فَإِنَّمَا هِيَ زَجْرَةٌ وَاحِدَةٌ فَإِذَا هُمْ يَنْظُرُونَ
Maka ia hanya satu hardikan, lalu seketika itu mereka melihat.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- فَإِنَّمَا هِيَ زَجْرَةٌ وَاحِدَةٌfa-innamaa hiya zajratun waahidatunmaka ia hanya satu hardikan
- فَإِذَا هُمْ يَنْظُرُونَfa-idzaa hum yanzhuruunalalu seketika itu mereka melihat
Terjemahan per kata (7 kata)
- فَإِنَّمَاfa-innamaamaka sesungguhnya hanya
- هِيَhiyaia
- زَجْرَةٌzajratunhardikan
- وَاحِدَةٌwaahidatunsatu
- فَإِذَاfa-idzaamaka seketika itu
- هُمْhummereka
- يَنْظُرُونَyanzhuruunamemandang
Inti bacaan
Susunan (فَإِنَّمَا هِيَ, fa-innamaa hiya) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 37:19 dan 79:13, dan di keduanya kata berikutnya adalah zajratun.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (فَإِنَّمَا, fa-innamaa) yang berarti "maka sesungguhnya hanya". Kata ini membatasi isi kalimat, dan di sini isi itu dibatasi pada satu hardikan. Awalan fa menyambung ayat ini dengan jawaban "Ya" di 37:18, yang menjawab pertanyaan tentang kebangkitan di 37:16. Kata (هِيَ, hiya) yang berarti "ia" menunjuk sesuatu yang tidak disebut namanya di ayat ini, sehingga terjemahan memakai "ia" dan tidak mengisinya dengan kata benda yang tidak tertulis. Susunan (فَإِنَّمَا هِيَ, fa-innamaa hiya) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 37:19 dan 79:13, dan di keduanya kata berikutnya adalah (زَجْرَةٌ, zajratun).
Kata (زَجْرَةٌ, zajratun) yang berarti "hardikan" berakar ز-ج-ر. Akar ini muncul di lima ayat pada tiga surah, yaitu 37:2, 37:19, 54:4, 54:9, dan 79:13. Di 37:2, (فَالزَّاجِرَاتِ زَجْرًا, fa-z-zaajiraati zajran) berarti "lalu yang menghardik dengan keras", dan di 54:9, (وَازْدُجِرَ, wa-zdujira) berarti "dan ia dibentak", yaitu perlakuan terhadap hamba yang disebut gila. Di 54:4, (مُزْدَجَرٌ, muzdajarun) berarti "pencegah". Bentuk zajratun sendiri hanya muncul di 37:19 dan 79:13. Terjemahan memakai "hardikan" supaya akar yang sama dengan "menghardik" di 37:2, dalam surah yang sama, tetap terbaca sebagai satu keluarga kata.
Kata (صَيْحَةً, shayhatan) diterjemahkan "teriakan", dan susunan (صَيْحَةً وَاحِدَةً, shayhatan waahidatan) muncul lima kali di tiga surah, yaitu 36:29, 36:49, 36:53, 38:15, dan 54:31. Terjemahan memakai "teriakan" di 36:29, 36:49, 36:53, dan 38:15, dan "suara menggelegar" di 54:31. Ayat 37:19 dan 79:13 memakai kata yang berbeda dari kelima ayat itu, meskipun sama-sama diikuti kata "satu", sehingga terjemahan tidak memakai "teriakan" untuk zajratun. Kata (وَاحِدَةٌ, waahidatun) yang berarti "satu" berakar و-ح-د, akar yang sama dengan (لَوَاحِدٌ, la-waahidun) di 37:4 yang berarti "benar-benar Esa". Dalam surah 37, akar itu hanya muncul di dua ayat tersebut: di 37:4 untuk Tuhan dan di 37:19 untuk hardikan.
