فَأَغْوَيْنَاكُمْ إِنَّا كُنَّا غَاوِينَ

Maka, kami telah menyesatkan kalian; sesungguhnya kami sendiri dahulu orang-orang yang sesat.”

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. فَأَغْوَيْنَاكُمْfa-aghwaynaakummaka, kami telah menyesatkan kalian
  2. إِنَّا كُنَّا غَاوِينَinnaa kunnaa ghaawiinasesungguhnya kami sendiri dahulu orang-orang yang sesat

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. فَأَغْوَيْنَاكُمْfa-aghwaynaakummaka kami menyesatkan kalian
  2. إِنَّاinnaasesungguhnya kami
  3. كُنَّاkunnaakami adalah
  4. غَاوِينَghaawiinaorang-orang yang sesat

Inti bacaan

Susunan (كُنَّا غَاوِينَ, kunnaa ghaawiina) muncul satu kali di Al-Qur'an (37:32), dan bentuk (غَاوِينَ, ghaawiina) muncul di empat ayat (7:175, 15:42, 26:91, 37:32).

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (فَأَغْوَيْنَاكُمْ, fa-aghwaynaakum) yang berarti "maka kami menyesatkan kalian". Bentuk ini tersusun dari awalan (فَ, fa) yang berarti "maka", kata kerja lampau yang berarti "menyesatkan" dan berakar غ-و-ي, akhiran -naa yang berarti "kami", dan akhiran (كُمْ, -kum) yang berarti "kalian". Bentuk utuh fa-aghwaynaakum hanya muncul di 37:32. Kata kerja yang sama dalam bentuk lampau ada di empat ayat, yaitu 7:16, 15:39, 28:63, dan 37:32. Di 7:16, (أَغْوَيْتَنِي, aghwaytanii) yang berarti "Engkau menyesatkanku" memakai "Engkau" sebagai pelaku, dan di 15:39 pembicara memakai kata kerja yang sama kepada Tuhannya, (بِمَا أَغْوَيْتَنِي, bi-maa aghwaytanii) yang berarti "karena Engkau menjerumuskanku". Di 28:63 dan 37:32 pelakunya "kami".

Di 28:63, (أَغْوَيْنَاهُمْ كَمَا غَوَيْنَا, aghwaynaahum ka-maa ghawaynaa) berarti "kami menyesatkan mereka sebagaimana kami sendiri sesat". Dua kata kerja dari akar yang sama berdampingan di sana. Yang pertama membawa objek -hum, "mereka", dan yang kedua tidak membawa objek. Terjemahan memakai "menyesatkan" untuk kata kerja yang membawa objek dan "sesat" untuk yang tidak, sehingga 37:32 terbaca sejajar: fa-aghwaynaakum membawa objek -kum, "kalian", sedangkan bagian kedua ayat ini menyebut keadaan pembicara sendiri.

Bagian kedua, (إِنَّا كُنَّا غَاوِينَ, innaa kunnaa ghaawiina), berarti "sesungguhnya kami dahulu orang-orang yang sesat". Kata (كُنَّا, kunnaa) berarti "kami dahulu" dan menaruh keadaan sesat itu di masa lampau pembicara. Kata (غَاوِينَ, ghaawiina) adalah bentuk pelaku jamak dari akar غ-و-ي. Bentuk ghaawiina muncul di empat ayat, yaitu 7:175, 15:42, 26:91, dan 37:32. Tiga ayat pertama memakai kata sandang al- dan menyebut golongan pihak ketiga, misalnya (فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ, fa-kaana mina l-ghaawiina) di 7:175. Ayat 37:32 tidak memakai kata sandang dan menjadikan kata itu keterangan tentang pembicara. Susunan (كُنَّا غَاوِينَ, kunnaa ghaawiina) hanya ada di 37:32. Bentuknya sejajar dengan (كُنْتُمْ قَوْمًا طَاغِينَ, kuntum qawman thaaghiina) di 37:30, yang berarti "kalian dahulu kaum yang melampaui batas". Pembicara memakai bentuk yang sejajar untuk menyebut lawan bicara di 37:30 dan menyebut diri sendiri di 37:32, dengan "kalian" diganti "kami".

