وَأَنِ اعْبُدُونِي ۚ هَٰذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ
Dan mengabdilah kepada-Ku. Ini jalan yang lurus.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- وَأَنِ اعْبُدُونِيwa-ani 'buduuniidan mengabdilah kepada-Ku
- هَٰذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌhaadzaa shiraathun mustaqiimunini jalan yang lurus
Terjemahan per kata (5 kata)
- وَأَنِwa-anidan yaitu
- اعْبُدُونِي'buduuniimengabdilah kepada-Ku
- هَٰذَاhaadzaaini
- صِرَاطٌshiraathunjalan
- مُسْتَقِيمٌmustaqiimunyang lurus
Inti bacaan
Rangkaian (هَٰذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ, haadzaa shiraathun mustaqiimun) muncul lima kali di empat surah dalam Al-Qur'an, yaitu 3:51, 19:36, 36:61, 43:61, dan 43:64, dan di kelimanya ia berada tepat sesudah sebuah perintah.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (وَأَنِ اعْبُدُونِي, wa-ani 'buduunii) yang berarti "dan mengabdilah kepada-Ku". Huruf (وَ, wa) yang berarti "dan" menyambungnya dengan 36:60, tempat larangan (أَنْ لَا تَعْبُدُوا, an laa ta'budu) memakai akar yang sama. Kata (اعْبُدُونِي, 'buduunii) tersusun dari kata kerja perintah berakar ع-ب-د, akhiran -uu yang menunjuk beberapa orang yang diajak bicara, dan akhiran -nii yang berarti "-Ku". Bentuk persis (اعْبُدُونِي, 'buduunii) hanya muncul di 36:61.
Perintah jamak yang sama dengan objek "Aku" muncul dalam bentuk (فَاعْبُدُونِ, fa-'buduuni) tiga kali di dua surah, yaitu 21:25, 21:92, dan 29:56. Di 21:25 perintah itu didahului (أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا, annahu laa ilaaha illaa anaa) yang berarti "bahwa tidak ada tuhan kecuali Aku", dan di 21:92 didahului (وَأَنَا رَبُّكُمْ, wa-anaa rabbukum) yang berarti "dan Aku adalah Tuhan kalian". Di 29:56 perintah itu didahului (فَإِيَّايَ, fa-iyyaaya) yang berarti "maka kepada-Ku", sehingga terjemahannya memuat "saja". Di 36:61 tidak ada kata semacam itu di depan perintah, dan terjemahan karena itu tidak menambahkan "saja".
Di 29:56 perintah itu juga tersambung dengan sapaan (عِبَادِيَ, 'ibaadiya) yang berarti "hamba-hamba-Ku", yang berakar sama dengan (اعْبُدُونِي, 'buduunii). Karena kata kerja dan kata benda "hamba" lahir dari satu akar, terjemahan memakai "mengabdi" dan tidak memakai "menyembah", sehingga hubungan keduanya tetap terbaca.
Partikel (أَنِ, ani) yang membuka perintah ini sama dengan partikel pada (أَنِ اعْبُدُوا, ani 'buduu) yang muncul lima kali di lima surah, yaitu 5:117, 16:36, 23:32, 27:45, dan 71:3. Di kelima ayat itu objek perintahnya ditulis sebagai kata terpisah, (اللَّهَ, llaaha) yang berarti "Allah", dan terjemahannya berbunyi "Mengabdilah kepada Allah". Di 36:61 objeknya melekat sebagai akhiran -nii pada kata kerja, sehingga terjemahan memakai "mengabdilah kepada-Ku" dengan pola kalimat yang sama.
Kata (صِرَاطٌ, shiraathun) yang berarti "jalan" berakar ص-ر-ط dan berakhiran -un, tanda benda tak tentu, sehingga terjemahan memakai "jalan" tanpa "itu" atau "satu". Kata (مُسْتَقِيمٌ, mustaqiimun) yang berarti "yang lurus" berakar ق-و-م dan menerangkan jalan tersebut. Di Surah 36 akar ص-ر-ط muncul tiga kali, yaitu (صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ, shiraathin mustaqiimin) di 36:4, (صِرَاطٌ, shiraathun) di 36:61, dan (الصِّرَاطَ, sh-shiraatha) di 36:66.
