Ayat 37:16

أَإِذَا مِتْنَا وَكُنَّا تُرَابًا وَعِظَامًا أَإِنَّا لَمَبْعُوثُونَ

Apabila kami telah mati dan menjadi tanah dan tulang-belulang, apakah kami benar-benar akan dibangkitkan?

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. أَإِذَا مِتْنَا وَكُنَّا تُرَابًا وَعِظَامًاa-idzaa mitnaa wa-kunnaa turaaban wa-'izhaamanapabila kami telah mati dan menjadi tanah dan tulang-belulang
  2. أَإِنَّا لَمَبْعُوثُونَa-innaa la-mab'uutsuunaapakah kami benar-benar akan dibangkitkan

Terjemahan per kata (7 kata)

  1. أَإِذَاa-idzaaapakah apabila
  2. مِتْنَاmitnaakami mati
  3. وَكُنَّاwa-kunnaadan kami adalah
  4. تُرَابًاturaabantanah
  5. وَعِظَامًاwa-'izhaamandan tulang-belulang
  6. أَإِنَّاa-innaaapakah sesungguhnya kami
  7. لَمَبْعُوثُونَla-mab'uutsuunabenar-benar akan dibangkitkan

Inti bacaan

Kalimat (أَإِذَا مِتْنَا وَكُنَّا تُرَابًا وَعِظَامًا, a-idzaa mitnaa wa-kunnaa turaaban wa-'izhaaman) muncul tiga kali di Al-Qur'an dengan ejaan ini, yaitu di 23:82, 37:16, dan 37:53.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (أَإِذَا مِتْنَا, a-idzaa mitnaa) yang berarti "apakah apabila kami telah mati". Huruf (أَ, a-) membuat pertanyaan, (إِذَا, idzaa) berarti "apabila", dan (مِتْنَا, mitnaa) berarti "kami telah mati", dari akar م-و-ت. Bentuk mitnaa muncul lima kali di empat surah, yaitu 23:82, 37:16, 37:53, 50:3, dan 56:47. Jumlah surahnya lebih kecil karena surah 37 memuatnya dua kali. Ayat ini memuat dua huruf tanya, satu di depan idzaa dan satu lagi di depan innaa, tetapi terjemahan memadatkannya menjadi satu tanda tanya di ujung kalimat supaya rangkaian "apabila ... , apakah ..." terbaca utuh.

Kalimat (وَكُنَّا تُرَابًا وَعِظَامًا, wa-kunnaa turaaban wa-'izhaaman) yang berarti "dan menjadi tanah dan tulang-belulang" muncul empat kali di tiga surah, yaitu 23:82, 37:16, 37:53, dan 56:47. Di 56:47 pembukanya ditulis (أَئِذَا مِتْنَا, a-idzaa mitnaa) dengan huruf hamzah di tengah, berbeda dari 37:16. Tiga dari empat ayat itu berakhir dengan (أَإِنَّا لَمَبْعُوثُونَ, a-innaa la-mab'uutsuuna), yaitu 23:82, 37:16, dan 56:47. Ayat keempat, 37:53, berakhir dengan (أَإِنَّا لَمَدِينُونَ, a-innaa la-madiinuuna) yang berarti "apakah kami benar-benar akan dibalas?". Pembuka yang sama dengan dua penutup yang berbeda ada dalam satu surah, yaitu surah ini. Ucapan di 37:53 dikutip dari seorang teman yang disebut di 37:51 dan 37:52.

Kata (تُرَابًا, turaaban) yang berarti "tanah" berakar ت-ر-ب dan muncul sembilan kali di tujuh surah, yaitu 13:5, 23:35, 23:82, 27:67, 37:16, 37:53, 50:3, 56:47, dan 78:40. Terjemahan memakai "tanah" untuk turaab dan "tanah liat" untuk thiin, seperti di 37:11, (مِنْ طِينٍ لَازِبٍ, min thiinin laazibin) yang berarti "dari tanah liat yang lekat". Di 37:11 asal mereka disebut thiin, sedangkan di 37:16 mereka sendiri menyebut turaab untuk keadaan sesudah mati.

