وَلَوْ نَشَاءُ لَمَسَخْنَاهُمْ عَلَىٰ مَكَانَتِهِمْ فَمَا اسْتَطَاعُوا مُضِيًّا وَلَا يَرْجِعُونَ
Dan sekiranya Kami menghendaki, niscaya Kami ubah bentuk mereka di tempat mereka, sehingga mereka tidak sanggup maju dan tidak dapat kembali.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- وَلَوْ نَشَاءُ لَمَسَخْنَاهُمْ عَلَىٰ مَكَانَتِهِمْwa-law nasyaa'u la-masakhnaahum 'alaa makaanatihimdan sekiranya Kami menghendaki, niscaya Kami ubah bentuk mereka di tempat mereka
- فَمَا اسْتَطَاعُوا مُضِيًّا وَلَا يَرْجِعُونَfa-ma stathaa'uu mudhiyyan wa-laa yarji'uunasehingga mereka tidak sanggup maju dan tidak dapat kembali
Terjemahan per kata (10 kata)
- وَلَوْwa-lawdan sekiranya
- نَشَاءُnasyaa'uKami kehendaki
- لَمَسَخْنَاهُمْla-masakhnaahumsungguh Kami akan mengubah bentuk mereka
- عَلَىٰ'alaaatas
- مَكَانَتِهِمْmakaanatihimtempat mereka
- فَمَاfa-mamaka tidak
- اسْتَطَاعُواstathaa'uumereka mampu
- مُضِيًّاmudhiyyanberjalan
- وَلَاwa-laadan tidak pula
- يَرْجِعُونَyarji'uunakembali
Inti bacaan
Kata kerja (لَمَسَخْنَاهُمْ, la-masakhnaahum) muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 36:67.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (وَلَوْ نَشَاءُ, wa-law nasyaa'u) yang berarti "dan sekiranya Kami menghendaki". Rangkaian itu muncul empat kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 36:66, 36:67, 43:60, dan 47:30. Di keempat tempat itu kata kerja sesudahnya berawalan la-, yaitu (لَطَمَسْنَا, la-thamasnaa) di 36:66, (لَمَسَخْنَاهُمْ, la-masakhnaahum) di 36:67, (لَجَعَلْنَا, la-ja'alnaa) di 43:60, dan (لَأَرَيْنَاكَهُمْ, la-araynaakahum) di 47:30. Awalan la- ditandai sebagai penegas dalam morfologi korpus, dan terjemahan membacanya "niscaya". Akibat yang diandaikan berbeda di tiap ayat, yaitu hilangnya penglihatan di 36:66, perubahan bentuk di 36:67, malaikat di bumi di 43:60, dan penunjukan orang-orang tertentu di 47:30, padahal rumus andaiannya sama.
Kata (لَمَسَخْنَاهُمْ, la-masakhnaahum) yang berarti "niscaya Kami ubah bentuk mereka" tersusun dari la- yang berarti "niscaya", kata kerja masakha, (نَا, -naa) yang berarti "Kami", dan (هُمْ, -hum) yang berarti "mereka". Kata kerja masakha berakar م-س-خ. Bentuk persis la-masakhnaahum muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 36:67, dan tidak ada kata lain dari akar م-س-خ di ayat mana pun. Karena itu arti "ubah bentuk" tidak dapat diuji dengan ayat lain, dan petunjuknya datang dari ayat ini sendiri: kata kerja itu disusul keterangan tempat dan hilangnya kemampuan bergerak. Wujud yang menjadi hasilnya tidak diberi nama di ayat ini, sehingga terjemahan tidak menambahkan nama wujud baru.
Kata (مَكَانَتِهِمْ, makaanatihim) yang berarti "tempat mereka" berakar ك-و-ن dan tersusun dari makaanat serta (هِمْ, -him) yang berarti "mereka". Rangkaian (عَلَىٰ مَكَانَتِهِمْ, 'alaa makaanatihim) muncul satu kali, yaitu di 36:67. Kata makaanat yang sama ada di empat ayat lain dalam rangkaian (عَلَىٰ مَكَانَتِكُمْ, 'alaa makaanatikum), yaitu 6:135, 11:93, 11:121, dan 39:39, dan keempatnya didahului perintah berbuat, (اعْمَلُوا, 'maluu). Di empat ayat itu terjemahan memakai "kedudukan". Di 36:67 terjemahan memakai "tempat" karena ayat ini menyebut ketidakmampuan maju dan kembali, sehingga yang ditunjuk adalah letak berdiri. Kedua padanan itu berasal dari satu kata Arab yang dapat menunjuk letak berdiri maupun kedudukan, dan tempat macam apa yang dimaksud tidak dirinci.
