perkataan yang berlaku atas mereka. Ayat ini juga tidak menyebut alasan pemasangan, dan tidak menyebut apakah mereka menyadarinya. Pembaca yang menimbang keadaan buruk pada seseorang dapat memeriksa apakah yang dibacanya itu perbuatan orang tersebut atau keadaan yang dikenakan kepadanya, dan ayat 36:8 menulis jenis yang kedua.
- Di 2:7 Allah disebut mengunci hati dan pendengaran, dan di 45:23 Allah disebut mengunci pendengaran dan hati serta meletakkan penutup atas penglihatan. Di 36:8 tertulis leher dan dagu, tanpa hati, pendengaran, atau penglihatan. Pembaca yang membawa satu gambaran saja, misalnya hati yang terkunci, ke semua ayat tentang keadaan seperti ini akan mendapati bahwa teks memakai gambar yang berlainan di tempat yang berlainan, masing-masing dengan bagian tubuhnya sendiri.
- Di 7:157 belenggu disebut dilepaskan dari orang-orang yang mengikuti Rasul, sedangkan 36:8 tidak menyebut pelepasan dan tidak menyebut siapa yang dapat melepaskannya. Bila 36:8 dibaca sendirian, jalan keluar tidak ditemukan di dalamnya. Beberapa ayat sesudahnya, 36:11 menyebut orang yang mengikuti peringatan, tetapi 36:11 tidak menyebut belenggu. Dua ayat itu berdekatan dan berbeda isi, sehingga tidak ada kalimat di antara keduanya yang menyambungkan belenggu dengan jalan keluar. Apa yang tertulis di 36:8 tentang jalan keluar dari belenggu itu?