فَحَقَّ عَلَيْنَا قَوْلُ رَبِّنَا ۖ إِنَّا لَذَائِقُونَ

maka, berlaku atas kami perkataan Tuhan kami; sesungguhnya kami benar-benar akan merasakannya.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. فَحَقَّ عَلَيْنَا قَوْلُ رَبِّنَاfa-haqqa 'alaynaa qawlu rabbinaamaka, berlaku atas kami perkataan Tuhan kami
  2. إِنَّا لَذَائِقُونَinnaa la-dzaa'iquunasesungguhnya kami benar-benar akan merasakannya

Terjemahan per kata (6 kata)

  1. فَحَقَّfa-haqqamaka pastilah
  2. عَلَيْنَا'alaynaaatas kami
  3. قَوْلُqawluperkataan
  4. رَبِّنَاrabbinaaTuhan kami
  5. إِنَّاinnaasesungguhnya kami
  6. لَذَائِقُونَla-dzaa'iquunabenar-benar akan merasakan

Inti bacaan

Susunan (حَقَّ عَلَيْنَا, haqqa 'alaynaa) muncul satu kali di Al-Qur'an (37:31), dan kata kerja ح-ق-ق dengan perkataan sebagai pokoknya muncul di delapan ayat (17:16, 28:63, 32:13, 36:7, 36:70, 37:31, 41:25, 46:18).

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (فَحَقَّ, fa-haqqa) yang berarti "maka berlaku". Awalan (فَ, fa) yang berarti "maka" menyambung ayat ini dengan 37:30, yang memuat tuduhan balik kepada lawan bicara. Kata kerja haqqa berakar ح-ق-ق. Dengan "perkataan" sebagai pokoknya, kata kerja dari akar itu muncul di delapan ayat pada tujuh surah, yaitu 17:16, 28:63, 32:13, 36:7, 36:70, 37:31, 41:25, dan 46:18. Di 36:7, (لَقَدْ حَقَّ الْقَوْلُ عَلَىٰ أَكْثَرِهِمْ, la-qad haqqa l-qawlu 'alaa aktsarihim) berarti "sungguh, telah berlaku perkataan atas kebanyakan mereka". Terjemahan memakai "berlaku" juga di 17:16 dan 46:18, sehingga 37:31 terbaca sejajar dengan ayat-ayat itu.

Kata (عَلَيْنَا, 'alaynaa) yang berarti "atas kami" tersusun dari (عَلَىٰ, 'alaa) yang berarti "atas" dan akhiran -naa yang berarti "kami". Susunan haqqa 'alaynaa muncul satu kali, di 37:31. Di tujuh ayat lain yang pokoknya perkataan, yang dikenai adalah pihak ketiga, misalnya (عَلَيْهِمُ, 'alayhimu) di 28:63, 41:25, dan 46:18, (عَلَيْهَا, 'alayhaa) di 17:16, dan (عَلَى الْكَافِرِينَ, 'alaa l-kaafiriina) di 36:70, sedangkan 32:13 memakai kata dari-Ku tanpa penerima yang disebut. Di 37:31 penerimanya pembicara sendiri. Akhiran -naa yang sama muncul di (لَنَا, lanaa) pada 37:30 dan di (فَأَغْوَيْنَاكُمْ, fa-aghwaynaakum) pada 37:32, dan terjemahan menulisnya "kami" di ketiga ayat karena pembicaranya satu pihak yang berkata "kalian" kepada lawan bicaranya di 37:29, 37:30, dan 37:32. Ayat ini tidak memuat tanda yang membuat pembicara menyertakan lawan bicaranya, sehingga terjemahan tidak memakai "kita".

Frasa (قَوْلُ رَبِّنَا, qawlu rabbinaa) yang berarti "perkataan Tuhan kami" hanya muncul di 37:31. Kata (قَوْلُ, qawlu) berakar ق-و-ل, dan kata (رَبِّنَا, rabbinaa) berakar ر-ب-ب dengan akhiran -naa yang sama. Pembicara menyebut Tuhan sebagai pemilik perkataan itu dengan kata "Tuhan kami", dan kata itu diucapkan kepada lawan bicara, tidak kepada Tuhan. Ayat ini tidak merinci isi perkataan tersebut. Di 32:13, (حَقَّ الْقَوْلُ مِنِّي لَأَمْلَأَنَّ جَهَنَّمَ, haqqa l-qawlu minnii la-amla'anna jahannama) berarti "telah pasti perkataan dari-Ku, sungguh, Aku akan memenuhi Jahanam", isi perkataan disebut, tetapi 37:31 tidak menghubungkannya dengan ayat itu. Terjemahan karena itu tidak menambahkan isi apa pun sesudah "perkataan Tuhan kami".

