قَالُوا إِنَّا تَطَيَّرْنَا بِكُمْ ۖ لَئِنْ لَمْ تَنْتَهُوا لَنَرْجُمَنَّكُمْ وَلَيَمَسَّنَّكُمْ مِنَّا عَذَابٌ أَلِيمٌ
Mereka berkata, “Sesungguhnya kami menganggap kalian pembawa kesialan. Sungguh, jika kalian tidak berhenti, niscaya kami merajam kalian, dan kalian pasti ditimpa azab yang pedih dari kami.”
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- قَالُوا إِنَّا تَطَيَّرْنَا بِكُمْqaaluu innaa tathayyarnaa bikummereka berkata, sesungguhnya kami menganggap kalian pembawa kesialan
- لَئِنْ لَمْ تَنْتَهُوا لَنَرْجُمَنَّكُمْ وَلَيَمَسَّنَّكُمْ مِنَّا عَذَابٌ أَلِيمٌla-in lam tantahuu la-narjumannakum wa-la-yamassannakum minnaa 'adzaabun aliimunsungguh, jika kalian tidak berhenti, niscaya kami merajam kalian, dan kalian pasti ditimpa azab yang pedih dari kami
Terjemahan per kata (12 kata)
- قَالُواqaaluumereka berkata
- إِنَّاinnaasesungguhnya kami
- تَطَيَّرْنَاtathayyarnaakami merasa bernasib sial
- بِكُمْbikumkepada kalian
- لَئِنْla-insungguh jika
- لَمْlamtidak
- تَنْتَهُواtantahuukalian berhenti
- لَنَرْجُمَنَّكُمْla-narjumannakumsungguh kami akan merajam kalian
- وَلَيَمَسَّنَّكُمْwa-la-yamassannakumdan sungguh akan menimpa kalian
- مِنَّاminnaadari kami
- عَذَابٌ'adzaabunazab
- أَلِيمٌaliimunyang pedih
Inti bacaan
Rangkaian (مِنَّا عَذَابٌ أَلِيمٌ, minnaa 'adzaabun aliimun) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 11:48 dan 36:18.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (إِنَّا تَطَيَّرْنَا بِكُمْ, innaa tathayyarnaa bikum) yang berarti "sesungguhnya kami menganggap kalian pembawa kesialan". Kata kerja (تَطَيَّرْنَا, tathayyarnaa) berakar ط-ي-ر dan berpelaku "kami". Bentuk persis ini hanya muncul satu kali, di 36:18. Kata kerja dengan akar dan bentuk yang sama muncul tiga kali di tiga surah, yaitu (يَطَّيَّرُوا بِمُوسَىٰ, yaththayyaruu bi-muusaa) di 7:131, (اطَّيَّرْنَا بِكَ, ththayyarnaa bika) di 27:47, dan tathayyarnaa bikum di 36:18. Di ketiganya huruf (بِ, bi-) menunjuk orang yang dihubungkan dengan kesialan, yaitu Musa dan orang-orang yang bersamanya di 7:131, engkau dan orang-orang yang bersamamu di 27:47, dan kalian di 36:18. Terjemahan memakai "menganggap kalian pembawa kesialan" karena bi- menyebut orang yang dihubungkan dengan kesialan, sedangkan 27:47 diterjemahkan "menganggap engkau dan orang-orang yang bersamamu sebagai kesialan".
Akar ط-ي-ر juga menyebut burung, misalnya (وَالطَّيْرُ, wa-th-thayru) di 24:41 yang berarti "dan burung-burung", dan menyebut nasib atau kesialan, yaitu (طَائِرُهُمْ, thaa'iruhum) di 7:131 yang berarti "nasib mereka", (طَائِرُكُمْ, thaa'irukum) di 27:47 dan 36:19 yang berarti "kesialan kalian", dan (طَائِرَهُ, thaa'irahu) di 17:13 yang berarti "nasibnya". Al-Qur'an tidak menjelaskan kaitan antara kedua arti itu, dan terjemahan ayat ini memakai kata yang menyangkut nasib. Di 7:131, (طَائِرُهُمْ عِنْدَ اللَّهِ, thaa'iruhum 'inda llaahi) yang berarti "nasib mereka ada di sisi Allah" dan di 27:47, (طَائِرُكُمْ عِنْدَ اللَّهِ, thaa'irukum 'inda llaahi) yang berarti "kesialan kalian ada di sisi Allah", jawaban atas anggapan itu menempatkan nasib atau kesialan itu di sisi Allah, sedangkan 36:19 memakai (طَائِرُكُمْ مَعَكُمْ, thaa'irukum ma'akum) yang berarti "kesialan kalian ada bersama kalian".
