وَمَا لِيَ لَا أَعْبُدُ الَّذِي فَطَرَنِي وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

Dan mengapa aku tidak mengabdi kepada Dia yang menciptakanku, dan hanya kepada-Nya kalian dikembalikan?

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَمَا لِيَ لَا أَعْبُدُ الَّذِي فَطَرَنِيwa-maa liya laa a'budu lladzii fatharaniidan mengapa aku tidak mengabdi kepada Dia yang menciptakanku
  2. وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَwa-ilayhi turja'uunadan hanya kepada-Nya kalian dikembalikan

Terjemahan per kata (8 kata)

  1. وَمَاwa-maadan mengapa
  2. لِيَliyabagiku
  3. لَاlaatidak
  4. أَعْبُدُa'buduaku mengabdi
  5. الَّذِيlladziiyang
  6. فَطَرَنِيfatharaniimenciptakanku
  7. وَإِلَيْهِwa-ilayhidan kepada-Nya
  8. تُرْجَعُونَturja'uunakalian dikembalikan

Inti bacaan

Rangkaian (الَّذِي فَطَرَنِي, lladzii fatharanii) muncul tiga kali di Al-Qur'an, yaitu di 11:51, 36:22, dan 43:27.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (وَمَا لِيَ, wa-maa liya) yang berarti "dan mengapa aku", tersusun dari wa yang berarti "dan", maa yang berarti "mengapa", dan liya yang berarti "bagiku". Bentuk persis (مَا لِيَ, maa liya) muncul dua kali, yaitu di 27:20 dan 36:22, dan di keduanya diikuti laa serta kata kerja orang pertama, yaitu (مَا لِيَ لَا أَرَى, maa liya laa ara) yang berarti "mengapa aku tidak melihat" di 27:20, dan wa-maa liya laa a'budu di 36:22. Di kedua ayat itu pembicara mengajukan pertanyaan kepada dirinya sendiri. Di 27:20 pertanyaan itu disambung dengan kemungkinan lain lewat kata am, sedangkan di 36:22 pertanyaan itu disambung dengan pernyataan tentang pendengarnya.

Kata (أَعْبُدُ, a'budu) yang berarti "aku mengabdi" berakar ع-ب-د dan berbentuk orang pertama tunggal. Terjemahan memakai "mengabdi" dan tidak memakai "menyembah", sesuai pilihan untuk akar ini sejak 1:5, karena akar yang sama membentuk kata hamba, seperti (الْعِبَادِ, l-'ibaadi) yang berarti "para hamba" di 36:30, sehingga hamba dan mengabdi tetap satu keluarga kata. Bentuk persis a'budu muncul di tujuh ayat pada empat surah, yaitu di 10:104, 36:22, 39:14, 39:64, 109:2, 109:3, dan 109:5. Di 10:104 objeknya disebut lewat nama sekaligus perbuatan, (اللَّهَ الَّذِي يَتَوَفَّاكُمْ, llaaha lladzii yatawaffaakum) yang berarti "Allah yang mematikan kalian", sedangkan di 36:22 objeknya disebut lewat perbuatan saja, tanpa nama.

Frasa (الَّذِي فَطَرَنِي, lladzii fatharanii) yang berarti "Dia yang menciptakanku" tersusun dari lladzii yang berarti "yang" dan (فَطَرَنِي, fatharanii) yang berarti "menciptakanku", yaitu kata kerja fathara berakar ف-ط-ر dengan akhiran -nii yang berarti "aku". Bentuk persis fatharanii muncul tiga kali di tiga surah, yaitu di 11:51, 36:22, dan 43:27, dan ketiganya diucapkan seorang pembicara kepada kaumnya: Hud di 11:50 sampai 11:51, Ibrahim di 43:26 sampai 43:27, dan lelaki dari ujung kota di 36:20 sampai 36:22. Kata kerja lampau fathara muncul delapan kali di delapan ayat, yaitu di 6:79, 11:51, 17:51, 20:72, 21:56, 30:30, 36:22, dan 43:27. Tiga di antaranya berobjek akhiran -nii, yaitu 11:51, 36:22, dan 43:27, sedangkan lima lainnya berobjek langit dan bumi di 6:79, kalian di 17:51, kami di 20:72, akhiran -hunna di 21:56, dan manusia di 30:30. Terjemahan memakai "menciptakan" untuk kedelapannya.

