إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ يَسْتَكْبِرُونَ
Sesungguhnya dahulu, apabila dikatakan kepada mereka, “Tidak ada tuhan selain Allah,” mereka menyombongkan diri,
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُinnahum kaanuu idzaa qiila lahum laa ilaaha illa llaahusesungguhnya dahulu, apabila dikatakan kepada mereka, tidak ada tuhan selain Allah
- يَسْتَكْبِرُونَyastakbiruunamereka menyombongkan diri
Terjemahan per kata (10 kata)
- إِنَّهُمْinnahumsesungguhnya mereka
- كَانُواkaanuumereka adalah
- إِذَاidzaaapabila
- قِيلَqiiladikatakan
- لَهُمْlahumkepada mereka
- لَاlaatidak
- إِلَٰهَilaahatuhan
- إِلَّاillakecuali
- اللَّهُllaahuAllah
- يَسْتَكْبِرُونَyastakbiruunamereka menyombongkan diri
Inti bacaan
Rangkaian (لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ, laa ilaaha illa llaahu) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 37:35 dan 47:19.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (إِنَّهُمْ كَانُوا, innahum kaanuu) yang berarti "sesungguhnya mereka dahulu". Bentuk ini tersusun dari penegas (إِنَّ, inna) yang berarti "sesungguhnya", akhiran (هُمْ, -hum) yang berarti "mereka", dan kata kerja (كَانُوا, kaanuu) yang berarti "mereka dahulu". Kata kaanuu menaruh peristiwa di ayat ini pada masa sebelum "hari itu" di 37:33, dan terjemahan memakai "dahulu" untuknya. Susunan (إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا, innahum kaanuu idzaa) hanya muncul di 37:35.
Frasa (إِذَا قِيلَ لَهُمْ, idzaa qiila lahum) yang berarti "apabila dikatakan kepada mereka" muncul di sembilan ayat pada tujuh surah, yaitu 2:11, 2:13, 2:91, 4:61, 5:104, 16:24, 36:47, 37:35, dan 63:5. Kata (قِيلَ, qiila) berakar ق-و-ل dan berupa bentuk yang tidak menyebut pelaku, sehingga ayat ini tidak mengatakan siapa yang berbicara kepada mereka. Di delapan ayat lain, isi yang dikatakan kepada mereka berupa larangan, perintah, atau pertanyaan. Di 2:11 isinya (لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ, laa tufsiduu fii l-ardhi) yang berarti "janganlah kalian berbuat kerusakan di bumi", di 2:13, 2:91, 4:61, 5:104, 36:47, dan 63:5 isinya perintah seperti (تَعَالَوْا, ta'aalaw) yang berarti "marilah" dan (أَنْفِقُوا, anfiquu) yang berarti "infakkanlah", dan di 16:24 isinya pertanyaan, (مَاذَا أَنْزَلَ رَبُّكُمْ, maadzaa anzala rabbukum) yang berarti "apa yang telah Tuhan kalian turunkan?". Di 37:35 isinya sebuah pernyataan, tanpa perintah dan tanpa pertanyaan.
Pernyataan itu adalah (لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ, laa ilaaha illa llaahu) yang berarti "tidak ada tuhan selain Allah". Kata (إِلَٰهَ, ilaaha) berakar أ-ل-ه dan diterjemahkan "tuhan" dengan huruf kecil, seperti bentuk jamaknya di ayat sesudahnya, (آلِهَتِنَا, aalihatinaa) yang berarti "tuhan-tuhan kami". Rangkaian laa ilaaha illa llaahu muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 37:35 dan 47:19. Di 47:19, (فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ, fa-'lam annahu laa ilaaha illaa llaahu) berarti "ketahuilah bahwa tidak ada tuhan selain Allah", dan kalimat itu diperintahkan untuk diketahui. Di 37:35 kalimat yang sama dikatakan kepada orang lain dan disambut dengan sikap.
Kata (يَسْتَكْبِرُونَ, yastakbiruuna) yang berarti "mereka menyombongkan diri" berakar ك-ب-ر, akar yang sama dengan (كَبِيرٌ, kabiirun) yang berarti "besar" di 2:219. Bentuk yastakbiruuna muncul di tujuh ayat pada tujuh surah, yaitu 5:82, 7:206, 16:49, 21:19, 32:15, 37:35, dan 40:60. Lima ayat pertama didahului laa yang berarti "tidak", seperti (لَا يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِهِ, laa yastakbiruuna 'an 'ibaadatihi) di 7:206, "tidak menyombongkan diri dari ibadah kepada-Nya". Ayat 37:35 dan 40:60 memuatnya tanpa laa. Di 40:60, (الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي, alladziina yastakbiruuna 'an 'ibaadatii) berarti "orang-orang yang menyombongkan diri dari pengabdian kepada-Ku", dan kata kerja itu disusul keterangan tentang apa yang dijauhi, yaitu pengabdian. Di 37:35 kata kerja itu berdiri sendiri, tanpa 'an dan tanpa keterangan tentang apa yang dijauhi.
