قَالُوا مَا أَنْتُمْ إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُنَا وَمَا أَنْزَلَ الرَّحْمَٰنُ مِنْ شَيْءٍ إِنْ أَنْتُمْ إِلَّا تَكْذِبُونَ
Mereka menjawab, “Kalian tidak lain adalah manusia seperti kami. Dan Ar-Rahman tidak menurunkan sesuatu apa pun. Kalian hanya berdusta.”
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- قَالُوا مَا أَنْتُمْ إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُنَاqaaluu maa antum illaa basyarun mitslunaamereka menjawab, kalian tidak lain adalah manusia seperti kami
- وَمَا أَنْزَلَ الرَّحْمَٰنُ مِنْ شَيْءٍwa-maa anzala r-rahmaanu min syay'indan Ar-Rahman tidak menurunkan sesuatu apa pun
- إِنْ أَنْتُمْ إِلَّا تَكْذِبُونَin antum illaa takdzibuunakalian hanya berdusta
Terjemahan per kata (15 kata)
- قَالُواqaaluumereka berkata
- مَاmaatidaklah
- أَنْتُمْantumkalian
- إِلَّاillaakecuali
- بَشَرٌbasyarunmanusia
- مِثْلُنَاmitslunaaseperti kami
- وَمَاwa-maadan tidaklah
- أَنْزَلَanzalamenurunkan
- الرَّحْمَٰنُr-rahmaanuAr-Rahman
- مِنْmindari
- شَيْءٍsyay'insesuatu
- إِنْintidaklah
- أَنْتُمْantumkalian
- إِلَّاillaakecuali
- تَكْذِبُونَtakdzibuunakalian berdusta
Inti bacaan
Bentuk (تَكْذِبُونَ, takdzibuuna) hanya muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 36:15.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini terdiri dari tiga kalimat penolakan, dan dua di antaranya memakai kerangka yang sama. Kalimat pertama berbunyi (مَا أَنْتُمْ إِلَّا, maa antum illaa) yang berarti "kalian tidak lain", dan kalimat terakhir berbunyi (إِنْ أَنْتُمْ إِلَّا, in antum illaa) dengan arti yang sama. Kata (مَا, maa) dan (إِنْ, in) di sini sama-sama berarti "tidak", dan (إِلَّا, illaa) yang berarti "kecuali" membatasi pembicaraan pada satu sifat saja. Kerangka (إِنْ أَنْتُمْ إِلَّا, in antum illaa) muncul tujuh kali di enam surah, yaitu di 6:148, 11:50, 14:10, 30:58, 36:15, 36:47, dan 67:9. Di ketujuh ayat itu kata sesudah illaa menyebut sifat atau perbuatan yang dikenakan kepada lawan bicara, misalnya (إِنْ أَنْتُمْ إِلَّا مُفْتَرُونَ, in antum illaa muftaruuna) di 11:50 yang berarti "kalian tidak lain mengada-ada", dan (إِنْ أَنْتُمْ إِلَّا فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ, in antum illaa fii dhalaalin mubiinin) di 36:47 yang berarti "kalian tidak lain berada dalam kesesatan yang nyata".
Kata (بَشَرٌ, basyarun) yang berarti "manusia" berakar ب-ش-ر, dan kata (مِثْلُنَا, mitslunaa) yang berarti "seperti kami" berakar م-ث-ل, akar yang sama dengan matsalan di 36:13. Susunan (بَشَرٌ مِثْلُنَا, basyarun mitslunaa) muncul empat kali di tiga surah, yaitu di 14:10, 26:154, 26:186, dan 36:15. Di 26:154, (مَا أَنْتَ إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُنَا, maa anta illaa basyarun mitslunaa) ditujukan kepada satu orang, sedangkan di 14:10 dan 36:15 kepada banyak orang. Bentuk lawannya, (بَشَرٌ مِثْلُكُمْ, basyarun mitslukum) yang berarti "manusia seperti kalian", muncul enam kali di lima surah, yaitu di 14:11, 18:110, 21:3, 23:24, 23:33, dan 41:6. Tiga ayat di antaranya diucapkan pembawa kabar tentang dirinya sendiri, yaitu 14:11, 18:110, dan 41:6, dan tiga lainnya diucapkan orang yang menolak tentang pembawa kabar, yaitu 21:3, 23:24, dan 23:33. Di 14:11, (إِنْ نَحْنُ إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ, in nahnu illaa basyarun mitslukum) yang berarti "kami tidak lain manusia seperti kalian" langsung disambung dengan penjelasan tentang siapa yang memberi karunia, dan di 18:110, (إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ, innamaa anaa basyarun mitslukum) disambung dengan wahyu yang diterima. Dalam 36:15 kalimat itu berdiri sendiri.
