أَوَلَمْ يَرَ الْإِنْسَانُ أَنَّا خَلَقْنَاهُ مِنْ نُطْفَةٍ فَإِذَا هُوَ خَصِيمٌ مُبِينٌ
Tidakkah manusia melihat bahwa Kami menciptakannya dari setetes mani, lalu tiba-tiba ia menjadi pembantah yang nyata?
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- أَوَلَمْ يَرَ الْإِنْسَانُ أَنَّا خَلَقْنَاهُ مِنْ نُطْفَةٍa-wa-lam yara l-insaanu annaa khalaqnaahu min nuthfatintidakkah manusia melihat bahwa Kami menciptakannya dari setetes mani
- فَإِذَا هُوَ خَصِيمٌ مُبِينٌfa-idzaa huwa khashiimun mubiinunlalu tiba-tiba ia menjadi pembantah yang nyata
Terjemahan per kata (11 kata)
- أَوَلَمْa-wa-lamdan tidakkah
- يَرَyaramelihat
- الْإِنْسَانُl-insaanumanusia
- أَنَّاannaabahwa Kami
- خَلَقْنَاهُkhalaqnaahuKami menciptakannya
- مِنْmindari
- نُطْفَةٍnuthfatinsetetes mani
- فَإِذَاfa-idzaamaka seketika itu
- هُوَhuwaia
- خَصِيمٌkhashiimunpembantah
- مُبِينٌmubiinunyang nyata
Inti bacaan
Susunan khashiimun mubiinun, (خَصِيمٌ مُبِينٌ, khashiimun mubiinun), muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 16:4 dan 36:77.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (أَوَلَمْ يَرَ, a-wa-lam yara) yang berarti "dan tidakkah ia melihat". Bentuk ini tersusun dari (أَ, a), huruf tanya; (وَ, wa) yang berarti "dan"; (لَمْ, lam) yang berarti "tidak"; dan kata kerja (يَرَ, yara) yang berarti "melihat" dari akar ر-أ-ي. Susunan a-wa-lam yara dengan kata kerja tunggal muncul dua kali, yaitu di 21:30 dan 36:77. Susunan yang sama dengan kata kerja jamak (يَرَوْا, yaraw) yang berarti "mereka melihat" muncul tiga belas kali, yaitu di 13:41, 16:48, 17:99, 26:7, 27:86, 29:19, 29:67, 30:37, 32:27, 36:71, 41:15, 46:33, dan 67:19. Ayat 36:71 memakai bentuk jamak, sedangkan 36:77 memakai bentuk tunggal dengan pelaku (الْإِنْسَانُ, l-insaanu) yang berarti "manusia". Terjemahan menuliskannya "tidakkah manusia melihat".
Kata (أَنَّا خَلَقْنَاهُ, annaa khalaqnaahu) yang berarti "bahwa Kami menciptakannya" tersusun dari (أَنَّ, anna) yang berarti "bahwa", akhiran (نَا, -naa) yang berarti "Kami", kata kerja (خَلَقْنَا, khalaqnaa) yang berarti "Kami menciptakan" dari akar خ-ل-ق, dan akhiran (هُ, -hu) yang berarti "-nya". Susunan annaa khalaqnaahu muncul dua kali, yaitu di 19:67 dan 36:77. Di 19:67 bunyinya (أَوَلَا يَذْكُرُ الْإِنْسَانُ أَنَّا خَلَقْنَاهُ مِنْ قَبْلُ وَلَمْ يَكُ شَيْئًا, a-wa-laa yadzkuru l-insaanu annaa khalaqnaahu min qablu wa-lam yaku syay'an) yang berarti "dan tidakkah manusia mengingat bahwa Kami telah menciptakannya dahulu, padahal ia belum berwujud sama sekali". Dua ayat itu dibuka dengan pertanyaan yang sama bentuknya tentang manusia. Ayat 19:67 memakai (يَذْكُرُ, yadzkuru) yang berarti "mengingat" dan menunjuk waktu sebelum ada apa pun, sedangkan 36:77 memakai "melihat" dan menyebut bahan yang menjadi asalnya.
Kata (نُطْفَةٍ, nuthfatin) yang berarti "setetes mani" berakar ن-ط-ف. Bentuk (مِنْ نُطْفَةٍ, min nuthfatin) muncul sembilan kali di sembilan surah, yaitu 16:4, 18:37, 22:5, 35:11, 36:77, 40:67, 53:46, 76:2, dan 80:19. Empat di antaranya memuat (مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ, min turaabin tsumma min nuthfatin) yang berarti "dari tanah, kemudian dari setetes mani", yaitu 18:37, 22:5, 35:11, dan 40:67. Lima lainnya, yaitu 16:4, 36:77, 53:46, 76:2, dan 80:19, menyebut setetes mani tanpa menyebut tanah. Di 36:77 juga tidak ada tahap sesudah setetes mani. Terjemahan memakai "setetes mani" seperti di sembilan tempat itu.
