فَالزَّاجِرَاتِ زَجْرًا
lalu yang menghardik dengan keras,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- فَالزَّاجِرَاتِ زَجْرًاfa-z-zaajiraati zajranlalu yang menghardik dengan keras
Terjemahan per kata (2 kata)
- فَالزَّاجِرَاتِfa-z-zaajiraatilalu yang menghardik
- زَجْرًاzajranpenghardikan
Inti bacaan
Bentuk (زَجْرًا, zajran) muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 37:2, dan berbeda dari bentuk di 37:19 dan 79:13 yang disertai kata 'satu'.
Penjelasan pilihan kata
Kata pertama, (فَالزَّاجِرَاتِ, fa-z-zaajiraati), yang berarti "lalu yang menghardik", tersusun dari huruf (فَ, fa) yang berarti "lalu", kata sandang al-, dan bentuk jamak perempuan dari pelaku akar ز-ج-ر. Huruf fa menyambung sumpah ini ke 37:1 sebagai langkah kedua dalam urutan. Pola yang sama dipakai di 51:2, (فَالْحَامِلَاتِ, fa-l-haamilaati) yang berarti "lalu yang memikul", dan di 100:2, (فَالْمُورِيَاتِ, fa-l-muuriyaati) yang berarti "lalu yang memercikkan". Terjemahan ayat ini karena itu memakai "lalu yang" untuk huruf fa dan tidak mengulang "demi" dari 37:1.
Akar ز-ج-ر muncul di lima ayat, yaitu 37:2, 37:19, 54:4, 54:9, dan 79:13. Di 37:19 dan 79:13 bentuknya (زَجْرَةٌ وَاحِدَةٌ, zajratun waahidatun) yang berarti "satu hardikan", dan di 37:19 hardikan itu disusul orang-orang yang seketika melihat. Di 54:9, (وَازْدُجِرَ, wa-zdujira) yang berarti "dan ia dibentak", penerimanya hamba yang oleh kaumnya disebut gila, dan ayat tidak menamai siapa yang membentaknya. Di 54:4, (مُزْدَجَرٌ, muzdajarun) yang berarti "pencegah", akar itu menjadi kata benda untuk sesuatu yang terdapat di dalam berita yang datang. Dari lima ayat itu tidak ada satu pun yang memakai akar ini untuk menggiring hewan atau benda. Padanan "menghalau" karena itu tidak dipakai, dan terjemahan memilih "menghardik", yang sejalan dengan "hardikan" di 37:19, ayat dalam surah yang sama.
Kata kedua, (زَجْرًا, zajran), yang berarti "dengan keras", seakar dengan kata pertama dan berupa kata benda bertanwin yang menerangkan cara. Bentuk ini muncul satu kali, yaitu di 37:2. Di 37:19 dan 79:13 akar yang sama berbentuk zajratun dan dipasangi (وَاحِدَةٌ, waahidatun) yang berarti "satu", sehingga hardikan di dua ayat itu terhitung sekali. Di 37:2 tidak ada kata penghitung, dan terjemahan tidak menambahkan "sekali". Seperti (ذَرْوًا, dzarwan) di 51:1 yang diterjemahkan "dengan sekuat-kuatnya", kata bertanwin ini menambah kekerasan pada perbuatan yang sudah disebut kata pertama, dan "dengan keras" menirukan tambahan itu.
Bentuk jamak perempuan (الزَّاجِرَاتِ, z-zaajiraati) muncul satu kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 37:2, dan berakhiran sama dengan kata pembuka 37:1 dan 37:3. Ketiga kata itu, yang berbaris, yang menghardik, dan yang membacakan, sama-sama sebutan pelaku jamak perempuan yang belum dinamai, sehingga akhiran yang sama membuat tiga ayat terbaca sebagai satu daftar.
Ayat ini tidak memuat benda atau orang yang dikenai hardikan, dan tidak menyebut pelakunya. Di 54:9 penerimanya tertulis, yaitu hamba yang dituduh gila, tetapi pemakaian itu tidak dibawa ke 37:2. Terjemahan juga tidak menambahkan kata benda di depan "yang menghardik", sehingga yang tertulis dalam terjemahan hanya perbuatan dan caranya.
Tafsiran
Ayat ini menambahkan bunyi ke dalam rangkaian sumpah. Sumpah pertama di 37:1 menunjukkan keadaan yang bisa dibayangkan tanpa suara, sedangkan sumpah kedua menyebut perbuatan yang hanya bisa dibayangkan dengan bunyi keras. Sumpah ketiga di 37:3 lalu menyebut sesuatu yang dibacakan. Pendengar karena itu berpindah dari sesuatu yang dilihat ke sesuatu yang didengar, dan perpindahan itu dibuka oleh huruf fa yang mengikat tiga ayat menjadi satu urutan.
Akar yang sama muncul lagi di surah ini pada 37:19, dalam kalimat yang berdiri sendiri. Ayat 37:19 menyebut satu hardikan dan sesudahnya orang-orang yang seketika melihat, lalu 37:20 memuat seruan mereka bahwa celaka bagi mereka dan menyebut hari pertanggungjawaban. Ayat 37:2 tidak memuat kejadian apa pun yang menyusul hardikannya, tidak memuat kata penghitung, dan tidak menyebut hari itu. Kedua ayat tidak dihubungkan oleh teksnya, sehingga hardikan yang disumpahkan di sini tidak boleh langsung disamakan dengan hardikan di 37:19.