Kata (عِظَامًا, 'izhaaman) yang berarti "tulang-belulang" berakar ع-ظ-م dan muncul sembilan kali di lima surah, yaitu 17:49, 17:98, 23:14, 23:35, 23:82, 37:16, 37:53, 56:47, dan 79:11. Dua kata itu berpasangan, (تُرَابًا وَعِظَامًا, turaaban wa-'izhaaman), lima kali di tiga surah, yaitu 23:35, 23:82, 37:16, 37:53, dan 56:47. Di 17:49 pasangan tulang itu lain: (عِظَامًا وَرُفَاتًا, 'izhaaman wa-rufaatan) yang berarti "tulang-belulang dan kepingan-kepingan", dan di 79:11 (عِظَامًا نَخِرَةً, 'izhaaman nakhiratan) yang berarti "tulang-belulang yang hancur".

Kata (لَمَبْعُوثُونَ, la-mab'uutsuuna) tersusun dari (لَ, la-) yang berarti "benar-benar", dan (مَبْعُوثُونَ, mab'uutsuuna) yang berarti "dibangkitkan", dari akar ب-ع-ث. Bentuk mab'uutsuuna muncul tujuh kali di enam surah, yaitu 11:7, 17:49, 17:98, 23:82, 37:16, 56:47, dan 83:4, dan terjemahan memakai "akan dibangkitkan" di ketujuhnya. Kata Arabnya tidak memuat pelaku yang membangkitkan, dan tidak ada kata tersendiri untuk "akan"; "akan" terbaca dari konteks sesudah mati. Di 17:49 dan 17:98 kata ini disusul (خَلْقًا جَدِيدًا, khalqan jadiidan) yang berarti "sebagai ciptaan yang baru". Di 37:16 kalimat berhenti pada mab'uutsuuna, dan terjemahan tidak menambahkan "ciptaan yang baru".

Tafsiran

Ayat ini mengutip keberatan mereka dengan susunan yang rapi: dua keadaan sebagai syarat, yaitu mati lalu menjadi tanah dan tulang, kemudian satu pertanyaan tentang dibangkitkan. Alasan keberatan itu terletak pada keadaan benda, yaitu apa yang tersisa dari tubuh sesudah mati.

Di 37:11 pertanyaan yang diajukan kepada mereka menyangkut penciptaan, dan tanah liat disebut sebagai asal. Di 37:16 tanah muncul lagi dari mulut mereka sebagai keadaan sesudah mati. Ayat tidak menyatakan bahwa tanah liat dan tanah itu bahan yang sama, jadi hubungan keduanya dibaca sebagai dua titik pada satu garis: asal, lalu akhir. Ayat 37:15 sebelumnya memuat tuduhan sihir, dan 37:16 tidak menyatakan hubungan antara tuduhan itu dan keberatan ini, sehingga hubungannya dibiarkan terbuka.

Kalimat ini muncul dengan penutup lain di 37:53, yaitu (لَمَدِينُونَ, la-madiinuuna) yang berarti "benar-benar akan dibalas". Ayat 37:20 menyebut hari itu (يَوْمُ الدِّينِ, yawmu d-diini) yang berarti "Hari Pertanggungjawaban", dan kata diin di sana berakar sama dengan madiinuuna. Dalam surah ini keraguan muncul dalam dua lapis. Lapis pertama di 37:16 menyangkut dibangkitkan, dan lapis kedua di 37:53 menyangkut dibalas. Ayat 37:16 hanya membuka lapis pertama.

Bagi alur surah, 37:16 adalah pertanyaan pertama dari dua yang berurutan, dan 37:17 menambah pertanyaan tentang nenek moyang. Jawabannya datang di 37:18 dalam satu kata dan satu kalimat tambahan.