Kata (هَٰذَا, haadzaa) yang berarti "ini" menunjuk sesuatu yang sudah disebut. Rangkaian (هَٰذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ, haadzaa shiraathun mustaqiimun) muncul lima kali di empat surah, yaitu 3:51, 19:36, 36:61, 43:61, dan 43:64; surah 43 memuatnya dua kali. Di 3:51, 19:36, dan 43:64 rangkaian itu mengikuti (فَاعْبُدُوهُ, fa-'buduuhu) yang berarti "maka mengabdilah kepada-Nya", dan di 43:61 mengikuti (وَاتَّبِعُونِ, wa-ttabi'uuni) yang berarti "dan ikutilah Aku". Di kelima tempat itu kata tunjuk berada tepat sesudah sebuah perintah, termasuk di 36:61. Teks tidak menyebut apa yang ditunjuk. Karena kelima ayat menaruh kata tunjuk itu sesudah perintah, pembacaan yang paling dekat dengan susunan teks ialah bahwa kata tunjuk itu menunjuk perintah di depannya.
Tafsiran
Ayat ini menyelesaikan pesan yang dibuka di 36:60 dengan (أَلَمْ أَعْهَدْ إِلَيْكُمْ, a-lam a'had ilaykum). Pesan itu punya dua isi yang masing-masing dibuka sebuah partikel an, yang pertama berupa larangan di 36:60 dan yang kedua berupa perintah di 36:61, lalu keduanya disambung dengan huruf wa. Karena itu perintah di ayat ini terbaca sebagai bagian dari kutipan pesan lama. Lawan bicaranya dalam adegan ini dapat dibaca sebagai para pendosa yang di 36:59 diperintah berpisah, dan sampai 36:63 ayat-ayat itu tidak mencatat jawaban mereka.
Unsur-unsur yang sama muncul di 43:61 dan 43:62 dalam urutan terbalik. Di sana perintah (وَاتَّبِعُونِ, wa-ttabi'uuni) lebih dulu, disusul (هَٰذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ, haadzaa shiraathun mustaqiimun), lalu larangan (وَلَا يَصُدَّنَّكُمُ الشَّيْطَانُ, wa-laa yashuddannakumu sy-syaythaanu) dan kalimat (إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ, innahu lakum 'aduwwun mubiinun). Di 36:60 sampai 36:61 urutannya larangan, kalimat tentang musuh, perintah, lalu jalan. Konteks keduanya berbeda, sebab 43:61 mengikuti pernyataan tentang pengetahuan bagi hari kiamat, sedangkan 36:61 mengikuti pesan dalam adegan pemisahan. Yang sama hanya jarak antara kalimat tentang jalan dan kalimat tentang musuh, yang di kedua tempat berdekatan.
Bagi alur Surah 36, kata jalan sudah muncul di 36:4 sebelum adegan ini dan akan muncul lagi di 36:66 sesudahnya. Ayat 36:61 berada di tengah dan menghubungkan kata itu dengan sebuah perintah. Dapat dibaca bahwa kata jalan di 36:4 dan 36:66 memperoleh isinya dari ayat ini, tetapi ayat 36:4 dan 36:66 sendiri tidak menyebut perintah mengabdi, sehingga pembacaan itu bersifat kemungkinan.
Renungan dan Hikmah
- Ayat 36:60 memuat larangan dengan akar ع-ب-د dan ayat 36:61 memuat perintah dengan akar yang sama, sehingga satu akar dipakai untuk dua alamat yang berlawanan, yaitu setan di ayat pertama dan Aku di ayat kedua. Setan disebut di 36:60 sebagai musuh yang nyata. Susunan itu dapat dibaca sebagai pesan yang menyebut dua alamat bagi pengabdian tanpa menyebut pilihan ketiga yang bebas dari keduanya, dan teksnya sendiri tidak membahas pilihan ketiga itu. Pembaca dapat memeriksa hidupnya sendiri: kepada siapa atau apa pembaca paling sering menyesuaikan jadwal, tenaga, dan keputusannya, dan apakah kebiasaan itu pernah disebutnya sebagai pengabdian?
