إِنِّي إِذًا لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
Sesungguhnya aku, jika demikian, benar-benar berada dalam kesesatan yang nyata.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- إِنِّي إِذًا لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍinnii idzan la-fii dhalaalin mubiininsesungguhnya aku, jika demikian, benar-benar berada dalam kesesatan yang nyata
Terjemahan per kata (5 kata)
- إِنِّيinniisesungguhnya aku
- إِذًاidzanjika demikian
- لَفِيla-fiibenar-benar dalam
- ضَلَالٍdhalaalinkesesatan
- مُبِينٍmubiininyang nyata
Inti bacaan
Rangkaian (إِذًا لَفِي, idzan la-fii) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 36:24 dan 54:24.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (إِنِّي, innii) yang berarti "sesungguhnya aku", tersusun dari inna yang berarti "sesungguhnya" dan akhiran -ii yang berarti "aku", lalu (إِذًا, idzan) yang berarti "jika demikian". Korpus morfologi menandai idzan sebagai kata jawaban, yaitu kata yang menarik kesimpulan dari sesuatu yang sudah dikatakan. Rangkaian (إِنِّي إِذًا, innii idzan) muncul dua kali, yaitu di 11:31 dan 36:24. Di 11:31, (إِنِّي إِذًا لَمِنَ الظَّالِمِينَ, innii idzan la-mina zh-zhaalimiina) yang berarti "jika demikian, sesungguhnya aku benar-benar termasuk orang-orang yang zalim", pembicara juga menarik kesimpulan tentang dirinya sendiri dari sebuah syarat, dan kedua ayat memakai la yang berarti "benar-benar" sesudah idzan.
Rangkaian (إِذًا لَفِي, idzan la-fii) muncul dua kali, yaitu di 36:24 dan 54:24. Di 54:24, (إِنَّا إِذًا لَفِي ضَلَالٍ وَسُعُرٍ, innaa idzan la-fii dhalaalin wa-su'urin) yang berarti "sesungguhnya jika begitu, kita benar-benar dalam kesesatan dan kegilaan", kalimat itu menyusul (أَبَشَرًا مِنَّا وَاحِدًا نَتَّبِعُهُ, a-basyaran minnaa waahidan nattabi'uhu) yang berarti "apakah seorang manusia dari kita, satu orang, yang akan kita ikuti?". Di kedua ayat pembicara menyebut dirinya atau kelompoknya sebagai pihak yang berada dalam kesesatan bila sebuah syarat terpenuhi, tetapi syaratnya berlawanan arah: mengikuti seorang manusia di 54:24, dan mengambil sembahan-sembahan selain-Nya di 36:23.
Frasa (لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ, la-fii dhalaalin mubiinin) yang berarti "benar-benar dalam kesesatan yang nyata" tersusun dari la, "benar-benar", fii, "dalam", (ضَلَالٍ, dhalaalin) yang berarti "kesesatan" dengan akar ض-ل-ل, dan (مُبِينٍ, mubiinin) yang berarti "yang nyata". Rangkaian la-fii dhalaalin mubiinin muncul lima kali, yaitu di 3:164, 12:8, 26:97, 36:24, dan 62:2, sedangkan rangkaian fii dhalaalin mubiinin muncul delapan belas kali di enam belas surah, yaitu di 3:164, 6:74, 7:60, 12:8, 12:30, 19:38, 21:54, 26:97, 28:85, 31:11, 34:24, 36:24, 36:47, 39:22, 43:40, 46:32, 62:2, dan 67:29. Pada lima belas ayat, yaitu 3:164, 6:74, 7:60, 12:8, 12:30, 19:38, 21:54, 28:85, 31:11, 36:47, 39:22, 43:40, 46:32, 62:2, dan 67:29, kesesatan itu dikenakan kepada orang lain atau kepada pihak yang ditunjuk dalam kalimat. Pembicara menyebut dirinya sendiri di tiga ayat saja: di 26:97 sebagai keadaan di masa lalu, di 34:24 sebagai satu dari dua kemungkinan bersama pihak lain, dan di 36:24 sebagai akibat dari sebuah syarat. Di 34:24, (لَعَلَىٰ هُدًى أَوْ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ, la-'alaa hudan aw fii dhalaalin mubiinin) yang berarti "benar-benar di atas petunjuk atau dalam kesesatan yang nyata", kesesatan itu dilawankan dengan petunjuk.
Kata mubiin berakar ب-ي-ن dan muncul tujuh kali di surah ini, yaitu di 36:12, 36:17, 36:24, 36:47, 36:60, 36:69, dan 36:77. Terjemahan memakai "nyata" di 36:12, 36:24, 36:47, 36:60, dan 36:77, dan "jelas" di 36:17 dan 36:69. Di 36:17, (الْبَلَاغُ الْمُبِينُ, l-balaaghu l-mubiinu) yang berarti "penyampaian yang jelas", kata itu menyifati kewajiban para utusan, dan di 36:47, (فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ, fii dhalaalin mubiinin) yang berarti "dalam kesesatan yang nyata", kata yang sama menyifati sebutan orang-orang yang kufur bagi orang-orang yang beriman.
Tafsiran
Ayat ini menutup ucapan lelaki itu dengan kesimpulan yang ditarik dari ujian di 36:23: bila pembicara mengambil sembahan-sembahan selain-Nya, dirinya berada dalam kesesatan yang nyata. Kesimpulan itu ditujukan kepada dirinya sendiri dan tidak kepada para pendengar. Syaratnya disebut di 36:23, dan ayat 36:24 tidak menyatakan bahwa para pendengar berada dalam kesesatan itu.