Kata "sendiri" pada "kami sendiri dahulu" tidak punya kata Arab pasangannya. Terjemahan memakainya, seperti di 28:63, supaya pengulangan pelaku "kami" lewat (إِنَّا, innaa) "sesungguhnya kami", sesudah pelaku yang sama di fa-aghwaynaakum, terbaca sebagai penegasan dalam bahasa Indonesia. Kata "telah" pada "kami telah menyesatkan" berasal dari bentuk lampau kata kerjanya.

Kata (غَاوِينَ, ghaawiina) bertemu kata (سُلْطَانٌ, sulthaanun) dalam satu ayat di 15:42, (لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ إِلَّا مَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْغَاوِينَ, laysa laka 'alayhim sulthaanun illaa mani ttaba'aka mina l-ghaawiina). Ayat itu mengaitkan keduanya dengan menyatakan bahwa sulthaan atas mereka tidak ada, kecuali atas orang yang mengikuti dari golongan ghaawiina. Di 37:30 pembicara menyatakan (مِنْ سُلْطَانٍ, min sulthaanin) "kekuasaan apa pun" tidak ada pada pembicara, dan 37:32 memuat ghaawiina. Dua ayat 37:30 dan 37:32 ada dalam satu ucapan, sedangkan 15:42 berasal dari pembicaraan lain dengan pembicara dan pendengar yang berbeda. Karena itu 15:42 dicatat sebagai sebaran kedua kata, tidak untuk menafsirkan 37:32.

Tanda petik penutup di ujung terjemahan menutup ucapan yang dibuka di 37:29. Kata ganti "kami" dan "kalian" berlanjut tanpa pergantian pembicara dari 37:29 sampai ayat ini, dan 37:33 beralih ke kata ganti "mereka".

Tafsiran

Ayat 37:32 menutup ucapan yang dibuka di 37:29, dan isinya dapat dibaca sebagai jawaban atas tuduhan di 37:28. Di 37:28 pihak pertama berkata bahwa pihak kedua dahulu mendatangi mereka dari arah kanan. Selama tiga ayat pihak kedua menjawab dengan penyangkalan dan tuduhan balik: kalian tidak beriman di 37:29, kami tidak memiliki kekuasaan atas kalian di 37:30, lalu perkataan Tuhan berlaku atas kami di 37:31. Di 37:32 isi ucapan itu berganti menjadi pengakuan: kami telah menyesatkan kalian. Ayat 37:28 tidak memakai kata menyesatkan, jadi menghubungkan 37:32 dengan 37:28 adalah bacaan, dan teksnya tidak menyatakan hubungan itu.

Dalam satu ucapan yang sama ada dua pernyataan yang terlihat berjauhan, yaitu tidak memiliki kekuasaan di 37:30 dan menyesatkan di 37:32. Teks tidak menjelaskan bagaimana keduanya berjalan bersama. Teks hanya menempatkan keduanya berdekatan dan membiarkan pembaca melihat bahwa penyesatan yang diakui di sini tidak disertai klaim kekuasaan.

Ayat 37:31 dan 37:32 berbentuk serupa. Masing-masing memuat satu bagian yang dibuka fa dan satu bagian yang dibuka innaa: perkataan Tuhan berlaku lalu pembicara akan merasakannya, dan penyesatan dilakukan lalu pembicara dahulu sesat. Dengan susunan itu 37:32 terbaca sebagai pasangan 37:31, yang satu menyebut apa yang menimpa pembicara dan yang lain menyebut apa yang pembicara lakukan. Sesudah ayat ini 37:33 memberi kabar tentang mereka dengan kata ganti "mereka", sehingga pengakuan di 37:32 tidak disusul pembelaan, dan penuturan berpindah ke suara lain.

