سَلَامٌ قَوْلًا مِنْ رَبٍّ رَحِيمٍ
“Salam sejahtera,” sebagai ucapan dari Tuhan yang pengasih.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- سَلَامٌ قَوْلًا مِنْ رَبٍّ رَحِيمٍsalaamun qawlan min rabbin rahiiminsalam sejahtera, sebagai ucapan dari Tuhan yang pengasih
Terjemahan per kata (5 kata)
- سَلَامٌsalaamunkesejahteraan
- قَوْلًاqawlanperkataan
- مِنْmindari
- رَبٍّrabbinTuhan
- رَحِيمٍrahiiminpengasih
Inti bacaan
Susunan (سَلَامٌ قَوْلًا, salaamun qawlan) dan frasa (مِنْ رَبٍّ رَحِيمٍ, min rabbin rahiimin) masing-masing muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 36:58.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (سَلَامٌ, salaamun) yang berarti "salam sejahtera", berakar س-ل-م. Bentuk ini muncul dalam tiga susunan di ayat-ayat tentang taman dan hari pertemuan. Pertama, disusul penerima, seperti (سَلَامٌ عَلَيْكُمْ, salaamun 'alaykum) di 7:46, 13:24, dan 39:73. Kedua, disebut sebagai penghormatan, dan frasa (تَحِيَّتُهُمْ, tahiyyatuhum) yang berarti "penghormatan mereka" muncul tiga kali, yaitu di 10:10, 14:23, dan 33:44, antara lain (وَتَحِيَّتُهُمْ فِيهَا سَلَامٌ, wa-tahiyyatuhum fiihaa salaamun) di 10:10 yang berarti "dan penghormatan mereka di dalamnya adalah salam". Ketiga, disebut tanpa penerima dan tanpa kata penghormatan, seperti di 36:58. Ayat ini tidak memuat (عَلَيْكُمْ, 'alaykum), sehingga terjemahan memakai "salam sejahtera" tanpa "atas kalian". Terjemahan juga tidak menambahkan "dikatakan kepada mereka" atau "mereka disambut", karena ayat ini tidak memuat kata kerja dan tidak menyebut siapa yang menerima ucapan itu.
Kata (قَوْلًا, qawlan) yang berarti "ucapan" berakar ق-و-ل dan berakhiran -an. Di ayat lain kata ini sering disusul sifat, seperti (قَوْلًا كَرِيمًا, qawlan kariiman) di 17:23 yang berarti "perkataan yang mulia" dan (قَوْلًا سَدِيدًا, qawlan sadiidan) di 33:70 yang berarti "perkataan yang tepat". Di 36:58 kata itu berdiri tanpa sifat, dan sifat melekat pada sumbernya, yaitu Tuhan yang pengasih. Susunan (سَلَامٌ قَوْلًا, salaamun qawlan) hanya muncul di 36:58. Padanan terdekat ada di 56:26, yaitu (إِلَّا قِيلًا سَلَامًا سَلَامًا, illaa qiilan salaaman salaaman) yang berarti "kecuali ucapan, 'Salam, salam'", dengan akar yang sama untuk menyebut salam sebagai ucapan. Terjemahan 36:58 karena itu memakai "sebagai ucapan" dan menaruh "Salam sejahtera" dalam tanda kutip.
Frasa (مِنْ رَبٍّ رَحِيمٍ, min rabbin rahiimin) yang berarti "dari Tuhan yang pengasih" hanya muncul di 36:58. Kata (رَبٍّ, rabbin) berakar ر-ب-ب dan tidak diberi penanda milik, berbeda dari (رَبِّهِمْ, rabbihim) yang berarti "Tuhan mereka" di 36:51. Kata (رَحِيمٍ, rahiimin) dengan akhiran -in muncul dua kali, yaitu di 36:58 dan di 41:32 dalam (غَفُورٍ رَحِيمٍ, ghafuurin rahiimin) yang berarti "pengampun lagi pengasih". Bentuk bertanda tentu, (الرَّحِيمِ, r-rahiimi), muncul enam kali, yaitu di 1:1, 1:3, 26:217, 27:30, 36:5, dan 41:2. Terjemahan memakai "pengasih" dengan huruf kecil dan tanpa "Maha" karena bentuknya tak tentu. Bentuk yang menyatakan tingkat tertinggi dari akar yang sama dipakai di ayat lain, yaitu (أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ, arhamu r-raahimiina) di 7:151, dan bentuk (أَرْحَمُ, arhamu) muncul empat kali, yaitu di 7:151, 12:64, 12:92, dan 21:83. Ayat 36:58 memakai bentuk yang berbeda dari bentuk itu, sehingga "Maha" tidak ditambahkan.
Tafsiran
Ayat ini menutup rangkaian taman dengan ucapan, sesudah tiga ayat yang menyebut keadaan, tempat, dan isi. Ayat 36:55 sampai 36:57 menyebut apa yang ada pada penghuni taman, dan 36:58 menyebut ucapan dari Tuhan. Sumber ucapan itu disebut jelas untuk pertama kalinya dalam rangkaian ini, sebab tiga ayat sebelumnya tidak menyebut siapa yang menyediakan.
