لَا يَسَّمَّعُونَ إِلَى الْمَلَإِ الْأَعْلَىٰ وَيُقْذَفُونَ مِنْ كُلِّ جَانِبٍ
Mereka tidak dapat mendengar ke arah majelis yang tertinggi, dan mereka dilempari dari segala penjuru,
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- لَا يَسَّمَّعُونَ إِلَى الْمَلَإِ الْأَعْلَىٰlaa yassamma'uuna ila l-mala'i l-a'laamereka tidak dapat mendengar ke arah majelis yang tertinggi
- وَيُقْذَفُونَ مِنْ كُلِّ جَانِبٍwa-yuqdzafuuna min kulli jaanibindan mereka dilempari dari segala penjuru
Terjemahan per kata (9 kata)
- لَاlaatidak
- يَسَّمَّعُونَyassamma'uunamereka mendengarkan
- إِلَىilakepada
- الْمَلَإِl-mala'imajelis
- الْأَعْلَىٰl-a'laayang tertinggi
- وَيُقْذَفُونَwa-yuqdzafuunadan mereka dilempari
- مِنْmindari
- كُلِّkullisegala
- جَانِبٍjaanibinsisi
Inti bacaan
Rangkaian (مِنْ كُلِّ جَانِبٍ, min kulli jaanibin) hanya muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 37:8, sedangkan kata (جَانِبٍ, jaanibin) sendiri ada sembilan kali di enam surah.
Penjelasan pilihan kata
Kalimat baru ini bermula pada (لَا يَسَّمَّعُونَ, laa yassamma'uuna) yang berarti "mereka tidak dapat mendengar". Bagian (لَا, laa) berarti "tidak", dan kata kerjanya berakar س-م-ع dengan bentuk yang hanya ada di 37:8. Kata "dapat" tidak punya kata Arab sendiri di ayat ini. Terjemahan memakainya karena kalimat berikutnya langsung menyebut mereka dilempari, dan karena 26:212 menyatakan (إِنَّهُمْ عَنِ السَّمْعِ لَمَعْزُولُونَ, innahum 'ani s-sam'i la-ma'zuuluuna) yang berarti "Sesungguhnya mereka benar-benar dijauhkan dari mendengar". Dengan demikian "tidak dapat" adalah pembacaan atas penyangkalan di 37:8, dan teks 37:8 sendiri tidak menambahkan kata kemampuan.
Arah mendengarnya ditunjuk oleh (إِلَى الْمَلَإِ الْأَعْلَىٰ, ila l-mala'i l-a'laa) yang berarti "ke arah majelis yang tertinggi". Kata (إِلَى, ila) di sini berarti "ke arah". Pendengaran yang diarahkan dengan kata depan yang sama juga ada di (يَسْتَمِعُ إِلَيْكَ, yastami'u ilayka) pada 6:25 dan 47:16, serta di (يَسْتَمِعُونَ إِلَيْكَ, yastami'uuna ilayka) pada 10:42 dan 17:47, dengan kata kerja yang lain. Di empat ayat itu sasaran mendengarnya seorang penutur, sedangkan di 37:8 sasarannya sebuah majelis. Kata (الْمَلَإِ, l-mala'i) muncul empat kali, yaitu di 2:246, 26:34, 37:8, dan 38:69. Di 2:246, (الْمَلَإِ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ, l-mala'i min banii israa'iila) diterjemahkan "para pemuka Bani Israil", dan dalam bentuk lain (الْمَلَأُ مِنْ قَوْمِهِ, l-mala'u min qawmihi) di 7:60 diterjemahkan "para pemuka dari kaumnya". Di 37:8 terjemahan memakai "majelis" supaya tidak menetapkan bahwa anggotanya manusia atau golongan tertentu, sebab ayat tidak merinci siapa mereka.
Frasa (الْمَلَإِ الْأَعْلَىٰ, l-mala'i l-a'laa) muncul dua kali, di 37:8 dan di 38:69, (بِالْمَلَإِ الْأَعْلَىٰ إِذْ يَخْتَصِمُونَ, bi-l-mala'i l-a'laa idz yakhtashimuuna) yang berarti "tentang majelis yang tertinggi ketika mereka berbantah-bantahan". Ayat 38:69 menambahkan satu keterangan yang tidak ada di 37:8, yaitu bahwa majelis itu berbantah-bantahan, tetapi 38:69 tidak menyebut isi bantahan itu. Kata (الْأَعْلَىٰ, l-a'laa) bersandang al- ini muncul sembilan kali di sembilan surah, yaitu di 16:60, 20:68, 30:27, 37:8, 38:69, 53:7, 79:24, 87:1, dan 92:20, dan sasarannya bermacam-macam. Di 16:60 dan 30:27 yang disebut (الْمَثَلُ الْأَعْلَىٰ, l-matsalu l-a'laa) "sifat yang tertinggi", di 92:20 (رَبِّهِ الْأَعْلَىٰ, rabbihi l-a'laa) "Tuhannya yang tertinggi", di 53:7 sebuah ufuk, dan di 79:24 sebuah klaim, (أَنَا رَبُّكُمُ الْأَعْلَىٰ, anaa rabbukumu l-a'laa) yang berarti "Akulah Tuhanmu yang paling tinggi". Kata itu dengan demikian tidak terikat pada satu jenis benda, dan di 37:8 ayat sendiri tidak menyebut apa yang membuat majelis itu tertinggi.
