لَا يَسْتَطِيعُونَ نَصْرَهُمْ وَهُمْ لَهُمْ جُنْدٌ مُحْضَرُونَ
Mereka tidak mampu menolong mereka, dan mereka bagi tuhan-tuhan itu adalah bala tentara yang dihadirkan.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- لَا يَسْتَطِيعُونَ نَصْرَهُمْlaa yastathii'uuna nashrahummereka tidak mampu menolong mereka
- وَهُمْ لَهُمْ جُنْدٌ مُحْضَرُونَwa-hum lahum jundun muhdharuunadan mereka bagi tuhan-tuhan itu adalah bala tentara yang dihadirkan
Terjemahan per kata (7 kata)
- لَاlaatidak
- يَسْتَطِيعُونَyastathii'uunamereka sanggup
- نَصْرَهُمْnashrahumpertolongan mereka
- وَهُمْwa-humdan mereka
- لَهُمْlahumbagi mereka
- جُنْدٌjundunbala tentara
- مُحْضَرُونَmuhdharuunaorang-orang yang dihadirkan
Inti bacaan
Bentuk jundun, (جُنْدٌ, jundun), muncul empat kali di Al-Qur'an, yaitu di 36:75, 38:11, 44:24, dan 67:20.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (لَا يَسْتَطِيعُونَ, laa yastathii'uuna) yang berarti "mereka tidak mampu", dari akar ط-و-ع. Bentuk persis ini muncul tiga belas kali di sepuluh surah, yaitu 2:273, 4:98, 7:192, 7:197, 16:73, 17:48, 18:101, 21:40, 21:43, 25:9, 36:50, 36:75, dan 68:42. Tiga di antaranya diikuti (نَصْرَ, nashra) yang berarti "pertolongan", yaitu 7:197, 21:43, dan 36:75. Di 7:197 bunyinya (لَا يَسْتَطِيعُونَ نَصْرَكُمْ, laa yastathii'uuna nashrakum) yang berarti "tidak mampu menolong kalian", tentang yang diseru selain Dia. Di 21:43 bunyinya (لَا يَسْتَطِيعُونَ نَصْرَ أَنْفُسِهِمْ, laa yastathii'uuna nashra anfusihim) yang berarti "tidak mampu menolong diri mereka sendiri", tentang tuhan-tuhan yang dipertanyakan dapat melindungi mereka selain Kami. Terjemahan memakai "tidak mampu menolong" di ketiganya.
Kata (نَصْرَهُمْ, nashrahum) yang berarti "pertolongan mereka" berakar ن-ص-ر, akar yang sama dengan (يُنْصَرُونَ, yunsharuuna) di 36:74. Bentuk persis nashrahum muncul satu kali, yaitu di 36:75. Terjemahan mengubahnya menjadi kata kerja, "menolong mereka", karena laa yastathii'uuna di 7:197 dan 21:43 juga diterjemahkan dengan kata kerja "menolong". Dengan begitu harapan di 36:74 dan kemampuan di 36:75 memakai satu akar kata dalam dua ayat berurutan.
Selain pelaku pada yastathii'uuna, ayat ini memuat tiga kata ganti "mereka", yaitu -hum pada nashrahum, (هُمْ, hum) pada (وَهُمْ, wa-hum), dan -hum pada (لَهُمْ, lahum). Ketiganya berbentuk sama untuk dua pihak yang berbeda, dan teks tidak menandai pembagiannya. Terjemahan memakai pembacaan bahwa tuhan-tuhan itu tidak mampu menolong para pengambilnya, dan para pengambilnya menjadi bala tentara bagi tuhan-tuhan itu. Pembacaan ini mengikuti 36:74, tempat -hum pada la'allahum menunjuk para pengambil tuhan-tuhan, serta 7:197 dan 21:43, tempat yang tidak mampu menolong adalah yang diseru selain Dia. Pembacaan lain, bahwa hum yang kedua menunjuk tuhan-tuhan dan lahum menunjuk para pengambilnya, juga sesuai dengan bunyi ayat, dan di 67:20 bala tentara disebut sebagai pihak yang dapat menolong. Terjemahan tidak memakai pembacaan itu karena enam kemunculan muhdharuuna lainnya, yang dibahas di bawah, menunjuk manusia atau jin. Bukti ini tidak menutup kemungkinan lain, sebab 21:98 menyebut (وَمَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ, wa-maa ta'buduuna min duuni llaahi) yang berarti "dan apa yang kalian sembah selain Allah" sebagai bahan bakar Jahanam, dan 37:22 memuat (وَمَا كَانُوا يَعْبُدُونَ, wa-maa kaanuu ya'buduuna) yang berarti "dan apa yang dahulu mereka sembah" di antara yang dikumpulkan.
