فَالتَّالِيَاتِ ذِكْرًا

lalu yang membacakan peringatan,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. فَالتَّالِيَاتِ ذِكْرًاfa-t-taaliyaati dzikranlalu yang membacakan peringatan

Terjemahan per kata (2 kata)

  1. فَالتَّالِيَاتِfa-t-taaliyaatilalu yang membacakan
  2. ذِكْرًاdzikraningatan

Inti bacaan

Bentuk jamak perempuan (التَّالِيَاتِ, t-taaliyaati) muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 37:3, sedangkan akar ت-ل-و di 91:2 dan 11:17 berarti mengikuti dan di 3:58 berarti membacakan.

Penjelasan pilihan kata

Kata pertama, (فَالتَّالِيَاتِ, fa-t-taaliyaati), yang berarti "lalu yang membacakan", tersusun dari huruf (فَ, fa) yang berarti "lalu", kata sandang al-, dan bentuk jamak perempuan dari pelaku akar ت-ل-و. Huruf fa yang sama membuka 37:2, sehingga terjemahan memakai "lalu yang" di dua ayat itu, mengikuti pola 51:2 dan 100:2. Bentuk jamak perempuan ini muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 37:3.

Akar ت-ل-و dipakai untuk dua perbuatan yang arahnya berbeda. Di 91:2, (وَالْقَمَرِ إِذَا تَلَاهَا, wa-l-qamari idzaa talaahaa) yang berarti "demi bulan apabila mengiringinya", dan di 11:17, (وَيَتْلُوهُ شَاهِدٌ مِنْهُ, wa-yatluuhu syaahidun minhu) yang berarti "dan diikuti oleh saksi dari-Nya", kata kerjanya berarti mengikuti sesuatu yang sudah ada di depannya, yaitu matahari yang disebut di 91:1 dan orang yang memiliki bukti nyata di 11:17. Di 3:58, (ذَٰلِكَ نَتْلُوهُ عَلَيْكَ, dzaalika natluuhu 'alayka) yang berarti "itu Kami bacakan kepadamu", dan di 18:83, (قُلْ سَأَتْلُو عَلَيْكُمْ مِنْهُ ذِكْرًا, qul sa-atluu 'alaykum minhu dzikran) yang berarti "katakanlah, akan aku bacakan kepada kalian sebagian kisahnya", akar yang sama berarti menyampaikan sesuatu dengan suara. Ayat 18:83 menaruh akar ini bersama kata (ذِكْرًا, dzikran) sebagai benda yang dibacakan, dan susunan itu sama dengan 37:3, tempat dzikran mengikuti kata dari akar ت-ل-و. Karena itu terjemahan memilih "membacakan", dan pembacaan "yang mengikuti peringatan" tidak dipakai.

Kata kedua, (ذِكْرًا, dzikran), muncul sebelas kali di delapan surah, yaitu 2:200, 18:70, 18:83, 20:99, 20:113, 21:48 (dengan huruf wa di depannya), 33:41, 37:3, 37:168, 65:10, dan 77:5. Jumlah surahnya lebih kecil karena surah 18 dan 20 memuatnya dua kali dan surah 37 dua kali pula. Di 2:200, (أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا, aw asyadda dzikran) yang berarti "atau dengan ingatan yang lebih kuat", dan di 33:41, (اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا, dzkuruu llaaha dzikran katsiiran) yang berarti "ingatlah Allah dengan ingatan yang banyak", kata ini mengikuti kata kerja seakar dan menunjuk perbuatan seseorang yang mengingat. Di 37:3 kata kerjanya dari akar yang lain, yaitu ت-ل-و, sehingga padanan "ingatan" tidak cocok dan terjemahan memakai "peringatan". Padanan yang sama dipakai di 20:99, 21:48, 37:168, 65:10, dan 77:5, sedangkan 18:83 memakai "kisah", dan 18:70 serta 20:113 memakainya dalam kalimat dengan kata kerja "menerangkan" dan "memberi peringatan".

Kedudukan kata ini sejajar dengan 77:5, (فَالْمُلْقِيَاتِ ذِكْرًا, fa-l-mulqiyaati dzikran) yang berarti "demi yang menyampaikan peringatan". Di dua ayat itu dzikran mengikuti bentuk pelaku jamak perempuan. Berbeda dari 37:1 dan 37:2, tempat kata kedua seakar dengan kata pertama, di 37:3 kata kedua dari akar lain. Ayat ini tidak menyebut kepada siapa peringatan dibacakan, sedangkan 3:58 dan 18:83 menyebut penerimanya dengan (عَلَيْكَ, 'alayka) dan (عَلَيْكُمْ, 'alaykum), dan terjemahan tidak menambahkan penerima.

Tafsiran

Ayat ini menutup tiga sumpah dengan sesuatu yang dua sumpah sebelumnya tidak punya, yaitu isi yang bisa dibaca. Barisan di 37:1 dan hardikan di 37:2 menyebut perbuatan, sedangkan 37:3 menyebut sesuatu yang dituturkan, sehingga pendengar yang sampai di sini berada tepat di depan pernyataan 37:4. Urutan dari susunan, ke bunyi, ke bacaan, membawa perhatian dari sesuatu yang bisa dilihat menuju sesuatu yang harus disimak.

