أَوَآبَاؤُنَا الْأَوَّلُونَ

Apakah nenek moyang kami yang terdahulu?”

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. أَوَآبَاؤُنَا الْأَوَّلُونَa-wa-aabaa'unaa l-awwaluunaapakah nenek moyang kami yang terdahulu

Terjemahan per kata (2 kata)

  1. أَوَآبَاؤُنَاa-wa-aabaa'unaaapakah nenek moyang kami
  2. الْأَوَّلُونَl-awwaluunaorang-orang terdahulu

Inti bacaan

Rangkaian (أَوَآبَاؤُنَا الْأَوَّلُونَ, a-wa-aabaa'unaa l-awwaluuna) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 37:17 dan 56:48.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini terdiri dari satu rangkaian kata Arab, (أَوَآبَاؤُنَا الْأَوَّلُونَ, a-wa-aabaa'unaa l-awwaluuna) yang berarti "apakah nenek moyang kami yang terdahulu?". Rangkaian itu dibuka dengan dua huruf: (أَ, a-) yang membuat pertanyaan, dan (وَ, wa-) yang berarti "dan" serta menyambungkannya ke 37:16. Sesudahnya tertulis (آبَاؤُنَا, aabaa'unaa) yang berarti "nenek moyang kami", dari akar أ-ب-و dengan akhiran -naa yang berarti "kami", lalu sifat (الْأَوَّلُونَ, l-awwaluuna) yang berarti "yang terdahulu". Ayat ini tidak memuat kata kerja. Karena itu terjemahan tidak menambahkan "juga" atau "akan dibangkitkan", dan membiarkan pertanyaan 37:16 terbawa lewat huruf wa-.

Bentuk aabaa'unaa muncul dua belas kali di sembilan surah, yaitu 6:148, 7:70, 7:173, 11:62, 11:87, 14:10, 16:35, 23:83, 27:67, 27:68, 37:17, dan 56:48. Tujuh di antaranya menyangkut apa yang disembah atau dipersekutukan, misalnya (مَا كَانَ يَعْبُدُ آبَاؤُنَا, maa kaana ya'budu aabaa'unaa) yang berarti "apa yang dahulu disembah bapak-bapak kami" di 7:70, dan (أَشْرَكَ آبَاؤُنَا, asyraka aabaa'unaa) yang berarti "bapak-bapak kami telah mempersekutukan" di 7:173. Lima sisanya menyangkut kebangkitan atau janji tentangnya: 23:83, 27:67, 27:68, 37:17, dan 56:48. Di 27:67, (أَإِذَا كُنَّا تُرَابًا وَآبَاؤُنَا, a-idzaa kunnaa turaaban wa-aabaa'unaa) yang berarti "apabila kami telah menjadi tanah, dan nenek moyang kami", nenek moyang dimasukkan ke dalam syarat yang sama dengan mereka. Di 23:83, (لَقَدْ وُعِدْنَا نَحْنُ وَآبَاؤُنَا هَٰذَا, la-qad wu'idnaa nahnu wa-aabaa'unaa haadzaa) yang berarti "sungguh, ini telah dijanjikan kepada kami dan kepada nenek moyang kami", nenek moyang dimasukkan ke dalam janji.

Kata (الْأَوَّلُونَ, l-awwaluuna) berakar أ-و-ل, dan bentuk dengan akhiran -uuna ini muncul enam kali di enam surah, yaitu 9:100, 17:59, 21:5, 23:81, 37:17, dan 56:48. Contohnya (مِثْلَ مَا قَالَ الْأَوَّلُونَ, mitsla maa qaala l-awwaluuna) yang berarti "seperti apa yang diucapkan oleh orang-orang terdahulu" di 23:81, dan (كَذَّبَ بِهَا الْأَوَّلُونَ, kadzdzaba bihaa l-awwaluuna) di 17:59. Bentuk dengan akhiran -iina, (الْأَوَّلِينَ, l-awwaliina), muncul tiga kali di surah ini, yaitu 37:71, 37:126, dan 37:168. Terjemahan memakai "yang terdahulu" ketika kata ini menjadi sifat, seperti di sini.

