وَضَرَبَ لَنَا مَثَلًا وَنَسِيَ خَلْقَهُ ۖ قَالَ مَنْ يُحْيِي الْعِظَامَ وَهِيَ رَمِيمٌ
Dan ia membuat perumpamaan bagi Kami, dan melupakan asal penciptaannya. Ia berkata, “Siapakah yang bisa menghidupkan tulang-belulang yang telah hancur luluh?”
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- وَضَرَبَ لَنَا مَثَلًا وَنَسِيَ خَلْقَهُwa-dharaba lanaa matsalan wa-nasiya khalqahudan ia membuat perumpamaan bagi Kami, dan melupakan asal penciptaannya
- قَالَ مَنْ يُحْيِي الْعِظَامَ وَهِيَ رَمِيمٌqaala man yuhyi l-'izhaama wa-hiya ramiimunia berkata, siapakah yang bisa menghidupkan tulang-belulang yang telah hancur luluh
Terjemahan per kata (11 kata)
- وَضَرَبَwa-dharabadan Dia membuat
- لَنَاlanaabagi Kami
- مَثَلًاmatsalanperumpamaan
- وَنَسِيَwa-nasiyadan ia melupakan
- خَلْقَهُkhalqahupenciptaannya
- قَالَqaalaberkata
- مَنْmanorang yang
- يُحْيِيyuhyimenghidupkan
- الْعِظَامَl-'izhaamatulang-belulang
- وَهِيَwa-hiyadan ia
- رَمِيمٌramiimunhancur
Inti bacaan
Bentuk l-'izhaama, (الْعِظَامَ, l-'izhaama), dengan kata sandang al- muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 23:14 dan 36:78.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (وَضَرَبَ لَنَا مَثَلًا, wa-dharaba lanaa matsalan) yang berarti "dan ia membuat perumpamaan bagi Kami". Bentuk ini tersusun dari (وَ, wa) yang berarti "dan", kata kerja (ضَرَبَ, dharaba) yang berarti "ia membuat" dari akar ض-ر-ب, (لَنَا, lanaa) yang berarti "bagi Kami", dan (مَثَلًا, matsalan) yang berarti "perumpamaan" dari akar م-ث-ل. Pelaku dharaba adalah manusia di 36:77, karena kata kerjanya berbentuk tunggal dan melanjutkan pelaku ayat sebelumnya. Bentuk persis dharaba muncul sepuluh kali di tujuh surah, yaitu 14:24, 16:75, 16:76, 16:112, 30:28, 36:78, 39:29, 43:17, 66:10, dan 66:11. Di delapan di antaranya Allah yang membuat perumpamaan, yaitu 14:24, 16:75, 16:76, 16:112, 30:28, 39:29, 66:10, dan 66:11. Di dua lainnya pelakunya manusia, yaitu 36:78 dan 43:17. Di 43:17 bunyinya (ضَرَبَ لِلرَّحْمَٰنِ مَثَلًا, dharaba li-r-rahmaani matsalan) yang berarti "ia jadikan perumpamaan bagi Ar-Rahman". Ayat 16:74 memuat larangan dengan kata kerja dari akar yang sama, (فَلَا تَضْرِبُوا لِلَّهِ الْأَمْثَالَ, fa-laa tadhribuu li-llaahi l-amtsaala) yang berarti "maka janganlah kalian membuat perumpamaan-perumpamaan bagi Allah", dan alasannya ditulis sesudahnya: Allah mengetahui, sedangkan kalian tidak mengetahui. Ayat 36:78 tidak menyebut isi perumpamaan itu. Sesudahnya tertulis ucapan manusia, dan ayat tidak menyatakan apakah ucapan itu sendiri perumpamaannya.
Kata (وَنَسِيَ, wa-nasiya) yang berarti "dan ia melupakan" berakar ن-س-ي. Bentuk wa-nasiya muncul dua kali, yaitu di 18:57 dan 36:78. Di 18:57 bunyinya (وَنَسِيَ مَا قَدَّمَتْ يَدَاهُ, wa-nasiya maa qaddamat yadaahu) yang berarti "dan melupakan apa yang telah dikerjakan oleh kedua tangannya", sesudah orang itu berpaling dari tanda-tanda Tuhannya. Dalam dua ayat itu yang dilupakan menyangkut diri pelakunya sendiri, yaitu pekerjaan tangannya di 18:57 dan penciptaannya di 36:78. Kata (خَلْقَهُ, khalqahu) yang berarti "penciptaannya" berakar خ-ل-ق dan tersusun dari khalq, penciptaan, dengan akhiran -hu, "-nya". Terjemahan menulis "asal penciptaannya". Kata "asal" ditambahkan agar jelas bahwa penciptaan dirinya sendiri yang dilupakan, yaitu penciptaan yang di 36:77 disebut berawal dari setetes mani.