Bagian kedua, (إِنَّا لَذَائِقُونَ, innaa la-dzaa'iquuna), berarti "sesungguhnya kami benar-benar akan merasakannya". Kata (لَذَائِقُونَ, la-dzaa'iquuna) berakar ذ-و-ق dan berupa bentuk pelaku, yaitu orang yang merasakan. Huruf (لَ, la-) di depannya ditandai penegas dalam morfologi korpus, dan terjemahan "benar-benar" mengikutinya seperti di (أَإِنَّا لَمَدِينُونَ, a-innaa la-madiinuuna) pada 37:53, "apakah kami benar-benar akan dibalas". Bentuk pelaku dari akar ذ-و-ق muncul lima kali, yaitu di 3:185, 21:35, 29:57, 37:31, dan 37:38. Tiga ayat pertama memuat (ذَائِقَةُ الْمَوْتِ, dzaa'iqatu l-mawti) yang berarti "yang merasakan kematian", dan 37:38 memuat (لَذَائِقُو الْعَذَابِ الْأَلِيمِ, la-dzaa'iqu l-'adzaabi l-aliimi) yang berarti "benar-benar merasakan azab yang pedih". Di keempat ayat itu benda yang dirasakan disebut, sedangkan 37:31 membiarkannya tanpa nama. Terjemahan memakai "-nya" di ujung kata kerja karena bahasa Indonesia meminta benda bagi kata "merasakan", tetapi terjemahan tidak menamai benda itu "azab", sebab tidak ada kata Arab di ayat ini yang melahirkannya. Bentuk pelaku ini sendiri tidak memuat penanda waktu. Kata "akan" dipakai seragam di kelima ayat itu sebagai pilihan terjemahan, dan 37:31 tidak menyatakan apakah merasakan itu sudah dimulai.

Tafsiran

Ayat 37:31 menutup rangkaian jawab-menjawab yang dibuka di 37:27, tempat sebagian mereka menghadap sebagian yang lain dan saling bertanya. Dari 37:28 sampai 37:30 isinya tuduhan. Pembicara pertama menyebut lawannya datang dari arah kanan, lalu lawannya menjawab dengan dua kalimat yang memakai (بَلْ, bal) yang berarti "bahkan", yaitu di 37:29 dan 37:30, sehingga tiap jawaban membalik tuduhan. Ayat 37:31 tidak memakai bal dan tidak membalik apa pun. Pembicara berhenti menunjuk ke arah lawannya dan membicarakan apa yang berlaku atas pihaknya sendiri, lalu menutup dengan pernyataan tentang sesuatu yang akan dirasakan.

Hubungan dengan 37:30 terlihat pada huruf 'alaa. Di 37:30 pembicara menyatakan tidak memiliki kekuasaan 'alaykum, "atas kalian", dan di 37:31 huruf yang sama menunjuk ke arah sebaliknya, yaitu perkataan Tuhan yang berlaku atas pembicara. Susunan itu dapat dibaca sebagai peralihan dari soal siapa yang berkuasa atas siapa ke soal siapa yang menanggung perkataan itu. Ayat tidak menyatakan peralihan itu sebagai maksudnya, jadi bacaan ini tetap dugaan.

Ke depan, 37:32 menyambung dengan fa dan memuat apa yang dilakukan pembicara terhadap lawannya, lalu 37:33 memberi kabar tentang kedua pihak itu dengan kata ganti "mereka". Ayat 37:38 memakai kerangka kalimat yang sama dengan 37:31, tetapi pelakunya "kalian" dan benda yang dirasakan disebut. Dengan begitu 37:31 menjadi bentuk pertama dari kalimat itu, yang diucapkan oleh orang di dalam adegan tentang dirinya sendiri, sebelum kalimat serupa ditujukan kepada "kalian" di 37:38.