Kata (لَئِنْ لَمْ تَنْتَهُوا, la-in lam tantahuu) yang berarti "sungguh, jika kalian tidak berhenti" tersusun dari (لَئِنْ, la-in) "sungguh jika", (لَمْ, lam) "tidak", dan (تَنْتَهُوا, tantahuu) "kalian berhenti", dengan akar ن-ه-ي. Bentuk (تَنْتَهُوا, tantahuu) muncul dua kali di dua surah, yaitu di 8:19 dan 36:18. Di 8:19, (وَإِنْ تَنْتَهُوا, wa-in tantahuu) yang berarti "dan jika kalian berhenti" disusul pernyataan bahwa hal itu lebih baik bagi mereka. Susunan (لَئِنْ لَمْ, la-in lam) muncul sembilan kali di delapan surah, yaitu di 6:77, 7:149, 12:32, 19:46, 26:116, 26:167, 33:60, 36:18, dan 96:15. Enam di antaranya diikuti kata kerja dari akar ن-ه-ي, yaitu 19:46, 26:116, 26:167, 33:60, 36:18, dan 96:15. Di 19:46, (لَئِنْ لَمْ تَنْتَهِ, la-in lam tantahi) diucapkan kepada Ibrahim, di 26:116 kepada Nuh, di 26:167 kepada Lut, dan di 36:18 kepada para utusan. Di 33:60 dan 96:15 bentuknya (لَئِنْ لَمْ يَنْتَهِ, la-in lam yantahi), dan pembicaranya memakai "Kami".
Kata (لَنَرْجُمَنَّكُمْ, la-narjumannakum) yang berarti "niscaya kami merajam kalian" tersusun dari (لَ, la) "niscaya", kata kerja narjuma "kami merajam", akhiran penegas (نَّ, -nna), dan (كُمْ, -kum) "kalian". Akarnya ر-ج-م. Kata kerja dari akar itu muncul lima kali di lima surah, yaitu di 11:91, 18:20, 19:46, 36:18, dan 44:20, dengan bentuk antara lain (لَرَجَمْنَاكَ, la-rajamnaaka) di 11:91, (لَأَرْجُمَنَّكَ, la-arjumannaka) di 19:46, dan (أَنْ تَرْجُمُونِ, an tarjumuuni) di 44:20. Empat dari lima ayat itu menyangkut orang yang membawa seruan, yaitu Syuaib di 11:91, Ibrahim di 19:46, para utusan di 36:18, dan pembicara di 44:20 yang berlindung kepada Tuhannya dan Tuhan mereka. Terjemahan memakai "merajam" di 36:18, sama dengan 19:46 dan 44:20.
Kata (وَلَيَمَسَّنَّكُمْ, wa-la-yamassannakum) yang berarti "dan kalian pasti ditimpa" tersusun dari (وَ, wa) "dan", (لَ, la) "pasti", kata kerja yamassa "menimpa", akhiran penegas -nna, dan (كُمْ, -kum) "kalian". Akarnya م-س-س, dan yang menimpa adalah (عَذَابٌ, 'adzaabun) "azab" berakar ع-ذ-ب. Bentuk (لَيَمَسَّنَّ, la-yamassanna) muncul dua kali di dua surah, yaitu di 5:73 dan 36:18. Terjemahan memakai "ditimpa" bila azab menjadi pelaku kata kerja yamassa, seperti di 5:73, 6:49, dan 11:48. Di 11:48, (يَمَسُّهُمْ مِنَّا عَذَابٌ أَلِيمٌ, yamassuhum minnaa 'adzaabun aliimun) yang berarti "mereka ditimpa azab yang pedih dari Kami", rangkaian (مِنَّا عَذَابٌ أَلِيمٌ, minnaa 'adzaabun aliimun) sama dengan yang ada di 36:18. Rangkaian itu muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 11:48 dan 36:18. Kata (أَلِيمٌ, aliimun) yang berarti "pedih" berakar أ-ل-م.
Tafsiran
Ayat ini menaikkan percakapan dari saling menyatakan menjadi ancaman. Isinya terurut dalam empat langkah, yaitu anggapan bahwa para utusan pembawa kesialan, syarat bahwa mereka harus berhenti, ancaman merajam, dan ancaman azab yang pedih. Kata kerja tantahuu di sini tidak diberi pelengkap sehingga dari apa para utusan harus berhenti dibiarkan terbuka, sedangkan di 5:73 kata kerja yang sama dalam bentuk lain memuat objek yang jelas. Dapat dibaca bahwa yang dimaksud adalah kegiatan para utusan yang disebut di ayat-ayat sebelumnya, yaitu menyampaikan, tetapi kalimat penduduk tidak menyatakannya.
Alasan yang dikemukakan penduduk juga berganti. Di 36:15 mereka menyebut para utusan manusia biasa, menyangkal adanya penurunan, dan menuduh berdusta. Di 36:18 alasan itu tidak diulang dan diganti anggapan sial. Sebab pergantian itu tidak tertulis.
Ancaman ini memuat dua jenis balasan, yaitu perbuatan tangan penduduk sendiri, merajam, dan azab yang disebut datang "dari kami". Rangkaian "azab yang pedih dari kami" ada juga di 11:48, dan di sana diucapkan oleh pihak yang menyebut dirinya Kami tentang umat-umat dari orang-orang yang bersama Nuh. Di 36:18 rangkaian itu diucapkan penduduk tentang para utusan. Konteks kedua ayat berlainan, dan rangkaian kata yang sama itu tidak dipakai untuk menyamakan peristiwanya.