Kata (أَنْزَلَ, anzala) yang berarti "menurunkan" berakar ن-ز-ل, dan pelakunya (الرَّحْمَٰنُ, r-rahmaanu) ditulis sebagai nama, "Ar-Rahman". Frasa (وَمَا أَنْزَلَ الرَّحْمَٰنُ مِنْ شَيْءٍ, wa-maa anzala r-rahmaanu min syay'in) yang berarti "dan Ar-Rahman tidak menurunkan sesuatu apa pun" hanya muncul di 36:15, dan hanya di sini Ar-Rahman menjadi pelaku kata kerja anzala. Penyangkalan serupa ada di 6:91, (مَا أَنْزَلَ اللَّهُ عَلَىٰ بَشَرٍ مِنْ شَيْءٍ, maa anzala llaahu 'alaa basyarin min syay'in) yang berarti "Allah tidak menurunkan sesuatu pun kepada manusia", dan di 67:9, (مَا نَزَّلَ اللَّهُ مِنْ شَيْءٍ, maa nazzala llaahu min syay'in) yang berarti "Allah tidak menurunkan sesuatu apa pun". Ketiga ayat itu memuat ucapan orang yang menolak. Nama Ar-Rahman sendiri juga dipakai dalam ucapan orang yang menolak di 25:60, (وَمَا الرَّحْمَٰنُ, wa-maa r-rahmaanu) yang berarti "dan apakah Ar-Rahman itu", dan di 43:20, (لَوْ شَاءَ الرَّحْمَٰنُ, law syaa'a r-rahmaanu) yang berarti "sekiranya Ar-Rahman menghendaki". Terjemahan menulis "sesuatu apa pun" untuk satu kata Arab (شَيْءٍ, syay'in) karena kalimatnya menyangkal, sama dengan 67:9.
Kata (تَكْذِبُونَ, takdzibuuna) yang berarti "kalian berdusta" berakar ك-ذ-ب dan berbentuk dasar, bukan bentuk kedua seperti (فَكَذَّبُوهُمَا, fa-kadzdzabuuhumaa) "lalu mereka mendustakan keduanya" di 36:14. Bentuk dasar menyatakan pelaku sendiri berkata tidak benar, sedangkan bentuk kedua menyatakan penolakan terhadap kebenaran yang datang dari pihak lain, sehingga terjemahan memakai "berdusta" di sini dan "mendustakan" di ayat sebelumnya. Bentuk persis (تَكْذِبُونَ, takdzibuuna) muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 36:15. Dengan bentuk dasar itu penduduk menuduh para utusan mengucapkan kabar yang tidak benar. Di 26:186, (وَإِنْ نَظُنُّكَ لَمِنَ الْكَاذِبِينَ, wa-in nazhunnuka la-mina l-kaadzibiina) yang berarti "dan sesungguhnya kami menyangkamu termasuk para pendusta" memuat kata dari akar yang sama dengan takdzibuuna, tetapi dibuka dengan kata kerja "menyangka", sehingga tuduhannya berbentuk dugaan, sedangkan di 36:15 tuduhan itu ditulis sebagai pernyataan.
Tafsiran
Ayat ini memuat tiga kalimat penolakan yang diarahkan ke tiga hal berbeda, yaitu siapa para utusan itu, apa yang mereka bawa, dan bagaimana ucapan mereka. Kalimat pertama menilai kedudukan, bahwa mereka manusia seperti penduduk negeri. Kalimat kedua menyangkal adanya penurunan apa pun dari Ar-Rahman. Kalimat ketiga menilai ucapan para utusan sebagai dusta. Di antara ketiganya tidak ada kata sebab seperti "karena" atau "maka", sehingga hubungan antara ketiganya tidak dinyatakan oleh ayat dan hanya tersusun lewat urutan.
Ayat ini menjawab ucapan para utusan di 36:14, "sesungguhnya kami adalah orang-orang yang diutus kepada kalian", tetapi tidak menyinggung kata diutus itu secara langsung. Penduduk tidak meminta tanda, sedangkan di 14:10 pola yang sama disusul permintaan keterangan yang nyata dan di 26:154 disusul permintaan tanda. Dapat dibaca bahwa penolakan di 36:15 sudah selesai sebelum bukti diminta, tetapi pembacaan ini bertumpu pada perbandingan dengan ayat lain, bukan pada keterangan di dalam ayat ini.
Nama Ar-Rahman dipakai di sini oleh orang yang menolak. Surah ini memakai nama yang sama di 36:11 untuk Dia yang ditakuti orang yang mau mengikuti peringatan tanpa melihat-Nya, di 36:23 dalam ucapan lelaki yang datang dari ujung kota, dan di 36:52 dalam ucapan orang-orang yang dibangkitkan, sehingga nama itu muncul empat kali di empat ayat dari empat mulut yang berbeda. Penyangkalan di 36:15 juga berhadapan dengan pernyataan pembuka surah, yaitu 36:5, bahwa bacaan ini diturunkan oleh Sang Digdaya lagi Sang Pengasih. Penduduk menyangkal penurunan itu sendiri, dan kata kerja yang dipakai untuk menyangkalnya, anzala, seakar dengan kata yang dipakai 36:5 untuk menyebut bacaan yang diturunkan.