Renungan dan Hikmah

  • Mereka menimbang kemungkinan dari keadaan benda, tanah dan tulang, dan dari situ menyimpulkan sesuatu tentang masa depan. Cara menimbang seperti ini tidak asing: sesuatu dianggap tidak mungkin pulih karena keadaan terakhirnya terlihat sudah terlalu jauh. Pembaca dapat memeriksa ukuran yang dipakainya saat berkata "itu sudah tidak mungkin", apakah ukuran itu keadaan bahan yang tampak, atau pengetahuan tentang siapa yang mengerjakannya. Di titik mana keadaan yang tampak mulai dipakai sebagai batas kemampuan, dan siapa yang memutuskan batas itu?
  • Kalimat pembuka yang sama diberi dua penutup di surah ini, dibangkitkan di 37:16 dan dibalas di 37:53. Di 37:57 orang yang menceritakan temannya itu menyebut nikmat Tuhannya sebagai sebab ia tidak termasuk orang-orang yang dihadirkan. Dua pertanyaan itu menyentuh dua hal berbeda, yang pertama tentang dibangkitkan dan yang kedua tentang dibalas. Pembaca dapat memisahkan keraguannya sendiri menjadi dua bagian itu: ragu bahwa sesuatu akan terjadi, dan ragu bahwa sesuatu akan dimintai pertanggungjawaban. Bagian mana yang lebih berat untuk dihadapi?
  • Di 36:78 seseorang bertanya, "Siapakah yang bisa menghidupkan tulang-belulang yang telah hancur luluh?", dan 36:79 menjawab, "Yang akan menghidupkannya adalah yang menumbuhkannya pertama kali. Dan Dia berilmu akan setiap penciptaan." Ayat itu berada di surah lain dan berbicara dengan orang lain, jadi tidak disamakan dengan 37:16. Namun ayat itu memperlihatkan satu cara menjawab yang menggeser perhatian dari bahan ke pelaku. Bila pembaca memandang tulang yang hancur sebagai batas, apakah pelaku yang disebut dalam 36:79 juga dipandangnya sebagai batas yang sama?
  • Di 23:79 dan 23:80 tertulis bahwa Dia mengembangbiakkan manusia di bumi, bahwa kepada-Nya mereka dikumpulkan, dan bahwa Dia menghidupkan dan mematikan. Ayat 23:81 dan 23:82 sesudahnya mengutip keberatan yang sama dengan 37:16. Teks tidak menyatakan bahwa keberatan itu dijawab oleh ayat-ayat sebelumnya, tetapi urutannya terlihat: kalimat tentang siapa yang menghidupkan dan mematikan sudah ada sebelum keberatan diucapkan. Pembaca dapat bertanya jawaban mana yang sudah lama dimilikinya tetapi belum pernah dipertemukan dengan keberatannya sendiri. Apa yang berubah bila keduanya diletakkan berdampingan?
  • Kalimat keberatan ini dikutip dengan susunan yang hampir sama di empat tempat, yaitu 23:82, 37:16, 37:53, dan 56:47. Teks tidak menyatakan bahwa pengucapnya sama di tiap tempat. Satu keraguan dapat mempunyai naskah yang tetap, dan naskah tetap itu membuat keraguan terdengar seperti pemikiran baru setiap kali diucapkan. Pembaca dapat memeriksa apakah keraguan dalam dirinya juga sudah berbentuk naskah, yaitu kalimat yang diulang tanpa ditimbang lagi. Dari semua keberatan yang pernah dilontarkannya, kalimat mana yang sudah lama tidak ditinjau ulang?
  • Pertanyaan itu memuat penegas benar-benar di dalam bentuk tanya, yaitu la- pada la-mab'uutsuuna, dan penegas yang sama ada di semua ayat yang memuat kata itu dalam bentuk pertanyaan, yaitu 17:49, 17:98, 23:82, dan 56:47. Keraguan yang diberi penegas terdengar seperti keyakinan yang dibalik. Pembaca dapat memperhatikan kapan keraguannya sendiri memakai kata yang terdengar pasti, seperti "mustahil" atau "tidak mungkin". Apakah kata-kata pasti itu hasil pemeriksaan, atau cara menutup pertanyaan?