Kata (جُنْدٌ, jundun) yang berarti "bala tentara" berakar ج-ن-د dan berbentuk tak tentu. Bentuk persis jundun muncul empat kali di empat surah, yaitu 36:75, 38:11, 44:24, dan 67:20. Tiga di antaranya diikuti kata yang menyatakan nasib bala tentara itu. Di 38:11 bunyinya (جُنْدٌ مَا هُنَالِكَ مَهْزُومٌ, jundun maa hunaalika mahzuumun) yang berarti "suatu bala tentara di sana akan dikalahkan", di 44:24 bunyinya (إِنَّهُمْ جُنْدٌ مُغْرَقُونَ, innahum jundun mughraquuna) yang berarti "sesungguhnya mereka bala tentara yang akan ditenggelamkan", dan di 36:75 kata itu diikuti muhdharuuna. Satu lainnya, yaitu 67:20, berbeda: (هُوَ جُنْدٌ لَكُمْ يَنْصُرُكُمْ, huwa jundun lakum yanshurukum) yang berarti "yang menjadi bala tentara bagi kalian, yang dapat menolong kalian" menyebut bala tentara yang diharapkan menolong, dan kalimatnya berupa pertanyaan.
Kata (مُحْضَرُونَ, muhdharuuna) yang berarti "yang dihadirkan" berakar ح-ض-ر dan berbentuk pasif jamak. Bentuk persis ini muncul tujuh kali di empat surah, yaitu 30:16, 34:38, 36:32, 36:53, 36:75, 37:127, dan 37:158. Di 36:32 dan 36:53 bunyinya (جَمِيعٌ لَدَيْنَا مُحْضَرُونَ, jamii'un ladaynaa muhdharuuna) yang berarti "semuanya dihadirkan kepada Kami". Di 30:16 dan 34:38 bunyinya (فِي الْعَذَابِ مُحْضَرُونَ, fii l-'adzaabi muhdharuuna) yang berarti "dihadirkan dalam azab". Dua lainnya, 37:127 dan 37:158, berarti "pasti akan dihadirkan". Tiga kemunculan ada di surah ini, yaitu 36:32, 36:53, dan 36:75. Di dua kemunculan pertama tujuan penghadiran tertulis lewat (لَدَيْنَا, ladaynaa) yang berarti "kepada Kami", sedangkan 36:75 berhenti pada kata dihadirkan. Terjemahan memakai "dihadirkan" tanpa menambahkan "azab" atau "kelak".
Tafsiran
Ayat ini menjawab harapan di 36:74 dengan dua pernyataan, satu tentang kemampuan dan satu tentang kedudukan. Pernyataan pertama menafikan kemampuan menolong. Pernyataan kedua, dalam pembacaan yang dipakai terjemahan, membalik arah hubungan: pihak yang mengharap pertolongan menjadi bala tentara yang dihadirkan bagi pihak yang diharapkannya. Pembalikan itu disampaikan tanpa penjelasan tentang bagaimana terjadinya.
Ayat 7:197 dan 21:43 memuat ketidakmampuan yang sama. Ayat 7:197 menambahkan bahwa yang diseru itu tidak menolong diri mereka sendiri, dan ayat 21:43 menjadikan diri mereka sendiri objek ketidakmampuan itu. Ayat 36:75 tidak memuat tambahan itu dan memuat gambar lain, yaitu bala tentara yang dihadirkan. Urutan di 36:74 dan 36:75 menempatkan harapan lebih dulu dan ketidakmampuan sesudahnya, sedangkan di 21:43 ketidakmampuan datang sesudah pertanyaan tentang perlindungan. Dua susunan itu memuat bahan yang sama dalam urutan berlainan, dan 36:75 menambahkan pembalikan yang tidak ada di dua ayat lainnya.
Penutup ayat ini adalah muhdharuuna, kata yang di surah ini dipakai juga di 36:32 dan 36:53 untuk menyebut semuanya dihadirkan kepada Kami. Dapat dibaca bahwa para pengambil tuhan-tuhan termasuk yang dihadirkan seperti itu, tetapi 36:75 tidak menulis tujuan kepada Kami, sehingga hubungan itu belum dinyatakan.
Ayat berikutnya, 36:76, berganti susunan. Dari 36:71 sampai 36:75 kata ganti yang dipakai adalah orang ketiga, yaitu mereka. Ayat 36:76 dibuka dengan sapaan kepada satu orang lewat akhiran -ka. Pernyataan di 36:75 menjadi penutup bagian tentang tuhan-tuhan yang diambil, dan 36:76 beralih menyapa satu orang.