Kata dzikran muncul lagi di surah yang sama pada 37:168, (ذِكْرًا مِنَ الْأَوَّلِينَ, dzikran mina l-awwaliina) yang berarti "peringatan dari orang-orang terdahulu", di dalam ucapan orang-orang yang berandai-andai. Mereka berkata bahwa seandainya peringatan itu ada pada mereka, mereka akan menjadi hamba-hamba Allah yang dimurnikan, dan 37:170 melanjutkan dengan (فَكَفَرُوا بِهِ, fa-kafaruu bihi) yang berarti "akan tetapi mereka kufur terhadapnya". Kata ganti -hi di sana dapat dibaca menunjuk peringatan itu, meskipun ayatnya tidak menyatakannya. Surah ini dengan demikian membuka dengan peringatan yang dibacakan dan mendekati akhirnya dengan orang-orang yang menyatakan tidak memilikinya, dan dua tempat itu dihubungkan oleh kata yang sama tanpa dihubungkan oleh kalimat.

Ayat 37:3 sendiri tidak menyebut isi peringatannya. Isinya tidak muncul di ayat ini, dan sumpah baru menemukan pokoknya di 37:4, yaitu pernyataan tentang Tuhan kalian. Apakah pernyataan itu isi peringatan yang disumpahkan, ayat-ayat ini tidak menyatakannya, sehingga hubungan itu tetap terbuka bagi pembaca.

Renungan dan Hikmah

  • Di 37:168 sampai 37:170 orang-orang berkata bahwa seandainya mereka memiliki peringatan dari orang-orang terdahulu, mereka akan menjadi hamba-hamba Allah yang dimurnikan, lalu ayat berikutnya mencatat bahwa mereka kufur terhadapnya. Ucapan berandai-andai itu terjadi dalam surah yang membuka dengan peringatan yang dibacakan, sehingga jarak antara keinginan dan kenyataan tertulis dalam satu surah yang sama. Pembaca dapat membandingkan keinginan semacam itu dengan keinginannya sendiri, yakni berapa kali pembaca berkata bahwa andai ada petunjuk yang jelas, perilakunya akan berubah. Apakah andai-andai itu pernah diuji ketika yang diandaikan benar-benar datang?
  • Di 33:41 kata dzikran dipakai bagi orang yang diminta mengingat Allah dengan ingatan yang banyak, dan di 37:3 kata yang sama dipakai bagi sesuatu yang dibacakan oleh pihak lain. Satu kata menjangkau dua arah, yaitu peringatan sebagai perbuatan yang keluar dari dalam diri sendiri, dan peringatan sebagai isi yang datang dari luar lewat pembacaan. Seseorang yang membaca ayat dengan lantang dapat menimbang bagian mana yang sungguh diingatnya sendiri, dan bagian mana yang sekadar bunyi lewat. Kapan terakhir kali pembaca mengingat Allah dengan kalimat yang tidak dibaca dari lembar tertulis?
  • Di 18:83 kalimat akan aku bacakan kepada kalian didahului perintah katakanlah, sehingga pembacanya menyampaikan isi yang tidak disusunnya sendiri. Bentuk pelaku di 37:3 dapat dibaca dengan cara yang sama, sebab pembaca memegang sesuatu yang disampaikannya dan tidak dimilikinya. Seseorang yang sering dimintai menyampaikan pesan, laporan, atau kabar dari pihak lain dapat memperhatikan perbedaan antara membawa kata-kata dan menjadi pemilik kata-kata itu. Ayat 37:3 tidak menyebut siapa yang menjadi sumber peringatan, sehingga pertanyaan itu terbuka. Dari siapa pesan terakhir yang pembaca sampaikan datang, dan sejauh mana pembaca bersedia mempertanggungjawabkan isinya?
  • Dalam 37:1 sampai 37:3 pendengar hanya menyaksikan: barisan, hardikan, dan bacaan berlalu tanpa menyapa siapa pun. Pada 37:4 muncul kata kalian di dalam Tuhan kalian, dan untuk pertama kalinya rangkaian ini berbicara kepada pihak yang mendengar. Perpindahan itu terjadi di antara satu ayat dan ayat sesudahnya, tanpa tanda yang menunjukkan di mana persisnya pendengar berubah dari penonton menjadi sasaran. Pembaca dapat bertanya pada ayat keberapa dirinya mulai merasa disapa, dan apa yang membuatnya sadar. Apakah kata kalian di 37:4 terasa lebih berat karena tiga ayat yang mendahuluinya tidak menyebutnya?
  • Di 3:58 dan 18:83 pembacaan disertai penerima yang jelas, kepadamu dan kepada kalian, sedangkan 37:3 tidak menyebut kepada siapa peringatan dibacakan. Tempat yang kosong itu bisa terisi oleh pembaca sendiri, yang berada di depan ayat ini dan dibacakan sesuatu tanpa diberi tahu bahwa dirinyalah penerimanya. Orang yang menerima bacaan dari pihak lain tanpa dipanggil namanya dapat menimbang apakah dirinya cenderung merasa tidak dituju, atau merasa dituju sebelum sempat diberi tanda. Ketika sebuah ayat tidak menyebut penerimanya, siapa yang menurut pembaca sedang dibacakan?
  • Urutan 37:1 sampai 37:4 menaruh pernyataan tentang Tuhan kalian sesudah tiga gambaran, dan sumpah ketiga adalah gambaran yang paling dekat dengan bunyi kata. Ayat-ayat itu tidak menyatakan bahwa pernyataan Tuhan Esa adalah isi bacaan di 37:3, sehingga hubungannya harus dibiarkan terbuka. Ayat-ayat itu menuliskan urutan saja, yaitu bacaan lebih dulu, lalu kalimat itu. Pembaca yang menyukai urutan rapi dapat berhati-hati agar tidak menyambungkan dua hal yang ayatnya tidak sambungkan. Bila pembaca ingin menyambungkannya, kata apa yang dipakai untuk menandai bahwa sambungan itu milik pembaca dan bukan milik ayat?