Kata (الْعِظَامَ, l-'izhaama) yang berarti "tulang-belulang" berakar ع-ظ-م dan memakai kata sandang al-. Bentuk dengan kata sandang ini muncul dua kali, yaitu di 23:14 dan 36:78. Di 23:14 bunyinya (فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا, fa-kasawnaa l-'izhaama lahman) yang berarti "lalu Kami bungkus tulang-belulang itu dengan daging", dalam rangkaian tahap penciptaan manusia. Bentuk tak tentu (عِظَامًا, 'izhaaman) muncul sembilan kali di lima surah, yaitu 17:49, 17:98, 23:14, 23:35, 23:82, 37:16, 37:53, 56:47, dan 79:11. Delapan di antaranya berada di dalam ucapan orang yang meragukan kebangkitan, dengan kata kerja yang menjadikan diri mereka sendiri tulang, yaitu kunnaa atau kuntum, "kami telah menjadi" atau "kalian telah menjadi". Satu sisanya, 23:14, menyebut tulang sebagai tahap penciptaan. Di 36:78 tulang tidak menjadi sesuatu yang dialami penuturnya. Tulang menjadi benda yang ditanyakan siapa yang menghidupkannya.
Kata (رَمِيمٌ, ramiimun) yang berarti "hancur luluh" berakar ر-م-م dan berbentuk tak tentu. Kata ini muncul dua kali di Al-Qur'an dalam dua bentuk, yaitu ramiimun di 36:78 dan (كَالرَّمِيمِ, ka-r-ramiimi) di 51:42. Ayat 51:42 menyebut angin yang (مَا تَذَرُ مِنْ شَيْءٍ أَتَتْ عَلَيْهِ إِلَّا جَعَلَتْهُ كَالرَّمِيمِ, maa tadzaru min syay'in atat 'alayhi illaa ja'alat-hu ka-r-ramiimi) yang berarti "yang tidak membiarkan sesuatu pun yang dilandanya, kecuali menjadikannya bagai yang hancur luluh". Terjemahan memakai "hancur luluh" di keduanya.
Kalimat (مَنْ يُحْيِي الْعِظَامَ وَهِيَ رَمِيمٌ, man yuhyi l-'izhaama wa-hiya ramiimun) yang berarti "siapakah yang bisa menghidupkan tulang-belulang yang telah hancur luluh" tersusun dari kata tanya (مَنْ, man) yang berarti "siapakah", kata kerja (يُحْيِي, yuhyi) dari akar ح-ي-ي dalam bentuk yang menandai perbuatan belum selesai, objek (الْعِظَامَ, l-'izhaama), dan (وَهِيَ رَمِيمٌ, wa-hiya ramiimun) yang menerangkan keadaan tulang itu, dengan kata ganti perempuan tunggal untuk tulang yang jamak. Susunan man yuhyi hanya muncul di 36:78, dan 36:79 menjawabnya dengan (يُحْيِيهَا, yuhyiihaa), kata kerja yang sama.
Tafsiran
Ayat ini memperlihatkan bentuk bantahan yang disebut di 36:77 lewat tiga kata kerja berurutan: membuat perumpamaan, melupakan, dan berkata. Perbuatan di tengah, melupakan penciptaannya, ditulis sebelum ucapan, sehingga ayat menempatkan lupa mendahului pertanyaan. Pertanyaan itu ditujukan ke masa depan tubuh, tulang yang sudah hancur, sedangkan yang dilupakan menunjuk ke belakang, yaitu penciptaan yang pertama, dan ayat 36:79 menjawabnya dengan menunjuk ke belakang juga, kepada yang menumbuhkannya pertama kali.
Ayat 36:77 menyebut awal manusia dan 36:78 menyebut keadaan tubuhnya yang paling akhir, sehingga dua ayat berurutan membingkai tubuh itu dari setetes mani sampai tulang yang hancur. Keduanya memakai satu pelaku, manusia dengan kata ganti tunggal, dan keduanya memuat kata yang berkaitan dengan lawan bicara, yaitu pembantah di 36:77 dan ucapan di 36:78.
Pasangan membuat perumpamaan dan membantah juga ada di 43:58, tempat orang-orang tidak membuat perumpamaan kecuali untuk membantah. Di surah 36 pasangan itu berada di dua ayat berurutan, dan pelakunya satu manusia. Ayat 16:74 memuat larangan membuat perumpamaan bagi Allah dengan alasan bahwa Allah mengetahui sedangkan kalian tidak mengetahui. Di 36:78 perumpamaan itu dibuat bagi Kami, dan ayat berikutnya, 36:79, menyebut (وَهُوَ بِكُلِّ خَلْقٍ عَلِيمٌ, wa-huwa bi-kulli khalqin 'aliimun) yang berarti "dan Dia berilmu akan setiap penciptaan". Dapat dibaca bahwa ayat 36:79 menjawab pertanyaan dan sekaligus menyebut pengetahuan yang tidak dimiliki si penanya, tetapi 36:78 sendiri tidak membuat hubungan itu.