Surah ini memakai frasa yang sama dalam dua arah. Di 36:47 orang-orang yang kufur berkata kepada orang-orang yang beriman bahwa mereka berada dalam kesesatan yang nyata, dengan sapaan orang kedua, sedangkan di 36:24 pembicara yang mengajak mengikuti para rasul menerapkan frasa itu kepada dirinya sendiri dengan syarat. Pelaku dan sasarannya berlainan di kedua ayat, meskipun katanya sama. Di 36:21 pembicara yang sama menyebut para utusan sebagai orang-orang yang mendapat petunjuk, dan di 36:24 kesesatan disebutnya untuk dirinya sendiri, itu pun dalam sebuah pengandaian.
Susunan idzan la-fii juga ada di 54:24, dan perbandingannya memperlihatkan dua keputusan yang arahnya berlawanan. Di 54:24 pembicara menolak mengikuti seorang manusia dari kalangan mereka dengan alasan bahwa mengikutinya berarti kesesatan, sedangkan di 36:24 pembicara menolak mengambil sembahan-sembahan lain dengan alasan yang sama bentuknya. Dua ayat itu berasal dari dua kisah yang berbeda dan tidak saling menjawab. Ayat 36:24 dan 36:25 sama-sama dibuka dengan innii, tetapi 36:24 berbentuk kesimpulan bersyarat, sedangkan 36:25 berbentuk pernyataan langsung, (إِنِّي آمَنْتُ بِرَبِّكُمْ, innii aamantu bi-rabbikum) yang berarti "sesungguhnya aku telah beriman kepada Tuhan kalian".
Renungan dan Hikmah
- Lima belas dari delapan belas ayat yang memuat frasa kesesatan yang nyata mengenakannya kepada orang lain, dan 36:24 termasuk tiga ayat yang mengenakannya kepada pembicara sendiri. Di 34:24 pembicara menyebut Allah sebagai jawaban atas siapa yang memberi rezeki, lalu menyebut dirinya bersama pihak lain sebagai satu dari dua kemungkinan, di atas petunjuk atau dalam kesesatan. Konteks kedua ayat berlainan, sehingga keduanya tidak disamakan. Kepada siapa sebutan yang keras biasanya diarahkan lebih dulu oleh pembaca, kepada orang lain atau kepada dirinya sendiri? Apa yang berubah bila arahnya dibalik?
- Ayat 36:24 menarik kesimpulan dengan jika demikian, dan kesimpulan itu hanya berlaku bila syaratnya di 36:23 terpenuhi. Di 11:31 Nuh menyebut bahwa Allah lebih mengetahui apa yang ada pada diri mereka, lalu menarik kesimpulan tentang dirinya sendiri dengan kata yang sama. Pembaca dapat memperhatikan bahwa dua pembicara yang berbeda sama-sama memasang syarat sebelum menjatuhkan vonis kepada diri sendiri. Syarat apa yang biasanya dipasang pembaca sebelum menyebut dirinya salah, dan apakah syarat itu pernah diperiksa?
- Di 36:47 orang-orang yang kufur berkata kepada orang-orang yang beriman bahwa mereka dalam kesesatan yang nyata, sesudah ucapan tentang rezeki yang diberikan Allah. Di 36:24 frasa yang sama diucapkan seorang pembicara tentang dirinya, dengan syarat. Kata-katanya tidak berubah, tetapi arah sasarannya berubah, dan jarak keduanya dua puluh tiga ayat. Satu kalimat dapat terdengar berbeda bergantung pada siapa yang dikenainya. Bagaimana sebutan yang sama terasa bila diterima dari orang lain, dan bagaimana bila diucapkan kepada diri sendiri?
- Di 36:21 lelaki itu menyebut para utusan sebagai orang-orang yang mendapat petunjuk, dan di 36:24 kesesatan disebutnya untuk dirinya sendiri, itu pun dalam pengandaian. Di 34:24 dua pilihan itu ditaruh berdampingan, di atas petunjuk atau dalam kesesatan yang nyata. Susunan ucapan lelaki itu karena itu memberi petunjuk kepada orang lain dan memberi kemungkinan kesesatan kepada diri sendiri. Pembaca dapat bertanya, kata apa yang paling sering dipilihnya untuk orang lain dan kata apa untuk dirinya? Apakah pilihan itu pernah dibalik?
- Ayat 36:24 dan 36:25 sama-sama dibuka dengan innii, tetapi yang pertama berbentuk kesimpulan bersyarat dan yang kedua berbentuk pernyataan langsung, bahwa lelaki itu telah beriman kepada Tuhan kalian. Urutan itu menaruh pernyataan tentang bahaya lebih dulu daripada pernyataan iman. Orang yang biasa menyatakan keyakinan lebih dulu, baru kemudian mengatakan apa yang dihindarinya, dapat memperhatikan urutan ini. Apakah penolakan yang disertai alasan terdengar berbeda dari pengakuan yang berdiri sendiri?
- Di 54:24 susunan jika begitu, kita benar-benar dalam kesesatan dipakai untuk menolak mengikuti seorang manusia, dan di 36:24 susunan yang sama dipakai untuk menolak mengambil sembahan-sembahan lain. Kisah di 54:24 dan kisah di 36:24 berlainan dan tidak saling menjawab. Pembaca dapat melihat bahwa bentuk kalimat yang sama dapat mengantar dua keputusan yang arahnya berlawanan. Ketika sebuah alasan terdengar meyakinkan, bagaimana pembaca membedakan alasan yang menuntun ke arah yang benar dari alasan yang hanya menyerupainya?