وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ أَنْفِقُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ قَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنُطْعِمُ مَنْ لَوْ يَشَاءُ اللَّهُ أَطْعَمَهُ إِنْ أَنْتُمْ إِلَّا فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Infakkanlah sebagian rezeki yang diberikan Allah kepada kalian,” orang-orang yang kufur berkata kepada orang-orang yang beriman, “Apakah kami akan memberi makan orang yang jika Allah menghendaki, Dia akan memberinya makan? Kalian tidak lain berada dalam kesesatan yang nyata.”
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ أَنْفِقُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُwa-idzaa qiila lahum anfiquu mimmaa razaqakumu llaahudan apabila dikatakan kepada mereka, infakkanlah sebagian rezeki yang diberikan Allah kepada kalian
- قَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنُطْعِمُ مَنْ لَوْ يَشَاءُ اللَّهُ أَطْعَمَهُqaala lladziina kafaruu li-lladziina aamanuu a-nuth'imu man law yasyaa'u llaahu ath'amahuorang-orang yang kufur berkata kepada orang-orang yang beriman, apakah kami akan memberi makan orang yang jika Allah menghendaki, Dia akan memberinya makan
- إِنْ أَنْتُمْ إِلَّا فِي ضَلَالٍ مُبِينٍin antum illaa fii dhalaalin mubiininkalian tidak lain berada dalam kesesatan yang nyata
Terjemahan per kata (24 kata)
- وَإِذَاwa-idzaadan apabila
- قِيلَqiiladikatakan
- لَهُمْlahumkepada mereka
- أَنْفِقُواanfiquunafkahkanlah kalian
- مِمَّاmimmaadari apa yang
- رَزَقَكُمُrazaqakumumemberi kalian rezeki
- اللَّهُllaahuAllah
- قَالَqaalaberkata
- الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
- كَفَرُواkafaruukufur
- لِلَّذِينَli-lladziinabagi orang-orang yang
- آمَنُواaamanuuberiman
- أَنُطْعِمُa-nuth'imuapakah kami memberi makan
- مَنْmanorang yang
- لَوْlawsekiranya
- يَشَاءُyasyaa'uDia kehendaki
- اللَّهُllaahuAllah
- أَطْعَمَهُath'amahumemberinya makan
- إِنْintidaklah
- أَنْتُمْantumkalian
- إِلَّاillaakecuali
- فِيfiidalam
- ضَلَالٍdhalaalinkesesatan
- مُبِينٍmubiininyang nyata
Inti bacaan
Rangkaian (لَوْ يَشَاءُ اللَّهُ, law yasyaa'u llaahu) muncul tiga kali di Al-Qur'an, yaitu di 13:31, 36:47, dan 47:4.
Penjelasan pilihan kata
Seperti 36:45, ayat ini dimulai dengan (وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ, wa-idzaa qiila lahum) yang berarti "dan apabila dikatakan kepada mereka". Kata kerja qiila berbentuk pasif seperti di 36:45, sehingga yang berkata tidak disebut. Rangkaian dengan lahum muncul delapan kali di enam surah, yaitu 2:11, 2:13, 2:91, 4:61, 5:104, 16:24, 36:47, dan 63:5. Seruannya di sini (أَنْفِقُوا, anfiquu) yang berarti "infakkanlah", kata kerja perintah berakar ن-ف-ق. Bentuk itu muncul sembilan kali di tujuh surah, yaitu 2:195, 2:254, 2:267, 9:53, 36:47, 57:7, 63:10, 64:16, dan 65:6. Rangkaian (أَنْفِقُوا مِمَّا, anfiquu mimmaa) yang berarti "infakkanlah sebagian dari apa yang" muncul tiga kali, yaitu 2:254, 36:47, dan 57:7. Di 2:254 benda yang diinfakkan disebut (مِمَّا رَزَقْنَاكُمْ, mimmaa razaqnaakum) yang berarti "dari apa yang Kami rezekikan kepada kalian", dan di 57:7 disebut (مِمَّا جَعَلَكُمْ مُسْتَخْلَفِينَ فِيهِ, mimmaa ja'alakum mustakhlafiina fiihi) yang berarti "dari apa yang Dia jadikan kalian sebagai pengelolanya". Ketiga ayat itu menyebut asal benda yang diinfakkan, dan asal itu dinyatakan sebagai pemberian atau penyerahan pengelolaan.
