دُحُورًا ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ وَاصِبٌ
sebagai pengusiran, dan bagi mereka azab yang tetap,
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- دُحُورًاduhuuransebagai pengusiran
- وَلَهُمْ عَذَابٌ وَاصِبٌwa-lahum 'adzaabun waashibundan bagi mereka azab yang tetap
Terjemahan per kata (4 kata)
- دُحُورًاduhuuranterusir
- وَلَهُمْwa-lahumdan bagi mereka
- عَذَابٌ'adzaabunazab
- وَاصِبٌwaashibunyang kekal
Inti bacaan
Bentuk (دُحُورًا, duhuuran) hanya muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 37:9.
Penjelasan pilihan kata
Tujuan lemparan dinyatakan oleh (دُحُورًا, duhuuran) yang berarti "sebagai pengusiran". Kata ini berakar د-ح-ر dan berakhiran -an, dan terjemahan menambahkan "sebagai" untuk akhiran itu, seperti pada (وَحِفْظًا, wa-hifzhan) di 37:7. Akar د-ح-ر ada pada empat kata di empat ayat, yaitu 7:18, 17:18, 17:39, dan 37:9. Di tiga ayat pertama bentuknya (مَدْحُورًا, madhuuran) yang berarti "terusir", yaitu kata sifat bagi orang yang dikenai pengusiran. Di 37:9 bentuknya kata benda untuk tindakan, jadi terjemahan membedakannya: "terusir" bagi madhuuran dan "pengusiran" bagi duhuuran. Bentuk (دُحُورًا, duhuuran) hanya muncul satu kali di Al-Qur'an.
Di tiga ayat lain kata terusir selalu berpasangan dengan kata celaan. Di 7:18 pasangannya (مَذْءُومًا مَدْحُورًا, madz'uuman madhuuran), di 17:18 (مَذْمُومًا مَدْحُورًا, madzmuuman madhuuran), dan di 17:39 (مَلُومًا مَدْحُورًا, maluuman madhuuran), dan ketiganya diterjemahkan "tercela lagi terusir". Di 37:9 tidak ada kata celaan, dan tidak ada kata yang menyebut dari mana pengusiran itu terjadi. Di 7:18, sebaliknya, kata kerja sebelumnya menyebut tempatnya, (اخْرُجْ مِنْهَا, khruj minhaa) yang berarti "Keluarlah darinya".
Kata ini berdiri sesudah (وَيُقْذَفُونَ, wa-yuqdzafuuna) di 37:8, dan ayat 37:9 sendiri tidak memuat kata kerja. Karena itu duhuuran dibaca sebagai tujuan atau cara dari kata kerja di 37:8, yaitu "mereka dilempari sebagai pengusiran", dan terjemahan memakai koma untuk menyambungkannya.
Bagian kedua dibuka dengan (وَلَهُمْ, wa-lahum) yang berarti "dan bagi mereka", yaitu (وَ, wa-) "dan", huruf (لَ, la-) "bagi", dan (هُمْ, hum) "mereka". Kata sesudahnya (عَذَابٌ, 'adzaabun) berarti "azab", dan (وَاصِبٌ, waashibun) berarti "yang tetap". Akar و-ص-ب hanya ada pada dua kata di dua ayat, yaitu 16:52 dan 37:9. Di 16:52, (وَلَهُ الدِّينُ وَاصِبًا, wa-lahu d-diinu waashiban) berarti "dan hanya kepada-Nya pertanggungjawaban selama-lamanya", dengan susunan yang mirip 37:9: huruf lam, lalu sebuah kata benda, lalu waashib. Bedanya, di 16:52 waashiban berakhiran -an dan menjadi keterangan bagi pertanggungjawaban, sehingga terjemahan memakai "selama-lamanya", sedangkan di 37:9 waashibun berakhiran -un dan menjadi sifat bagi azab, sehingga terjemahan memakai "yang tetap".
Terjemahan memakai "tetap" dan tidak memakai "kekal" untuk waashibun. Kata "kekal" di terjemahan ini dipakai untuk (خَالِدُونَ, khaaliduuna) seperti di 13:5, (فِيهَا خَالِدُونَ, fiihaa khaaliduuna) yang berarti "mereka kekal di dalamnya", yaitu kata dari akar lain. Ayat 37:9 tidak menyebut kapan azab itu dimulai dan berapa lama berlangsungnya, jadi "tetap" hanya menyatakan bahwa azab itu tidak berubah, bukan menetapkan batas waktunya.
Ayat 67:5 menyebut azab dengan cara yang lain. Di sana (وَأَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابَ السَّعِيرِ, wa-a'tadnaa lahum 'adzaaba s-sa'iiri) berarti "dan Kami sediakan bagi mereka azab yang menyala-nyala", sehingga penyedianya disebut, yaitu Kami, dan azabnya diberi nama, yaitu as-sa'iir. Ayat 37:9 tidak menyebut penyedia dan tidak memberi nama, dan hanya menyebut bahwa azab itu milik mereka dan sifatnya tetap.
Tafsiran
Ayat ini menyebut tujuan lemparan di 37:8 dan menambahkan keadaan yang menyertainya. Tujuannya pengusiran, dan keadaannya azab yang menjadi milik mereka dengan sifat tetap. Kedua hal itu disebut dalam satu ayat dengan satu penghubung, sehingga keduanya terbaca berjalan berdampingan dan tidak berurutan, meskipun ayat tidak menyatakan apakah keduanya terjadi pada saat yang sama.