Ancaman terhadap orang yang membawa seruan dengan syarat berhenti juga ada di 19:46, 26:116, dan 26:167, dengan balasan yang berbeda, yaitu rajam, dirajam, dan diusir. Ayat 36:18 menggabungkan rajam dengan azab. Jawaban atas anggapan sial itu baru datang di 36:19, yang menaruh kesialan pada diri penduduk sendiri.
Renungan dan Hikmah
- Di 7:131 dan 27:47 pihak yang menolak menghubungkan kesialan mereka dengan orang yang datang kepada mereka, dan di dua ayat itu jawabannya menaruh nasib mereka di sisi Allah. Di 36:18 pola yang sama muncul dalam bentuk penduduk menganggap para utusan pembawa kesialan. Anggapan itu tidak disertai pemeriksaan sebab, dan para utusan di 36:17 baru saja menyebut bahwa kewajiban mereka hanya penyampaian. Pembaca yang sedang tertimpa kesulitan dapat bertanya, kepada siapa kesulitan itu pertama kali dialamatkan, dan apakah orang terakhir yang datang membawa kabar pernah menjadi alamatnya sebelum sebab lain diperiksa?
- Penduduk di 36:18 meminta para utusan berhenti tanpa menyebut dari apa, dan ancaman rajam menunggu di belakang syarat itu. Para utusan baru menyebut Tuhan mereka sebagai yang mengetahui di 36:16 dan batas tugas mereka di 36:17, sehingga yang mereka kerjakan sebelumnya hanya penyampaian. Orang yang diminta berhenti tanpa ditunjukkan apa yang salah berada dalam posisi yang sulit, sebab apa yang harus ditinggalkan tidak diketahuinya. Pembaca dapat bertanya, kapan terakhir kali dirinya diminta berhenti tanpa ada yang menyebut kesalahannya, dan pertanyaan apa yang pertama kali diajukannya kepada diri sendiri?
- Di 44:20 pembicara yang membawa seruan berkata bahwa dirinya berlindung kepada Tuhannya dan Tuhan kaumnya agar tidak dirajam, dan di 36:18 ancaman rajam diucapkan penduduk kepada para utusan. Ayat 36:18 tidak mencatat bahwa para utusan berlindung, dan jawaban yang tertulis di 36:19 langsung menunjuk sumber kesialan. Ayat 44:20 memperlihatkan bahwa sasaran ancaman dapat menyebut Tuhan sebagai tempat bernaung, bahkan Tuhan yang juga Tuhan si pengancam. Pembaca dapat bertanya, ketika sebuah ancaman datang karena apa yang disampaikannya, ke mana pertama kali dirinya berlari, dan apakah tempat itu pernah disebutnya sebagai Tuhan orang yang mengancam juga?
- Rangkaian azab yang pedih dari kami di 36:18 diucapkan manusia tentang manusia, sedangkan di 11:48 rangkaian yang sama diucapkan pihak yang menyebut dirinya Kami tentang umat-umat yang diberi kesenangan lalu ditimpa. Penduduk di 36:18 menaruh diri di tempat yang di ayat lain diisi pihak yang memegang azab. Kedua ayat tidak disamakan, dan perbedaannya terletak pada siapa yang berbicara. Pembaca dapat memeriksa kalimat ancaman yang pernah diucapkannya kepada orang lain, kata apa yang dipinjam dari tempat yang bukan miliknya, dan apa yang berubah pada kalimat itu bila diucapkan di depan Dia yang menurut 36:12 mencatat segala yang didahulukan manusia?
- Di 36:15 penduduk menyebut tiga alasan, yaitu para utusan manusia biasa, tidak ada yang diturunkan, dan mereka berdusta, sedangkan di 36:18 alasan itu tidak muncul lagi dan diganti anggapan sial. Para utusan menjawab di 36:16 dan 36:17 dengan menyebut pengetahuan Tuhan mereka dan batas tugas mereka, tanpa menyentuh tuduhan-tuduhan itu satu per satu. Bila alasan berganti ketika yang lama tidak ditanggapi, alasan mana yang sebenarnya menahan penduduk tidak kelihatan dari ayat ini. Pembaca yang pernah mengganti alasan penolakannya dapat bertanya, apakah alasan terakhir yang diucapkannya itu pantas diuji, dan apakah alasan sebenarnya berani disebutnya di hadapan Tuhan yang mengetahui yang terucap dan yang tersimpan?
- Ayat 36:18 bergerak dari anggapan dalam hati, kami menganggap kalian pembawa kesialan, menuju tindakan tangan, merajam. Anggapan itu tidak diuji, tetapi dijadikan dasar bagi syarat dan ancaman. Para utusan di 36:16 menyebut Tuhan mereka mengetahui, dan 36:76 menyebut Kami mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka nyatakan, sehingga Dia mengetahui juga anggapan yang masih tersimpan. Perpindahan dari anggapan ke tindakan tidak membutuhkan banyak langkah di ayat ini, hanya sebuah kata jika. Pembaca dapat menimbang anggapan apa yang pernah dipeliharanya tanpa diuji, dan di titik mana anggapan itu mulai terasa pantas dijadikan alasan bertindak terhadap orang lain?