Susunan (فَإِذَا هُمْ, fa-idzaa hum) yang berarti "lalu seketika itu mereka" muncul sepuluh kali di tujuh surah, yaitu 6:44, 7:201, 27:45, 36:29, 36:37, 36:51, 36:53, 37:19, 39:68, dan 79:14. Enam di antaranya menyusul satu bunyi: 36:29 dan 36:53 sesudah satu teriakan, 36:51 dan 39:68 sesudah sangkakala ditiup, serta 37:19 dan 79:14 sesudah satu hardikan. Kelanjutannya berbeda-beda. Di 36:29, (فَإِذَا هُمْ خَامِدُونَ, fa-idzaa hum khaamiduuna) berarti "maka seketika itu mereka padam", dan di 36:53, (فَإِذَا هُمْ جَمِيعٌ لَدَيْنَا مُحْضَرُونَ, fa-idzaa hum jamii'un ladaynaa muhdharuuna) berarti "maka seketika itu mereka semua dihadirkan kepada Kami". Di 79:14, (فَإِذَا هُمْ بِالسَّاهِرَةِ, fa-idzaa hum bi-s-saahirati) berarti "maka seketika itu mereka pun berada di permukaan bumi". Terjemahan memakai "seketika itu" untuk idzaa di keenam ayat.
Kata (يَنْظُرُونَ, yanzhuruuna) berakar ن-ظ-ر dan muncul sembilan belas kali di enam belas surah. Delapan di antaranya diikuti illaa dan terjemahannya "menunggu" atau "menanti", yaitu (هَلْ يَنْظُرُونَ إِلَّا, hal yanzhuruuna illaa) di 2:210, 6:158, 7:53, 16:33, 35:43, 43:66, dan 47:18, serta (مَا يَنْظُرُونَ إِلَّا, maa yanzhuruuna illaa) di 36:49. Lima diikuti kata lain: ilaa atau ilayka di 7:198, 33:19, 47:20, dan 88:17 dengan terjemahan "memperhatikan" atau "memandang", serta min di 42:45 dengan terjemahan "memandang". Enam berdiri tanpa kata sesudahnya, seperti di ayat ini, yaitu 8:6, 37:19, 39:68, 51:44, 83:23, dan 83:35. Terjemahan keenamnya memakai tiga padanan: "melihat" di 8:6 dan 37:19, "memandang" di 39:68, 83:23, dan 83:35, serta "menyaksikan" di 51:44. Di 37:19 tidak ada illaa dan tidak ada benda yang ditunggu, sehingga terjemahan memakai "melihat". Teksnya tidak menyebutkan apa yang mereka lihat.
Tafsiran
Ayat ini memberi jawaban atas pertanyaan di 37:16 dengan menyebut dua kejadian saja: satu hardikan, lalu mereka melihat. Pertanyaan itu memuat beberapa tahap, yaitu mati, menjadi tanah dan tulang-belulang, lalu dibangkitkan, sedangkan jawabannya di 37:18 dan 37:19 tidak menguraikan satu tahap pun di antaranya. Ayat 37:18 menjawab dengan "Ya" dan kehinaan, dan 37:19 menambahkan cara jawaban itu terjadi, yaitu cukup satu hardikan.
Keberatan yang sama dijawab dengan susunan serupa di surah lain. Ayat 79:10 sampai 79:12 memuat pertanyaan tentang dikembalikan sesudah menjadi tulang-belulang yang hancur, dan 79:13 membuka jawabannya dengan susunan yang sama dengan 37:19. Bedanya ada pada kelanjutan. Ayat 79:14 berakhir pada tempat, sedangkan 37:19 berakhir pada penglihatan. Di 36:49 dan 36:50, satu teriakan menyambar orang-orang yang sedang bertengkar, (فَلَا يَسْتَطِيعُونَ تَوْصِيَةً, fa-laa yastathii'uuna tawshiyatan) yang berarti "maka mereka tidak dapat membuat wasiat", sehingga keadaan mereka saat bunyi itu datang dicatat dengan rinci. Ayat 37:19 tidak mencatat keadaan mereka pada saat hardikan datang.
Penglihatan di ayat ini punya pendahulu yang dekat. Di 37:14, (وَإِذَا رَأَوْا آيَةً يَسْتَسْخِرُونَ, wa-idzaa ra'aw aayatan yastaskhiruuna) berarti "Apabila melihat suatu tanda, mereka sangat menghina", dan kata kerja melihat di sana adalah ra'aw, tidak sama dengan yanzhuruuna di 37:19. Orang-orang itu pertama tercatat melihat tanda lalu menghinanya, kemudian tercatat melihat sesudah hardikan, dan ayat berikutnya, 37:20, mencatat ucapan mereka. Ayat 37:19 sendiri berhenti pada kata kerja melihat tanpa memberi tahu apa yang terlihat.