Kata (فَمَا اسْتَطَاعُوا, fa-ma stathaa'uu) yang berarti "sehingga mereka tidak sanggup" tersusun dari (فَ, fa) yang berarti "sehingga", (مَا, ma) yang berarti "tidak", dan kata kerja stathaa'uu yang berarti "mereka sanggup". Rangkaian fa-maa stathaa'uu muncul dua kali, yaitu di 36:67 dan di 51:45, (فَمَا اسْتَطَاعُوا مِنْ قِيَامٍ, fa-maa stathaa'uu min qiyaamin) yang berarti "maka mereka tidak mampu bangun". Di kedua ayat kata kerja itu disusul hal yang tidak dapat dilakukan: bangun di 51:45, dan di 36:67 (مُضِيًّا, mudhiyyan) yang berarti "maju". Bentuk persis mudhiyyan muncul satu kali. Kata lain dari akar م-ض-ي ada di empat ayat, yaitu (وَامْضُوا, wa-mdhuu) di 15:65 yang diterjemahkan "teruskanlah perjalanan", (أَمْضِيَ, amdhiya) di 18:60 yang diterjemahkan "aku berjalan", dan (مَضَتْ, madhat) di 8:38 serta (مَضَىٰ, madhaa) di 43:8 yang diterjemahkan "berlalu". Akar itu menunjuk gerak terus ke arah yang dituju. Terjemahan memakai "maju" di 36:67 karena pasangannya di ayat ini adalah kembali.
Kata (وَلَا يَرْجِعُونَ, wa-laa yarji'uuna) yang berarti "dan tidak dapat kembali" berakar ر-ج-ع dan ditujukan kepada orang ketiga jamak. Rangkaian laa yarji'uuna muncul empat kali di tiga surah, yaitu di 2:18, 21:95, 36:31, dan 36:67, dan dengan wa- di depannya hanya di 36:67. Di 2:18, (فَهُمْ لَا يَرْجِعُونَ, fa-hum laa yarji'uuna), dan di 36:31, (إِلَيْهِمْ لَا يَرْجِعُونَ, ilayhim laa yarji'uuna), terjemahan memakai "tidak akan kembali". Di 36:67 terjemahan memakai "tidak dapat kembali" karena kalimatnya melanjutkan "tidak sanggup", seperti di 36:50, (فَلَا يَسْتَطِيعُونَ تَوْصِيَةً وَلَا إِلَىٰ أَهْلِهِمْ يَرْجِعُونَ, fa-laa yastathii'uuna tawshiyatan wa-laa ilaa ahlihim yarji'uuna) yang berarti "maka mereka tidak dapat membuat wasiat, dan tidak dapat kembali kepada keluarga mereka". Kata "dapat" di sana dan di 36:67 tidak punya kata Arab sendiri dan mengikuti kata kerja sanggup yang mendahuluinya.
Tafsiran
Ayat ini menjadi andaian kedua dari dua ayat berurutan yang sama-sama dibuka wa-law nasyaa'u. Andaian pertama, di 36:66, menghapus penglihatan, tetapi masih menyisakan gerak, karena mereka tetap berlomba menuju jalan, (فَاسْتَبَقُوا الصِّرَاطَ, fa-stabaqu sh-shiraatha) yang berarti "lalu mereka berlomba menuju jalan", lalu ayat itu bertanya bagaimana mereka dapat melihat. Andaian kedua menutup gerak itu: tidak ada jalan ke depan dan tidak ada jalan pulang. Dua ayat itu menyebut dua kemampuan yang berbeda, melihat dan bergerak, dan masing-masing diandaikan dicabut sementara kemampuan yang lain tidak disentuh.
Ayat 36:65, yang mendahuluinya, tidak berbentuk andaian. Di sana mulut dibungkam pada hari yang disebut, dan tangan serta kaki bersaksi. Urutan 36:65 sampai 36:67 karena itu bergerak dari kejadian yang disebut berlaku menuju dua kemungkinan yang digantungkan pada kehendak Kami, yaitu mulut, mata, lalu tempat berdiri. Urutan serupa ada di 2:18, (صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لَا يَرْجِعُونَ, shummun bukmun 'umyun fa-hum laa yarji'uuna) yang berarti "tuli, bisu, buta, maka mereka tidak akan kembali", yaitu kemampuan yang hilang disusul tidak kembali. Dua kelompok ayat itu tidak sama: 2:18 menyebut tuli, sedangkan 36:65 sampai 36:67 tidak menyebut telinga, dan 2:18 menggambarkan keadaan yang sudah ada, sedangkan 36:67 menggambarkan yang diandaikan.
Waktu terjadinya andaian itu tidak dinyatakan, dan tidak dinyatakan pula apakah hal itu pernah terjadi. Pelakunya Kami, tempatnya tempat mereka sendiri, dan akibatnya berupa dua hal yang tidak dapat dilakukan. Ayat berikutnya, 36:68, dibuka dengan wa-man tanpa law, sehingga perubahan yang disebut di sana berlaku atas siapa pun yang umurnya Kami panjangkan dan tidak lagi berupa andaian. Dalam rangkaian ini 36:67 berdiri di antara hukuman yang diandaikan dan perubahan yang berlaku umum, dan keduanya menaruh pelaku pada Kami serta menutup gerak.
