وَحِفْظًا مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ مَارِدٍ

dan sebagai penjagaan dari setiap setan yang durhaka.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَحِفْظًا مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ مَارِدٍwa-hifzhan min kulli syaythaanin maaridindan sebagai penjagaan dari setiap setan yang durhaka

Terjemahan per kata (5 kata)

  1. وَحِفْظًاwa-hifzhandan penjagaan
  2. مِنْmindari
  3. كُلِّkullisegala
  4. شَيْطَانٍsyaythaaninsetan
  5. مَارِدٍmaaridinyang membangkang

Inti bacaan

Bentuk (مَارِدٍ, maaridin) hanya muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 37:7, sementara 15:17 memakai (رَجِيمٍ, rajiimin) untuk setan dalam rangkaian kalimat yang sama.

Penjelasan pilihan kata

Kata pertama di ayat ini, (وَحِفْظًا, wa-hifzhan), yang berarti "dan sebagai penjagaan", berupa kata benda berakar ح-ف-ظ dengan akhiran -an. Terjemahan menambahkan "sebagai" untuk akhiran itu karena kata ini berdampingan dengan kata kerja (زَيَّنَّا, zayyannaa) di 37:6. Bentuk yang sama ada di 41:12, (وَزَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا بِمَصَابِيحَ وَحِفْظًا, wa-zayyannaa s-samaa'a d-dunyaa bi-mashaabiiha wa-hifzhan) yang berarti "Dan Kami hiasi langit dunia dengan pelita-pelita, dan sebagai penjagaan". Kata benda hifzh muncul tiga kali di Al-Qur'an, yaitu di 2:255, 37:7, dan 41:12. Di 2:255 kata itu memakai akhiran -humaa dalam (حِفْظُهُمَا, hifzhuhumaa) yang berarti "memelihara keduanya", sedangkan di 41:12 penjagaan disebut tanpa sasaran, dan di 37:7 sasarannya langsung menyusul.

Sasaran itu ditunjuk oleh (مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ مَارِدٍ, min kulli syaythaanin maaridin) yang berarti "dari setiap setan yang durhaka". Bagian (مِنْ, min) berarti "dari", (كُلِّ, kulli) berarti "setiap", dan (شَيْطَانٍ, syaythaanin) berarti "setan" dalam bentuk tunggal tak tentu, sehingga penjagaan itu dibaca terhadap tiap setan satu per satu. Rangkaian (مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ, min kulli syaythaanin) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 15:17 dan 37:7. Di 15:17, (وَحَفِظْنَاهَا مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ رَجِيمٍ, wa-hafizhnaahaa min kulli syaythaanin rajiimin) berarti "dan Kami menjaganya dari setiap setan yang terkutuk", jadi kerangka kalimatnya sama dan kata sifatnya berbeda. Rangkaian (شَيْطَانٍ رَجِيمٍ, syaythaanin rajiimin) muncul dua kali di dua surah, yaitu di 15:17 dan 81:25. Bentuk (مَارِدٍ, maaridin) hanya muncul satu kali, di 37:7, dan terjemahan membedakan keduanya dengan "terkutuk" untuk rajiimin dan "durhaka" untuk maaridin.

Akar maaridin ialah م-ر-د, yang ada pada lima kata di lima ayat, yaitu 4:117, 9:101, 22:3, 27:44, dan 37:7. Di 4:117, (شَيْطَانًا مَرِيدًا, syaythaanan mariidan), dan di 22:3, (كُلَّ شَيْطَانٍ مَرِيدٍ, kulla syaythaanin mariidin), kata sifat dari akar ini menyifati setan. Di 9:101 kata kerja (مَرَدُوا, maraduu) dalam (مَرَدُوا عَلَى النِّفَاقِ, maraduu 'alaa n-nifaaqi) dipakai untuk sebagian orang munafik, dan di 27:44 (مُمَرَّدٌ, mumarradun) menyifati sebuah istana yang terjemahannya "licin". Akar ini dengan demikian menyifati setan, sebagian orang munafik, dan sebuah bangunan, dan ayat-ayat itu tidak menerangkan arti dasarnya. Data morfologi menandai maaridin di 37:7 sebagai kata benda bentuk pelaku, sedangkan mariid di 4:117 dan 22:3 ditandai sebagai kata sifat. Pilihan "durhaka" karena itu bertumpu pada kedudukan kata ini di 37:7, yaitu sifat setan yang dijauhkan dari langit, dan tidak bertumpu pada arti dasar akar yang tidak dijelaskan teks.

