إِلَّا مَنْ خَطِفَ الْخَطْفَةَ فَأَتْبَعَهُ شِهَابٌ ثَاقِبٌ
kecuali yang menyambar sekali sambar, lalu ia dikejar oleh nyala api yang menembus.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- إِلَّا مَنْ خَطِفَ الْخَطْفَةَillaa man khathifa l-khathfatakecuali yang menyambar sekali sambar
- فَأَتْبَعَهُ شِهَابٌ ثَاقِبٌfa-atba'ahu syihaabun tsaaqibunlalu ia dikejar oleh nyala api yang menembus
Terjemahan per kata (7 kata)
- إِلَّاillaakecuali
- مَنْmanorang yang
- خَطِفَkhathifamenyambar
- الْخَطْفَةَl-khathfatacurian
- فَأَتْبَعَهُfa-atba'ahumaka mengejarnya
- شِهَابٌsyihaabunnyala api
- ثَاقِبٌtsaaqibunyang menembus
Inti bacaan
Bentuk (الْخَطْفَةَ, l-khathfata) hanya muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 37:10.
Penjelasan pilihan kata
Pengecualian di ayat ini bermula pada (إِلَّا مَنْ, illaa man) yang berarti "kecuali yang", dan pembukaan yang sama ada di 15:18, (إِلَّا مَنِ اسْتَرَقَ السَّمْعَ, illaa mani staraqa s-sam'a) yang berarti "kecuali yang mencuri-curi pendengaran". Kedua ayat membuka pengecualian dengan cara yang sama, tetapi kata kerjanya berbeda. Kata kerja di 15:18, (اسْتَرَقَ, staraqa), berakar س-ر-ق dan muncul dalam bentuk ini satu kali. Kata kerja di 37:10 berakar خ-ط-ف dan memakai kata ganti tunggal, (مَنْ خَطِفَ, man khathifa) yang berarti "yang menyambar", padahal kata ganti mereka di 37:8 dan 37:9 jamak. Pengecualian itu karena itu menunjuk satu pihak dari kelompok yang disebut sebelumnya.
Kata (خَطِفَ, khathifa) hanya muncul dalam bentuk lampau tunggal ini di 37:10. Akar خ-ط-ف ada pada tujuh kata di enam ayat, yaitu 2:20, 8:26, 22:31, 28:57, 29:67, dan 37:10 (dua kata). Di 2:20, (يَكَادُ الْبَرْقُ يَخْطَفُ أَبْصَارَهُمْ, yakaadu l-barqu yakhthafu abshaarahum) berarti "Hampir saja kilat itu menyambar penglihatan mereka", dan di 22:31, (فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ, fa-takhthafuhu th-thayru) berarti "lalu disambar burung". Di dua ayat itu pelaku sambaran adalah kilat dan burung, dan yang disambar disebut, yaitu penglihatan dan orang yang jatuh. Di 29:67 bentuk lain, (وَيُتَخَطَّفُ النَّاسُ, wa-yutakhaththafu n-naasu), diterjemahkan "manusia diculik". Di 37:10 sambaran itu tidak diberi objek, sehingga ayat tidak menyebut apa yang disambar. Berbeda dengan 15:18 yang menyebut objeknya, yaitu (السَّمْعَ, s-sam'a) "pendengaran".
Kata benda sesudahnya, (الْخَطْفَةَ, l-khathfata), berarti "sekali sambar". Kata ini dari akar yang sama dengan kata kerjanya dan bersandang al-, dan hanya muncul satu kali di Al-Qur'an. Terjemahan mengulang akar itu pada kata kerja dan kata bendanya, "menyambar sekali sambar". Kata "sekali" mengikuti bentuk kata benda berakhiran -ah ini, sebab ayat tidak menambahkan kata bilangan. Di 37:19, (زَجْرَةٌ وَاحِدَةٌ, zajratun waahidatun) memakai kata (وَاحِدَةٌ, waahidatun) yang berarti "satu" untuk menyatakan bilangan, dan di 37:10 kata itu tidak ada. Dengan demikian "sekali" adalah pembacaan atas bentuk kata benda, dan jumlah sambaran tidak dinyatakan terpisah oleh teks.
