وَالشَّمْسُ تَجْرِي لِمُسْتَقَرٍّ لَهَا ۚ ذَٰلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ

Dan matahari berjalan menuju tempat menetapnya. Itu ketetapan Sang Digdaya lagi Sang Berilmu.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَالشَّمْسُ تَجْرِي لِمُسْتَقَرٍّ لَهَاwa-sy-syamsu tajrii li-mustaqarrin lahaadan matahari berjalan menuju tempat menetapnya
  2. ذَٰلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِdzaalika taqdiiru l-'aziizi l-'aliimiitu ketetapan Sang Digdaya lagi Sang Berilmu

Terjemahan per kata (8 kata)

  1. وَالشَّمْسُwa-sy-syamsudan matahari
  2. تَجْرِيtajriimengalir
  3. لِمُسْتَقَرٍّli-mustaqarrinpada tempat menetap
  4. لَهَاlahaabaginya
  5. ذَٰلِكَdzaalikaitu
  6. تَقْدِيرُtaqdiiruketetapan
  7. الْعَزِيزِl-'aziiziSang Digdaya
  8. الْعَلِيمِl-'aliimiSang Berilmu

Inti bacaan

Rangkaian (ذَٰلِكَ تَقْدِيرُ, dzaalika taqdiiru) muncul tiga kali di Al-Qur'an, yaitu di 6:96, 36:38, dan 41:12, dan di ketiganya rangkaian itu mendahului kata (الْعَزِيزِ, l-'aziizi).

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (وَالشَّمْسُ, wa-sy-syamsu) yang berarti "dan matahari" dan berakar ش-م-س. Morfologi mencatat kata ini berjenis perempuan, dan kata kerja (تَجْرِي, tajrii) serta akhiran pada (لَهَا, lahaa) memakai bentuk perempuan yang sama, sehingga keduanya menunjuk matahari. Bentuk wa-sy-syamsu muncul tiga kali di tiga surah, yaitu di 22:18, 36:38, dan 41:37. Di 22:18 matahari termasuk yang tunduk kepada Allah, di 41:37 matahari termasuk sebagian dari tanda-tanda-Nya, dan di 36:38 matahari menjadi pelaku sebuah gerakan.

Kata kerja tajrii yang berarti "berjalan" berakar ج-ر-ي dan menandai perbuatan yang sedang berlangsung, tanpa penanda kapan perjalanan itu dimulai. Akar yang sama dipakai bersama sebuah batas pada empat ayat lain tentang matahari dan bulan. Di 13:2, 35:13, dan 39:5 ada (يَجْرِي لِأَجَلٍ مُسَمًّى, yajrii li-ajalin musamman) yang berarti "berjalan sampai waktu yang ditentukan", dan di 31:29 ada (يَجْرِي إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى, yajrii ilaa ajalin musamman) dengan kata depan lain. Di empat ayat itu batasnya berupa waktu, dan pelakunya adalah matahari dan bulan sekaligus. Di 36:38 batasnya memakai kata lain dan pelakunya hanya matahari.

Kata (مُسْتَقَرٍّ, mustaqarrin) dalam (لِمُسْتَقَرٍّ لَهَا, li-mustaqarrin lahaa) berakar ق-ر-ر dan tidak memakai kata sandang, sehingga terjemahan memakai "tempat menetap" dan tidak memakai "tempat menetap itu". Kata ini muncul dalam beberapa bentuk. Bentuk (مُسْتَقَرٌّ, mustaqarrun) ada empat kali, yaitu di 2:36, 6:67, 6:98, dan 7:24. Bentuk (مُسْتَقَرًّا, mustaqarran) ada tiga kali, yaitu di 25:24, 25:66, dan 25:76. Bentuk (مُسْتَقَرَّهَا, mustaqarrahaa) ada di 11:6, bentuk (الْمُسْتَقَرُّ, al-mustaqarru) ada di 75:12, dan bentuk mustaqarrin hanya di 36:38. Di 7:24, (وَلَكُمْ فِي الْأَرْضِ مُسْتَقَرٌّ, wa-lakum fii l-ardhi mustaqarrun) yang berarti "dan bagi kalian di bumi ada tempat menetap" memakai kata itu untuk manusia. Di 75:12, (إِلَىٰ رَبِّكَ يَوْمَئِذٍ الْمُسْتَقَرُّ, ilaa rabbika yawma'idzin al-mustaqarru) yang berarti "kepada Tuhanmulah pada hari itu tempat menetap" memakai kata itu untuk satu hari yang disebut. Terjemahan memakai "tempat menetap" seperti di 6:98, 7:24, 25:66, 25:76, dan 75:12. Ayat 36:38 tidak menyebut di mana tempat itu.

