وَمَا كَانَ لَنَا عَلَيْكُمْ مِنْ سُلْطَانٍ ۖ بَلْ كُنْتُمْ قَوْمًا طَاغِينَ

Dan kami tidak mempunyai kekuasaan apa pun atas kalian; bahkan, kalianlah kaum yang melampaui batas.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَمَا كَانَ لَنَا عَلَيْكُمْ مِنْ سُلْطَانٍwa-maa kaana lanaa 'alaykum min sulthaanindan kami tidak mempunyai kekuasaan apa pun atas kalian
  2. بَلْ كُنْتُمْ قَوْمًا طَاغِينَbal kuntum qawman thaaghiinabahkan, kalianlah kaum yang melampaui batas

Terjemahan per kata (10 kata)

  1. وَمَاwa-maadan tidaklah
  2. كَانَkaanaadalah
  3. لَنَاlanaabagi kami
  4. عَلَيْكُمْ'alaykumatas kalian
  5. مِنْmindari
  6. سُلْطَانٍsulthaaninketerangan
  7. بَلْbalbahkan
  8. كُنْتُمْkuntumkalian adalah
  9. قَوْمًاqawmankaum
  10. طَاغِينَthaaghiinaorang-orang yang melampaui batas

Inti bacaan

Susunan (عَلَيْكُمْ مِنْ سُلْطَانٍ, 'alaykum min sulthaanin) ditemukan dua kali di Al-Qur'an (14:22, 37:30), dan rangkaian (قَوْمًا طَاغِينَ, qawman thaaghiina) hanya tertulis di 37:30.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (وَمَا كَانَ لَنَا, wa-maa kaana lanaa) yang berarti "dan tidak ada bagi kami". Kata (لَنَا, lanaa) terdiri dari li- "bagi" dan -naa "kami", dan "kami" di sini adalah pihak yang berbicara di 37:29, sedangkan (عَلَيْكُمْ, 'alaykum) yang berarti "atas kalian" menunjuk lawan bicara mereka. Kata (مِنْ, min) yang mendahului benda tak tentu dibawa lewat "apa pun" di terjemahan. Kata yang ditiadakan itu, (سُلْطَانٍ, sulthaanin), berakar س-ل-ط, dan terjemahan memakai "kekuasaan".

Padanan untuk kata ini dipilih menurut konteks. Susunan (عَلَيْكُمْ مِنْ سُلْطَانٍ, 'alaykum min sulthaanin) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 14:22 dan 37:30. Di 14:22, (وَمَا كَانَ لِيَ عَلَيْكُمْ مِنْ سُلْطَانٍ إِلَّا أَنْ دَعَوْتُكُمْ فَاسْتَجَبْتُمْ لِي, wa-maa kaana liya 'alaykum min sulthaanin illaa an da'awtukum fa-istajabtum lii) yang berarti "dan tidak ada bagiku atas kalian suatu keterangan, kecuali aku menyeru kalian lalu kalian memenuhi seruanku", terjemahan memakai "keterangan". Di 34:21, (وَمَا كَانَ لَهُ عَلَيْهِمْ مِنْ سُلْطَانٍ, wa-maa kaana lahu 'alayhim min sulthaanin) yang berarti "dan tidak ada baginya kekuasaan terhadap mereka", terjemahan memakai "kekuasaan". Ketiga ayat itu meniadakan hak satu pihak atas pihak lain. Di 14:22 dan 34:21 sesudah peniadaan datang pengecualian yang diawali illaa, sedangkan di 37:30 langsung datang bal. Di 37:30 kalimat sesudahnya menyebut perbuatan lawan bicara sendiri, sehingga terjemahan memilih "kekuasaan", yaitu daya untuk menggerakkan pihak lain.