Pengejarnya ditunjuk oleh (فَأَتْبَعَهُ, fa-atba'ahu) yang berarti "lalu ia dikejar", yang tersusun dari (فَ, fa) "lalu" dan kata kerja yang diikuti akhiran -hu. Bentuk (فَأَتْبَعَهُ, fa-atba'ahu) muncul tiga kali, yaitu di 7:175, 15:18, dan 37:10, dan dengan akhiran -hum, (فَأَتْبَعَهُمْ, fa-atba'ahum), dua kali di 10:90 dan 20:78. Pelakunya berbeda: di 7:175, (فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ, fa-atba'ahu sy-syaythaanu) berarti "lalu setan mengikutinya", di 15:18 dan 37:10 pelakunya nyala api, dan di 10:90 serta 20:78 Firaun. Terjemahan memakai bentuk pasif "dikejar" untuk 15:18 dan 37:10 supaya yang menyambar menjadi pokok kalimat.
Pelaku itu, (شِهَابٌ ثَاقِبٌ, syihaabun tsaaqibun), berarti "nyala api yang menembus". Akar ش-ه-ب ada pada lima kata di lima ayat, yaitu 15:18, 27:7, 37:10, 72:8, dan 72:9. Di 15:18 (فَأَتْبَعَهُ شِهَابٌ مُبِينٌ, fa-atba'ahu syihaabun mubiinun) berarti "maka dia dikejar oleh nyala api yang terang", dan di 27:7 (بِشِهَابٍ قَبَسٍ, bi-syihaabin qabasin) berarti "nyala api". Terjemahan 37:10 memakai "nyala api" untuk syihaabun dan tidak memakai "bintang", sebab tidak ada kata bintang di ayat ini. Salah satu kata yang diterjemahkan bintang adalah (النَّجْمُ, an-najmu), misalnya di 86:3, (النَّجْمُ الثَّاقِبُ, an-najmu ts-tsaaqibu) yang berarti "bintang yang menembus". Kata sifat (ثَاقِبٌ, tsaaqibun) berakar ث-ق-ب dan ada pada dua kata di dua ayat, yaitu 37:10 dan 86:3. Di 86:3 yang disifati bintang dan di 37:10 nyala api, dan teks tidak menyamakan keduanya. Ayat 37:10 juga tidak menyebut apa yang ditembus.
Tafsiran
Ayat ini menutup gambaran penjagaan di 37:7 sampai 37:9 dengan satu pengecualian, dan pengecualian itu disebut bersama akibatnya dalam kalimat yang sama. Mereka tidak dapat mendengar, mereka dilempari, mereka diusir, kecuali yang menyambar, dan yang menyambar itu dikejar. Pengecualian di sini tidak membatalkan penjagaan, sebab kata kerja kejaran langsung mengikutinya.
Urutan yang sama ada di 15:17 sampai 15:18: penjagaan dari setiap setan, lalu pengecualian bagi yang mencuri-curi pendengaran, lalu kejaran oleh nyala api yang terang. Perbedaannya terletak pada kata kerja dan objeknya. Ayat 15:18 menyebut apa yang dicuri dan dengan kata kerja yang berarti mencuri-curi, sedangkan 37:10 memakai kata kerja menyambar tanpa objek. Ayat 72:9 memuat ucapan penutur lain, yaitu siapa yang mencuri dengar sekarang akan menjumpai panah api yang mengintai, dan ayat-ayat itu tidak menyatakan kaitan dengan 37:10.
Ayat ini tidak menyebut apakah kejaran itu mengenai sasarannya, ke mana yang disambar dibawa, atau apakah yang disambar sampai ke tujuan. Kalimatnya berhenti pada kata sifat nyala api, yaitu menembus. Pembaca diberi pengecualian dan kejarannya, dan diam tentang selebihnya.
Kalimat yang dimulai di 37:8 selesai di sini dengan titik. Ayat 37:11 kemudian membuka bagian baru dengan perintah bertanya kepada mereka, dan pembicara berpindah dari setan dan langit ke manusia dan asal mereka.