Rangkaian di surah lain berhenti pada titik yang berbeda. Ayat 15:17 sampai 15:18 berhenti pada kejaran terhadap yang menyambar, tanpa menyebut azab. Ayat 67:5 menyebut lemparan lalu azab, tetapi azabnya disediakan oleh Kami dan diberi nama. Ayat 37:9 menyebut azab tanpa penyedia dan tanpa nama, sehingga tekanannya jatuh pada sifatnya, yaitu tetap, dan tidak pada gambarannya.
Ayat 7:18 memperlihatkan pengusiran dari tempat yang disebut, yaitu dengan perintah keluar, sedangkan 37:9 menyebut pengusiran tanpa tempat. Keduanya tidak disamakan, sebab 7:18 menyangkut pihak yang diusir dan yang sebelumnya berbicara serta menjawab, sedangkan 37:9 menyangkut pihak yang tidak diberi suara di dalam ayat.
Seperti 37:7, ayat ini tidak memuat kata kerja sendiri dan bergantung pada kata kerja di 37:8. Koma di ujung terjemahannya menandai bahwa kalimat belum selesai, dan 37:10 membuka dengan pengecualian.
Renungan dan Hikmah
- Di 7:18 Dia berkata, "Keluarlah darinya dalam keadaan tercela lagi terusir", dan pengusiran itu punya tempat yang ditinggalkan. Di 37:9 pengusiran disebut tanpa tempat, sebagai nama bagi tujuan lemparan, dalam peristiwa yang berbeda sehingga kedua ayat tidak saling menjelaskan. Perbedaan itu memperlihatkan bahwa terusir dapat dibicarakan sebagai keadaan, tidak selalu sebagai perpindahan dari satu tempat ke tempat lain. Apakah rasa terusir selalu punya alamat, atau kadang berupa keadaan yang berlangsung di tempat yang sama, seperti bagi orang yang tersingkir dari pergaulan, dari pekerjaan, atau dari rumahnya sendiri?
- Ayat 16:52 menyebut (وَلَهُ الدِّينُ وَاصِبًا, wa-lahu d-diinu waashiban) yang berarti "dan hanya kepada-Nya pertanggungjawaban selama-lamanya", dan 37:9 menyebut (وَلَهُمْ عَذَابٌ وَاصِبٌ, wa-lahum 'adzaabun waashibun) yang berarti "dan bagi mereka azab yang tetap". Dua susunan itu sama bentuknya: huruf lam, sebuah kata benda, lalu waashib. Pertanggungjawaban di 16:52 tetap bagi Allah, dan azab di 37:9 tetap bagi mereka. Kata tetap tidak membawa nilai baik atau buruk sendiri, sebab ayat-ayat itu yang menentukan isinya. Apa yang dalam hidup pembaca sudah disebut tetap, kebiasaan, keyakinan, atau kekhawatiran, dan kepada siapa milik yang tetap itu sebenarnya diserahkan?
- Ayat 17:39 mengingatkan agar tidak menjadikan tuhan lain bersama Allah, karena nanti pelakunya dilemparkan ke Jahanam dalam keadaan "tercela lagi terusir". Di 7:18, 17:18, dan 17:39 kata terusir selalu didampingi kata celaan, sedangkan di 37:9 pengusiran berdiri sendiri. Ayat 17:39 membicarakan manusia yang diingatkan dan 37:9 membicarakan pihak yang dilempari dari langit, jadi keduanya tidak dicampur. Namun pasangan kata di tiga ayat itu menunjukkan bahwa pengusiran biasa disebut bersama penilaian atas pelakunya, dan 37:9 menahan penilaian itu. Seberapa cepat pembaca menambahkan celaan yang tidak ada di ayat, ketika menyaksikan orang lain tersingkir?
- Ayat 67:5 menggambarkan azab lewat nama, yaitu yang menyala-nyala, dan 37:9 menggambarkannya lewat sifat, yaitu tetap. Gambar menyentuh indra, sedangkan sifat tetap menyentuh waktu, yaitu sesuatu yang berlangsung tanpa berubah. Dua ayat itu berbicara tentang azab yang disebut dalam rangkaian berbeda, sehingga tidak ada klaim bahwa keduanya menggambarkan hal yang sama. Apakah pembaca lebih mudah menjauh dari sesuatu karena gambarnya mengerikan, atau karena diketahuinya sesuatu itu tidak akan berubah bila terus ditempuh?
- Ayat 37:8 hanya menyebut lemparan, dan 37:9 baru memberi tahu untuk apa lemparan itu, yaitu pengusiran. Pembaca yang hanya mendengar 37:8 dapat menyangka lemparan itu sebuah serangan, dan ayat berikutnya meluruskannya dengan satu kata tujuan. Tujuan itu penting karena sebuah tindakan yang sama dapat bermakna lain bila tujuannya berbeda, seperti kata lempar di 34:48 yang dipakai untuk kebenaran. Tujuan apa yang belum sampai kepada orang yang sedang menahan penilaian atas sesuatu yang menimpanya, dan berapa ayat lagi yang perlu didengar sebelum menilai?
- Di 7:16 sampai 7:17 pihak yang diusir diberi ucapan panjang, tetapi di 37:9 pihak yang dilempari dan diusir tidak diberi satu pun ucapan. Dua ayat itu berbeda sumber dan tidak disamakan, dan 37:9 tidak menjelaskan mengapa suara mereka tidak dicatat. Apa yang terjadi pada ucapan yang panjang bila uraiannya tidak dicatat siapa pun, dan apakah keadaan pembicaranya tetap sama?