إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ
Sesungguhnya perintah-Nya, apabila Dia menghendaki sesuatu, hanya Dia berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka jadilah ia.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُinnamaa amruhu idzaa araada syay'an an yaquula lahu kun fa-yakuunusesungguhnya perintah-Nya, apabila Dia menghendaki sesuatu, hanya Dia berkata kepadanya, jadilah, maka jadilah ia
Terjemahan per kata (10 kata)
- إِنَّمَاinnamaasesungguhnya hanya
- أَمْرُهُamruhuurusan-Nya
- إِذَاidzaaapabila
- أَرَادَaraadamaksudkan
- شَيْئًاsyay'ansedikit pun
- أَنْanbahwa
- يَقُولَyaquulaberkata
- لَهُlahubaginya
- كُنْkunjadilah
- فَيَكُونُfa-yakuunumaka jadilah ia
Inti bacaan
Bentuk (أَمْرُهُ, amruhu) muncul tiga kali di Al-Qur'an, yaitu di 2:275, 18:28, dan 36:82, dan hanya di 36:82 ia dijelaskan oleh ucapan (كُنْ, kun) yang berarti "jadilah".
Penjelasan pilihan kata
Kata (أَمْرُهُ, amruhu) yang berarti "perintah-Nya" berakar أ-م-ر dan tersusun dari kata dasar dengan akhiran (هُ, -hu) yang berarti "-Nya". Bentuk persis amruhu muncul tiga kali, yaitu di 2:275, 18:28, dan 36:82. Di 2:275, (وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ, wa-amruhu ilaa llaahi) berarti "dan urusannya kepada Allah", dan di 18:28, (وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا, wa-kaana amruhu furuthan) berarti "dan keadaannya melampaui batas". Di dua tempat itu akhiran -hu menunjuk manusia. Di 36:82 akhiran itu menunjuk pihak yang menghendaki, dan isi perintahnya dituliskan ayat itu sendiri, yaitu ucapan "Jadilah". Empat ayat lain memuat (إِذَا قَضَىٰ أَمْرًا, idzaa qadhaa amran) yang berarti "apabila Dia menetapkan suatu urusan", yaitu 2:117, 3:47, 19:35, dan 40:68. Di sana amr adalah hal yang ditetapkan, dan terjemahan memakai "urusan" di 3:47, 19:35, dan 40:68, serta "perkara" di 2:117. Di 36:82 amr adalah ucapan yang diarahkan kepada sesuatu, karena itu terjemahan memakai "perintah".
Susunan (إِذَا أَرَادَ شَيْئًا, idzaa araada syay'an) yang berarti "apabila Dia menghendaki sesuatu" hanya muncul di 36:82. Kata kerja (أَرَادَ, araada) berakar ر-و-د, dan kata (شَيْئًا, syay'an) yang berarti "sesuatu" tidak disertai kata sifat apa pun. Rumusan serupa ada di 16:40, (إِنَّمَا قَوْلُنَا لِشَيْءٍ إِذَا أَرَدْنَاهُ أَنْ نَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ, innamaa qawlunaa li-syay'in idzaa aradnaahu an naquula lahu kun fa-yakuunu) yang berarti "sesungguhnya firman Kami terhadap sesuatu, apabila Kami menghendakinya, ialah Kami berkata kepadanya, jadilah, maka jadilah". Di 16:40 pelakunya berbicara dengan kata Kami dan memakai (قَوْلُنَا, qawlunaa) yang berarti "firman Kami", sedangkan 36:82 memakai amruhu dan kata ganti Dia.
