وَقَالُوا يَا وَيْلَنَا هَٰذَا يَوْمُ الدِّينِ
Dan mereka berkata, “Celakalah kami! Ini Hari Pertanggungjawaban.”
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَقَالُوا يَا وَيْلَنَا هَٰذَا يَوْمُ الدِّينِwa-qaaluu yaa waylanaa haadzaa yawmu d-diinidan mereka berkata, celakalah kami, ini Hari Pertanggungjawaban
Terjemahan per kata (6 kata)
- وَقَالُواwa-qaaluudan mereka berkata
- يَاyaawahai
- وَيْلَنَاwaylanaacelakalah kami
- هَٰذَاhaadzaaini
- يَوْمُyawmuhari
- الدِّينِd-diiniPertanggungjawaban
Inti bacaan
Bentuk (يَوْمُ الدِّينِ, yawmu d-diini) persis seperti di ayat ini muncul empat kali di Al-Qur'an, yaitu di 37:20, 51:12, 82:17, dan 82:18.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (وَقَالُوا, wa-qaaluu) yang berarti "dan mereka berkata". Pelakunya orang-orang yang sama dengan (هُمْ, hum) di 37:19, dan ayat ini mencatat ucapan pertama mereka sesudah hardikan. Ucapan itu dibuka dengan seruan (يَا وَيْلَنَا, yaa waylanaa) yang berarti "celakalah kami". Seruan ini muncul enam kali di empat surah, yaitu di 21:14, 21:46, 21:97, 36:52, 37:20, dan 68:31, dan terjemahan memakai "celakalah kami" di 21:14, 21:46, 36:52, dan 37:20. Di empat ayat seruan itu langsung disusul pengakuan atas diri sendiri. Di 21:14 dan 21:46 bunyinya (إِنَّا كُنَّا ظَالِمِينَ, innaa kunnaa zhaalimiina) yang berarti "sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zalim", di 68:31 bunyinya (إِنَّا كُنَّا طَاغِينَ, innaa kunnaa thaaghiina) yang berarti "sesungguhnya kita adalah orang-orang yang melampaui batas", dan di 21:97 pengakuan itu berupa lengah dan zalim. Di 36:52 seruan itu disusul pertanyaan lalu (هَٰذَا, haadzaa) yang berarti "ini", dan di 37:20 disusul langsung oleh haadzaa. Dua ayat terakhir itu tidak memuat pengakuan kesalahan di dalam seruannya. Susunan (وَقَالُوا يَا وَيْلَنَا, wa-qaaluu yaa waylanaa) dengan awalan wa hanya muncul di 37:20, sehingga seruan ini ditulis sebagai kelanjutan dari penglihatan di 37:19 dan tidak sebagai ucapan yang berdiri sendiri.
Kata (يَوْمُ, yawmu) yang berarti "hari" berakar ي-و-م. Susunan (هَٰذَا يَوْمُ, haadzaa yawmu) yang berarti "ini hari" muncul tujuh kali di lima surah, yaitu di 5:119, 21:103, 30:56, 37:20, 37:21, 77:35, dan 77:38. Hari itu disebut dengan sifat atau nama yang berbeda di tiap ayat: hari ketika kebenaran orang-orang yang benar bermanfaat bagi mereka di 5:119, hari kalian yang telah dijanjikan di 21:103, hari Kebangkitan di 30:56, Hari Pertanggungjawaban di 37:20, hari keputusan di 37:21 dan 77:38, serta hari mereka tidak berbicara di 77:35. Dari ketujuh ayat itu, hanya 37:20 dan 37:21 berurutan dalam satu surah, dan keduanya menamai hari itu dengan nama yang berbeda.