Kata (بَلْ, bal) yang berarti "bahkan" membuka (كُنْتُمْ قَوْمًا طَاغِينَ, kuntum qawman thaaghiina) yang berarti "kalianlah kaum yang melampaui batas". Kata (كُنْتُمْ, kuntum) di sini diikuti kata benda, dan terjemahan menulisnya tanpa "dahulu", seperti di 9:53, (إِنَّكُمْ كُنْتُمْ قَوْمًا فَاسِقِينَ, innakum kuntum qawman faasiqiina) yang berarti "sesungguhnya kalian adalah kaum yang fasik". Kuntum di 37:28 diikuti kata kerja dan ditulis "dahulu selalu". Susunan kuntum qawman dipakai untuk menamai lawan bicara juga, misalnya, di 45:31, (وَكُنْتُمْ قَوْمًا مُجْرِمِينَ, wa-kuntum qawman mujrimiina) yang berarti "dan menjadi kaum pendurhaka", dan di 48:12, (وَكُنْتُمْ قَوْمًا بُورًا, wa-kuntum qawman buuran) yang berarti "dan kalian menjadi kaum yang binasa". Susunan (قَوْمًا طَاغِينَ, qawman thaaghiina) hanya ada di 37:30.

Kata (طَاغِينَ, thaaghiina) yang berarti "yang melampaui batas" berakar ط-غ-ي. Bentuk tanpa kata sandang ini muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 37:30 dan 68:31. Di 68:31, (إِنَّا كُنَّا طَاغِينَ, innaa kunnaa thaaghiina) yang berarti "sesungguhnya kita adalah orang-orang yang melampaui batas", kata itu dipakai pembicara untuk dirinya sendiri, sedangkan di 37:30 untuk lawan bicara. Bentuk dengan kata sandang ada di 38:55, (وَإِنَّ لِلطَّاغِينَ لَشَرَّ مَآبٍ, wa-inna li-th-thaaghiina la-syarra ma'aabin) yang berarti "dan sesungguhnya bagi orang-orang yang melampaui batas benar-benar ada tempat kembali yang buruk", dan di 78:22, (لِلطَّاغِينَ مَآبًا, li-th-thaaghiina ma'aaban) yang berarti "bagi orang-orang yang melampaui batas sebagai tempat kembali". Akar yang sama dipakai di 55:8, (أَلَّا تَطْغَوْا فِي الْمِيزَانِ, allaa tathghaw fii l-miizaani) yang berarti "agar kalian tidak melampaui batas dalam timbangan", dan terjemahan memakai "melampaui batas" di semuanya.

Terjemahan tidak menutup tanda kutip di akhir ayat ini karena ucapan berlanjut ke 37:31 dan 37:32, yang tidak memuat kata kerja berkata yang baru.

Tafsiran

Ayat ini menutup jawaban dua ayat sebelumnya dengan dua pernyataan: tidak ada kekuasaan atas kalian, dan kalianlah kaum yang melampaui batas. Pernyataan pertama menjawab tuduhan di 37:28 dengan menyangkal kemampuan menguasai, tanpa menyangkal kedatangan. Pernyataan kedua menaruh tanggung jawab pada lawan bicara. Perdebatan di 37:27 sampai 37:30 dengan demikian terbaca sebagai empat gerak: berhadapan, tuduhan, pembalikan, dan sangkalan.

Dua ayat lain meniadakan hak atas pihak lain dengan susunan yang sama dan menyisakan pengecualian. Di 14:22 pembicara mengakui bahwa dirinya menyeru dan seruannya dipenuhi, dan di 34:21 pengecualiannya berupa tujuan agar diketahui siapa yang beriman pada akhirat dan siapa yang ragu. Di 37:30 tidak ada pengecualian, dan kalimat langsung berbalik ke lawan bicara. Karena itu ayat ini tidak mengakui apa pun yang dikerjakan pembicara. Ayat berikutnya mengubah keadaan itu: ucapan yang sama berlanjut ke 37:32, dan di sana pembicara berkata "kami telah menyesatkan kalian".

Penyangkalan kekuasaan di 37:30 dan pengakuan menyesatkan di 37:32 berada dalam satu ucapan, dan teks tidak menyelaraskan keduanya. Dapat dibaca bahwa kekuasaan yang disangkal berupa daya untuk memaksa, sedangkan menyesatkan berupa ajakan ke jalan yang salah, sehingga keduanya tidak harus bertentangan. Pembacaan ini bersifat kemungkinan karena ayat tidak merincinya.

Kata "kami" dan "kalian" memisahkan dua pihak dengan tegas, dan 37:30 tidak menyebut siapa yang termasuk dalam masing-masing. Seperti di 37:28, pembagian itu terbaca dari isi ucapan saja, yaitu pihak yang menjawab menyangkal kekuasaan atas pihak yang menuduh.