Ayat 37:17

أَوَآبَاؤُنَا الْأَوَّلُونَ

Apakah nenek moyang kami yang terdahulu?”

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. أَوَآبَاؤُنَا الْأَوَّلُونَa-wa-aabaa'unaa l-awwaluunaapakah nenek moyang kami yang terdahulu

Terjemahan per kata (2 kata)

  1. أَوَآبَاؤُنَاa-wa-aabaa'unaaapakah nenek moyang kami
  2. الْأَوَّلُونَl-awwaluunaorang-orang terdahulu

Inti bacaan

Rangkaian (أَوَآبَاؤُنَا الْأَوَّلُونَ, a-wa-aabaa'unaa l-awwaluuna) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 37:17 dan 56:48.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini terdiri dari satu rangkaian kata Arab, (أَوَآبَاؤُنَا الْأَوَّلُونَ, a-wa-aabaa'unaa l-awwaluuna) yang berarti "apakah nenek moyang kami yang terdahulu?". Rangkaian itu dibuka dengan dua huruf: (أَ, a-) yang membuat pertanyaan, dan (وَ, wa-) yang berarti "dan" serta menyambungkannya ke 37:16. Sesudahnya tertulis (آبَاؤُنَا, aabaa'unaa) yang berarti "nenek moyang kami", dari akar أ-ب-و dengan akhiran -naa yang berarti "kami", lalu sifat (الْأَوَّلُونَ, l-awwaluuna) yang berarti "yang terdahulu". Ayat ini tidak memuat kata kerja. Karena itu terjemahan tidak menambahkan "juga" atau "akan dibangkitkan", dan membiarkan pertanyaan 37:16 terbawa lewat huruf wa-.

Bentuk aabaa'unaa muncul dua belas kali di sembilan surah, yaitu 6:148, 7:70, 7:173, 11:62, 11:87, 14:10, 16:35, 23:83, 27:67, 27:68, 37:17, dan 56:48. Tujuh di antaranya menyangkut apa yang disembah atau dipersekutukan, misalnya (مَا كَانَ يَعْبُدُ آبَاؤُنَا, maa kaana ya'budu aabaa'unaa) yang berarti "apa yang dahulu disembah bapak-bapak kami" di 7:70, dan (أَشْرَكَ آبَاؤُنَا, asyraka aabaa'unaa) yang berarti "bapak-bapak kami telah mempersekutukan" di 7:173. Lima sisanya menyangkut kebangkitan atau janji tentangnya: 23:83, 27:67, 27:68, 37:17, dan 56:48. Di 27:67, (أَإِذَا كُنَّا تُرَابًا وَآبَاؤُنَا, a-idzaa kunnaa turaaban wa-aabaa'unaa) yang berarti "apabila kami telah menjadi tanah, dan nenek moyang kami", nenek moyang dimasukkan ke dalam syarat yang sama dengan mereka. Di 23:83, (لَقَدْ وُعِدْنَا نَحْنُ وَآبَاؤُنَا هَٰذَا, la-qad wu'idnaa nahnu wa-aabaa'unaa haadzaa) yang berarti "sungguh, ini telah dijanjikan kepada kami dan kepada nenek moyang kami", nenek moyang dimasukkan ke dalam janji.

Kata (الْأَوَّلُونَ, l-awwaluuna) berakar أ-و-ل, dan bentuk dengan akhiran -uuna ini muncul enam kali di enam surah, yaitu 9:100, 17:59, 21:5, 23:81, 37:17, dan 56:48. Contohnya (مِثْلَ مَا قَالَ الْأَوَّلُونَ, mitsla maa qaala l-awwaluuna) yang berarti "seperti apa yang diucapkan oleh orang-orang terdahulu" di 23:81, dan (كَذَّبَ بِهَا الْأَوَّلُونَ, kadzdzaba bihaa l-awwaluuna) di 17:59. Bentuk dengan akhiran -iina, (الْأَوَّلِينَ, l-awwaliina), muncul tiga kali di surah ini, yaitu 37:71, 37:126, dan 37:168. Terjemahan memakai "yang terdahulu" ketika kata ini menjadi sifat, seperti di sini.