Nama di ayat ini adalah (يَوْمُ الدِّينِ, yawmu d-diini). Frasa ini dengan akhiran kata yang berbeda-beda muncul tiga belas kali di sebelas surah, yaitu di 1:4, 15:35, 26:82, 37:20, 38:78, 51:12, 56:56, 70:26, 74:46, 82:15, 82:17, 82:18, dan 83:11, dan terjemahan memakai "Hari Pertanggungjawaban" di semuanya. Di 1:4, (مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ, maaliki yawmi d-diini) berarti "Pemilik Hari Pertanggungjawaban". Bentuk persis yawmu d-diini seperti di ayat ini dipakai di empat ayat saja, yaitu 37:20, 51:12, 82:17, dan 82:18. Di 51:12, (أَيَّانَ يَوْمُ الدِّينِ, ayyaana yawmu d-diini) berarti "Kapankah Hari Pertanggungjawaban", yaitu pertanyaan dari orang-orang yang lengah dalam kelalaian menurut 51:11, dan di 82:17 serta 82:18 hari itu menjadi bahan pertanyaan "tahukah engkau apakah". Di 37:20 tidak ada kata tanya sama sekali: hari itu disebut dengan kata tunjuk dekat, tanpa tambahan "itu", karena tidak ada kata tunjuk jauh di ayat ini. Empat ayat kemudian, 37:24 menyebut isi hari itu, yaitu (إِنَّهُمْ مَسْئُولُونَ, innahum mas'uuluuna) yang berarti "sesungguhnya mereka akan ditanya", dan isi itu sejalan dengan padanan pertanggungjawaban.
Tafsiran
Ayat ini mencatat ucapan pertama orang-orang itu sesudah hardikan di 37:19. Mereka melihat, lalu mereka berkata, dan ayat ini menaruh kedua kejadian itu berurutan dengan awalan wa tanpa mencatat apa yang mereka lihat. Isi ucapannya ada dua: seruan celaka atas diri sendiri dan penyebutan nama hari.
Nama yang mereka sebut berbeda dari kata yang mereka pakai di 37:16. Di sana pertanyaan mereka memuat (لَمَبْعُوثُونَ, la-mab'uutsuuna) yang berarti "benar-benar akan dibangkitkan", yaitu soal kebangkitan, dan soal itu tidak kembali di 37:20. Hari yang mereka sebut sekarang bernama Hari Pertanggungjawaban. Dapat dibaca bahwa persoalan dibangkitkan atau tidak sudah terjawab bagi mereka dan sekarang mereka menghadapi isi hari itu, meskipun ayat tidak menyatakan alasan pergantian nama itu. Di 51:12 orang-orang yang lalai masih bertanya kapan hari itu tiba, sedangkan di 37:20 pertanyaan itu sudah tidak ada.
Ayat 37:21 membuka kutipan baru yang menyapa "kalian", dan pembicaranya tidak disebut, sehingga ucapan mereka di ayat ini tidak dilanjutkan di ayat berikutnya. Dengan begitu hari yang sama mendapat dua nama berturut-turut, Hari Pertanggungjawaban dari mulut mereka dan hari keputusan dari ucapan yang ditujukan kepada mereka, dan teks membiarkan keduanya berdampingan tanpa menyatukannya.
Seruan celaka di ayat ini tidak diikuti pengakuan bersalah seperti di 21:14 dan 68:31, dan tidak diikuti pertanyaan seperti di 36:52. Pengakuan baru tertulis di 37:32, dalam percakapan sebagian mereka dengan sebagian yang lain, yaitu (فَأَغْوَيْنَاكُمْ إِنَّا كُنَّا غَاوِينَ, fa-aghwaynaakum innaa kunnaa ghaawiina) yang berarti "Maka, kami telah menyesatkan kalian; sesungguhnya kami sendiri dahulu orang-orang yang sesat".
Renungan dan Hikmah
- Seruan yang sama dengan 37:20 tertulis di 21:46 dalam kalimat berandai-andai: jika sedikit saja azab Tuhanmu menimpa mereka, pastilah mereka berkata, "Celakalah kami; sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zalim." Ayat 21:46 memakai kalimat berandai-andai, sedangkan 37:20 melaporkan peristiwa yang sudah terjadi. Meskipun begitu keduanya memperlihatkan bahwa seruan itu tidak menunggu azab yang besar. Seberapa kecil sentuhan yang cukup untuk membuat kata-kata pembelaan diri berhenti dan seruan seperti itu yang keluar?