Kata (تَقْدِيرُ, taqdiiru) yang berarti "ketetapan" berakar ق-د-ر. Terjemahan memakai "ketetapan" untuk akar ini, dan memakai "tempat menetap" untuk akar ق-ر-ر di bagian ayat sebelumnya, supaya dua akar yang berbeda tidak memakai satu kata Indonesia dalam satu ayat. Bentuk taqdiiru ada tiga kali, yaitu di 6:96, 36:38, dan 41:12, dan di ketiganya didahului (ذَٰلِكَ, dzaalika) yang berarti "itu". Rangkaian (ذَٰلِكَ تَقْدِيرُ, dzaalika taqdiiru) menutup uraian yang berbeda di tiap ayat: di 6:96 uraian tentang malam, matahari, dan bulan, di 41:12 uraian tentang tujuh langit beserta pelita-pelita, dan di 36:38 uraian tentang gerak matahari. Ketiga ayat tidak merinci apa persisnya yang ditunjuk kata itu. Di ayat berikutnya akar yang sama muncul sebagai kata kerja, (قَدَّرْنَاهُ, qaddarnaahu) yang berarti "Kami tetapkan baginya" di 36:39, dan terjemahan memakai "tetap" di kedua ayat itu.

Kata (الْعَزِيزِ, l-'aziizi) yang berarti "Sang Digdaya" berakar ع-ز-ز, dan kata (الْعَلِيمِ, l-'aliimi) yang berarti "Sang Berilmu" berakar ع-ل-م. Keduanya memakai kata sandang al-, sehingga terjemahan memakai "Sang" pada keduanya. Pasangan (الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ, l-'aziizi l-'aliimi) muncul empat kali, yaitu di 6:96, 36:38, 40:2, dan 41:12. Di 40:2, (مِنَ اللَّهِ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ, mina llaahi al-'aziizi l-'aliimi) menyebut nama Allah lebih dulu, sedangkan di 36:38, 6:96, dan 41:12 pasangan itu berdiri tanpa nama. Terjemahan 36:38 tidak menambahkan nama dalam kurung, karena pemilik ketetapan itu disebut ayat hanya lewat dua sifat.

Tafsiran

Ayat ini memuat dua kalimat, satu tentang gerak matahari dan satu tentang pemilik ketetapannya. Di 36:37 dan 36:39 pelakunya Kami, tetapi 36:38 tidak memuat kata Kami. Matahari menjadi pelaku kata kerjanya sendiri, dan pihak yang menetapkan baru muncul di kalimat kedua lewat dua sifat. Pola itu sama dengan 6:95 dan 6:96: nama Allah disebut di ayat pertama, lalu ayat kedua menutup dengan (ذَٰلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ, dzaalika taqdiiru l-'aziizi l-'aliimi) tanpa nama. Karena itu dapat dibaca bahwa pihak yang disebut Kami di 36:37 dan 36:39 dan pihak yang disebut dua sifat di 36:38 adalah pihak yang sama. Pembacaan ini bertumpu pada urutan ayat, dan 36:38 sendiri tidak menyatakannya.

Daftar yang berjalan dari 36:37 sampai 36:40 sama isinya dengan 41:37: (وَمِنْ آيَاتِهِ, wa-min aayaatihi) yang berarti "dan sebagian dari tanda-tanda-Nya" disusul (اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ, l-laylu wa-n-nahaaru wa-sy-syamsu wa-l-qamaru) yang berarti "malam, siang, matahari, dan bulan". Di 41:37 keempatnya disebut dalam satu napas, lalu ayat itu menyebut tunduk kepada Allah yang menciptakannya dan tidak kepada matahari dan bulan. Di 36:37 sampai 36:40 keempatnya tersebar dalam empat ayat, dan matahari menempati yang kedua. Ayat 36:38 tidak mengulang kata "tanda", sehingga posisinya sebagai tanda diambil dari 36:37 yang mendahuluinya, dan pembacaan itu dapat ditopang oleh 41:37.

Ayat ini juga mengikat dirinya ke ayat berikutnya lewat akar ق-د-ر: taqdiiru di akhir 36:38 dan qaddarnaahu di awal 36:39. Ketetapan Sang Digdaya lagi Sang Berilmu di ujung ayat ini menjadi alas bagi pernyataan Kami tentang bulan, sehingga dua ayat itu terbaca sebagai satu pasangan: gerak matahari dengan penetapnya, lalu tempat-tempat bulan dengan penetapnya. Di tengah ayat, kata mustaqarrin tidak diberi keterangan lebih lanjut, dan keterangan gerak benda langit berikutnya baru muncul di 36:40 lewat kata garis edar.

