أَإِذَا مِتْنَا وَكُنَّا تُرَابًا وَعِظَامًا أَإِنَّا لَمَبْعُوثُونَ
Apabila kami telah mati dan menjadi tanah dan tulang-belulang, apakah kami benar-benar akan dibangkitkan?
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- أَإِذَا مِتْنَا وَكُنَّا تُرَابًا وَعِظَامًاa-idzaa mitnaa wa-kunnaa turaaban wa-'izhaamanapabila kami telah mati dan menjadi tanah dan tulang-belulang
- أَإِنَّا لَمَبْعُوثُونَa-innaa la-mab'uutsuunaapakah kami benar-benar akan dibangkitkan
Terjemahan per kata (7 kata)
- أَإِذَاa-idzaaapakah apabila
- مِتْنَاmitnaakami mati
- وَكُنَّاwa-kunnaadan kami adalah
- تُرَابًاturaabantanah
- وَعِظَامًاwa-'izhaamandan tulang-belulang
- أَإِنَّاa-innaaapakah sesungguhnya kami
- لَمَبْعُوثُونَla-mab'uutsuunabenar-benar akan dibangkitkan
Inti bacaan
Keraguan tentang kebangkitan setelah mati dan hancur menjadi tanah, skeptisisme yang berulang muncul di berbagai kaum sepanjang sejarah, pola pertanyaan yang sama diajukan dalam konteks berbeda-beda.
Penjelasan pilihan kata
Tambahan '(lalu)' dihapus: 'wa-kunnaa' ('dan menjadi') dirajut langsung sebagai kelanjutan alami, konjungsi 'wa-' sudah cukup tanpa penanda urutan tambahan.
Tafsiran
Ayat ini melanjutkan kutipan dengan pertanyaan retoris klasik yang mempertanyakan kebangkitan: keraguan yang berpusat pada perubahan wujud total menjadi tanah dan tulang.
Renungan dan Hikmah
- Allah mengutip keraguan mereka dengan kata-kata mereka sendiri. Tidak diringkas. Tidak diperhalus.
- Yang mereka ukur wujudnya, bukan kuasanya. Tanah dan tulang. Kesimpulan diambil dari bahan, bukan dari yang membuatnya.
- Pertanyaan seperti ini direkam Allah dari banyak kaum. Susunannya mirip di tempat lain. Keraguan yang sama datang berulang.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)
Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.
azhiim diterjemahkan 'agung' (indefinit, tanpa Maha; swap sadar-kolokasi per nomina corpus); per kelas morfologi; pasangan belum ditelaah dipertahankan sementara. Konvensi zhm: azhiim diterjemahkan 'agung' seragam (takrif 'Sang Agung'); a'zham diterjemahkan 'lebih agung'; verba azhzhama pemakaian diteruskan. Pembeda: kabiir='besar' (k-b-r, kelak, al-Kabiir sebutan sendiri), majiid='luhur', kariim='mulia', aziiz='digdaya'. Objek negatif (azab/dosa) memakai kata sama, skala, konteks yang bekerja. akar '-zh-m: azhuma = 'menjadi besar (skala/bobot)'; azhiim = besar-agung (magnitude); jangkar konkret keluarga: azhm/'izhaam = TULANG (kerangka, yang besar-menopang). KBBI agung indra-1: 'besar; mulia; luhur'.