Susunan (فَإِذَا هُوَ, fa-idzaa huwa) yang berarti "lalu tiba-tiba ia" tersusun dari (فَ, fa) yang berarti "lalu", (إِذَا, idzaa) yang berarti "tiba-tiba", dan (هُوَ, huwa) yang berarti "ia". Susunan ini muncul tiga kali, yaitu di 16:4, 21:18, dan 36:77. Di 21:18 bunyinya (فَإِذَا هُوَ زَاهِقٌ, fa-idzaa huwa zaahiqun) yang berarti "maka seketika ia lenyap", tentang kebatilan yang dihancurkan oleh kebenaran. Di 16:4 dan 36:77 yang disebut sesudah setetes mani langsung hasil akhirnya, dan tahap di antaranya tidak ditulis. Ayat 22:5 memuat tahap-tahap itu, yaitu tanah, setetes mani, segumpal darah, dan segumpal daging, sedangkan 36:77 melompat dari setetes mani ke sikap.
Susunan (خَصِيمٌ مُبِينٌ, khashiimun mubiinun) yang berarti "pembantah yang nyata" muncul dua kali, yaitu di 16:4 dan 36:77, dan keduanya didahului fa-idzaa huwa. Kata (خَصِيمٌ, khashiimun) berakar خ-ص-م dan berarti orang yang berbantah. Terjemahan memakai "pembantah", seperti di 16:4, dan tidak memakai "penentang", karena akar ini di 43:58 berhubungan dengan membantah dengan kata-kata. Di 43:58 bunyinya (مَا ضَرَبُوهُ لَكَ إِلَّا جَدَلًا, maa dharabuuhu laka illaa jadalan) yang berarti "mereka tidak membuat perumpamaan itu kepadamu kecuali untuk membantah", disusul (خَصِمُونَ, khashimuuna) yang berarti "yang suka bertengkar". Di 4:105 bunyinya (لِلْخَائِنِينَ خَصِيمًا, li-l-khaa'iniina khashiiman) yang berarti "pembela bagi para pengkhianat", yaitu pihak yang berbantah demi orang lain.
Kata (مُبِينٌ, mubiinun) yang berarti "yang nyata" muncul enam kali dengan akhiran tak tentu di surah ini, dalam dua bentuk. Bentuk mubiinun ada di 36:60, 36:69, dan 36:77, dan bentuk (مُبِينٍ, mubiinin) ada di 36:12, 36:24, dan 36:47. Di surah ini kata itu menyifati kitab induk, kesesatan, musuh, dan Al-Qur'an, dan di 36:77 menyifati pembantah.
Tafsiran
Ayat ini mengalihkan pertanyaan tentang melihat dari benda di luar ke asal manusia sendiri. Ayat 36:71 bertanya tentang hewan ternak yang dilihat, dan 36:77 bertanya tentang asal pelihatnya. Sebelumnya pelaku di 36:71 sampai 36:75 adalah mereka, yaitu jamak. Di 36:77 pelaku menjadi manusia, tunggal, dan pertanyaan yang tadinya mengenai benda di tangan kini mengenai diri yang memegangnya.
Ayat 36:71 menyebut mereka (مَالِكُونَ, maalikuuna) yang berarti "pemilik", dan 36:77 menyebut manusia yang berasal dari setetes mani. Dua ayat itu menaruh dua hal berdampingan, yaitu pemilik dan asal pemilik. Pemilik hewan ternak itu sendiri dahulu berupa setetes mani, sebelum menjadi pemilik dan sebelum menjadi pembantah.
Ayat ini memuat dua bagian yang dihubungkan fa-idzaa huwa, dan penghubung itu menghapus tahap di antaranya. Ayat 22:5 menyebut tanah, setetes mani, segumpal darah, segumpal daging, lalu bayi dan dewasa, dan 36:77 melompat dari setetes mani ke pembantah. Yang dilompati tidak disebut, sehingga ayat ini menempatkan awal dan sikap berdampingan tanpa jalan di antaranya. Pembantah yang nyata tertulis sebagai hasil, dan ayat ini tidak menyebut apa yang mengubah setetes mani menjadi pembantah.