Pelaku hardikan dan selang waktu antara hardikan dan penglihatan juga tidak tertulis. Tiupan sangkakala di 36:51, (وَنُفِخَ فِي الصُّورِ, wa-nufikha fi sh-shuuri) yang berarti "dan sangkakala pun ditiup", ditulis tanpa peniupnya. Dua ayat itu berbeda surah dan berbeda urutan peristiwa, sehingga penyebutan tanpa pelaku pada keduanya tidak dipakai untuk menetapkan siapa pelakunya.
Renungan dan Hikmah
- Pertanyaan di 37:16 tersusun dari beberapa tahap: mati, menjadi tanah dan tulang-belulang, lalu dibangkitkan. Jawabannya di 37:18 dan 37:19 hanya memuat satu kata "Ya", satu hardikan, dan satu penglihatan. Di 36:78 orang yang bertanya, "Siapakah yang bisa menghidupkan tulang-belulang yang telah hancur luluh?", dijawab di 36:79 dengan menunjuk pada yang menumbuhkannya pertama kali, dan Dia berilmu akan setiap penciptaan. Dalam keberatan pembaca sendiri terhadap kebangkitan, berapa bagian yang bertumpu pada rumitnya cara, dan berapa bagian yang bertumpu pada siapa yang mengerjakannya?
- Di 37:14 orang-orang itu melihat sebuah tanda dan menghinanya. Di 37:19 mereka melihat sesudah satu hardikan, dan 37:20 mencatat seruan "Celakalah kami!" sebagai sambutannya. Kedua penglihatan itu ditulis dengan kata kerja yang berbeda, dan tanggapan yang menyertainya pun berbeda: ejekan pada yang pertama, seruan celaka pada yang kedua. Tanda apa yang kini ada di depan mata pembaca, dan sambutan apa yang sekarang diberikannya dibandingkan dengan seruan yang mungkin keluar dari mulutnya nanti?
- Ayat 37:19 menyebut hardikan tanpa menyebut siapa yang menghardik, dan arah gerak orang-orang itu tidak tertulis di sana. Arah itu tertulis di 36:51, ketika sangkakala ditiup dan mereka bergegas dari kubur-kubur menuju Tuhan mereka. Ayat 36:51 berada di surah lain, jadi urutan peristiwanya tidak digabung dengan 37:19, tetapi keduanya menggambarkan kebangkitan lewat unsur yang berbeda: bunyi, penglihatan, dan perjalanan kepada Tuhan. Bila bunyi itu terdengar hari ini, ke arah mana kaki pembaca akan melangkah, dan ke hadapan siapa?
- Di 36:48 mereka bertanya, "Kapankah janji ini, jika kalian orang-orang yang benar?", dan 36:49 menjawab dengan satu teriakan yang menyambar mereka saat mereka sedang bertengkar. Ayat 37:19 tidak menyebut keadaan mereka ketika hardikan datang, tetapi bila kedua ayat dibaca berdampingan, perdebatan tentang kebangkitan terbaca sebagai sesuatu yang berakhir karena peristiwanya sendiri datang, tidak karena salah satu pihak kehabisan alasan. Dalam perdebatan semacam itu, alasan mana yang masih diharapkan berguna ketika bunyi itu datang?
- Surah 37 memakai kata "satu" untuk dua pokok yang berbeda: Tuhan kalian benar-benar Esa di 37:4, dan satu hardikan di 37:19. Kedua ayat itu tidak menghubungkan keduanya secara tertulis, sehingga hubungan itu tidak dipaksakan di sini. Urutannya tetap dapat dicatat. Surah ini lebih dulu menyatakan siapa yang Esa di awal, dan baru belasan ayat kemudian menggambarkan peristiwa yang sederhana. Bagi pembaca yang menganggap kebangkitan terlalu rumit, urutan itu menaruh Tuhan yang satu di depan dan hardikan yang satu di belakang. Apa yang berubah dalam menimbang kebangkitan bila titik tolaknya Tuhan yang Esa, bukan tulang yang berserakan?
- Kata kerja yang sama tanpa benda sesudahnya dipakai di 83:23 untuk orang-orang berbakti dan di 83:35 untuk orang-orang yang beriman, keduanya di atas dipan-dipan, sedangkan di 37:19 dipakai untuk orang-orang yang tadinya meragukan kebangkitan. Kata kerja itu sendiri tidak membawa penilaian: penilaiannya datang dari kalimat di sekitarnya. Di 37:19 penilaian itu baru tertulis di ayat berikutnya, ketika mereka berseru celaka. Pembaca dapat memperhatikan bahwa di antara hardikan dan seruan itu tercatat mata yang terbuka dan memandang.