- Di 37:16 pertanyaan mereka bertumpu pada kata dibangkitkan, dan di 37:20 hari yang sama disebut Hari Pertanggungjawaban. Perdebatan tentang apakah manusia akan dibangkitkan dapat berlangsung lama, sedangkan nama yang diucapkan ketika hari itu hadir menunjuk pada hal yang datang sesudahnya, yaitu pertanggungjawaban. Dua kata itu dapat ditaruh berdampingan: dibangkitkan menjawab soal bisa atau tidaknya, pertanggungjawaban menjawab soal apa yang menyusul. Bila perdebatan pertama sudah selesai, apa yang masih tersisa untuk dijawab oleh pembaca sendiri?
- Di 51:12 orang-orang bertanya, "Kapankah Hari Pertanggungjawaban?", dan di 37:20 orang-orang yang tadinya meragukan menyebutnya tanpa kata tanya sama sekali. Pertanyaan tentang waktu dapat ditunda terus-menerus karena jawabannya selalu berada di depan, sedangkan penunjukan hanya mungkin dilakukan ketika sesuatu sudah ada di hadapan. Kedua ayat berasal dari surah yang berbeda dan dari kelompok yang belum tentu sama, jadi keduanya tidak disambung menjadi satu kisah. Pertanyaan apa yang selama ini disimpan pembaca dalam bentuk "kapan", dan dapatkah pertanyaan itu berubah menjadi penunjukan sebelum jawabannya siap?
- Ucapan di 37:20 tidak memuat permintaan apa pun. Di 6:27 orang-orang yang dihadapkan ke api berkata, "Seandainya kami dikembalikan, tentu kami tidak akan mendustakan tanda-tanda Tuhan kami, dan kami menjadi orang-orang mukmin", sehingga ucapan mereka berupa harapan untuk kembali. Ayat 6:27 memuat harapan untuk dikembalikan, sedangkan 37:20 memuat nama hari. Perbandingan itu memperlihatkan bahwa kalimat pertama di hari itu, menurut teks yang berbeda-beda, dapat berupa nama hari dan dapat berupa harapan. Seandainya pembaca yang berdiri di sana, kalimat pertamanya akan berupa pengakuan, penunjukan, atau permohonan, dan kepada siapa kalimat itu ditujukan?
- Seruan "Celaka kita!" tertulis juga di 68:31, dari para pemilik kebun yang kebunnya ditimpa bencana dari Tuhanmu menurut 68:19, dan 68:32 melanjutkannya dengan harapan agar Tuhan mereka menggantinya dengan yang lebih baik. Peristiwa itu terjadi di dunia, sedangkan 37:20 sesudah kebangkitan. Kata seruannya sama, dan arah kalimat sesudahnya berbeda: di 68:32 mengarah kepada Tuhan, di 37:20 mengarah kepada nama hari. Bila seruan itu keluar dari mulut pembaca hari ini, ke mana arah kalimat berikutnya, kepada nama sebuah hari atau kepada Tuhan?
- Di 36:52 seruan celaka disusul pertanyaan tentang siapa yang membangkitkan mereka, lalu pengakuan bahwa janji Ar-Rahman sedang terjadi dan bahwa para rasul benar. Ucapan di 37:20 berhenti pada nama hari dan tidak memuat pengakuan itu. Kedua ayat menggambarkan kebangkitan yang sama dari sisi yang berbeda, dan teks tidak menyeragamkan ucapan masing-masing. Bila pembaca tiba di hari itu dan harus menyebut satu pengakuan, janji siapa yang akan disebutnya, dan sudahkah Dia yang berjanji dikenal sebelum hari itu tiba?