Renungan dan Hikmah
- Ayat 16:74 melarang membuat perumpamaan bagi Allah dengan alasan bahwa Allah mengetahui sedangkan kalian tidak mengetahui, dan 36:78 menggambarkan manusia yang membuat perumpamaan bagi Kami. Dua ayat itu membahas hal yang sama dari dua sisi, satu berupa larangan dan satu berupa gambar orang yang melakukannya. Alasan di 16:74 adalah perbedaan pengetahuan, sehingga perumpamaan yang disusun dari ukuran sendiri berhadapan dengan pengetahuan yang tidak sama ukurannya. Orang yang menimbang kemampuan Allah dengan apa yang pernah disaksikannya dapat bertanya bahan apa yang dipakainya untuk perumpamaan itu. Seberapa jauh ukuran itu dapat mencapai yang belum pernah disaksikannya?
- Di 18:57 yang dilupakan adalah apa yang telah dikerjakan kedua tangan pelakunya, sesudah berpaling dari tanda-tanda Tuhannya, dan di 36:78 yang dilupakan adalah penciptaannya sendiri. Kedua ayat menyebut lupa yang menyangkut diri sendiri, yaitu sesuatu yang paling dekat dengan pelakunya. Pembaca yang ingin menelusuri keraguannya dapat memeriksa apakah ada hal dekat yang terlupakan di balik pertanyaan yang jauh. Apa yang paling dekat dengannya, tetapi paling jarang disebut ketika pertanyaan diarahkan ke hal-hal yang jauh dari dirinya?
- Delapan ucapan lain tentang tulang-belulang memakai kata kerja kami telah menjadi atau kalian telah menjadi, sehingga penuturnya berbicara tentang dirinya sendiri yang menjadi tulang. Di 36:78 penutur membicarakan tulang tanpa memasukkan dirinya, dengan pertanyaan siapakah yang menghidupkan tulang-belulang itu. Tulang berada di luar diri penuturnya dalam kalimat itu. Pembaca dapat memperhatikan kapan kematian dibicarakannya sebagai topik yang berada di luar dirinya, dan kapan sebagai sesuatu yang menyangkut dirinya. Dalam kalimat-kalimat yang diucapkannya tentang kematian, di manakah dirinya berdiri?
- Ayat 36:77 menyebut awal manusia, setetes mani, dan 36:78 menyebut keadaan tubuhnya yang paling akhir, tulang yang hancur luluh. Menurut 35:11 Allah yang menciptakan manusia dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian menjadikannya berpasang-pasangan. Di antara dua ujung itu ada seluruh hidup, dan dua ayat itu menyebutnya tanpa mengisinya. Pembaca dapat menimbang apa yang ada di tangannya di antara dua ujung tersebut, yaitu sesuatu yang tidak dipilihnya pada ujung pertama dan tidak diisinya pada ujung kedua. Apa yang sedang dikerjakannya dengan bagian tengah itu?
- Menurut 36:79 jawaban atas pertanyaan tentang tulang adalah yang menumbuhkannya pertama kali, dan Dia berilmu akan setiap penciptaan. Jawaban itu menyebut siapa yang menumbuhkan lebih dulu dan tidak merinci bagaimana tulang itu dihidupkan. Orang yang ragu terhadap sesuatu yang belum terjadi dapat memeriksa apa yang sudah terjadi pada dirinya. Awal yang sudah dilewati menjadi bahan untuk menimbang akhir yang belum terlihat. Kapan terakhir kejadian yang sudah lewat dipakainya sebagai alasan untuk menimbang sesuatu yang belum datang?
- Kata ramiim muncul di 51:42 untuk apa yang ditinggalkan angin yang dikirim kepada kaum Ad, yaitu sesuatu yang dijadikan bagai yang hancur luluh, dan di 36:78 untuk keadaan tulang yang dijadikan alasan keraguan. Di 51:42 keadaan itu hasil dari sebuah perbuatan, sedangkan di 36:78 keadaan yang sama dipakai sebagai premis pertanyaan. Karena berasal dari surah dan konteks yang berbeda, keduanya hanya dibandingkan. Pembaca dapat melihat bahwa satu keadaan dapat tertulis sebagai akhir sebuah kisah dan sebagai bahan sebuah keraguan. Keadaan apa dalam hidupnya yang ia sebut akhir, padahal orang lain membacanya sebagai bahan bertanya?