Selama 37:2 berlangsung, pendengar belum diberi tahu hardikan itu ditujukan kepada siapa dan untuk apa. Jawabannya tidak ada di ayat ini maupun di 37:3, dan sumpah baru berakhir pada 37:4 dengan pernyataan tentang Tuhan kalian. Urutan itu membuat hardikan terdengar sebagai bagian dari persiapan sebelum sebuah pernyataan.
Renungan dan Hikmah
- Barisan di 37:1 bisa dibayangkan tertib dan tenang, tetapi 37:2 memasukkan suara keras ke dalam gambar itu. Pendengar yang sudah mulai tenang dengan gambaran pertama mendapati ketenangannya terganggu sebelum sempat mengerti sebabnya. Pergantian dari tertib ke bunyi keras itu terjadi tanpa penjelasan, dan penjelasannya baru bisa dicari pada 37:4, ketika Tuhan kalian disebut. Seseorang dapat memperhatikan perasaannya sendiri pada jeda itu, apakah muncul keinginan segera tahu maksud hardikan atau keinginan menahan diri. Apa yang terjadi pada ketenangan sebuah gambaran bila bunyi keras masuk lebih dulu dari alasannya?
- Di 54:9 seorang hamba dibentak setelah kaumnya menyebutnya gila, dan di 54:10 hamba itu menyeru Tuhannya dengan kata bahwa ia dikalahkan dan meminta pertolongan. Urutan dua ayat itu menunjukkan ke mana seruan pertama pergi setelah bentakan. Ayat 54:10 sendiri tidak memuat jawaban, sehingga jawabannya tidak dapat diisi dari sini. Pembaca yang pernah dibentak, di kantor, di jalan, atau di rumah sendiri, dapat membandingkan urutan itu dengan urutan dalam dirinya sendiri: pada detik pertama sesudah suara itu, ke arah mana perhatiannya berpaling? Kepada siapa seruan pertama itu diarahkan?
- Di 37:16 dan 37:17 orang-orang bertanya apakah mereka akan dibangkitkan setelah menjadi tanah dan tulang-belulang, lalu 37:18 menjawab bahwa mereka akan terhina. Ayat 37:19 menyebut satu hardikan, dan sesudahnya mereka seketika melihat, sedangkan 79:13 dan 79:14 memuat hardikan yang sama jenisnya dengan akibat yang seketika pula. Rangkaian pertanyaan yang panjang dan ragu di satu sisi, lalu satu hardikan di sisi lain, memperlihatkan perbedaan ukuran antara keraguan yang diucapkan dan peristiwa yang disebut. Seseorang dapat menimbang berapa banyak waktu yang dihabiskannya untuk pertanyaan yang jawabannya hanya membutuhkan satu hardikan. Seberapa panjang pertanyaan yang sedang disimpannya sekarang?
- Ayat 54:4 menyebut berita yang datang dan di dalamnya ada pencegah, lalu 54:5 menambahkan bahwa hikmahnya sempurna tetapi peringatan-peringatan tidak mencukupkan. Kata pencegah di 54:4 memakai akar yang sama dengan 37:2. Ayat itu tidak menjelaskan sebab ketidakcukupannya, sehingga sebab itu harus tetap terbuka. Pembaca dapat bertanya tentang peringatan yang pernah didengarnya dan tidak diikutinya, apakah peringatan itu kurang keras atau pendengarnya yang tidak siap. Apa yang menjadikan sebuah pencegah ada, tetapi tidak mencegah?
- Hardikan di 37:2 disusul bacaan di 37:3, lalu pernyataan di 37:4 bahwa Tuhan kalian benar-benar Esa. Kalimat tentang Tuhan itu datang sesudah bunyi keras dan bacaan, sedangkan yang pertama didengar pembaca adalah barisan. Pendengar yang sudah dihentak sebuah suara mendengar pernyataan berikutnya dengan telinga yang berbeda dari telinga yang tenang. Seseorang dapat memeriksa apakah kata Tuhan kalian terdengar lebih berat setelah dua sumpah yang mendahuluinya daripada bila disebut tanpa pendahulu. Apakah urutan itu mengubah cara pembaca menerima kalimat itu?
- Ayat 37:2 tidak menyebut siapa yang menghardik, dan sosok itu tetap tak bernama sampai sumpah ketiga selesai. Ayat 37:5 kemudian menyebut Tuhan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, sehingga cakupan yang disebut jauh lebih luas daripada sebuah suara yang tak dikenal. Perbandingan dua ayat itu memperlihatkan ukuran yang berbeda: di satu sisi bunyi tanpa pemilik, di sisi lain pemilik yang cakupannya luas. Seseorang dapat bertanya tentang bunyi-bunyi tanpa nama yang pernah mengejutkannya dan sejauh mana bunyi itu dikira berdiri sendiri. Siapa pemilik suara yang paling sering membuatnya terkejut?