Rangkaian (أَوَآبَاؤُنَا الْأَوَّلُونَ, a-wa-aabaa'unaa l-awwaluuna) utuh muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu 37:17 dan 56:48. Di keduanya ayat sebelumnya adalah pertanyaan yang hampir sama tentang mati, tanah, tulang, dan dibangkitkan, yaitu 37:16 dan 56:47. Karena ayatnya tidak memuat kata kerja, apa yang terjadi pada nenek moyang itu tidak dinyatakan, dan terjemahan menjaga kekosongan itu apa adanya.

Tafsiran

Ayat ini memperluas pertanyaan dari diri mereka ke orang-orang sebelum mereka. Di 37:16 pelakunya "kami", yaitu mereka yang berbicara. Di 37:17 sasarannya naik satu tingkat ke rantai yang lebih panjang, yaitu orang-orang yang sudah lama tiada.

Dua ayat lain menaruh nenek moyang di tempat yang sama. Di 27:67 orang-orang yang kufur bertanya apakah mereka benar-benar akan dikeluarkan, setelah kami dan nenek moyang kami menjadi tanah. Di 23:83 dan 27:68 janji tentang kebangkitan disebut telah dijanjikan kepada mereka dan kepada nenek moyang mereka sebelumnya, lalu dinamai (أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ, asaathiiru l-awwaliina) yang berarti "dongeng orang-orang terdahulu". Dalam ayat-ayat itu nenek moyang dapat dibaca sebagai saksi bahwa janji itu sudah lama diucapkan. Di 37:17 fungsi itu tidak dinyatakan, dan nenek moyang disebut dalam pertanyaan saja.

Rangkaian yang sama di 56:48 dijawab di 56:49 dan 56:50. Ayat 56:49, (قُلْ إِنَّ الْأَوَّلِينَ وَالْآخِرِينَ, qul inna l-awwaliina wa-l-aakhiriina) yang berarti "katakanlah, 'Sesungguhnya orang-orang terdahulu dan orang-orang yang kemudian'", memakai kata yang sama dengan pertanyaannya, yaitu al-awwaliin. Ayat 56:50 lalu menyebut mereka (لَمَجْمُوعُونَ إِلَىٰ مِيقَاتِ يَوْمٍ مَعْلُومٍ, la-majmuu'uuna ilaa miiqaati yawmin ma'luumin) yang berarti "benar-benar akan dikumpulkan pada waktu hari yang telah ditentukan". Jawaban 37:18 tidak menyebut nenek moyang. Apakah mereka termasuk yang dimaksud oleh kata "kalian" di sana tidak dinyatakan oleh teks, dan 77:38 yang berbunyi (جَمَعْنَاكُمْ وَالْأَوَّلِينَ, jama'naakum wa-l-awwaliina) yang berarti "Kami kumpulkan kalian dan orang-orang terdahulu" berada di surah lain.

Bagi alur surah, 37:16 dan 37:17 bersama membentuk satu kutipan, dan keduanya dijawab satu kali oleh 37:18. Ayat 37:17 menutup kutipan itu, sehingga tanda kutip yang dibuka di 37:15 ditutup di sini.