Kata "durhaka" di tempat lain antara lain menerjemahkan akar yang berbeda, yaitu ع-ص-ي, misalnya (عَصِيًّا, 'ashiyyan) di 19:14 dan 19:44. Maaridin dan 'ashiyyan adalah dua kata dari dua akar, sehingga kesamaan terjemahannya tidak menunjukkan kesamaan arti Arabnya.

Dua hal tidak dinyatakan oleh ayat ini. Pertama, ayat ini tidak memuat kata kerja, jadi pelaku penjagaan dibaca dari kata kerja (زَيَّنَّا, zayyannaa) yang berarti "telah menghiasi" di 37:6, yang berbagi kalimat dengannya, dan dari (وَحَفِظْنَاهَا, wa-hafizhnaahaa) di 15:17. Kedua, cara penjagaan itu bekerja tidak diterangkan di sini, karena rinciannya baru muncul di 37:8.

Tafsiran

Ayat ini menambahkan tugas kedua pada langit dunia yang dihiasi di 37:6. Hiasan disebut lebih dulu dan penjagaan menyusul, dan koma di ujung 37:6 membuat keduanya satu kalimat yang selesai di 37:7. Urutan serupa ada di 15:16 sampai 15:17: gugusan bintang dijadikan di langit, Kami menghiasinya, lalu Kami menjaganya dari setiap setan.

Tiga ayat menyebut fungsi kedua langit dunia dengan tiga cara. Ayat 41:12 menyebut penjagaan tanpa sasaran, ayat 67:5 menyebut sasarannya lewat pelempar, (وَجَعَلْنَاهَا رُجُومًا لِلشَّيَاطِينِ, wa-ja'alnaahaa rujuuman li-sy-syayaathiini) yang berarti "dan Kami jadikan ia pelempar bagi setan-setan", dan 37:7 menyebut sasarannya lewat sifat. Di antara ketiganya, 37:7 memberi tahu seperti apa pihak yang dijaga dari, sedangkan penjaganya dan alatnya tidak disebut di ayat ini.

Di dalam surah ini 37:7 adalah penyebutan setan yang pertama. Penyebutan berikutnya baru di 37:65, (الشَّيَاطِينِ, sy-syayaathiini), dalam perumpamaan tentang mayang sebuah pohon di neraka. Sebelum 37:7, pembicara menyebut Tuhan langit dan bumi dan tempat-tempat terbit di 37:5, lalu bintang-bintang di 37:6. Setan masuk ke surah sebagai pihak yang dijauhkan dari langit itu, dan belum sebagai pelaku sesuatu.