Frasa (مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ, mimmaa razaqakumu llaahu) yang berarti "dari apa yang Allah rezekikan kepada kalian" memuat razaqa yang berakar ر-ز-ق. Frasa itu muncul lima kali di lima surah, yaitu 5:88, 6:142, 7:50, 16:114, dan 36:47. Di 5:88, 6:142, dan 16:114 frasa itu mengikuti perintah makan. Di 7:50 frasa itu mengikuti permintaan penghuni api kepada penghuni taman, agar mereka dituangi air atau sebagian dari apa yang Allah rezekikan. Di 36:47 frasa itu mengikuti perintah infak. Kata min pada mimmaa diterjemahkan "sebagian", karena menunjuk bagian dari apa yang diberikan, seperti "nafkahkanlah sebagian dari apa yang Kami rezekikan" di 2:254.
Kata (أَنُطْعِمُ, a-nuth'imu) yang berarti "apakah kami akan memberi makan" tersusun dari a yang berarti "apakah" dan nuth'imu yang berarti "kami memberi makan", berakar ط-ع-م. Kata kerja nuth'imu muncul tiga kali di tiga surah dengan tiga pembicara yang berbeda, yaitu 36:47, 74:44, dan 76:9. Di 74:44, (وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ, wa-lam naku nuth'imu) yang berarti "dan kami tidak memberi makan" diucapkan orang-orang yang ditanya mengapa mereka masuk Saqar. Di 76:9, (نُطْعِمُكُمْ, nuth'imukum) yang berarti "kami memberi kalian makan" diucapkan orang-orang yang memberi makan dalam 76:8. Dengan Allah sebagai pelaku, kata kerja serupa hadir di 106:4 dalam (أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ, ath'amahum min juu'in) yang berarti "memberi mereka makan dari kelaparan", dan di 6:14 dalam (وَهُوَ يُطْعِمُ وَلَا يُطْعَمُ, wa-huwa yuth'imu wa-laa yuth'amu) yang berarti "dan Dia memberi makan dan tidak diberi makan".
Gabungan (مَنْ لَوْ يَشَاءُ اللَّهُ أَطْعَمَهُ, man law yasyaa'u llaahu ath'amahu) yang berarti "orang yang jika Allah menghendaki, Dia akan memberinya makan" memuat man yang berarti "orang yang", tanpa keterangan tentang siapa orangnya. Rangkaian (لَوْ يَشَاءُ اللَّهُ, law yasyaa'u llaahu) muncul tiga kali di tiga surah, yaitu 13:31, 36:47, dan 47:4. Di 13:31 dan 47:4 jawab syaratnya diawali la, yaitu (لَهَدَى, la-hadaa) yang berarti "tentu Dia memberi petunjuk" dan (لَانْتَصَرَ, la-ntashara) yang berarti "niscaya Dia membalas". Di 36:47 jawabnya (أَطْعَمَهُ, ath'amahu) tanpa la. Terjemahan memakai "Dia akan memberinya makan" untuk jawab itu.
Kalimat terakhir, (إِنْ أَنْتُمْ إِلَّا فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ, in antum illaa fii dhalaalin mubiinin), memuat in yang menyangkal dan diterjemahkan "tidak lain", sehingga artinya "kalian tidak lain berada dalam kesesatan yang nyata". Rangkaian (إِنْ أَنْتُمْ إِلَّا, in antum illaa) muncul tujuh kali di enam surah, yaitu 6:148, 11:50, 14:10, 30:58, 36:15, 36:47, dan 67:9. Dengan (فِي ضَلَالٍ, fii dhalaalin) rangkaian itu muncul dua kali, yaitu 36:47 dan 67:9, dan di 67:9 sifatnya (كَبِيرٍ, kabiirin) yang berarti "besar". Kata (ضَلَالٍ, dhalaalin) berakar ض-ل-ل dan diterjemahkan "kesesatan", dan (مُبِينٍ, mubiinin) berakar ب-ي-ن dan diterjemahkan "yang nyata". Frasa (ضَلَالٍ مُبِينٍ, dhalaalin mubiinin) muncul delapan belas kali di enam belas surah, yaitu 3:164, 6:74, 7:60, 12:8, 12:30, 19:38, 21:54, 26:97, 28:85, 31:11, 34:24, 36:24, 36:47, 39:22, 43:40, 46:32, 62:2, dan 67:29.