Rangkaian (أَوَآبَاؤُنَا الْأَوَّلُونَ, a-wa-aabaa'unaa l-awwaluuna) utuh muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu 37:17 dan 56:48. Di keduanya ayat sebelumnya adalah pertanyaan yang hampir sama tentang mati, tanah, tulang, dan dibangkitkan, yaitu 37:16 dan 56:47. Karena ayatnya tidak memuat kata kerja, apa yang terjadi pada nenek moyang itu tidak dinyatakan, dan terjemahan menjaga kekosongan itu apa adanya.

Tafsiran

Ayat ini memperluas pertanyaan dari diri mereka ke orang-orang sebelum mereka. Di 37:16 pelakunya "kami", yaitu mereka yang berbicara. Di 37:17 sasarannya naik satu tingkat ke rantai yang lebih panjang, yaitu orang-orang yang sudah lama tiada.

Dua ayat lain menaruh nenek moyang di tempat yang sama. Di 27:67 orang-orang yang kufur bertanya apakah mereka benar-benar akan dikeluarkan, setelah kami dan nenek moyang kami menjadi tanah. Di 23:83 dan 27:68 janji tentang kebangkitan disebut telah dijanjikan kepada mereka dan kepada nenek moyang mereka sebelumnya, lalu dinamai (أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ, asaathiiru l-awwaliina) yang berarti "dongeng orang-orang terdahulu". Dalam ayat-ayat itu nenek moyang dapat dibaca sebagai saksi bahwa janji itu sudah lama diucapkan. Di 37:17 fungsi itu tidak dinyatakan, dan nenek moyang disebut dalam pertanyaan saja.

Rangkaian yang sama di 56:48 dijawab di 56:49 dan 56:50. Ayat 56:49, (قُلْ إِنَّ الْأَوَّلِينَ وَالْآخِرِينَ, qul inna l-awwaliina wa-l-aakhiriina) yang berarti "katakanlah, 'Sesungguhnya orang-orang terdahulu dan orang-orang yang kemudian'", memakai kata yang sama dengan pertanyaannya, yaitu al-awwaliin. Ayat 56:50 lalu menyebut mereka (لَمَجْمُوعُونَ إِلَىٰ مِيقَاتِ يَوْمٍ مَعْلُومٍ, la-majmuu'uuna ilaa miiqaati yawmin ma'luumin) yang berarti "benar-benar akan dikumpulkan pada waktu hari yang telah ditentukan". Jawaban 37:18 tidak menyebut nenek moyang. Apakah mereka termasuk yang dimaksud oleh kata "kalian" di sana tidak dinyatakan oleh teks, dan 77:38 yang berbunyi (جَمَعْنَاكُمْ وَالْأَوَّلِينَ, jama'naakum wa-l-awwaliina) yang berarti "Kami kumpulkan kalian dan orang-orang terdahulu" berada di surah lain.

Bagi alur surah, 37:16 dan 37:17 bersama membentuk satu kutipan, dan keduanya dijawab satu kali oleh 37:18. Ayat 37:17 menutup kutipan itu, sehingga tanda kutip yang dibuka di 37:15 ditutup di sini.

