إِنِّي آمَنْتُ بِرَبِّكُمْ فَاسْمَعُونِ
Sesungguhnya aku telah beriman kepada Tuhan kalian, maka dengarkanlah aku.”
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- إِنِّي آمَنْتُ بِرَبِّكُمْ فَاسْمَعُونِinnii aamantu bi-rabbikum fa-sma'uunisesungguhnya aku telah beriman kepada Tuhan kalian, maka dengarkanlah aku
Terjemahan per kata (4 kata)
- إِنِّيinniisesungguhnya aku
- آمَنْتُaamantuaku beriman
- بِرَبِّكُمْbi-rabbikumkepada Tuhan kalian
- فَاسْمَعُونِfa-sma'uunimaka dengarkanlah aku
Inti bacaan
Bentuk bi-rabbikum muncul lima kali di Al-Qur'an (3:193, 7:172, 36:25, 41:23, 57:8), dan gabungan dengan kata kerja iman milik pembicara, (آمَنْتُ بِرَبِّكُمْ, aamantu bi-rabbikum), hanya ada di 36:25.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (إِنِّي, innii) yang berarti "sesungguhnya aku", lalu disusul (آمَنْتُ, aamantu) yang berarti "aku telah beriman". Kata kerja itu berakar أ-م-ن, berbentuk lampau, dan pelakunya satu orang, yaitu pembicara sendiri. Kata kerja yang sama dengan pelaku satu orang ada juga di 10:90 dan 42:15, tetapi sambungannya berbeda: di 10:90 kata kerja itu bersambung dengan (أَنَّهُ, annahu) yang berarti "bahwa", dan di 42:15 dengan (بِمَا, bi-maa) yang berarti "kepada apa yang". Terjemahan di 36:25 memakai "telah beriman" supaya kalimat ini terbaca sebagai pernyataan atas sesuatu yang sudah terjadi.
Kata berikutnya, (بِرَبِّكُمْ, bi-rabbikum) yang berarti "kepada Tuhan kalian", tersusun dari (بِ, bi-) yang berarti "kepada", (رَبِّ, rabbi) yang berarti "Tuhan", dan (كُمْ, -kum) yang berarti "kalian". Akar kata Tuhan di sini ر-ب-ب. Akhiran -kum menunjuk orang banyak yang diajak bicara. Pembacaan di sini mengambilnya sebagai kaum yang disapa "wahai kaumku" di 36:20, sebab 36:20 sampai 36:22 berbicara kepada kaum. Bentuk (بِرَبِّكُمْ, bi-rabbikum) muncul lima kali di lima surah, yaitu 3:193, 7:172, 36:25, 41:23, dan 57:8. Dua ayat lain bersambung dengan iman. Di 3:193, (أَنْ آمِنُوا بِرَبِّكُمْ, an aaminuu bi-rabbikum) yang berarti "Berimanlah kalian kepada Tuhan kalian" menjadi isi seruan seorang penyeru, dan di 57:8, (لِتُؤْمِنُوا بِرَبِّكُمْ, li-tu'minuu bi-rabbikum) yang berarti "agar kalian beriman kepada Tuhan kalian" menjadi isi seruan Rasul. Di kedua tempat itu iman kepada Tuhan kalian diminta dari orang lain, sedangkan di 36:25 pembicara menyatakannya tentang dirinya. Gabungan (آمَنْتُ بِرَبِّكُمْ, aamantu bi-rabbikum) hanya ada di 36:25.
Terjemahan mempertahankan "Tuhan kalian" sebagaimana tertulis, tanpa mengubahnya menjadi "Tuhanku". Ayat 36:22 sudah menyiapkan sebutan ini: (وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ, wa-ilayhi turja'uuna) yang berarti "dan kepada-Nya kalian dikembalikan" menyebut Dia yang menciptakan pembicara sebagai tujuan kembali para pendengar juga. Karena itu "Tuhan kalian" di 36:25 mengikuti 36:22 dalam ucapan yang sama.
Kata terakhir, (فَاسْمَعُونِ, fa-sma'uuni) yang berarti "maka dengarkanlah aku", terdiri dari (فَ, fa) yang berarti "maka", (اسْمَعُوا, isma'uu) yang berarti "dengarkanlah" untuk orang banyak, dari akar س-م-ع, dan (نِ, -ni) yang berarti "aku". Bentuk ini hanya ada di 36:25. Terjemahan memakai "dengarkanlah aku" dengan "aku" sebagai sasaran langsung, sesuai tulisannya, dan tidak menambahkan "pengakuanku" atau "perkataanku". Huruf (فَ, fa) menyambung permintaan itu dengan pengakuan sebelumnya, sehingga terjemahan memakai "maka".
Tanda kutip penutup pada terjemahan menutup ucapan lelaki itu yang dibuka di 36:20, sebab 36:26 membuka dengan ucapan lain, yaitu (قِيلَ, qiila) yang berarti "dikatakan".
Tafsiran
Ayat ini menutup ucapan lelaki yang datang bergegas dari ujung kota. Ucapan itu dibuka di 36:20 dengan seruan "wahai kaumku" dan tersusun dalam tiga langkah: seruan mengikuti para rasul di 36:20 dan 36:21, pertanyaan tentang dirinya di 36:22 dan 36:23, lalu penilaian dan pengakuan di 36:24 dan 36:25. Ayat 36:24 dan 36:25 sama-sama dibuka dengan (إِنِّي, innii), tetapi keadaan yang dinyatakannya berlawanan. Ayat 36:24 menilai keadaan seandainya lelaki itu mengambil sembahan selain-Nya, yaitu kesesatan yang nyata, sedangkan 36:25 menyatakan keadaan yang diakuinya sudah terjadi, yaitu beriman.