Frasa (وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ, wa-ilayhi turja'uuna) yang berarti "dan kepada-Nya kalian dikembalikan" muncul sembilan kali di tujuh surah, yaitu di 2:245, 10:56, 11:34, 28:70, 28:88, 36:22, 36:83, 41:21, dan 43:85. Kata kerja (تُرْجَعُونَ, turja'uuna) berakar ر-ج-ع dan berbentuk pasif untuk banyak orang yang diajak bicara, sehingga ayat ini menulis tujuan pengembalian, (إِلَيْهِ, ilayhi) yang berarti "kepada-Nya", tanpa menyebut pelakunya. Di 11:34, (هُوَ رَبُّكُمْ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ, huwa rabbukum wa-ilayhi turja'uuna) yang berarti "Dia Tuhan kalian, dan kepada-Nya kalian dikembalikan", frasa itu didahului sebutan Tuhan, sedangkan di 36:22 frasa itu didahului keterangan perbuatan, yaitu fatharanii. Kata ganti di ayat ini berpindah dari orang pertama pada liya, a'budu, dan fatharanii, ke Dia pada ilayhi, lalu ke kalian pada turja'uuna.

Tafsiran

Ayat ini mengalihkan ucapan lelaki itu dari orang lain kepada dirinya sendiri lewat satu pertanyaan, dan pertanyaan itu tidak dijawab di ayatnya. Di 36:20 dan 36:21 lelaki itu berbicara tentang para rasul dan tentang orang-orang yang tidak meminta imbalan, sedangkan di 36:22 pokok ucapannya adalah wa-maa liya, lalu pengabdian yang tidak diberikan, lalu pihak yang menciptakannya.

Imbalan dan penciptaan bertemu dalam satu ayat di 11:51, yaitu (إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى الَّذِي فَطَرَنِي, in ajriya illaa 'alaa lladzii fatharanii) yang berarti "imbalanku tidak lain dari Dia yang menciptakanku". Di 36:21 dan 36:22 kedua pokok itu terpisah ke dua ayat, dengan ketiadaan permintaan imbalan lebih dulu dan Dia yang menciptakan sesudahnya. Dua ayat dari dua kisah itu tidak disamakan, dan 36:21 tidak menyatakan bahwa lelaki itu menghubungkan imbalan para utusan dengan Dia.

Pertanyaan di 36:22 memuat dua bagian yang dihubungkan wa, satu tentang diri pembicara dan satu tentang pendengar. Bagian kedua memuat pernyataan bahwa kalian dikembalikan, dengan kata kerja pasif. Pendengar karena itu disebut sebagai pihak yang dikenai pengembalian, dan pembicara tidak menyuruh mereka berbuat apa pun di ayat ini. Sesudah ayat ini, 36:23 melanjutkan dengan pertanyaan kedua tentang mengambil sembahan-sembahan lain, dan 36:24 menarik kesimpulan. Akar ع-ب-د muncul lagi di surah ini pada 36:60 dan 36:61, dan 36:61 memakainya sebagai perintah, (اعْبُدُونِي, 'buduunii) yang berarti "mengabdilah kepada-Ku", sedangkan 36:22 memakainya sebagai pertanyaan seorang manusia kepada dirinya sendiri.