Tafsiran
Dua kalimat dalam ayat ini sama-sama bertumpu pada Allah. Seruan di awal ayat mendasarkan perintahnya pada (مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ, mimmaa razaqakumu llaahu), yaitu harta yang diberikan Allah, dan jawaban di tengah ayat mendasarkan penolakannya pada (لَوْ يَشَاءُ اللَّهُ, law yasyaa'u llaahu), yaitu kehendak Allah untuk memberi makan. Kedua kalimat menyebut pemberi yang sama dan sampai pada kesimpulan yang berlawanan: infakkanlah, dan haruskah kami memberi makan. Ayat 36:47 mengutip keduanya tanpa menyelesaikan perbedaan itu, dan 36:48 beralih ke pertanyaan tentang sebuah janji.
Di tempat lain Al-Qur'an memuat dua pernyataan yang bersangkutan dengan ayat ini. Allah disebut memberi makan di 6:14, 26:79, dan 106:4, dan manusia diperintahkan memberi makan di 22:36, sedangkan tidak mendorong memberi makan orang miskin disebut sebagai ciri pihak yang dibicarakan di 69:34 dan 107:3. Ayat 36:47 sendiri tidak menyebut miskin dan memakai (مَنْ, man) yang berarti "orang yang". Jawaban dalam ayat ini memakai pernyataan pertama tanpa pernyataan kedua: Allah dapat memberi makan, dan karena itu pemberian manusia dijadikan tidak perlu.
Frasa kesesatan di ujung ayat sudah muncul di surah yang sama. Di 36:24 seorang laki-laki berkata (إِنِّي إِذًا لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ, innii idzan la-fii dhalaalin mubiinin) yang berarti "sesungguhnya aku, jika demikian, benar-benar berada dalam kesesatan yang nyata", sebagai syarat bagi diri laki-laki itu sendiri bila menyembah selain Allah. Di 36:47 frasa yang sama diucapkan kepada orang-orang beriman sebagai tuduhan. Surah ini memakai kata yang sama dua kali, dengan arah yang berlawanan: menimbang diri dan menjatuhkan vonis kepada orang lain.
Sesudah 36:46 yang menyatakan bahwa mereka berpaling dari setiap tanda, ayat ini memuat tanggapan yang berupa kata-kata. Dapat dibaca bahwa berpaling di 36:46 mencakup berpaling dari isi seruan sambil tetap menjawabnya, tetapi ayat 36:46 sendiri tidak menunjuk jawaban ini.
Renungan dan Hikmah
- Seruan di ayat ini menyebut Allah sebagai asal rezeki, dan jawabannya menyebut Allah sebagai yang dapat memberi makan. Kedua kalimat memakai pemberi yang sama, tetapi yang satu menghasilkan perintah dan yang lain menghasilkan penolakan. Pembaca yang pernah diminta membantu dapat memeriksa kalimat apa yang disiapkannya sebagai jawaban: kalimat yang menyebut Allah sebagai asal hartanya, atau kalimat yang menyebut Allah sebagai alasan untuk menunggu. Apa yang membuat sebuah kalimat tentang Allah bergerak ke arah memberi atau ke arah menahan?
