إِنَّا زَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا بِزِينَةٍ الْكَوَاكِبِ

Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit dunia dengan hiasan bintang-bintang,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. إِنَّا زَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا بِزِينَةٍ الْكَوَاكِبِinnaa zayyannaa s-samaa'a d-dunyaa bi-ziinatin il-kawaakibisesungguhnya Kami telah menghiasi langit dunia dengan hiasan bintang-bintang

Terjemahan per kata (6 kata)

  1. إِنَّاinnaasesungguhnya Kami
  2. زَيَّنَّاzayyannaaKami menghiasi
  3. السَّمَاءَs-samaa'alangit
  4. الدُّنْيَاd-dunyaadunia
  5. بِزِينَةٍbi-ziinatindengan hiasan
  6. الْكَوَاكِبِil-kawaakibibintang-bintang

Inti bacaan

Frasa (السَّمَاءَ الدُّنْيَا, s-samaa'a d-dunyaa) muncul tiga kali di Al-Qur'an, yaitu di 37:6, 41:12, dan 67:5, dan hanya di 37:6 langit itu dihiasi dengan bintang-bintang, sedangkan dua ayat lain memakai pelita-pelita.

Penjelasan pilihan kata

Kata pertama, (إِنَّا, innaa), yang berarti "sesungguhnya Kami", tersusun dari (إِنَّ, inna) yang berarti "sesungguhnya" dan akhiran (نَا, -naa) yang berarti "Kami". Kata kerja sesudahnya, (زَيَّنَّا, zayyannaa), yang berarti "telah menghiasi", berakar ز-ي-ن dan berbentuk kedua dengan pelaku Kami. Bentuk ini, dengan atau tanpa kata ganti di belakangnya, muncul di tujuh ayat, yaitu 6:108, 15:16, 27:4, 37:6, 41:12, 50:6, dan 67:5. Di lima ayat, yaitu 15:16, 37:6, 41:12, 50:6, dan 67:5, benda yang dikenai kata kerja ini langit, dan terjemahan memakai "menghiasi". Di dua ayat lain, 6:108 dan 27:4, bendanya perbuatan manusia, (زَيَّنَّا لَهُمْ أَعْمَالَهُمْ, zayyannaa lahum a'maalahum) yang berarti "Kami jadikan terasa indah bagi mereka perbuatan-perbuatan mereka" di 27:4, sehingga terjemahan di sana memakai "menjadikan terasa indah". Perbedaan arah itu menentukan padanan: untuk langit, terjemahan memakai "menghiasi" seperti di 15:16 dan 50:6, yang keduanya memuat (وَزَيَّنَّاهَا, wa-zayyannaahaa) yang berarti "dan Kami menghiasinya".

Kata (السَّمَاءَ الدُّنْيَا, s-samaa'a d-dunyaa), yang berarti "langit dunia", muncul tiga kali di Al-Qur'an, yaitu di 37:6, 41:12, dan 67:5. Kata kedua, (الدُّنْيَا, d-dunyaa), berakar د-ن-و, akar yang sama dengan (أَدْنَىٰ, adnaa) yang berarti "lebih dekat" di 53:9. Terjemahan tetap memakai "dunia" di tiga ayat itu dan tidak menambahkan "terdekat", sebab ayat ini tidak menyatakan jarak.

Kata (بِزِينَةٍ, bi-ziinatin), yang berarti "dengan hiasan", tersusun dari (بِ, bi-) yang berarti "dengan" dan kata benda dari akar ز-ي-ن yang sama dengan kata kerja tadi. Bentuk persisnya muncul dua kali, yaitu di 24:60 dan 37:6. Di 24:60 kata ini diterjemahkan "perhiasan" dalam kalimat tentang manusia, sedangkan di 37:6 terjemahan memakai "hiasan" untuk langit. Kata sesudahnya, (الْكَوَاكِبِ, il-kawaakibi), yang berarti "bintang-bintang", adalah jamak dari kawkab, dan akar ك-و-ك-ب dipakai di lima ayat, yaitu 6:76, 12:4, 24:35, 37:6, dan 82:2. Bentuk jamak bersandang ada di dua ayat, yaitu 37:6 dan 82:2, (وَإِذَا الْكَوَاكِبُ انْتَثَرَتْ, wa-idzaa l-kawaakibu ntatsarat) yang berarti "dan apabila bintang-bintang berhamburan". Kata yang sama menyebut hiasan di 37:6 dan sesuatu yang berhamburan di 82:2. Bentuk tunggalnya dipakai di 6:76, (رَأَىٰ كَوْكَبًا, ra'aa kawkaban) yang berarti "melihat sebuah bintang", di 12:4, (أَحَدَ عَشَرَ كَوْكَبًا, ahada 'asyara kawkaban) yang berarti "sebelas bintang", dan di 24:35, (كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ, kawkabun durriyyun) yang berarti "bintang yang berkilau".