Renungan dan Hikmah
- Ayat 36:74 menyebut orang-orang yang mengambil tuhan-tuhan selain Allah agar mereka ditolong, dan 36:75 menjawabnya dengan kata dari akar yang sama, yaitu tidak mampu menolong mereka. Harapan dan jawabannya diletakkan berdampingan, hampir tanpa jarak. Pembaca yang menimbang tempat ia bersandar dapat membaca dua ayat itu berurutan lalu mengganti kata tuhan-tuhan dengan sandaran yang dipegangnya sendiri. Pertanyaan yang tersisa mengikuti akar yang sama. Apakah sandaran itu pernah diminta menolong dalam keadaan yang sesungguhnya, atau baru dibayangkan mampu? Apa yang akan terbaca jika harapan dan jawabannya ditulis bersebelahan untuk sandarannya?
- Di 7:197 yang diseru selain Dia digambarkan tidak mampu menolong kalian dan tidak pula menolong diri mereka sendiri, dan 21:43 memakai bunyi yang serupa untuk tuhan-tuhan yang dipertanyakan dapat melindungi. Ayat 36:75 tidak memuat bagian tentang diri sendiri itu, sehingga tidak disamakan dengan dua ayat tadi. Dua ayat itu menaruh pertanyaan di hadapan pembaca. Apa yang dapat ditopang oleh sesuatu yang tidak dapat menopang dirinya? Orang yang bersandar pada sesuatu dapat bertanya apakah sandaran itu sanggup berdiri sendiri, dan apa yang tersisa darinya jika diuji hanya pada kemampuannya menopang dirinya?
- Menurut pembacaan yang dipakai terjemahan, 36:75 menaruh para pengambil tuhan-tuhan sebagai bala tentara yang dihadirkan bagi tuhan-tuhan itu, padahal mereka mengambil tuhan-tuhan itu agar ditolong. Arahnya terbalik: yang diharapkan menolong ternyata menerima pasukan dari para penyembahnya. Pembacaan lain atas kata ganti ayat ini mungkin ada, dan keduanya tetap menaruh tuhan-tuhan selain Allah di posisi yang tidak menolong. Orang yang menghitung siapa yang menolong siapa dalam hubungannya dengan sandarannya dapat menimbang apakah tenaganya mengalir kepada sandaran itu, atau sandaran itu mengalirkan tenaga kepadanya. Mana yang lebih banyak mengalir?
- Muhdharuuna adalah bentuk pasif, sehingga siapa yang menghadirkan tidak tertulis di 36:75. Di 36:32 dan 36:53 penghadiran itu ditutup dengan kata ladaynaa, kepada Kami, sedangkan di 36:75 penutup itu tidak ada. Bentuk pasif menaruh orang yang dihadirkan sebagai pihak yang dibawa. Pembaca yang membandingkan tiga kemunculan di satu surah dapat mendapati bahwa kata yang sama dipakai untuk kumpulan umum dan untuk kelompok tertentu. Dalam hidup pembaca sendiri, ke mana ia lebih sering datang karena pilihannya, dan ke mana karena dibawa keadaan?
- Di 36:75 pengambil tuhan-tuhan dan tuhan-tuhan itu memakai kata ganti yang sama, sehingga siapa bergantung pada siapa harus dibaca dari susunan kalimat. Bunyi kata ganti itu yang membuat ayat ini dapat dibaca sebagai hubungan yang berbalik arah. Pembaca yang pernah bersandar pada sesuatu dapat memperhatikan kapan kata ganti untuk dirinya dan untuk sandarannya mulai sulit dibedakan. Siapa yang sebenarnya menolong siapa dalam hubungan itu, dan siapa yang akan dihadirkan jika hubungan itu ditanya?
- Ayat 19:81 menyebut tujuan kedigdayaan bagi orang yang mengambil tuhan-tuhan selain Allah, dan 19:82 menjawab dengan kata kallaa, sekali-kali tidak. Di 36:75 jawabannya berupa pernyataan ketidakmampuan, tanpa kata penolak di depannya. Dua ayat itu memakai dua cara yang berlainan untuk menjawab harapan yang sama bentuknya, satu berupa penolakan dan satu berupa keterangan. Pembaca dapat membayangkan dua cara itu dipakai kepadanya, satu menolak langsung dan satu menyampaikan keadaan sebenarnya. Cara mana yang lebih menggugah pikirannya, dan mengapa?