Renungan dan Hikmah
- Ayat ini berbentuk andaian, dan kata kerjanya digantungkan pada kehendak Kami: sekiranya Kami menghendaki, mereka tidak sanggup maju dan tidak dapat kembali. Di 47:30 rumus wa-law nasyaa'u yang sama berdampingan dengan kalimat bahwa Allah mengetahui amal-amal kalian, dalam konteks yang berbeda dari ayat ini. Orang yang membaca ayat ini dapat memperhatikan bahwa langkah yang sedang diambilnya berada dalam jangkauan sesuatu yang bisa ditutup. Langkah mana yang diperlakukan pembaca sebagai hak yang pasti, padahal ayat ini menaruhnya di bawah kalimat sekiranya Kami menghendaki?
- Ayat ini menutup dua arah sekaligus, maju dan kembali. Di 36:50 kata kembali menyertai hal yang lebih sehari-hari, yaitu mereka tidak dapat membuat wasiat dan tidak dapat kembali kepada keluarga mereka, lalu 36:51 menyebut arah yang tetap terbuka, yaitu menuju Tuhan mereka. Dua ayat itu menyebut keadaan yang berbeda dari 36:67, sehingga keduanya tidak disamakan. Pembaca yang biasa menimbang hidupnya dari arah maju, yaitu rencana, target, dan langkah berikutnya, dapat memperhatikan bahwa ayat ini memberi bobot yang sama pada arah kembali. Kepada siapa dan ke mana jalan kembali masih terbuka hari ini, dan sudah berapa lama jalan pulang itu tidak dipakai?
- Kata yang di 6:135, 11:93, 11:121, dan 39:39 diterjemahkan kedudukan muncul di 36:67 sebagai tempat, dan di empat ayat pertama kata itu didahului perintah berbuat. Di sana pembicara menyuruh kaumnya berbuat menurut kedudukan mereka dan sesudah itu menyatakan bahwa dirinya pun berbuat. Di 36:67 tempat yang sama menjadi tempat mereka tidak dapat melangkah. Empat ayat itu dan 36:67 berbicara kepada pihak yang berbeda, sehingga tidak disamakan. Pembaca yang sedang nyaman di satu kedudukan dapat memperhatikan bahwa kata yang sama dipakai untuk tempat berbuat dan tempat tak sanggup melangkah. Apakah kedudukan hari ini masih menjadi tempat berbuat, atau sudah menjadi tempat berdiam?
- Di 36:65 mulut dibungkam, di 36:66 penglihatan dihapus, dan di 36:67 gerak ditutup di tempat. Tiga kemampuan itu, berbicara, melihat, dan melangkah, disebut satu per satu, dan tiap kemampuan diperlakukan sebagai sesuatu yang diberikan dan dapat dicabut. Ayat 36:65 menyebut kejadian pada hari yang ditentukan, sedangkan 36:66 dan 36:67 menyebut andaian, sehingga tiga ayat itu tidak berada pada tingkat yang sama. Pembaca dapat membuat daftar tentang apa yang dipakainya hari ini tanpa pernah terlintas bahwa pemakaiannya bergantung pada sesuatu yang tidak dipegangnya. Di antara berbicara, melihat, dan melangkah, mana yang paling sering dipakainya tanpa terpikir bahwa ayat ini menyebutnya sebagai sesuatu yang bisa ditutup?
- Kata nasyaa'u menaruh kehendak Kami sebagai syarat bagi apa yang terjadi pada mereka. Di 76:30, (وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ, wa-maa tasyaa'uuna illaa an yasyaa'a llaahu) yang berarti "dan kalian tidak menghendaki, kecuali jika Allah menghendaki", kehendak manusia diletakkan di bawah kehendak Allah, dan ayat itu ditutup dengan pernyataan bahwa Allah berilmu lagi penuh hikmah. Ayat 76:30 berbicara tentang kehendak manusia dan tidak tentang ketidakmampuan maju dan kembali, sehingga keduanya tidak disamakan. Pembaca yang menyebut rencananya sebagai kehendaknya sendiri dapat membaca 36:67 di samping 76:30, karena 76:30 menaruh kehendak manusia di bawah kehendak Allah. Rencana mana yang disebut milikku tanpa pernah memberi ruang bagi kalimat jika Dia menghendaki?
- Perubahan di ayat ini terjadi tanpa perpindahan: mereka diubah bentuknya di tempat mereka berdiri. Tidak ada ruang pengadilan, tidak ada perjalanan, dan tidak ada kejadian luar biasa yang disebut, dan tempat itu tidak dirinci, sehingga pembaca tidak dapat mengisinya dengan satu gambaran tertentu. Orang yang membayangkan akhir geraknya sebagai peristiwa besar dapat memperhatikan bahwa kata di tempat mereka menaruh perubahan itu pada letak yang sudah dikenal. Di tempat mana pembaca berdiri sekarang, sedekat apa pun dan sebiasa apa pun, yang kelak dapat menjadi tempat berhenti?