Isi permintaannya mengecil dari awal sampai akhir. Di 36:20 dan 36:21 lelaki itu meminta kaumnya mengikuti, dengan dua kali (اتَّبِعُوا, ittabi'uu) yang berarti "ikutilah", dan di 36:25 permintaannya berganti menjadi didengarkan. Ayat ini tidak menyebut apa yang harus dilakukan kaumnya sesudah mendengar, sehingga permintaannya lebih ringan daripada seruan pembukanya.
Urutan iman dan mendengar di sini berbeda dari 3:193. Di sana orang-orang berkata, (سَمِعْنَا مُنَادِيًا, sami'naa munaadiyan) yang berarti "kami mendengar penyeru", lalu (فَآمَنَّا, fa-aamannaa) yang berarti "maka kami pun beriman", jadi mendengar mendahului iman. Di 36:25 iman disebut lebih dulu dan permintaan didengar menyusul. Dua ayat itu menyangkut pihak yang berbeda, dan perbandingan ini memperlihatkan dua urutan yang sama-sama tertulis dalam Al-Qur'an tanpa menyatukannya.
Pada alur kisah, ayat ini terletak sesudah ancaman merajam yang ditujukan kepada para utusan di 36:18 dan sebelum 36:26. Ayat 36:26 langsung membuka dengan "dikatakan", sehingga kisah berpindah dari permintaan lelaki itu ke taman tanpa memperlihatkan apakah permintaan itu dipenuhi.
Renungan dan Hikmah
- Sesudah dua ayat yang berisi pertanyaan dan syarat, ayat 36:25 memuat satu pernyataan tentang diri sendiri: aku telah beriman kepada Tuhan kalian. Pernyataan seperti itu tidak membutuhkan saksi, tidak menuduh siapa pun, dan sulit dibantah lawan bicara pada saat diucapkan, tetapi pengucapnya mengucapkannya di depan orang yang menolak. Orang yang pernah berada dalam perdebatan dapat mengenali selisih antara argumen yang bisa dibantah poin demi poin dan kalimat tentang diri sendiri yang tinggal diterima atau ditolak. Kalimat apa tentang dirinya yang pernah diucapkannya di depan orang yang tidak sepakat, dan apakah kalimat itu terasa lebih berat daripada seluruh argumennya?
- Pembicara di 36:25 menyebut Tuhan kalian, dan 36:22 sudah memuat dasarnya: kepada-Nya kalian dikembalikan. Pendengar tidak dikenalkan pada Tuhan milik pihak lain. Mereka disebut sebagai pemilik yang sama dengan pembicara, dan sebutan serupa dipakai Rasul di 57:8 ketika menyeru manusia beriman kepada Tuhan kalian. Pembaca yang berbeda keyakinan dengan lawan bicaranya dapat memperhatikan sebutan yang dipakainya untuk Dia yang diimaninya di depan orang itu, sebagai milik kelompoknya sendiri atau sebagai milik pendengarnya juga. Apakah sebutan itu menutup jarak dengan lawan bicaranya, atau malah memperlebarnya?
- Di 36:20 dan 36:21 lelaki itu meminta kaumnya mengikuti, dan di 36:25 pembicara meminta didengarkan. Isi keyakinannya tidak berubah dari awal sampai akhir ucapannya, tetapi permintaannya kepada pendengar turun dari mengikuti menjadi mendengarkan. Pembaca yang sedang berhadapan dengan orang yang tidak sependapat dapat melihat bahwa ukuran permintaan dan ukuran keyakinan bisa dipisahkan: seseorang tetap pada keyakinannya sambil meminta sedikit dari lawan bicaranya. Ayat 36:25 sendiri tidak mencatat apakah permintaan sekecil itu dipenuhi. Seberapa kecil permintaan yang berani diajukannya kepada orang yang menolaknya, tanpa mengubah isi yang diyakininya?
- Di 3:193 orang-orang berkata kepada Tuhan mereka bahwa mereka mendengar seorang penyeru, lalu beriman. Di 36:25 iman sudah ada lebih dulu, dan dari orang lain pembicara meminta didengar. Dua ayat itu menyangkut orang yang berbeda, tetapi urutannya dapat dipakai pembaca untuk bercermin pada dirinya sendiri. Keyakinan yang sedang dijalani pembaca sekarang datang lewat pendengarannya, atau sudah ada lebih dulu dan menunggu orang yang mau mendengarnya? Pertanyaan itu tidak punya jawaban yang sama untuk semua orang, dan masing-masing ayat memuat satu jawabannya.
- Ayat 36:18 memuat ancaman merajam yang ditujukan kepada para utusan, dan lelaki di 36:20 datang dari ujung kota dalam kisah yang sama. Ayat 36:25 tidak memuat kata takut atau berani, dan kedua kata itu tidak muncul di seluruh ucapannya dari 36:20 sampai 36:25. Pengakuan beriman diucapkan sesudah negeri itu memperlihatkan reaksinya terhadap para utusan yang diajaknya untuk diikuti. Pembaca dapat menimbang kalimat mana dalam hidupnya yang diucapkan setelah melihat apa yang terjadi pada orang yang lebih dulu mengucapkannya, dan apa yang dihitung sebelum mengucapkannya?
- Ayat 36:25 berakhir dengan permintaan, dan 36:26 membuka dengan "dikatakan" tanpa mencatat jawaban kaumnya. Ucapan yang panjang itu berhenti pada permintaan yang belum dijawab di dalam teks. Pembaca yang pernah menyampaikan keyakinannya lalu tidak mengetahui tanggapan lawan bicaranya dapat melihat bahwa kisah ini pun tidak mencatat jawaban. Dari mana pembaca mengukur bahwa ucapannya sudah selesai, dari jawaban yang diterimanya atau dari apa yang sudah disampaikannya?