Frasa (أَنْ يَقُولَ لَهُ, an yaquula lahu) berarti "Dia berkata kepadanya". Akhiran -hu pada (لَهُ, lahu) menunjuk sesuatu yang tadi disebut, sehingga dalam urutan kata benda yang diajak bicara sudah disebut sebagai "sesuatu" sebelum ucapan itu keluar. Rumusan yang sama di tempat lain diikat pada waktu. Di 6:73, (وَيَوْمَ يَقُولُ كُنْ فَيَكُونُ, wa-yawma yaquulu kun fa-yakuunu) berarti "dan pada hari ketika Dia berkata, jadilah, maka jadilah", dan di 3:59, (ثُمَّ قَالَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ, tsumma qaala lahu kun fa-yakuunu) berarti "kemudian Dia berkata kepadanya, jadilah, maka jadilah". Di 36:82 waktunya dinyatakan dengan (إِذَا, idzaa) yang berarti "apabila", tanpa penunjuk hari tertentu.
Rumusan (كُنْ فَيَكُونُ, kun fa-yakuunu) muncul delapan kali di tujuh surah, yaitu di 2:117, 3:47, 3:59, 6:73, 16:40, 19:35, 36:82, dan 40:68. Bagian pertamanya, (كُنْ, kun), berarti "jadilah", dan bagian keduanya, (فَيَكُونُ, fa-yakuunu), berarti "maka jadilah". Kata kerja yang mendahuluinya berbeda-beda: (قَضَىٰ, qadhaa) yang berarti "menetapkan" di 2:117, 3:47, 19:35, dan 40:68, (قَالَ, qaala) yang berarti "berkata" di 3:59, (يَقُولُ, yaquulu) yang berarti "berkata" di 6:73, dan kata kerja menghendaki, araada di 36:82 dan (أَرَدْنَاهُ, aradnaahu) di 16:40. Kehendak sebagai syarat bagi ucapan itu terdapat di 16:40 dan 36:82 saja dari delapan ayat tersebut.
Tafsiran
Ayat ini menutup tiga bukti dengan satu pernyataan tentang cara perbuatan Dia terjadi, dan pernyataan itu tidak lagi menyebut benda apa pun, baik tulang, pohon, maupun langit dan bumi. Ayat ini hanya menyebut kehendak dan ucapan. Kata (شَيْئًا, syay'an) tidak diberi batas jenis, sehingga rumusan ini terbaca berlaku untuk tulang di 36:78, pohon di 36:80, dan langit dan bumi di 36:81, sekaligus untuk hal lain yang tidak disebut.
Dalam surah ini kebangkitan sudah dilukiskan dari sisi mereka yang menyaksikannya. Di 36:51 sangkakala ditiup, dan di 36:53, (إِنْ كَانَتْ إِلَّا صَيْحَةً وَاحِدَةً, in kaanat illaa shayhatan waahidatan) yang berarti "peristiwa itu tidak lain satu teriakan", disusul mereka yang dihadirkan. Ayat 36:82 melukiskan sisi lain, yaitu ucapan yang menyertai kehendak. Ayat 36:82 berbicara tentang sesuatu secara umum, sehingga teksnya sendiri tidak menyatakan bahwa kata "Jadilah" di sini adalah ucapan untuk hari kebangkitan; pembacaan itu diambil dari urutan ayat.
Urutan 36:78 sampai 36:82 punya padanan di 16:38 sampai 16:40. Di 16:38 orang bersumpah (لَا يَبْعَثُ اللَّهُ مَنْ يَمُوتُ, laa yab'atsu llaahu man yamuutu) yang berarti "Allah tidak akan membangkitkan orang yang mati", dan sumpah itu dijawab (بَلَىٰ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا, balaa wa'dan 'alayhi haqqan) yang berarti "tentu saja, sebagai janji yang pasti atas-Nya". Sesudah itu 16:40 menutup dengan rumusan kun fa-yakuunu. Di kedua surah kata balaa mendahului rumusan itu, satu ayat sebelumnya di 36:81 dan dua ayat sebelumnya di 16:38.
Ayat sesudahnya memperluas kata yang sama. Kata syay'an di 36:82 menjadi (كُلِّ شَيْءٍ, kulli syay'in) yang berarti "segala sesuatu" di 36:83, sehingga sesuatu yang diajak bicara menjadi segala sesuatu yang kekuasaannya di tangan-Nya.