Gerak kedua ditunjuk oleh (وَيُقْذَفُونَ, wa-yuqdzafuuna) yang berarti "dan mereka dilempari". Akarnya ق-ذ-ف ada pada sembilan kata di delapan ayat, yaitu 20:39 (dua kali), 20:87, 21:18, 33:26, 34:48, 34:53, 37:8, dan 59:2. Bentuk pasif (يُقْذَفُونَ, yuqdzafuuna) hanya ada di 37:8, jadi hanya di sini pelakunya tidak disebut dalam kata kerja itu sendiri. Di ayat lain pelaku dapat ditunjuk: (يَقْذِفُ بِالْحَقِّ, yaqdzifu bi-l-haqqi) di 34:48 berarti "melontarkan kebenaran" dengan Tuhanku sebagai pelakunya, (نَقْذِفُ بِالْحَقِّ, naqdzifu bi-l-haqqi) di 21:18 berarti "Kami lemparkan kebenaran", dan (وَيَقْذِفُونَ بِالْغَيْبِ, wa-yaqdzifuuna bi-l-ghaybi) di 34:53 berarti "dan mereka melontarkan yang gaib". Ayat 67:5 menyebut alat lemparan, yaitu pelempar bagi setan-setan, tetapi ayat 37:8 tidak menyebut pelakunya maupun alatnya.
Sisinya ditunjuk oleh (مِنْ كُلِّ جَانِبٍ, min kulli jaanibin) yang berarti "dari segala penjuru". Rangkaian ini hanya muncul sekali, di 37:8. Kata (جَانِبٍ, jaanibin) sendiri ada sembilan kali di enam surah, yaitu 17:68, 17:83, 19:52, 20:80, 28:29, 28:44, 28:46, 37:8, dan 41:51, dan di delapan ayat lain sisi itu selalu terikat pada sesuatu yang ditunjuk. Di 17:68 sisi itu milik daratan, (جَانِبَ الْبَرِّ, jaaniba l-barri) yang berarti "sebagian daratan", di 19:52, 20:80, 28:29, dan 28:46 milik gunung, misalnya (جَانِبِ الطُّورِ, jaanibi th-thuuri) di 28:29, di 28:44 sisi barat, dan di 17:83 serta 41:51 milik manusia lewat akhiran -hi dalam (بِجَانِبِهِ, bi-jaanibihi). Di 37:8 tidak ada yang ditunjuk, sehingga penjuru itu menunjuk semua sisi tanpa menyebut sisi apa. Kata (كُلِّ, kulli) diterjemahkan "segala" di sini dan "setiap" di 37:7, karena "setiap setan" menunjuk satu per satu dan "segala penjuru" menunjuk semua arah sekaligus. Rangkaian lain, (مِنْ كُلِّ مَكَانٍ, min kulli makaanin), muncul di 10:22, 14:17, dan 16:112, dan terjemahan 10:22 dan 14:17 juga memakai "penjuru" untuknya, padahal makaan berarti tempat dan jaanib berarti sisi.
Tafsiran
Ayat ini menguraikan akibat penjagaan di 37:7 lewat dua kata kerja. Kata kerja pertama menyangkut telinga, sebab mereka tidak dapat mendengar ke arah majelis yang tertinggi, dan kata kerja kedua menyangkut tubuh, sebab mereka dilempari dari semua sisi. Kata ganti mereka menunjuk setan-setan yang disebut di ayat sebelumnya, dan 37:8 dimulai sebagai kalimat baru.
Ayat 26:212 menyatakan dalam satu kalimat bahwa mereka dijauhkan dari mendengar, dan 15:17 sampai 15:18 menyusulkan pengecualian dan kejaran. Ayat 72:8 sampai 72:9 memuat ucapan sekelompok yang menyebut diri kami: dahulu ada tempat-tempat duduk untuk mendengar, dan sekarang siapa yang mencuri dengar menjumpai panah api yang mengintai. Urutan kedua keadaan itu, tidak sanggup mendengar lalu terkena lemparan, sama dengan urutan di 37:8, meskipun ucapan di surah 72 itu dikutip dari penutur lain dan ayat-ayatnya tidak menyatakan kaitan dengan 37:8.
Ayat ini tidak menyebut apa yang dibicarakan di majelis itu. Ayat 38:69 hanya menyebut bahwa majelis itu berbantah-bantahan, dan penutur di sana menyatakan tidak memiliki pengetahuan tentangnya, sedangkan 38:70 menyebut penutur itu pemberi peringatan yang nyata. Ayat 37:8 karena itu menutup satu jalan untuk mengetahui apa yang terjadi di atas, yaitu jalan mendengar dari bawah, tanpa membuka isi yang tertutup itu.