Renungan dan Hikmah

  • Pembicara di 37:31 menyebut "perkataan Tuhan kami" dan berhenti di sebutan itu, tanpa satu kata pun tentang isinya. Di 32:13 isi sebuah perkataan yang berlaku disebut dengan terang, yaitu Jahanam akan dipenuhi dengan jin dan manusia, tetapi 37:31 tidak menunjuk ke sana. Pembaca mendengar sebutannya, dan rinciannya tetap berada di luar ayat ini. Hal serupa dapat terjadi pada pembaca sendiri, yaitu menyebut sesuatu sebagai milik Tuhan sambil memegang garis besarnya saja, tanpa membaca rincian yang tertulis. Apakah rincian perkataan yang dikenal pembaca itu sudah dibaca dari sumbernya, atau sebutannya saja yang terbawa dari orang lain?
  • Pembicara di 37:31 menyebut perkataan itu "perkataan Tuhan kami", dan pembicara membicarakan Tuhan kepada lawan bicaranya, tanpa berbalik menyapa-Nya. Di 28:63, orang-orang yang kepadanya perkataan itu berlaku memanggil (رَبَّنَا, rabbanaa) yang berarti "Tuhan kami", sedangkan di 37:31 sebutan Tuhan hanya lewat di tengah kalimat. Ayat 37:31 tidak menjelaskan sebab perbedaan antara kedua adegan itu. Pembaca dapat memperhatikan kapan nama Tuhan muncul dalam percakapannya dengan sesama, apakah sebagai bahan memastikan siapa yang benar atau sebagai kata yang ditujukan langsung kepada-Nya. Siapa yang sebenarnya diajak bicara ketika nama Tuhan disebut?
  • Ayat 37:31 menutup dengan kata "merasakan" tanpa menyebut apa yang dirasakan. Di 3:185, 21:35, dan 29:57 yang dirasakan adalah kematian, dan di 37:38 adalah azab yang pedih, tetapi di 37:31 tempat benda itu dibiarkan kosong. Pembaca yang tahu sesuatu akan menimpa dirinya dapat mendapati bahwa kepastian itu terucap lebih dulu daripada namanya. Orang yang mengatakan "saya akan menanggung akibatnya" tanpa menyebut akibat apa menunjukkan kepastian yang sudah dimilikinya, sedangkan rinciannya belum ada. Apa yang terasa lebih berat, kepastian yang belum diberi nama atau nama yang sudah diketahui?
  • Dua ayat sebelum 37:31 sama-sama memuat bal, kata yang membalik ucapan lawan, dan 37:31 tidak memuatnya. Pembicara yang tadi menjawab tuduhan dengan tuduhan kini mengucapkan dua pernyataan yang menyangkut pihaknya sendiri, yaitu perkataan Tuhan telah berlaku dan pihaknya akan merasakannya. Tidak ada kata yang mengarah kepada lawan bicara, dan tidak ada permohonan, padahal di 28:63 orang-orang yang kena perkataan serupa menambahkan (تَبَرَّأْنَا إِلَيْكَ, tabarra'naa ilayka) yang berarti "kami berlepas diri kepada Engkau". Pembaca dapat bertanya pada diri sendiri, apakah kalimat terakhir dalam sebuah perselisihan lebih sering berupa bantahan atau pernyataan tentang diri sendiri, dan apa yang berubah pada perselisihan bila kalimat terakhirnya jatuh pada yang kedua?
  • Di 37:30 pembicara menyatakan tidak punya kekuasaan atas lawannya, memakai 'alaykum, dan di 37:31 huruf yang sama dipakai untuk perkataan Tuhan yang berlaku atas pembicara itu. Orang yang merasa tidak memiliki kuasa atas pilihan orang lain dapat menimbang seberapa jauh perkataan Tuhan yang berlaku atas diri sendiri sudah diperhitungkan, sebab dalam kalimat ini arah huruf 'alaa berbalik tanpa ada yang menyebutnya. Di antara dua ayat itu pembicara hanya mengubah arahnya. Orang yang sibuk menghitung berapa besar pengaruhnya atas orang lain dapat bertanya, berapa kali dalam hitungan itu perkataan Tuhan yang berlaku atas diri sendiri ikut masuk?
  • Urutan di 37:31 sampai 37:32 meletakkan pernyataan tentang apa yang akan dirasakan lebih dulu, yaitu innaa la-dzaa'iquuna, dan pengakuan tentang apa yang dilakukan sesudahnya, yaitu penyesatan di 37:32. Pembicara tidak menunggu rincian perbuatannya selesai dikatakan sebelum menyebut akibat yang menantinya. Pembaca yang menghadapi akibat dapat memperhatikan urutan ini pada diri sendiri, apakah lebih mudah mengucapkan akibat yang menunggu daripada perbuatan yang menyebabkannya. Bila nasib sudah diterima tetapi perbuatannya belum disebut, apa yang membuat orang menunda menyebutnya?