- Di 21:25 perintah mengabdi didahului pernyataan bahwa tidak ada tuhan kecuali Aku, dan di 21:92 didahului pernyataan bahwa Aku adalah Tuhan kalian. Di 36:61 alasan semacam itu tidak mendahului perintah. Sebelum perintah itu ada kalimat tentang setan sebagai musuh yang nyata, dan sesudahnya ada kalimat tentang jalan yang lurus. Dua ayat dari Surah 21 itu berbicara dalam konteks lain, yaitu tentang para rasul dan umat yang satu, sehingga keduanya tidak dipakai untuk menafsirkan 36:61. Orang yang diminta mengabdi dapat memperhatikan di mana alasan biasanya diletakkan, sebelum menaati atau sesudahnya. Apakah perintah yang selama ini ditaati selalu datang bersama alasan yang dipahami, atau kadang ketaatan datang lebih dulu dan pemahaman menyusul?
- Di 3:51, 19:36, dan 43:64 perintah mengabdi memakai kata ganti orang ketiga dan didahului pernyataan bahwa Allah adalah Tuhanku dan Tuhan kalian, sehingga pendengar lebih dulu mendengar tentang Allah dan baru kemudian diperintah mengabdi kepada-Nya. Di 36:61 perintah itu memakai kata Aku, dan nama Allah tidak tertulis di ayat ini maupun di 36:60. Kalimat itu ditujukan langsung kepada pendengar. Ayat-ayat tadi berbicara dalam konteks yang berbeda, sehingga yang dibandingkan hanya letak kata gantinya. Seorang pembaca yang akrab dengan kalimat tentang Allah dapat bertanya apa yang berubah ketika kalimat itu berbunyi kepada-Ku, dan apakah perintah mengabdi pernah terbaca sebagai kalimat yang sedang berbicara kepada pembaca itu sendiri?
- Di lima tempat kata tunjuk itu mengikuti sebuah perintah, yaitu mengabdi kepada-Nya di 3:51, 19:36, dan 43:64, mengikuti Aku di 43:61, dan mengabdi kepada-Ku di 36:61. Ayat-ayat itu tidak memerinci jalan yang lurus dengan daftar tempat, waktu, atau cara, dan teks menaruh sebutan itu tepat di samping satu perintah pendek. Teks tidak menyatakan apakah perintah itu seluruh isi jalan atau salah satu bagiannya. Pembaca yang biasa membayangkan jalan lurus sebagai peta panjang dengan banyak persimpangan dapat melihat betapa dekat jarak sebutan itu dari perintahnya dalam teks. Apakah perintah di sampingnya terasa cukup sederhana untuk dipegang sehari-hari, ataukah ia terasa jauh lebih besar daripada kalimat pendek yang menyebutnya?
- Ayat 36:60 membuka dengan pertanyaan bahwa pesan itu sudah disampaikan lebih dulu, sehingga perintah mengabdi di 36:61 adalah isi pesan lama yang kini dikutip di hadapan para pendosa yang dipisahkan di 36:59. Teks tidak mencatat jawaban mereka atas perintah itu, dan kalimat yang menyusul langsung berbicara tentang penyesatan di 36:62. Nama pihak yang berbicara dengan kata Aku tidak tertulis di 36:60 sampai 36:61, dan nama Allah tertulis di ayat-ayat lain yang memuat perintah serupa, seperti 16:36. Bagi pembaca yang masih berada sebelum adegan itu, kalimat yang sama masih terbaca sebagai perintah yang belum dijawab. Jawaban apa yang akan diberikan pembaca bila pesan itu dikutip kepadanya hari ini?
- Surah 36 menyebut jalan tiga kali. Di 36:4 jalan yang lurus menjadi tempat orang yang di 36:3 disebut salah seorang dari para rasul, di 36:61 sebutan itu ditempelkan pada perintah mengabdi, dan di 36:66 jalan menjadi tujuan orang-orang yang mata mereka seandainya dihapus tetap berlomba menujunya. Dua yang pertama memakai kata tak tentu bersama kata yang lurus, sedangkan yang ketiga memakai kata tentu tanpa keterangan tambahan. Orang yang diutus, orang yang diperintah, dan orang yang berlomba disebut bersama kata jalan yang sama. Pembaca dapat menanyakan posisi mana di antara ketiganya yang paling sering diambilnya, dan apakah pernah ada perlombaan menuju sesuatu yang dimulai sebelum jalannya terlihat jelas?