Renungan dan Hikmah

  • Pertanyaan ini menambahkan kasus yang lebih jauh tanpa menambahkan alasan. Pembaca dapat mengenali gerak yang sama pada dirinya: keberatan yang awalnya satu dibesarkan dengan contoh yang makin jauh, seolah jumlah dan jarak sudah cukup menjadi bukti. Ayat 37:17 tidak menyatakan bahwa nenek moyang lebih sulit daripada mereka sendiri, dan pertanyaannya menaruh lebih banyak orang di barisan yang sama. Dari keberatan yang pernah dikumpulkan pembaca, berapa yang alasan dan berapa yang tambahan jarak?
  • Di 37:126 Ilyas berkata kepada kaumnya, "Allah, Tuhan kalian dan Tuhan nenek moyang kalian yang terdahulu", dengan sifat yang sama dengan 37:17, yaitu al-awwaliin. Di 26:26 Musa menjawab Firaun dengan kalimat yang serupa, "Tuhan kalian dan Tuhan nenek moyang kalian yang terdahulu". Dua ayat itu bukan jawaban atas 37:17, dan keduanya tidak disamakan. Nenek moyang yang terdahulu di sana menjadi milik Tuhan, sedangkan di 37:17 menjadi ukuran kemustahilan. Bila kedua ayat itu dibaca berdampingan, apakah orang-orang yang sudah lama tiada masih berada di bawah Tuhan yang sama dengan pembaca?
  • Di 45:25 mereka berkata, "Datangkanlah nenek moyang kami jika kalian orang-orang yang benar", dan 45:26 menjawab, "Katakanlah, 'Allah menghidupkan kalian, lalu mematikan kalian, kemudian mengumpulkan kalian pada hari kiamat'". Ayat 44:36 memuat tantangan yang sama. Dalam ayat-ayat itu nenek moyang menjadi syarat pembuktian, sedangkan 37:17 bertanya tanpa menantang. Jawaban 45:26 tidak mendatangkan siapa pun, dan menyebut Allah sebagai pelaku tiga kata kerja berturut-turut. Pembaca yang pernah menunggu bukti dalam bentuk tertentu dapat memeriksa apakah bentuk itu ditentukannya sendiri. Bila jawabannya datang dalam bentuk lain, apakah tetap dianggap jawaban?
  • Di 23:83 dan 27:68 mereka berkata bahwa janji itu sudah ada pada mereka dan pada nenek moyang mereka sejak dahulu, lalu menamainya dongeng orang-orang terdahulu. Kalimat itu menaruh kata "dahulu" di samping kata dongeng, sehingga lamanya sebuah janji dapat dibaca sebagai alasan untuk meremehkannya. Ayat 37:17 tidak memuat kalimat itu, jadi bagian ini tidak dipakai untuk menafsirkan niat mereka di sini. Pembaca dapat memperhatikan kapan lamanya penantian dipakai sebagai bukti, misalnya pada janji yang pernah diucapkan kepadanya. Berapa lama sebuah janji harus belum terjadi sebelum terdengar seperti dongeng?
  • Di 37:69 dan 37:70 tertulis bahwa mereka mendapati nenek moyang mereka dalam keadaan sesat, lalu mengikuti jejak-jejak itu dengan bergegas, dan 37:71 menyebut bahwa sebagian besar orang terdahulu sebelum mereka telah sesat. Nenek moyang muncul di surah ini dalam dua kedudukan: sebagai pihak yang jejaknya diikuti, dan sebagai pihak yang disebut dalam pertanyaan 37:17. Teks tidak menyatakan bahwa pelakunya sama di kedua tempat. Pembaca dapat bertanya adakah orang yang ia jadikan ukuran tanpa pernah diperiksa dulu keadaannya. Siapa yang selama ini dijadikan patokan, dan kapan terakhir kali patokan itu ditimbang?
  • Di 37:168 sampai 37:169 mereka berkata, "Seandainya di sisi kami ada peringatan dari orang-orang terdahulu, niscaya kami menjadi hamba-hamba Allah yang dimurnikan". Kata terdahulu di sana menjadi sumber peringatan yang diharapkan, sedangkan di 37:17 menjadi bahan keberatan. Dua ayat itu berada di surah yang sama dan memakai kata yang sama dengan fungsi berlawanan. Teks tidak menyatakan bahwa pengucapnya sama, jadi keduanya tidak dijodohkan. Pembaca dapat memperhatikan bagaimana generasi sebelumnya diperlakukannya, apakah sebagai bukti bahwa sesuatu tidak mungkin atau sebagai sumber peringatan. Kapan terakhir kali kata "orang dulu" dipakai untuk menutup pembicaraan?