Renungan dan Hikmah

  • Di 14:22 setan berkata bahwa Allah menjanjikan janji yang benar, sedangkan janjinya sendiri diingkari, dan bahwa atas lawan bicara setan itu memiliki seruan saja, yang kemudian dipenuhi. Setan itu lalu meminta agar yang dicela adalah diri lawan bicara sendiri. Di 37:30 pembicara juga menyangkal kekuasaan, tetapi tanpa pengecualian, dan pembicaranya tidak dinamai sehingga tidak diidentikkan dengan setan di 14:22. Pembaca yang pernah mengajak orang lain pada sesuatu yang kemudian bermasalah dapat menimbang bagian mana dari akibatnya berasal dari seruan, dan bagian mana dari pilihan yang menyambutnya. Seberapa jujur pembaca menimbang bagian-bagian itu?
  • Kata thaaghiina dipakai untuk lawan bicara di 37:30, dan di 68:31 dipakai pembicara untuk dirinya sendiri sesudah berkata, "Mahasuci Tuhan kami. Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zalim." Kedua ayat berbeda tempat dan pelakunya. Perbedaan arah penunjukan itu memperlihatkan bahwa kata yang sama dapat dilontarkan keluar atau diterima ke dalam. Pembaca dapat memeriksa kata yang paling sering dipakainya untuk menilai orang lain, lalu menimbang kapan terakhir kali kata itu diarahkan kepada dirinya sendiri di hadapan Tuhan. Apakah kata itu masih terasa sama ketika arahnya berbalik?
  • Di 34:21 peniadaan kekuasaan disusul pengecualian beserta tujuannya: agar diketahui siapa yang beriman pada akhirat dari siapa yang ragu-ragu tentangnya, dan ayat itu ditutup dengan pernyataan bahwa Tuhanmu Sang Penjaga atas segala sesuatu. Di 37:30 tidak ada pengecualian yang disebut. Pembaca yang mengucapkan kalimat seperti "saya tidak punya kuasa atas dia" dapat bertanya apakah ada pengecualian kecil yang sengaja tidak disebut, misalnya satu kalimat, satu pesan, atau satu sikap diam yang ikut membentuk keadaan itu. Bagian mana dari kalimat itu yang paling tidak ingin diperiksa?
  • Di 37:30 pembicara menyangkal kekuasaan atas lawan bicara, dan dua ayat sesudahnya, di 37:32, pembicara berkata "kami telah menyesatkan kalian". Kedua kalimat berada dalam satu ucapan yang tidak dipisahkan kata kerja berkata. Pembaca dapat membayangkan percakapan di mana seseorang lebih dulu membersihkan dirinya lalu, beberapa kalimat kemudian, menyebut bagiannya. Urutan itu memperlihatkan bahwa penyangkalan dapat berdiri berdampingan dengan pengakuan, dan kalimat terakhir sebuah ucapan dapat mengubah makna kalimat pertamanya. Pada kalimat keberapa pembaca biasanya berhenti bicara, sebelum atau sesudah bagiannya sendiri disebut?
  • Ayat 37:30 menyebut kaum yang melampaui batas tanpa menyebut batasnya. Di 55:7 dan 55:8 batasnya disebut: langit Dia tinggikan, Dia meletakkan timbangan, agar kalian tidak melampaui batas dalam timbangan. Dua ayat itu berbeda konteks, tetapi bila dibaca bersama, tampak bahwa kata itu dapat ditunjukkan pada batas yang jelas atau dibiarkan menggantung. Pembaca yang dituduh melewati batas dapat bertanya batas apa yang dimaksud dan siapa yang menetapkannya. Bila batas itu sama-sama disepakati, apakah tuduhan itu masih dapat ditolak?
  • Kata "kami" di 37:30 memuat lebih dari satu orang, dan ayat tidak merinci siapa saja yang masuk di dalamnya. Pembicara menyangkal kekuasaan atas nama kelompok, sedangkan lawan bicaranya juga disebut sebagai kelompok. Pembaca yang pernah berbicara atas nama sebuah tim, keluarga, atau lembaga dapat memperhatikan bahwa kata "kami" melindungi sekaligus menyamarkan. Kata itu melindungi karena tanggung jawab terbagi, dan menyamarkan karena tidak jelas siapa yang bertindak. Kapan terakhir kali kata "kami" diganti dengan "saya" dalam penjelasan atas sebuah kegagalan bersama?