- Di 2:254, 36:47, dan 57:7 benda yang diinfakkan disebut berasal dari pemberian atau penyerahan: dari apa yang Kami rezekikan, dari apa yang Allah rezekikan, dan dari apa yang Dia jadikan kalian sebagai pengelolanya. Dengan penyebutan itu harta yang diinfakkan digambarkan sebagai sesuatu yang lebih dulu sampai kepada orang yang menginfakkannya. Ayat 57:7 menambahkan kata pengelola, dan ayat 2:254 menambahkan hari yang tidak ada jual beli di dalamnya. Pembaca dapat menandai bagian dari penghasilannya yang paling sulit dibaca sebagai pemberian, lalu bertanya apa yang berubah pada bagian itu bila dibaca demikian.
- Orang yang akan diberi makan di ayat ini disebut dengan kata orang yang, tanpa keterangan tambahan: tidak disebut miskin, kerabat, atau tamu. Di 74:44 yang diberi makan disebut orang miskin, dan di 22:36 disebut orang yang merasa cukup dan orang yang meminta-minta. Jawaban di 36:47 melewati keterangan semacam itu, sehingga penerimanya tinggal sebuah pengandaian yang urusannya, menurut kalimat itu, sudah berada di tangan Allah. Pembaca dapat memperhatikan bagaimana orang yang membutuhkan disebut dalam percakapannya sendiri: dengan nama, dengan keadaan, atau dengan sebutan yang menyerahkan perkaranya kepada Tuhan?
- Penolakan di ayat ini berbentuk pertanyaan, apakah kami akan memberi makan. Bentuk itu meminta pendengar menjawab, dan jawaban yang diharapkan sudah terasa dari cara bertanya. Pembaca dapat memperhatikan penolakan yang dikemas sebagai pertanyaan, misalnya kenapa harus saya atau memangnya wajib. Apakah penolakan yang dibungkus pertanyaan terasa lebih ringan bagi yang mengucapkannya dan lebih berat bagi yang mendengarnya?
- Di 36:24 seorang laki-laki berkata bahwa menyembah selain Allah akan membuatnya berada dalam kesesatan yang nyata, dan di 36:47 frasa yang sama diucapkan orang-orang kufur kepada orang-orang beriman. Dua kalimat itu memakai kata yang sama dengan arah berbeda: yang pertama menimbang diri sendiri bila berbuat sesuatu, yang kedua menjatuhkan vonis kepada orang lain. Pembaca yang pernah diberi cap serupa karena menolak sebuah ajakan dapat menimbang bahwa surah ini memakai cap itu untuk dua tujuan yang berlawanan. Cap mana yang lebih dulu ditimbang pembaca pada dirinya sendiri sebelum dikenakan kepada orang lain?
- Di 74:44 orang-orang yang ditanya mengapa mereka masuk Saqar menyebut bahwa dahulu mereka tidak memberi makan orang miskin, dan di 7:50 penghuni api meminta kepada penghuni taman air atau sebagian dari apa yang Allah rezekikan. Di 36:47 kata yang sama dipakai dalam pertanyaan penolakan. Ayat-ayat itu berasal dari tempat yang berlainan dalam Al-Qur'an dan tidak boleh disatukan menjadi satu kisah, tetapi ketiganya menaruh makan di tiga arah: ditolak, tidak dilakukan, lalu diminta. Bagaimana pertanyaan apakah kami akan memberi makan terdengar bila yang mengucapkannya adalah pihak yang kini ingin diberi makan?
- Di 13:31 kalimat bersyarat tentang kehendak Allah diajukan sebagai hal yang seharusnya diketahui orang beriman: seandainya Allah menghendaki, Dia memberi petunjuk kepada seluruh manusia. Di 36:47 kalimat bersyarat yang sama diajukan sebagai alasan untuk tidak memberi makan. Ayat 13:31 berbicara tentang petunjuk dan 36:47 tentang makanan, sehingga keduanya tidak disamakan, tetapi dua ayat itu menunjukkan bahwa sebuah pernyataan tentang kehendak Allah dapat dipakai untuk dua tujuan yang berlainan. Pembaca dapat memeriksa kalimat bersyarat tentang kehendak Allah yang pernah diucapkannya, dan tujuan apa yang dilayaninya.