وَالْقَمَرَ قَدَّرْنَاهُ مَنَازِلَ حَتَّىٰ عَادَ كَالْعُرْجُونِ الْقَدِيمِ

Dan bulan, Kami tetapkan baginya tempat-tempat peredaran, sehingga kembalilah ia seperti tandan yang tua.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَالْقَمَرَ قَدَّرْنَاهُ مَنَازِلَwa-l-qamara qaddarnaahu manaaziladan bulan, Kami tetapkan baginya tempat-tempat peredaran
  2. حَتَّىٰ عَادَ كَالْعُرْجُونِ الْقَدِيمِhattaa 'aada ka-l-'urjuuni l-qadiimisehingga kembalilah ia seperti tandan yang tua

Terjemahan per kata (7 kata)

  1. وَالْقَمَرَwa-l-qamaradan bulan
  2. قَدَّرْنَاهُqaddarnaahuKami menentukannya
  3. مَنَازِلَmanaazilatempat-tempat
  4. حَتَّىٰhattaasampai
  5. عَادَ'aadakembali
  6. كَالْعُرْجُونِka-l-'urjuuniseperti tandan
  7. الْقَدِيمِl-qadiimiyang tua

Inti bacaan

Kata (مَنَازِلَ, manaazila) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 10:5 dan 36:39, dan keduanya mengikuti kata kerja dari akar ق-د-ر.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (وَالْقَمَرَ, wa-l-qamara) yang berarti "dan bulan" dan berakar ق-م-ر. Morfologi mencatat kata ini berjenis laki-laki, dan akhiran -hu pada (قَدَّرْنَاهُ, qaddarnaahu) berjenis laki-laki yang sama, sehingga -hu menunjuk kembali ke bulan. Di 36:38 matahari berdiri di awal ayat sebagai pelaku kata kerjanya sendiri. Di 36:39 bulan berdiri di awal ayat sebagai benda yang dikenai kata kerja Kami, sehingga dua ayat berurutan ini memberi dua kedudukan yang berbeda bagi dua benda langit.

Kata kerja qaddarnaahu yang berarti "Kami tetapkan" berakar ق-د-ر dan memakai bentuk yang menandai perbuatan selesai dengan pelaku Kami. Akar yang sama muncul di akhir ayat sebelumnya, (تَقْدِيرُ, taqdiiru) yang berarti "ketetapan" di 36:38, dan terjemahan memakai "tetap" di kedua ayat itu. Bentuk qaddarnaahu hanya ada di 36:39. Susunan kata kerja dari akar ق-د-ر, akhiran -hu, lalu (مَنَازِلَ, manaazila) juga ada di 10:5 dengan (وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ, wa-qaddarahu manaazila) yang berarti "serta menetapkan tempat-tempat peredarannya". Bedanya, pelaku di 10:5 adalah Dia, dan di 10:5 ada tujuan yang disebut sesudahnya, (لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ, li-ta'lamuu 'adada s-siniina wa-l-hisaaba) yang berarti "agar kalian mengetahui bilangan tahun dan perhitungan". Ayat 36:39 tidak menyebut tujuan.

Kata manaazila yang berarti "tempat-tempat" berakar ن-ز-ل dan berbentuk jamak. Kata ini muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 10:5 dan 36:39. Terjemahan menambahkan "peredaran" sesudah "tempat-tempat", sama seperti "tempat-tempat peredarannya" di 10:5, dan tidak ada kata Arab tersendiri untuk "peredaran" di kedua ayat itu. Tambahan itu menjelaskan bahwa tempat-tempat tersebut adalah tempat yang dilalui bulan. Jumlah tempat itu tidak ditulis.

Rangkaian (حَتَّىٰ عَادَ, hattaa 'aada) yang berarti "sehingga kembalilah" muncul satu kali di Al-Qur'an. Kata kerja 'aada berakar ع-و-د dan muncul tiga kali dalam bentuk ini, yaitu di 2:275, 5:95, dan 36:39. Di 2:275 dan 5:95, (وَمَنْ عَادَ, wa-man 'aada) menuturkan orang yang kembali kepada perbuatan yang sudah lalu. Di 36:39 pelakunya bulan, dan kata kerja itu disusul perbandingan. Keadaan bulan sebelum kembali itu tidak ditulis.

Kata (كَالْعُرْجُونِ, ka-l-'urjuuni) yang berarti "seperti tandan" tersusun dari awalan ka yang berarti "seperti" dan kata berakar ع-ر-ج-ن. Kata 'urjuun hanya muncul di 36:39, sehingga korpus tidak memperlihatkan pemakaian lain yang dapat dijadikan pembanding. Terjemahan memakai "tandan" tanpa menambahkan jenis tumbuhannya, karena kata Arabnya tidak membawa jenis itu. Awalan ka juga tidak menunjuk sisi persamaan antara bulan dan tandan, dan terjemahan tidak menambahkan kata "bentuk" atau "warna".

Kata (الْقَدِيمِ, l-qadiimi) yang berarti "yang tua" berakar ق-د-م dan muncul tiga kali, yaitu di 12:95, 36:39, dan 46:11. Di 12:95 kata itu menerangkan kekeliruan seseorang, dan di 46:11, (إِفْكٌ قَدِيمٌ, ifkun qadiimun) menerangkan kebohongan. Di kedua tempat itu yang diterangkan sudah berlangsung lama. Terjemahan memakai "tua" di 36:39, "yang dahulu" di 12:95, dan "lama" di 46:11, mengikuti benda yang diterangkan di tiap ayat.