Rangkaian dari 36:51 sampai 36:58 memuat kata Tuhan dua kali dengan arah yang berbeda. Di 36:51 orang-orang bergegas dari kubur menuju Tuhan mereka, dan di 36:58 ucapan datang dari Tuhan yang pengasih. Di antara keduanya, 36:52 menyebut Ar-Rahman dalam ucapan mereka yang baru bangkit, dan akar kata pengasih di 36:58 sama dengan akar kata itu. Surah ini juga memuat sifat yang sama, (الْعَزِيزِ الرَّحِيمِ, l-'aziizi r-rahiimi) di 36:5 yang berarti "Sang Digdaya lagi Sang Pengasih", yaitu dua sifat. Ayat 36:58 menyebut satu sifat saja.
Penghuni taman juga menjadi sasaran salam di 7:46. Di sana orang-orang di atas tempat-tempat yang tinggi menyeru para penghuni taman dengan salam sejahtera, sebelum orang-orang yang menyeru itu memasukinya. Pada 36:58 sumber salam adalah Tuhan yang pengasih. Konteksnya berbeda dan kedua ayat tidak disamakan: 7:46 memuat penyeru dan penerima, sedangkan 36:58 memuat sumber saja.
Ayat berikutnya, 36:59, langsung beralih ke perintah kepada para pendosa. Ayat 36:58 tidak menyebut apakah salam itu sampai kepada semua yang disebut di ayat sebelumnya, dan rangkaian taman berhenti di sini.
Renungan dan Hikmah
- Tiga ayat sebelum 36:58 menyebut keadaan, naungan, dipan, dan buah-buahan, hal-hal yang dialami tubuh. Ayat 36:58 menyebut ucapan dari Tuhan yang pengasih. Di 10:10 penghormatan penghuni taman satu sama lain berbunyi salam, sesudah doa mereka "Mahasuci Engkau, ya Allah", sehingga ucapan juga ada di antara mereka. Kedua ayat berbicara tentang tempat yang sama dan peristiwa yang berbeda. Pembaca dapat memeriksa urutan hal-hal yang diharapkannya dari orang lain atau dari Tuhan: tubuh dahulu, atau kata dahulu? Kata apa yang paling ingin didengarnya, dan dari siapa?
- Di 19:62 penghuni taman tidak mendengar perkataan yang tidak berguna di dalamnya, kecuali salam. Ayat 36:58 menyebut ucapan dari Tuhan yang pengasih, dan 19:62 menyebut apa yang tersisa bagi telinga. Ayat 19:62 memperlihatkan bahwa dalam gambaran taman telinga tidak menerima perkataan yang tidak berguna. Pembaca dapat menghitung kata-kata yang didengarnya dalam sehari, dari percakapan, berita, dan pesan yang masuk. Berapa banyak di antaranya yang terdengar sebagai salam? Apa yang akan tersisa bila telinga menerima kata seperti ucapan di 36:58 saja?
- Ayat 36:58 tidak menyebut kepada siapa salam itu ditujukan, sedangkan di 39:73 salam disusul kata kalian, yaitu salaamun 'alaykum, bersama pernyataan bahwa mereka telah menjadi baik. Ayat 36:58 menyebut ucapan dan sumbernya saja, yaitu Tuhan yang pengasih. Pembaca yang pernah menerima ucapan baik tanpa nama penerima di dalamnya, seperti doa atau sapaan umum yang terasa ditujukan kepada semua orang, dapat mengingat bagaimana ucapan itu terasa. Apakah ucapan yang tidak menyebut namanya lebih mudah dianggap sebagai milik orang lain?
- Di 36:5 surah ini menyebut dua sifat pada penurun wahyu, Sang Digdaya lagi Sang Pengasih. Pada 36:58, ketika ucapan datang kepada penghuni taman, yang disebut hanya satu sifat, yaitu pengasih, dan pada kata Tuhan tidak ada penanda milik. Ayat ini tidak menyebut mengapa hanya satu yang tertulis, sehingga pengurangan itu tidak dijelaskan. Pembaca dapat mencatat bahwa dari dua sifat di awal surah yang tersisa di bagian ini adalah sifat kasih. Sifat apa yang paling ingin didengarnya disebut tentang Tuhan pada hari yang digambarkan 36:58?
- Ayat 36:51 menyebut orang-orang bergegas menuju Tuhan mereka, dan 36:58 menyebut ucapan yang datang dari Tuhan yang pengasih. Arah pertama adalah gerak manusia, arah kedua adalah ucapan yang diterima. Pembaca yang sepanjang hari bergegas menuju banyak hal, seperti pekerjaan, pengakuan, dan penyelesaian, dapat menimbang apa yang diharapkannya terucap kepadanya ketika bergegas itu berhenti. Ayat 36:58 tidak menjelaskan lamanya perjalanan antara kedua titik itu, sehingga jarak antara keduanya dibiarkan terbuka. Ke arah mana pembaca bergegas hari ini, dan ucapan apa yang diharapkannya menyambut di ujung?
- Di 13:24 salam disusul alasan, yaitu bi-maa shabartum yang berarti karena kesabaran kalian, dan di 39:73 salam disusul kata thibtum yang berarti kalian telah menjadi baik. Ayat 36:58 tidak memuat alasan semacam itu. Teks tidak menyatakan bahwa alasan itu tidak ada, dan 36:54 sudah menyatakan bahwa balasan mengikuti apa yang dikerjakan. Pembaca dapat membandingkan tiga ayat itu sebagai tiga bentuk salam yang tertulis, dua dengan keterangan tambahan dan satu dengan sumber saja. Ketika menerima kebaikan dari orang lain, apakah alasannya selalu ditanyakan, dan kapan cukup bertanya dari siapa kebaikan itu datang?