Renungan dan Hikmah

  • Lelaki di 36:22 mengajukan pertanyaan kepada dirinya sendiri, dan pertanyaan itu tidak dijawab di ayatnya. Di 27:20 pembicara lain memakai susunan maa liya laa yang sama untuk menanyakan mengapa sesuatu yang dicarinya tidak terlihat. Ayat 36:22 mengarahkan pertanyaan itu kepada hubungan dengan Dia yang menciptakannya. Orang yang biasa menuntut alasan dari pihak lain dapat memperhatikan bahwa pertanyaan ini diajukan lebih dulu kepada diri sendiri. Kepada siapa pertanyaan tentang pengabdian biasanya diajukan lebih dulu, kepada orang lain atau kepada diri sendiri?
  • Ayat 36:22 menyebut pihak yang diabdi lewat perbuatannya terhadap pembicara, yaitu menciptakannya, dan tidak menyebut nama. Di 11:51 dan 43:27 frasa yang sama keluar dari Hud dan Ibrahim ketika berbicara kepada kaum mereka. Di tiga ayat itu pihak yang dimaksud dikenali dari apa yang telah Dia lakukan terhadap pembicara. Perbuatan apa yang paling dahulu terlintas ketika pihak yang dihormati disebut tanpa nama? Apakah perbuatan itu pernah diterima langsung oleh pembaca sendiri?
  • Bagian kedua ayat 36:22 berpindah dari aku ke kalian dan memakai kata kerja pasif, sehingga pendengar disebut sebagai pihak yang dikenai pengembalian dan tidak sebagai pelaku. Kepada siapa mereka dikembalikan ditulis, yaitu kepada-Nya, sedangkan siapa yang mengembalikan tidak ditulis. Di 36:83 kalimat yang sama menutup surah ini sesudah menyebut Dia yang di tangan-Nya ada kekuasaan atas segala sesuatu. Pembaca dapat bertanya, kapan terakhir kali dirinya dipikirkan sebagai pihak yang dikembalikan? Ke mana kepulangan itu terasa menuju sekarang?
  • Di 11:51 Hud menyebut imbalannya dan penciptanya dalam satu ayat, yaitu imbalannya tidak lain dari Dia yang menciptakannya. Lelaki di 36:21 dan 36:22 menaruh keduanya di dua ayat, dengan ketiadaan permintaan imbalan lebih dulu dan Dia yang menciptakannya sesudahnya. Keduanya diucapkan dua orang berbeda dalam kisah yang berbeda, sehingga tidak disamakan. Pembaca dapat melihat bahwa orang yang tidak menagih apa pun dari manusia masih dapat memiliki arah yang jelas bagi hubungannya dengan pihak yang menciptakannya. Kepada pihak mana pengharapan diarahkan oleh orang yang tidak menagih apa pun dari sesamanya?
  • Akar yang sama muncul di 36:61 sebagai perintah, (اعْبُدُونِي, 'buduunii) yang berarti "mengabdilah kepada-Ku", dan di 36:22 sebagai pertanyaan seorang manusia kepada dirinya sendiri. Kedua bentuk itu berada dalam satu surah dan tidak saling menggantikan. Bentuk pertanyaan memuat alasan dari dalam diri pembicara, sedangkan bentuk perintah disusul (هَٰذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ, haadzaa shiraathun mustaqiimun) yang berarti "ini jalan yang lurus". Bentuk mana yang lebih dahulu sampai kepada pembaca, dan pada bentuk mana kepercayaannya bertumpu? Apakah alasan dari dalam diri pernah mendahului perintah dari luar?
  • Ayat 36:22 menutup tanpa jawaban atas pertanyaannya, dan 36:23 langsung memuat pertanyaan kedua tentang mengambil sembahan-sembahan lain. Dua pertanyaan itu berurutan tanpa selingan jawaban, dan kesimpulan baru muncul di 36:24. Pembaca dapat memperhatikan bahwa sebuah pertanyaan dapat berfungsi sebagai alasan tanpa pernah dijawab dengan kalimat tersendiri. Kapan terakhir kali pembaca menanyakan sesuatu kepada dirinya dan membiarkan pertanyaan itu bekerja tanpa buru-buru menjawabnya?