Tafsiran

Ayat ini menuturkan bulan sebagai benda yang berubah rupa dalam satu urutan: Kami menetapkan tempat-tempat baginya, lalu bulan sampai pada keadaan yang disamakan dengan tandan yang tua. Urutannya dibangun oleh (حَتَّىٰ, hattaa), sehingga keadaan terakhir terbaca sebagai ujung dari penetapan itu. Ayat ini tidak menyebut berapa tempat yang dilewati dan tidak menyebut cahaya bulan, sehingga perbandingan dengan tandan harus dibaca sebatas yang tertulis.

Dibandingkan dengan 36:38, ayat ini menaruh dua hal yang berbeda. Matahari di 36:38 memiliki satu tempat menetap dan tidak disebut berubah rupa. Bulan di 36:39 memiliki banyak tempat dan disebut berubah. Dua ayat itu dihubungkan akar ق-د-ر: ketetapan Sang Digdaya lagi Sang Berilmu di ujung 36:38, lalu Kami tetapkan di awal 36:39. Dapat dibaca bahwa gerak matahari dan perubahan bulan sama-sama berada di bawah penetapan yang sama, dengan 36:38 menyebut penetapnya lewat sifat dan 36:39 menyebutnya lewat perbuatan Kami. Pembacaan ini bertumpu pada urutan ayat.

Di 10:5 susunan yang sama dipakai dengan tujuan yang disebut sesudahnya, yaitu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan, sedangkan 36:39 berhenti pada keadaan akhir bulan. Ayat 36:40 sesudahnya menaruh matahari dan bulan berdampingan dalam satu kalimat tentang apa yang tidak pantas terjadi pada keduanya, sehingga ayat 36:39 menyiapkan bulan sebagai benda yang sudah memiliki jalannya sebelum kalimat itu datang.

Renungan dan Hikmah

  • Bulan di ayat ini berubah, dan perubahan itu disebut sebagai bagian dari penetapan. Kata Kami tetapkan menaruh tempat-tempat yang banyak di dalam satu penetapan. Di 10:5 Dia yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, lalu menetapkan tempat-tempat peredarannya agar bilangan tahun dan perhitungan diketahui. Dua ayat itu menyebut pelaku dan tujuan yang berbeda, sehingga keduanya tidak disamakan. Pembaca yang sedang mengalami perubahan pada keadaannya dapat bertanya apakah perubahan itu sudah dihitung sebagai bagian dari sebuah penetapan, atau dianggapnya keluar dari penetapan.
  • Ayat ini memakai kata kembali untuk bulan, dan keadaan yang ditinggalkan tidak ditulis. Di 2:275 dan 5:95 kata yang sama dipakai untuk orang yang kembali kepada perbuatan yang sudah lalu, sehingga arti kembali di dua ayat itu menunjuk sesuatu yang pernah ada lebih dulu. Di 36:39 sesuatu yang lebih dulu itu tidak tertulis, dan tempat tujuannya saja yang diberi nama. Pembaca yang membaca kata kembali dapat memperhatikan bahwa kata itu membawa arah asal. Ke keadaan apakah bulan kembali, bila pembaca hanya diberi tujuannya?
  • Bulan yang tempat-tempatnya ditetapkan Kami dibandingkan dengan tandan yang tua, sesuatu yang tumbuh lalu menua, dan tidak dibandingkan dengan benda langit yang lain. Ayat tidak menyebut jenis tandan dan tidak menyebut dalam hal apa keduanya serupa, sehingga perbandingan itu terbuka pada sisi persamaannya. Gambaran tentang sebuah benda langit dipinjam dari sesuatu yang berumur. Orang yang kesulitan menggambarkan sesuatu yang besar dapat memperhatikan bahwa ayat ini memilih perbandingan dari hal yang menua, tidak dari hal yang megah. Ayat tidak menambah keterangan apa pun sesudah perbandingan itu, dan pembaca dibiarkan menimbang sendiri seberapa jauh perbandingan itu cukup.
  • Matahari di 36:38 disebut berjalan menuju satu tempat menetap, dan bulan di 36:39 disebut melewati banyak tempat lalu berubah rupa. Yang satu tidak disebut berubah, yang lain disebut berubah, dan keduanya berada di bawah ketetapan yang sama. Di 10:5 Dia menjelaskan tanda-tanda kepada kaum yang mengetahui, dan 36:38 sampai 36:39 memberi dua tanda yang berlawanan caranya. Pembaca yang menganggap hanya yang tetap itu teratur dapat bertanya mengapa ayat ini menaruh yang berubah bersama yang tetap dalam satu ketetapan. Apakah keteraturan lebih mudah dikenali pada yang tampak tetap saja?
  • Ayat ini berhenti pada keadaan akhir bulan tanpa menyebut tujuannya, sedangkan 10:5 menyebut tujuan menetapkan tempat-tempat itu, yaitu bilangan tahun dan perhitungan, lalu menyatakan bahwa Allah tidak menciptakan demikian itu kecuali dengan benar. Dua ayat itu berbicara dalam susunan yang mirip tetapi tidak sama, sehingga tujuan di 10:5 tidak dipindahkan ke 36:39. Dapat dibaca bahwa sebuah gambaran bisa dibaca sendiri sebagai tanda, dan bisa dibaca bersama tujuannya sebagai alat hitung. Pembaca dapat memeriksa bagian mana yang lebih dulu dilihatnya ketika memandang bulan: tandanya, atau gunanya.
  • Perbandingan di ayat ini memakai ka, yang berarti seperti, tanpa menyebut sisi persamaannya. Bulan menyerupai tandan yang tua, tetapi ayat tidak mengatakan dalam hal apa. Pembaca yang membaca perbandingan ini harus mengisinya sendiri, dan isian itu tidak datang dari ayat. Ayat memberi perbandingan dan membiarkan sisi persamaannya kosong. Dalam hal apa bulan menyerupai tandan yang tua, dan dari mana pembaca mengetahui hal itu selain dari ayat ini?