Ayat 36:78 sesudahnya menunjukkan bentuk bantahan itu lewat satu perumpamaan dan satu pertanyaan. Dapat dibaca bahwa pembantah di 36:77 adalah orang yang berbicara di 36:78, karena pelaku keduanya sama, yaitu manusia dengan kata ganti tunggal, tetapi 36:77 sendiri tidak menyebut isi bantahannya. Ayat 36:77 menyebut awal manusia dan 36:78 menyebut akhir tubuhnya, tulang yang hancur, dan dua keadaan itu dibicarakan dalam dua ayat berurutan.
Renungan dan Hikmah
- Di 36:71 pertanyaan tentang melihat mengenai hewan ternak, dan di 36:77 pertanyaan yang sama mengenai asal manusia sendiri. Ayat 35:11 menyebut Allah menciptakan manusia dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian menjadikannya berpasang-pasangan. Pertanyaan ini memindahkan penglihatan dari benda ke pelihatnya. Pembaca dapat membayangkan dirinya memandang hewan ternak seperti di 36:71, lalu diminta memandang asalnya sendiri. Apakah ada saat ketika penglihatan itu diarahkan ke asal dirinya, dan apa yang terlihat di sana?
- Ayat 36:71 menyebut manusia pemilik hewan ternak, dan 36:77 menyebut pemilik itu berasal dari setetes mani. Menurut 40:79 Allah yang menjadikan hewan ternak untuk manusia, jadi pemberi itu disebut di ayat lain. Dua ayat di surah 36 menempatkan kepemilikan dan asal berdekatan dalam satu rangkaian. Kepemilikan atas sesuatu yang besar seperti ternak ditulis bersebelahan dengan asal yang sangat kecil. Orang yang memandang miliknya dengan bangga dapat menyandingkan dua penggalan itu: apa yang dimilikinya hari ini, dan dari apa dimulainya. Apakah kebanggaan atas milik masih tersisa penuh ketika asal itu dibaca di sampingnya?
- Ayat 36:77 menulis setetes mani dan pembantah dalam satu kalimat dengan fa-idzaa huwa di tengahnya, tanpa tahap lain. Di 18:37 yang menciptakan disebut Dia yang menciptakanmu dari tanah, kemudian dari setetes mani, lalu menjadikanmu seorang laki-laki, sehingga di sana ada tahap yang disebut, sedangkan 36:77 melewatinya. Hidup yang panjang tidak tertulis di 36:77, dan pembaca mengisi sendiri jarak antara awal dan sikap itu. Seseorang dapat bertanya kapan sikap itu mulai terbentuk dalam dirinya, dan siapa yang menyaksikan perubahannya? Jarak seperti apa yang tidak terlihat ketika membantah?
- Ayat 19:67 menaruh pertanyaan tentang mengingat bahwa Kami menciptakan manusia dahulu, padahal manusia belum berwujud, sedangkan 36:77 menaruh pertanyaan tentang melihat bahwa Kami menciptakannya dari setetes mani. Dua ayat itu berasal dari surah yang berbeda dan menunjuk dua titik awal, satu sebelum ada apa pun dan satu bahan yang sudah ada. Orang yang sedang berselisih dapat menimbang titik awal mana yang ia pegang tentang dirinya. Titik awal mana yang lebih sulit diakuinya, ketiadaan atau bahan sekecil itu?
- Kata nyata di 36:77 menyifati pembantah, dan di surah yang sama kata itu menyifati kitab induk di 36:12, kesesatan di 36:24 dan 36:47, musuh di 36:60, dan Al-Qur'an di 36:69. Pembaca yang pernah membantah dengan terang-terangan dapat menanyakan apakah bantahannya akan terbaca sejelas itu jika dilihat dari luar. Apa yang akan terbaca dari bantahan itu jika ditulis di samping asal pelakunya?
- Di 4:105 kata khashiim dipakai dalam ayat tentang memutuskan perkara di antara manusia, yaitu orang yang berbantah demi pihak lain. Di 36:77 pembantah itu manusia, dan pihak yang dibantah tidak disebut di ayat itu sendiri. Ayat 36:78 menyebut perumpamaan yang dibuat bagi Kami. Dua ayat itu memakai akar yang sama untuk dua kedudukan, pembela dan pembantah, dan keduanya berdiri dalam sebuah perkara. Pembaca dapat menanyakan dalam perkara apa saja dirinya berdiri sebagai pembantah, dan siapa lawan bicaranya. Apakah ada perkara yang dibantah padahal pembantahnya berasal dari setetes mani yang sama dengan lawan bicaranya?