Dengan urutan itu ayat ini menaikkan tingkat penolakan di dalam satu napas, dari menilai pembawanya, ke menolak sumber pesannya, lalu menuduh ucapan para utusan. Jawaban para utusan di 36:16 dan 36:17 berhadapan dengan ketiganya sekaligus.
Renungan dan Hikmah
- Kalimat basyarun mitslunaa di 36:15 dipakai penduduk sebagai alasan menolak, sedangkan di 14:11 pembawa kabar mengucapkan kalimat yang serupa tentang dirinya lalu menyambungnya dengan pernyataan bahwa Allah memberi karunia kepada siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya. Kesamaan yang sama bisa menutup pintu atau membuka pertanyaan tentang siapa yang memberi. Pembaca yang mendengar kabar dari orang yang tampak sama dengan dirinya dapat bertanya, apakah kesamaan itu ia timbang sebagai alasan untuk menolak atau sebagai bahan untuk bertanya dari mana pembawa itu menerima karunianya?
- Orang yang menolak di 36:15 menyebut nama Ar-Rahman, dan mereka menyangkal penurunan sesuatu dari-Nya. Ayat 36:11 menyebut Dia sebagai yang ditakuti orang yang mau mengikuti peringatan tanpa melihat-Nya, sehingga nama yang sama dipakai dua pihak untuk dua sikap. Mengenal sebuah nama tidak sama dengan mengenal apa yang diturunkan oleh pemilik nama itu. Apakah pembaca pernah merasa sudah mengenal Tuhan karena hafal nama-nama-Nya, lalu mendapati bahwa isi yang diturunkan-Nya belum sungguh dibuka?
- Tiga kalimat di 36:15 disusun berurutan tanpa kata karena atau maka, yaitu mereka manusia seperti kami, tidak ada yang diturunkan, kalian berdusta. Alasan di antara ketiganya tidak ditulis, dan jawaban para utusan di 36:16 baru menaruh pengetahuan pada Tuhan mereka. Bila sebuah penolakan bertumpu pada beberapa alasan sekaligus, alasan yang sebenarnya menahan dapat tersembunyi dari pemiliknya. Pembaca dapat menanyai penolakannya sendiri, dari tiga alasan semacam itu mana yang benar-benar menahannya, dan apakah alasan itu akan tetap berdiri bila dua lainnya dicabut?
- Ayat 36:14 menuturkan sikap penduduk dengan kata mendustakan, yaitu menolak kebenaran yang datang dari pihak lain, dan 36:15 memperlihatkan bahasa penduduk sendiri, yang mengubahnya menjadi tuduhan bahwa para utusan berdusta. Kalimat pertama menyebut apa yang ditolak, sedangkan kalimat kedua menyebut kejahatan orang yang membawanya. Perpindahan itu terjadi dalam dua ayat berurutan. Pembaca dapat memeriksa kalimat mana yang dipakainya untuk menyebut penolakannya sendiri, saya tidak percaya atau orang itu berdusta, dan apa yang berubah pada hubungannya dengan pembawa kabar bila ia memilih yang pertama?
- Penyangkalan bahwa tidak ada yang diturunkan sudah muncul di 6:91, dan di sana jawabannya berupa pertanyaan, siapa yang menurunkan Kitab yang dibawa Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia. Ucapan penduduk di 36:15 berada di jalur yang sama, yaitu menolak bahwa Allah menurunkan apa pun. Pernyataan seluas itu dapat diuji dengan apa yang sudah ada di tangan orang yang menyatakannya. Pembaca dapat mendaftar apa saja yang diterimanya dari pihak lain dan tidak dibuatnya sendiri, seperti bahasa, aturan, dan ingatan, lalu bertanya apa yang dikatakannya tentang asal semua itu, dan kepada siapa rasa berutang atas semua itu ditaruhnya?
- Di 14:10 para rasul lebih dulu bertanya apakah ada keraguan terhadap Allah, Pencipta langit dan bumi, lalu penduduk menjawab dengan kalimat basyarun mitslunaa dan meminta keterangan yang nyata. Di 26:154 kalimat itu disusul permintaan tanda. Di 36:15 permintaan semacam itu tidak ada, dan tuduhan berdusta langsung menutup ayat. Dalam tiga ayat itu kalimat yang sama dua kali disusul permintaan bukti dan satu kali disusul tuduhan berdusta. Kapan terakhir kali pembaca menolak sesuatu tanpa meminta bukti apa pun, dan apakah penolakan itu masih dapat disebut keputusan setelah penimbangan?