Dua kata, ziinatin dan il-kawaakibi, berdampingan tanpa kata penghubung, yang pertama bertanwin dan yang kedua bersandang. Terjemahan "dengan hiasan bintang-bintang" menaruh keduanya berdampingan pula, dan tidak menambahkan "yaitu" atau "berupa". Berbeda dari 41:12 dan 67:5 yang memakai (بِمَصَابِيحَ, bi-mashaabiiha) yang berarti "dengan pelita-pelita", ayat ini menamai bintang-bintang dan tidak pelita. Ayat ini juga tidak menyebut siapa yang melihat hiasan itu.

Tafsiran

Ayat ini adalah tempat pertama dalam surah ini yang memakai kata Kami. Di 37:1 sampai 37:3 tidak ada pembicara yang bisa ditunjuk, dan di 37:4 dan 37:5 pembicara menyebut Tuhan dalam bentuk orang ketiga, yaitu Tuhan kalian dan Tuhan langit dan bumi. Di 37:6 pembicara tiba-tiba berkata Kami. Ayat-ayat itu tidak menyatakan hubungan antara sebutan Tuhan dan sebutan Kami. Di 41:12 kata Dia dan Kami hadir dalam satu ayat yang memuat rangkaian perbuatan terkait langit, dan ayat itu ditutup dengan satu sebutan, Sang Digdaya lagi Sang Berilmu. Pemakaian itu menunjukkan bahwa dua sebutan dapat bersanding dalam satu rangkaian, tetapi tidak menyatakan siapa yang dimaksud di 37:6.

Setelah dua ayat tentang siapa, 37:6 membawa pendengar ke sesuatu yang dapat ditunjuk, yaitu langit yang dihiasi. Bintang-bintang di sini diperkenalkan lewat satu kata, hiasan, dan ayat ini tidak menyebut gerakannya. Ayat 15:16 dan 50:6 memakai kata kerja yang sama untuk langit, tetapi menyebut yang memandang, yaitu (لِلنَّاظِرِينَ, li-n-naazhiriina) yang berarti "bagi orang-orang yang memandang" di 15:16, dan (أَفَلَمْ يَنْظُرُوا, a-fa-lam yanzhuruu) yang berarti "maka tidakkah mereka memperhatikan" di 50:6. Ayat 37:6 tidak menyebut pemandang, sehingga hiasan itu diperkenalkan lebih dulu dan pemandangnya dibiarkan pembaca.