Penjagaan yang dinamai di 37:7 mendapat cara kerjanya di sini, lalu 37:9 menyebut tujuan lemparan dan 37:10 menyebut pengecualiannya. Koma di ujung terjemahan 37:8 menandai bahwa uraiannya belum selesai.
Renungan dan Hikmah
- Ayat 52:38 bertanya, (أَمْ لَهُمْ سُلَّمٌ يَسْتَمِعُونَ فِيهِ, am lahum sullamun yastami'uuna fiihi) yang berarti "Ataukah mereka mempunyai tangga untuk mendengarkan dengannya?", lalu meminta orang yang mendengarkan di antara mereka membawa keterangan yang nyata. Ayat 52:38 tidak menyebut setan dan 37:8 tidak menyebut tangga, sehingga keduanya dipakai berdampingan dan tidak disamakan. Keduanya sama-sama memperlihatkan bahwa pengetahuan tentang urusan di atas diminta datang bersama bukti, tidak bersama pengakuan telah mendengar. Dari tangga mana datangnya kabar tentang hal-hal besar yang sering diucapkan dengan yakin, dan keterangan nyata apa yang bisa dibawa bersamanya?
- Penutur di 38:69 menyatakan tidak punya pengetahuan tentang majelis yang tertinggi ketika mereka berbantah-bantahan, lalu 38:70 menyebut apa yang diwahyukan kepada penutur itu, yaitu bahwa penutur itu pemberi peringatan yang nyata, dan 38:71 melanjutkan dengan (إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ, idz qaala rabbuka li-l-malaa'ikati) yang berarti "ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat". Ayat-ayat itu tidak menyatakan hubungan antara majelis dan para malaikat, jadi yang bisa dicatat hanya urutannya. Penutur itu menyebut batas pengetahuannya sendiri dengan terang, lalu menyebut apa yang memang sampai kepadanya. Dari semua yang dianggap diketahui tentang hal yang gaib, mana yang sampai lewat penyampaian dan mana yang ditambahkan sendiri dari tebakan?
- Ayat 37:8 memakai bentuk pasif sehingga pelempar tidak disebut, sedangkan 34:48 memakai akar yang sama dengan pelaku yang jelas: "Sesungguhnya Tuhanku melontarkan kebenaran." Kebenaran yang dilontarkan di 34:48 dan lemparan yang mengenai setan di 37:8 berbeda sasaran dan tujuannya, jadi keduanya tidak ditukar. Namun kata kerja lempar di 34:48 dan 21:18 dipakai juga untuk kebenaran, sehingga kata itu tidak terikat pada hukuman. Bila sesuatu tiba dari luar diri pembaca tanpa diketahui asalnya, apakah yang tiba itu kebenaran atau ancaman, dan dengan apa pembaca membedakannya?
- Lemparan di 37:8 datang dari segala penjuru, dan ayat tidak menyebut sisi apa saja yang dimaksud. Di 17:68 kata sisi dipakai dengan jelas, yaitu dalam pertanyaan "Maka apakah kalian merasa aman bahwa Dia membenamkan sebagian daratan bersama kalian", dan di sana sisi itu bagian dari daratan yang lebih luas. Ayat 37:8 tidak menyebut bagian apa pun, sehingga semua sisi hadir sekaligus. Rasa aman yang dibangun dengan menutup satu sisi saja, misalnya penghasilan, kesehatan, atau nama baik, meninggalkan sisi lain terbuka. Sisi mana yang paling jarang diperiksa pembaca, dan siapa yang menjaganya bila pembaca sendiri tidak?
- Kata yang sama, yang tertinggi, dipakai untuk majelis di 37:8, tetapi di 16:60 dipakai untuk sifat milik Allah, di 92:20 untuk Tuhan, dan di 79:24 untuk klaim yang diucapkan Firaun, "Akulah Tuhanmu yang paling tinggi", yang disusul di 79:25 dengan hukuman dari Allah. Kata itu dipakai untuk hal yang disandangkan kepada Allah dan untuk hal yang diakui manusia, dan sasaran pemakaiannya membedakan keduanya. Untuk apa kata paling tinggi, paling penting, atau paling utama dipakai dalam sehari-hari pembaca, dan seperti apa kedudukan itu dibandingkan dengan yang disebut milik Allah di 16:60?
- Ayat 39:18 menyebut orang-orang (يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ, yastami'uuna l-qawla) yang berarti "yang mendengarkan perkataan", lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya, dan menyatakan bahwa orang-orang tadi termasuk yang telah diberi petunjuk oleh Allah. Di 37:8 pendengaran ke arah yang tinggi tertutup bagi setan, dan di 39:18 pendengaran terhadap perkataan menjadi jalan untuk diberi petunjuk. Dua ayat itu berbicara tentang pendengaran yang berbeda, tetapi keduanya menaruh pendengaran sebagai tempat sesuatu ditentukan. Perkataan apa yang paling sering sampai ke telinga pembaca hari ini, dan apakah yang dipilih yang paling baik di antaranya atau yang paling mudah diingat?