Renungan dan Hikmah

  • Pertanyaan ini menambahkan kasus yang lebih jauh tanpa menambahkan alasan. Pembaca dapat mengenali gerak yang sama pada dirinya: keberatan yang awalnya satu dibesarkan dengan contoh yang makin jauh, seolah jumlah dan jarak sudah cukup menjadi bukti. Ayat 37:17 tidak menyatakan bahwa nenek moyang lebih sulit daripada mereka sendiri, dan pertanyaannya menaruh lebih banyak orang di barisan yang sama. Dari keberatan yang pernah dikumpulkan pembaca, berapa yang alasan dan berapa yang tambahan jarak?
  • Di 37:126 Ilyas berkata kepada kaumnya, "Allah, Tuhan kalian dan Tuhan nenek moyang kalian yang terdahulu", dengan sifat yang sama dengan 37:17, yaitu al-awwaliin. Di 26:26 Musa menjawab Firaun dengan kalimat yang serupa, "Tuhan kalian dan Tuhan nenek moyang kalian yang terdahulu". Dua ayat itu bukan jawaban atas 37:17, dan keduanya tidak disamakan. Nenek moyang yang terdahulu di sana menjadi milik Tuhan, sedangkan di 37:17 menjadi ukuran kemustahilan. Bila kedua ayat itu dibaca berdampingan, apakah orang-orang yang sudah lama tiada masih berada di bawah Tuhan yang sama dengan pembaca?
  • Di 45:25 mereka berkata, "Datangkanlah nenek moyang kami jika kalian orang-orang yang benar", dan 45:26 menjawab, "Katakanlah, 'Allah menghidupkan kalian, lalu mematikan kalian, kemudian mengumpulkan kalian pada hari kiamat'". Ayat 44:36 memuat tantangan yang sama. Dalam ayat-ayat itu nenek moyang menjadi syarat pembuktian, sedangkan 37:17 bertanya tanpa menantang. Jawaban 45:26 tidak mendatangkan siapa pun, dan menyebut Allah sebagai pelaku tiga kata kerja berturut-turut. Pembaca yang pernah menunggu bukti dalam bentuk tertentu dapat memeriksa apakah bentuk itu ditentukannya sendiri. Bila jawabannya datang dalam bentuk lain, apakah tetap dianggap jawaban?
  • Di 23:83 dan 27:68 mereka berkata bahwa janji itu sudah ada pada mereka dan pada nenek moyang mereka sejak dahulu, lalu menamainya dongeng orang-orang terdahulu. Kalimat itu menaruh kata "dahulu" di samping kata dongeng, sehingga lamanya sebuah janji dapat dibaca sebagai alasan untuk meremehkannya. Ayat 37:17 tidak memuat kalimat itu, jadi bagian ini tidak dipakai untuk menafsirkan niat mereka di sini. Pembaca dapat memperhatikan kapan lamanya penantian dipakai sebagai bukti, misalnya pada janji yang pernah diucapkan kepadanya. Berapa lama sebuah janji harus belum terjadi sebelum terdengar seperti dongeng?
  • Di 37:69 dan 37:70 tertulis bahwa mereka mendapati nenek moyang mereka dalam keadaan sesat, lalu mengikuti jejak-jejak itu dengan bergegas, dan 37:71 menyebut bahwa sebagian besar orang terdahulu sebelum mereka telah sesat. Nenek moyang muncul di surah ini dalam dua kedudukan: sebagai pihak yang jejaknya diikuti, dan sebagai pihak yang disebut dalam pertanyaan 37:17. Teks tidak menyatakan bahwa pelakunya sama di kedua tempat. Pembaca dapat bertanya adakah orang yang ia jadikan ukuran tanpa pernah diperiksa dulu keadaannya. Siapa yang selama ini dijadikan patokan, dan kapan terakhir kali patokan itu ditimbang?
  • Di 37:168 sampai 37:169 mereka berkata, "Seandainya di sisi kami ada peringatan dari orang-orang terdahulu, niscaya kami menjadi hamba-hamba Allah yang dimurnikan". Kata terdahulu di sana menjadi sumber peringatan yang diharapkan, sedangkan di 37:17 menjadi bahan keberatan. Dua ayat itu berada di surah yang sama dan memakai kata yang sama dengan fungsi berlawanan. Teks tidak menyatakan bahwa pengucapnya sama, jadi keduanya tidak dijodohkan. Pembaca dapat memperhatikan bagaimana generasi sebelumnya diperlakukannya, apakah sebagai bukti bahwa sesuatu tidak mungkin atau sebagai sumber peringatan. Kapan terakhir kali kata "orang dulu" dipakai untuk menutup pembicaraan?