Ayat ini berakhir dengan tanda koma pada terjemahannya, dan kalimatnya berlanjut ke 37:7, (وَحِفْظًا مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ مَارِدٍ, wa-hifzhan min kulli syaythaanin maaridin) yang berarti "dan sebagai penjagaan dari setiap setan yang durhaka". Di 41:12 hiasan langit dunia juga disusul penjagaan, dan di 67:5 disusul pelempar bagi setan-setan, (وَجَعَلْنَاهَا رُجُومًا لِلشَّيَاطِينِ, wa-ja'alnaahaa rujuuman li-sy-syayaathiini). Hiasan di 37:6 karena itu dibaca bersama kalimat sesudahnya sebagai satu rangkaian, dan ayat ini sendiri belum memberi tahu apa yang dijaga.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat 37:4 dan 37:5 menyebut Tuhan kalian dan Tuhan langit dan bumi, dan 37:6 langsung menunjuk langit yang dihiasi bintang-bintang. Sesudah dua ayat berisi sebutan, pendengar diberi sesuatu yang dapat diacungi telunjuk. Seseorang yang terbiasa mendengar nama Tuhan sebagai ungkapan dapat memperhatikan bagaimana ayat ini mengembalikan perhatiannya kepada benda yang ada di atas kepala. Pernyataan tentang Tuhan menjadi sesuatu yang boleh dicocokkan dengan langit malam. Apa yang terjadi pada sebuah ungkapan ketika pembaca menengadah dan mencocokkannya dengan yang tampak di atas sana?
  • Ayat 15:16 menyebut hiasan langit bagi orang-orang yang memandang, dan 50:6 bertanya apakah mereka tidak memperhatikan langit di atas mereka. Ayat 37:6 menyebut hiasan itu tanpa pemandang. Pembaca dapat memperhatikan berapa banyak malam yang bintangnya terpasang tanpa seorang pun menatapnya, termasuk malam-malam yang dilewatkan pembaca sendiri di dalam ruangan. Apakah keindahan yang tidak dilihat siapa pun tetap terhitung sebagai hiasan?
  • Di 6:76 seseorang melihat sebuah bintang dan menyebutnya Tuhannya, lalu ketika bintang itu terbenam tokoh itu berkata tidak menyukai yang terbenam. Ayat 6:75 menyebut tokohnya Ibrahim. Ayat 37:6 menaruh bintang-bintang pada tempat yang berbeda, yaitu hiasan yang dipasang pada langit oleh Kami, tanpa menyebutnya sebagai tempat bergantung. Dua ayat itu memperlihatkan dua kedudukan untuk benda yang sama: dipasang sebagai hiasan, atau disebut Tuhan lalu ditolak. Pembaca dapat memeriksa benda apa dalam hidupnya yang semula hiasan lalu perlahan menjadi sandaran. Apa yang tersisa dari sandaran itu ketika terbenam?
  • Kata bintang-bintang di 37:6 menyebut hiasan yang terpasang, dan kata yang sama di 82:2 menyebut bintang-bintang yang berhamburan. Ayat 82:2 diawali kata apabila, sehingga peristiwa itu belum terjadi, tetapi kata yang menjadi hiasan di satu ayat dan kekacauan di ayat lain itu sama. Satu benda tampil dalam dua keadaan di dua ayat. Seseorang dapat bertanya bagaimana susunan yang tampak tetap terbaca bila kata yang menamainya pernah dipakai untuk susunan yang tercerai. Susunan apa dalam hidup pembaca yang paling jarang dibayangkan tercerai?
  • Selama lima ayat pertama pembicara tidak berkata Kami, lalu 37:6 membuka dengan sesungguhnya Kami. Perubahan itu terjadi tanpa pengantar, dan pergeseran itu dapat dirasakan oleh pendengar yang mengikuti kata ganti, dari sebutan tentang Tuhan ke suara yang berbicara tentang perbuatannya sendiri. Di 41:12 Dia menetapkan tujuh langit dan Kami menghiasi langit dunia dalam satu ayat, sehingga pergeseran semacam itu ada juga di tempat lain. Pembaca dapat memperhatikan pada kata ganti mana pembicara mulai terasa berganti, dan apa yang dilakukan dengan perasaan itu. Apakah pembaca berhenti untuk memastikan, atau membiarkan kata ganti mengalir sampai ayat berikutnya?
  • Hiasan di 37:6 bersambung ke penjagaan di 37:7, dan 41:12 menyandingkan keduanya juga. Benda yang pertama disebut sebagai hiasan disebut lagi dengan fungsi lain pada ayat berikutnya. Ayat 37:6 tidak menyebut fungsi itu, dan fungsi itu baru tertulis di 37:7. Seseorang yang menilai sesuatu dari tampilannya dapat memperhatikan berapa banyak yang dianggapnya hiasan, padahal fungsinya belum pernah ditanyakan. Apa yang pembaca anggap sekadar hiasan, dan siapa yang tahu tugasnya?