وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ أَنْفِقُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ قَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنُطْعِمُ مَنْ لَوْ يَشَاءُ اللَّهُ أَطْعَمَهُ إِنْ أَنْتُمْ إِلَّا فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Infakkanlah sebagian rezeki yang diberikan Allah kepada kalian,” orang-orang yang kufur berkata kepada orang-orang yang beriman, “Apakah kami akan memberi makan orang yang jika Allah menghendaki, Dia akan memberinya makan? Kalian tidak lain hanyalah dalam kesesatan yang nyata.”
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ أَنْفِقُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُwa-idzaa qiila lahum anfiquu mimmaa razaqakumu llaahudan apabila dikatakan kepada mereka, infakkanlah sebagian rezeki yang diberikan Allah kepada kalian
- قَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنُطْعِمُ مَنْ لَوْ يَشَاءُ اللَّهُ أَطْعَمَهُqaala lladziina kafaruu li-lladziina aamanuu a-nuth'imu man law yasyaa'u llaahu ath'amahuorang-orang yang kufur berkata kepada orang-orang yang beriman, apakah kami akan memberi makan orang yang jika Allah menghendaki, Dia akan memberinya makan
- إِنْ أَنْتُمْ إِلَّا فِي ضَلَالٍ مُبِينٍin antum illaa fii dhalaalin mubiininkalian tidak lain hanyalah dalam kesesatan yang nyata
Terjemahan per kata (24 kata)
- وَإِذَاwa-idzaadan apabila
- قِيلَqiiladikatakan
- لَهُمْlahumkepada mereka
- أَنْفِقُواanfiquunafkahkanlah kalian
- مِمَّاmimmaadari apa yang
- رَزَقَكُمُrazaqakumumemberi kalian rezeki
- اللَّهُllaahuAllah
- قَالَqaalaberkata
- الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
- كَفَرُواkafaruukufur
- لِلَّذِينَli-lladziinabagi orang-orang yang
- آمَنُواaamanuuberiman
- أَنُطْعِمُa-nuth'imuapakah kami memberi makan
- مَنْmanorang yang
- لَوْlawsekiranya
- يَشَاءُyasyaa'uDia kehendaki
- اللَّهُllaahuAllah
- أَطْعَمَهُath'amahumemberinya makan
- إِنْinjika
- أَنْتُمْantumkalian
- إِلَّاillaakecuali
- فِيfiidalam
- ضَلَالٍdhalaalinkesesatan
- مُبِينٍmubiininyang nyata
Inti bacaan
Argumen keliru yang terungkap: 'apakah kami memberi makan orang yang jika Allah menghendaki, Dia akan memberinya makan?', kesalahan logika yang menyalahgunakan kekuasaan Allah sebagai alasan menghindari tanggung jawab sosial berbagi rezeki dengan sesama.
Tafsiran
Ayat ini menampilkan logika sesat yang dipakai untuk menolak sedekah: memutarbalikkan kekuasaan Allah sebagai alasan untuk tidak berbagi, seolah kemurahan Allah membebaskan manusia dari tanggung jawab peduli sesama.
Renungan dan Hikmah
- Ayat ini menyingkap cara berpikir yang memutarbalikkan teologi untuk kepentingan pribadi, argumen bahwa Allah bisa memberi makan sendiri jika berkehendak dipakai untuk menolak kewajiban berbagi, sebuah penyalahgunaan konsep kekuasaan Allah demi menghindari tanggung jawab sosial.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)
Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.
(akar q-w-l, n-f-q, r-z-q, a-l-h, k-f-r, a-m-n, t-'-m, sh-y-a, d-l-l, b-y-n): a-nut'imu man law yashaa'u llaah at'amahu diterjemahkan 'apakah kami memberi makan orang yang jika Allah kehendaki Dia memberinya makan' (akar t-'-m + akar sh-y-', dalih fatalis untuk menolak sedekah: takdir disalahgunakan melalaikan tanggung jawab moral, cf. 6:148, 16:35, tema diin/fatalisme); dalaal mubiin diterjemahkan 'kesesatan yang nyata' (akar d-l-l 78 + akar b-y-n, ironis: kafir yang menuduh mukmin sesat). Selaras.