Kalimat berhenti di sini, dan 37:8 memulai kalimat baru dengan kata ganti mereka yang menunjuk setan-setan ini. Karena itu 37:7 berfungsi sebagai pernyataan dasar, dan 37:8 sampai 37:10 menguraikan akibatnya: apa yang tidak sanggup mereka lakukan, apa yang menimpa mereka, dan apa yang terjadi pada yang berhasil menyambar.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat 37:5 menyebut Tuhan langit dan bumi, 37:6 menyebut langit dunia dihiasi, dan 37:7 menambahkan bahwa langit yang sama dijaga. Bagian yang paling indah dari sesuatu ternyata ikut memikul tugas, dan 41:12 menaruh hiasan dan penjagaan berdampingan dalam satu ayat pula. Susunan yang bagi orang yang menengadah pada malam hari tampak seperti pajangan ternyata dapat sedang bekerja ketika tak seorang pun menengok. Apakah hal yang paling indah di sekitar pembaca, rumah, kebun, atau wajah orang-orang yang dikasihi, sedang menjalankan tugas yang tidak pernah ditanyakan?
  • Ayat 2:255 menyebut bahwa memelihara langit-langit dan bumi tidak memberatkan-Nya, dan kata benda yang dipakai di sana, (حِفْظُهُمَا, hifzhuhumaa), berasal dari akar yang sama dengan penjagaan di 37:7. Dua ayat itu membicarakan hal berbeda, sebab 2:255 tentang langit dan bumi sedangkan 37:7 tentang penjagaan dari setan, jadi keduanya tidak disamakan. Penjagaan atas langit dan bumi di 2:255 digambarkan tanpa kelelahan pada pihak yang menjaga. Bagi orang yang letih menjaga rumah tangga, pekerjaan, atau nama baiknya, apa yang berubah pada letih itu bila diingatnya bahwa Dia yang disebut menjaga langit tidak digambarkan memikul beban?
  • Penjagaan di 37:7 menyebut sasarannya lewat sifat, yaitu durhaka, dan tidak lewat rupa, nama, atau tempat tinggal. Ketakutan yang dibawa orang sering lebih mudah menempel pada rupa dan nama daripada pada sifat. Ayat ini memberi pembaca sesuatu yang lain untuk dipegang: ancaman dikenali dari sikapnya, dan penjagaannya diarahkan kepada sikap itu pada tiap setan satu per satu. Bila ketakutan pembaca sendiri diberi sifat sebelum diberi rupa, apakah ketakutan itu masih terasa sebesar ketika hanya berupa bayangan?
  • Di 12:63 anak-anak yang meminta saudara mereka dibawa berkata, (وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ, wa-innaa lahu la-haafizhuuna) yang berarti "dan sesungguhnya kami benar-benar penjaga-penjaganya", dan di 12:64 sang ayah menjawab, (فَاللَّهُ خَيْرٌ حَافِظًا, fa-llaahu khayrun haafizhan) yang berarti "Maka Allah sebaik-baik penjaga". Kata penjaga di dua ayat itu berasal dari akar yang sama dengan penjagaan di 37:7, dan jawaban sang ayah menyebut Allah sebagai penjaga terbaik sesudah anak-anaknya menyebut diri mereka penjaga. Ayat 37:7 sendiri tidak menyebut janji manusia mana pun, sehingga dua ayat itu dibandingkan dan tidak disamakan. Kepada siapa sebenarnya penjagaan diserahkan oleh orang yang pernah menitipkan sesuatu yang paling dicintainya, kepada pernyataan sebagai penjaga, atau kepada penjaga yang disebut sebaik-baik?
  • Akar yang menyifati setan di 37:7 dipakai pula di 9:101 untuk sebagian orang munafik, dalam kalimat yang berbunyi, "Engkau tidak mengetahui mereka. Kami mengetahui mereka." Ayat 9:101 membicarakan manusia dan 37:7 membicarakan setan, sehingga kesamaan akar tidak menjadikan keduanya setara. Namun pemakaian itu memperlihatkan bahwa sifat yang dinamai di 37:7 dapat juga melekat pada orang yang tampak biasa bagi sekitarnya. Kebiasaan apa dalam diri pembaca yang sudah keterlaluan sampai tak lagi dikenali orang lain, dan siapa yang mengenalinya bila orang lain tidak?
  • Di 34:20 Iblis disebut telah membenarkan sangkaannya terhadap mereka, lalu 34:21 menyatakan, "Dan tidak ada baginya kekuasaan terhadap mereka, kecuali agar Kami mengetahui siapa yang beriman pada akhirat dari siapa yang ragu-ragu tentangnya. Dan Tuhanmu Sang Penjaga atas segala sesuatu." Kata penjaga di sana, (حَفِيظٌ, hafiizhun), berasal dari akar yang sama dengan penjagaan di 37:7. Ayat 34:21 membicarakan kekuasaan Iblis atas manusia dan 37:7 membicarakan langit, jadi keduanya dua peristiwa yang berbeda. Dua ayat itu sama-sama menempatkan setan dalam batas, sementara Tuhan disebut menjaga segala sesuatu. Apa yang berubah pada ketakutan pembaca bila sosok yang ditakutinya dibaca sebagai pihak yang kekuasaannya punya batas?