Renungan dan Hikmah
- Ayat 37:5 menyebut Tuhan langit dan bumi serta tempat-tempat terbit, dan 37:6 sampai 37:9 memaparkan penjagaan langit itu. Ayat 37:10 menutup paparan dengan pengecualian yang diakui: ada yang berhasil menyambar. Ayat itu tidak menyebut pengecualian sebagai kegagalan, sebab kejaran disebut dalam kalimat yang sama. Aturan untuk rumah tangga, pekerjaan, atau diri sendiri yang jujur menyebut pengecualiannya bersama akibat yang menyusul. Aturan apa yang pembaca pegang yang tidak pernah menyebut apa yang terjadi pada pengecualiannya, dan apakah itu membuat aturannya lebih kuat atau lebih rapuh?
- Ayat 2:20 memakai akar yang sama dalam gambaran kilat yang hampir menyambar penglihatan, lalu ayat itu menyebut, "Sekiranya Allah menghendaki, niscaya Dia menghilangkan pendengaran dan penglihatan mereka." Di 37:10 yang disambar tidak disebut, sedangkan di 2:20 yang disambar penglihatan dan yang dapat dihilangkan pendengaran dan penglihatan. Keadaan di 2:20 berbeda dari keadaan di 37:10 dan keduanya tidak ditukar, tetapi 2:20 memperlihatkan bahwa pendengaran dan penglihatan disebut sebagai hal yang dapat direnggut dan dihilangkan. Untuk apa telinga dan mata dipakai pembaca hari ini, dan apakah ada yang disambar dengan keduanya tanpa pernah ditanyakan?
- Ayat 22:31 menggambarkan orang yang menyekutukan Allah seakan-akan jatuh dari langit lalu disambar burung atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh. Kata sambar di sana memakai akar yang sama dengan 37:10, tetapi perannya terbalik: di 37:10 yang menyambar dikejar dari langit, dan di 22:31 yang jatuh dari langit disambar. Ayat 22:31 adalah perumpamaan tentang manusia, dan 37:10 menyangkut pihak yang berusaha mencuri sesuatu, sehingga keduanya tidak disamakan. Ketinggian apa yang dirasa milik pembaca, dan seberapa jauh dari ketinggian itu pembaca sudah merosot tanpa menyadari kapan pegangannya terlepas?
- Kata yang menembus dipakai untuk nyala api di 37:10 dan untuk bintang di 86:3, dan di antara keduanya teks tidak menyatakan bahwa nyala api itu bintang. Ayat 37:10 juga tidak menyebut apa yang ditembus. Dua benda terang diberi satu sifat yang sama dan tetap diberi dua nama. Berapa banyak nama yang sudah diberikan pembaca pada hal yang dilihat sekilas, dan berapa banyak dari nama itu yang benar-benar tertulis di sumbernya?
- Kata kerja yang berarti mengejar atau mengikuti di 37:10 dipakai pula di 7:175 untuk setan yang mengikuti orang yang melepaskan diri dari tanda-tanda yang telah diberikan. Di kedua ayat kata kerja itu didahului huruf yang berarti lalu, sehingga akibat disebut menyusul tanpa jeda. Ayat 7:175 membicarakan orang yang diberi tanda-tanda dan 37:10 membicarakan pihak yang menyambar, jadi dua peristiwa ini tidak disamakan. Kedua ayat menyusun akibat sebagai sesuatu yang datang segera. Pada keputusan apa dalam hidup pembaca akibatnya menyusul tanpa jeda, sampai tidak sempat dikenali sebagai akibat?
- Di 15:18 tindakan itu dinamai mencuri-curi pendengaran, dan di 37:10 dinamai menyambar. Kata pertama menyebut barang yang diincar, sedangkan kata kedua menyebut cara mengambilnya, sekali sambar. Dua ayat itu berbicara tentang kejadian yang serupa dalam urutan serupa, tetapi menamainya dari dua sisi yang berbeda. Satu tindakan bisa dinamai dari barangnya atau dari caranya, dan nama yang dipilih mengubah arah penilaian. Perbuatan apa yang pembaca nilai selama ini dari caranya saja, dan apakah penilaiannya berubah bila pembaca melihat barang yang diambil?