Renungan dan Hikmah
- Dalam urutan kata, sesuatu sudah disebut sebagai sesuatu sebelum ucapan Jadilah diarahkan kepadanya. Ayat ini hanya menyebut kehendak Dia lalu ucapan-Nya, sehingga keadaan benda itu sebelum ucapan tidak menjadi bagian rumusan. Pembaca yang menantikan sesuatu yang belum terlihat, entah hasil, pemulihan, atau jawaban, dapat memperhatikan bahwa rumusan ini tidak meminta benda itu sudah berwujud lebih dulu agar ucapan itu sampai kepadanya. Apa yang pembaca perlakukan sebagai belum ada hanya karena belum terlihat olehnya?
- Perintah di ayat ini hanya memuat dua unsur, yaitu Dia menghendaki dan Dia berkata, dan tidak menyebut alat, bahan, atau lamanya pengerjaan. Ayat 36:79 menyebut awal yang sudah lewat dan 36:80 menyebut pohon serta tangan yang menyalakan, tetapi rumusan di 36:82 tidak memuat satu pun perantara itu. Pembaca yang menghitung perantara yang menurutnya harus ada sebelum rencananya berjalan dapat memeriksa letak perantara itu menurut ayat ini. Apa yang dianggap pembaca harus ada lebih dulu sebelum sesuatu terjadi, dan di ayat ini apa yang disebut sebagai penentunya?
- Penanya di 36:78 mempersoalkan keadaan bahan, yaitu tulang yang hancur luluh, sedangkan 36:82 meletakkan penentu di tempat lain, pada pihak yang menghendaki dan berkata. Pembaca yang menilai kemungkinan sebuah pemulihan lewat apa yang tersisa dari bahannya dapat membandingkan penilaian itu dengan penentu yang ditunjuk ayat ini, yaitu kehendak Dia. Dalam menimbang sebuah harapan, apakah pembaca memeriksa keadaan bahannya atau kehendak pihak yang dimintai?
- Di 6:73 rumusan ini ditempelkan pada satu hari, dan di 3:59 pada satu peristiwa yang sudah lewat, sedangkan 36:82 menaruhnya pada kata apabila, tanpa tanggal. Pembaca yang membaca ayat ini tidak diberi tahu kapan Dia menghendaki sesuatu, dan hanya diberi tahu bagaimana ucapan-Nya bekerja pada saat kehendak itu ada. Sebuah rencana dapat diberi tanggal, sedangkan ayat ini menaruh satu keterangan yang tidak bertanggal di tengah rencana itu. Bagaimana pembaca hidup bersama pernyataan yang berlaku tanpa tanggal, di tengah rencana yang bertanggal?
- Di antara delapan ayat yang memuat rumusan kun fa-yakuunu, kehendak berada di depan ucapan pada 16:40 dan 36:82 saja, sedangkan enam lainnya menaruh kata menetapkan atau kata berkata. Dalam dua ayat itu urutannya jelas: Dia menghendaki, lalu Dia berkata, lalu jadilah. Pembaca yang menyusun kata-kata lebih dulu daripada kehendaknya dapat melihat urutan ini sebagai cermin. Dalam sebuah rencana, di mana pembaca menaruh kehendak yang jelas, sebelum kata-katanya atau sesudahnya?
- Kata sesuatu di 36:82 tidak diberi sifat besar atau kecil, penting atau remeh, sehingga ayat ini memakai satu kata yang sama untuk semua yang dikehendaki Dia. Pembaca yang menyortir urusannya menjadi yang pantas dan yang terlalu remeh dapat menimbang bahwa penyortiran itu tidak muncul dalam rumusan ini. Rumusan ini menerangkan bagaimana sesuatu terjadi bila Dia menghendakinya, sedangkan isi kehendak itu untuk tiap urusan tidak dijabarkan. Urusan mana yang pembaca golongkan terlalu remeh untuk dibawa kepada Dia, padahal ayat ini menyebutnya sesuatu tanpa pembeda?