Renungan dan Hikmah

  • Satu kalimat di ayat ini memuat gerak dan tempat menetap sekaligus: matahari berjalan, dan tujuannya disebut sebagai tempat menetap. Kata menetap itu dipakai juga untuk manusia di 7:24, dan di 75:12 dipakai untuk satu hari yang tempatnya disebut kepada Tuhan. Tiga pemakaian itu berbeda, sehingga tidak disamakan, tetapi satu ayat tentang benda langit dan dua ayat tentang manusia dan hari memakai kata yang sama. Pembaca yang hidupnya terasa bergerak terus dapat bertanya apakah ujung geraknya pernah disebutnya, atau hanya geraknya? Ayat ini menyebut keduanya dalam satu kalimat pendek.
  • Ketetapan di ayat ini diberikan kepada dua sifat sekaligus, yaitu kedigdayaan dan keberilmuan. Di 40:2 pasangan itu mengikuti nama Allah, dan di 36:38 pasangan itu berdiri sendiri. Dengan menaruh keduanya berdampingan, ayat ini tidak menyebut kuasa yang berdiri tanpa ilmu dan tidak menyebut ilmu yang berdiri tanpa kuasa. Pembaca yang memegang wewenang atas urusan orang lain dapat memeriksa sifat mana yang biasa diandalkannya lebih dulu. Apakah pembaca pernah menetapkan sesuatu karena mampu saja, atau karena tahu saja?
  • Ayat sebelum dan sesudahnya memakai Kami, sedangkan ayat ini memakai dua sifat dalam orang ketiga. Di 6:95 nama Allah muncul lebih dulu, dan 6:96 ditutup dengan kalimat penutup yang sama dengan 36:38. Pembaca mendengar dua cara menyebut: sebagai orang pertama yang bertindak dan sebagai orang ketiga yang dikenali lewat sifat. Dapat dibaca bahwa keduanya menyebut pihak yang sama, dan bahwa pergantian itu memberi pembaca kesempatan menaruh sifat di atas perbuatan: sesudah mendengar Kami menanggalkan siang, pembaca mendengar bagaimana yang bertindak itu dikenali. Pembacaan ini bersifat kemungkinan, sebab ayat tidak menyatakan sendiri maksud pergantian itu.
  • Kata dzaalika di ayat ini menunjuk sesuatu yang disebut sebelumnya, tetapi ayat tidak menyebut apa persisnya. Di 36:38 sebelumnya hanya ada gerak matahari menuju tempat menetapnya, dan di 36:37 ada malam dengan siang yang ditanggalkan. Di 6:96 dan 41:12 kata yang sama menutup hal yang lebih banyak. Pembaca dapat bertanya apakah ketetapan yang disebut itu hanya menyangkut matahari, atau seluruh susunan malam, siang, matahari, dan bulan. Ayat ini tidak menjawab, dan bagian yang tidak dijawab itu ikut menentukan seberapa luas pembaca memandang ketetapan tersebut.
  • Ayat ini menaruh matahari sebagai pelaku gerak yang tujuannya disebut dan ketetapannya dimiliki pihak lain. Di 41:37 matahari dan bulan disebut sebagian dari tanda-tanda-Nya, lalu ayat itu menyebut tunduk kepada Allah yang menciptakannya dan tidak kepada matahari atau bulan. Dua ayat itu berbicara dalam suasana berbeda, tetapi keduanya menaruh matahari di bawah sesuatu yang menetapkan geraknya. Orang yang takjub pada sesuatu yang besar dan teratur dapat memperhatikan ke mana kekagumannya mengarah: kepada yang bergerak, atau kepada yang menetapkan gerak itu. Apakah arah kagum itu pernah diperiksa?
  • Kata lahaa menaruh tempat menetap sebagai milik matahari, dan 7:24 memakai kata yang sama untuk manusia: bagi kalian di bumi ada tempat menetap dan kesenangan sampai suatu waktu. Matahari di 36:38 dan manusia di 7:24 sama-sama diberi tempat menetap, dan di kedua ayat itu tempatnya tidak dirinci. Ayat 7:24 menambahkan bahwa tempat itu disertai kesenangan sampai waktu tertentu, sedangkan 36:38 tidak menambahkan apa pun di ayatnya sendiri. Pembaca dapat membandingkan keduanya tanpa menyimpulkan lebih dari yang tertulis. Apa yang berubah pada cara pembaca memandang hari-harinya bila tempat menetapnya disebut bersama batas waktu, sedangkan tempat menetap matahari disebut tanpa batas waktu dalam ayat ini?