Renungan dan Hikmah

  • Di 37:29 dan 37:30 ucapan itu berisi penyangkalan, kalian tidak beriman dan kami tidak punya kekuasaan atas kalian. Ayat 37:31 menyebut perkataan Tuhan yang berlaku atas pembicara, dan 37:32 memuat pengakuan. Teks tidak menyatakan bahwa perkataan itu yang mengubah isi ucapan, jadi hubungan keduanya hanya terlihat dari urutan. Pembaca yang pernah bertahan dalam penyangkalan dapat memperhatikan apa yang terjadi tepat sebelum penyangkalannya berhenti, apakah ada fakta baru, orang baru, atau sesuatu yang terdengar seperti perkataan yang lebih besar daripada perdebatannya. Pada titik mana sebuah penyangkalan tidak lagi dapat dilanjutkan?
  • Kata kerja menyesatkan di 7:16 dan 15:39 diucapkan kepada Tuhan, dengan "Engkau" sebagai pelaku dan pembicara sebagai yang disesatkan. Di 37:32 kata kerja yang sama dipakai dengan "kami" sebagai pelaku dan "kalian" sebagai yang disesatkan, dan ucapan itu tidak mengalamatkan kata menyesatkan kepada Tuhan sama sekali. Ketiga ayat itu berbeda suasananya, dan 37:32 tidak menjelaskan mengapa arahnya lain. Pembaca dapat mengamati ke mana kata kerja itu diarahkan ketika ia menceritakan jalannya sendiri, apakah kepada keadaan, kepada orang di sekitarnya, kepada Tuhan, atau kepada diri yang membuat pilihan. Kepada siapa kata "menyesatkan" diarahkan dalam cerita pembaca tentang jalannya sendiri?
  • Kata dahulu di 37:32 menaruh keadaan sesat di masa lampau pembicara, tepat sesudah 37:31 menyebut perkataan Tuhan yang berlaku atas mereka. Dapat dibaca bahwa pembicara memandang masa lalunya dari titik sesudah perkataan itu disebut, dan dari titik itu kata sesat dapat dipakai untuk diri sendiri. Ayat tidak mengatakan kapan mereka mulai melihat diri mereka sesat. Pembaca dapat menimbang bahwa sebutan "dahulu sesat" untuk diri sendiri terucap dari tempat yang sudah berpindah, dan tidak dari tempat yang sama dengan masa yang disebut. Dari tempat mana pembaca menyebut sebuah masa dalam hidupnya sesat, dan apa yang membuatnya mampu menyebutnya demikian?
  • Ayat 37:32 menyebut dulu apa yang dilakukan terhadap orang lain, yaitu menyesatkan kalian, lalu keadaan sendiri, yaitu dahulu sesat. Di 28:63 urutannya sama, menyesatkan mereka lebih dulu lalu sesat sendiri, sehingga dua ayat itu menaruh kedua pengakuan dalam urutan yang sama pada adegan yang sejajar. Pembaca dapat bertanya apa yang lebih dulu terucap ketika mengaku, akibat bagi orang lain atau keadaan diri sendiri. Bila yang terucap lebih dulu adalah akibat pada orang lain, apa yang tersisa untuk dikatakan tentang diri sendiri?
  • Dalam pengakuan di 37:32 kata "kalian" dan "kami" tetap dua kata, dan tidak ada kata ganti yang menyatukannya. Kata yang menyatukan baru datang di 37:33, ketika suara penutur menyebut mereka bersama-sama dalam azab. Pembicara di 37:32 mengaku sesat sambil tetap berbicara kepada orang yang ia sesatkan, dan pengakuan itu tidak menghapus jarak di antara keduanya. Pembaca dapat memperhatikan bahwa sebuah pengakuan dapat benar sambil membiarkan dua pihak berdiri di tempat masing-masing, dan bahwa pihak ketigalah yang akhirnya menyebut keduanya dengan satu kata. Siapa yang menyebut dua orang yang berselisih dengan satu kata, dan kapan kata itu terdengar oleh mereka sendiri?
  • Tuduhan di 37:28 memakai kata mendatangi dari arah kanan, dan pengakuan di 37:32 memakai kata menyesatkan. Pihak yang dituduh tidak mengulang kata penuduhnya, dan mengaku dengan kata yang dipilihnya sendiri. Pembaca yang pernah menerima tuduhan dapat memperhatikan dengan kata siapa sebuah pengakuan diucapkan, kata si penuduh atau kata sendiri. Bila pengakuan memakai kata sendiri, apakah isinya masih sama dengan tuduhan yang diterimanya?