وَضَرَبَ لَنَا مَثَلًا وَنَسِيَ خَلْقَهُ ۖ قَالَ مَنْ يُحْيِي الْعِظَامَ وَهِيَ رَمِيمٌ
Dan ia membuat perumpamaan bagi Kami, dan melupakan asal penciptaannya. Ia berkata, “Siapakah yang bisa menghidupkan tulang-belulang yang telah hancur luluh?”
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- وَضَرَبَ لَنَا مَثَلًا وَنَسِيَ خَلْقَهُwa-dharaba lanaa matsalan wa-nasiya khalqahudan ia membuat perumpamaan bagi Kami, dan melupakan asal penciptaannya
- قَالَ مَنْ يُحْيِي الْعِظَامَ وَهِيَ رَمِيمٌqaala man yuhyi l-'izhaama wa-hiya ramiimunia berkata, siapakah yang bisa menghidupkan tulang-belulang yang telah hancur luluh
Terjemahan per kata (11 kata)
- وَضَرَبَwa-dharabadan Dia membuat
- لَنَاlanaabagi Kami
- مَثَلًاmatsalanperumpamaan
- وَنَسِيَwa-nasiyadan ia melupakan
- خَلْقَهُkhalqahupenciptaannya
- قَالَqaalaberkata
- مَنْmanorang yang
- يُحْيِيyuhyimenghidupkan
- الْعِظَامَl-'izhaamatulang-belulang
- وَهِيَwa-hiyadan ia
- رَمِيمٌramiimunhancur
Inti bacaan
Perumpamaan tulang hancur yang dipertanyakan kemampuannya dihidupkan kembali, keraguan yang muncul justru dari orang yang 'melupakan asal penciptaannya' sendiri, sebuah ironi tentang lupa diri sebagai akar keraguan.
Tafsiran
Ayat ini menampilkan bentuk penentangan yang konkret: mempertanyakan kebangkitan sambil melupakan penciptaan pertamanya sendiri, sebuah kelalaian yang menjadi dasar keraguan yang tidak beralasan.
Renungan dan Hikmah
- Allah menyebut yang dilupakannya sebelum menyebut bantahannya. Lupa asalnya. Lalu bertanya tentang tulang.
- Yang dipersoalkan tulang hancur, padahal dia sendiri dulu bukan apa-apa. Bahannya lebih sedikit. Toh jadi.
- Perumpamaan itu dibuatnya bagi Allah, bukan bagi dirinya. Ia mengukur Yang Mahakuasa dengan takarannya sendiri. Yang mengukur lebih kecil dari yang diukur.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)
Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.
azhiim diterjemahkan 'agung' (takrif diterjemahkan 'Sang Agung'; swap sadar-kolokasi per nomina corpus); per kelas morfologi; pasangan belum ditelaah dipertahankan sementara. Konvensi zhm: azhiim diterjemahkan 'agung' seragam (takrif 'Sang Agung'); a'zham diterjemahkan 'lebih agung'; verba azhzhama pemakaian diteruskan. Pembeda: kabiir='besar' (k-b-r, kelak, al-Kabiir sebutan sendiri), majiid='luhur', kariim='mulia', aziiz='digdaya'. Objek negatif (azab/dosa) memakai kata sama, skala, konteks yang bekerja. ' akar '-zh-m: azhuma = 'menjadi besar (skala/bobot)'; azhiim = besar-agung (magnitude); jangkar konkret keluarga: azhm/'izhaam = TULANG (kerangka, yang besar-menopang). KBBI agung indra-1: 'besar; mulia; luhur'.