Frasa (إِذَا قِيلَ لَهُمْ, idzaa qiila lahum) dan akar ك-ب-ر berada dalam satu ayat hanya di dua tempat, yaitu 37:35 dan 63:5. Di 63:5, (وَهُمْ مُسْتَكْبِرُونَ, wa-hum mustakbiruuna) yang berarti "sambil menyombongkan diri" menyertai tindakan membuang muka dan menolak. Di 37:35 kata kerja itu menjadi seluruh penggambaran tanggapan, dan ucapan mereka baru dikutip di ayat sesudahnya.
Tafsiran
Ayat ini kembali ke masa sebelum hari yang digambarkan 37:33. Dari 37:19 sampai 37:34 adegan berlangsung pada hari itu, dan 37:35 memakai kata "dahulu" untuk menceritakan apa yang mereka lakukan apabila sebuah kalimat dikatakan kepada mereka. Ayat ini membuka dengan kata ganti "mereka", dan dapat dibaca sebagai keterangan bagi 37:34 tentang siapa yang disebut para pendosa, tetapi ayat ini tidak menyatakan hubungan itu dengan kata sebab.
Ayat ini mencatat satu sikap. Kalimat yang dikatakan kepada mereka berisi penegasan bahwa tidak ada tuhan selain Allah, dan tanggapannya disebut dengan satu kata kerja, tanpa kutipan ucapan. Ayat sesudahnya, 37:36, membuka dengan (وَيَقُولُونَ, wa-yaquuluuna) yang berarti "dan mereka berkata" dan baru memberi kata-kata. Dengan susunan itu sikap lebih dulu disebut daripada ucapan, dan ucapan tampil sebagai hasil dari sikap itu.
Ada kontras dengan 37:26. Di sana, pada hari yang sama dengan 37:33, mereka disebut (مُسْتَسْلِمُونَ, mustaslimuuna) yang berarti "yang berserah". Di 37:35 mereka disebut menyombongkan diri ketika dahulu diberi satu pernyataan pendek. Kedua kata itu menyebut dua keadaan pada dua waktu, dan ayat tidak menjelaskan apa yang mengubahnya. Ayat 37:35 juga tidak menyebut apakah semua yang disebut "mereka" di 37:33 dan 37:35 adalah orang yang sama.
Renungan dan Hikmah
- Di delapan ayat lain yang memuat apabila dikatakan kepada mereka, isinya meminta sesuatu: berhenti berbuat kerusakan, beriman, datang, berinfak, atau menjawab sebuah pertanyaan. Di 37:35 kalimat yang dikatakan berbunyi "tidak ada tuhan selain Allah", sebuah pernyataan yang tidak meminta tindakan apa pun dalam kalimatnya sendiri, dan tanggapannya tetap berupa menyombongkan diri. Pembaca dapat memperhatikan bahwa penolakan tidak harus menunggu permintaan, dan bahwa sebuah pernyataan yang tidak meminta apa pun dapat tetap disambut dengan sikap menolak. Apakah yang ditolak itu permintaannya, ataukah pernyataan tentang apa yang benar?
- Ayat 37:35 menyebut tanggapan mereka dengan satu kata kerja, menyombongkan diri, dan baru 37:36 memberi kata-kata yang mereka ucapkan. Urutan itu menaruh sikap di depan dan ucapan di belakang, sehingga ucapan di 37:36 terbaca sebagai bunyi dari sesuatu yang sudah ada. Pembaca dapat memperhatikan pada diri sendiri apa yang lebih dulu hadir ketika mendengar kalimat yang tidak ingin didengar, sikap atau kata-kata. Bila sikap itu sudah ada sebelum ada satu kata pun yang terucap, kata-kata apa yang sebenarnya sedang dibela?
- Di 40:60 kata kerja menyombongkan diri disusul keterangan tentang apa yang dijauhi, yaitu pengabdian kepada Tuhan, dan ayat itu menyebut bahwa Tuhan kalian berfirman agar mereka berdoa kepada-Nya dan menjanjikan jawaban. Di 37:35 kata kerja yang sama berdiri tanpa keterangan seperti itu. Keterangan 40:60 tidak ada di 37:35 dan tidak dipindahkan ke sana. Pembaca dapat bertanya sombong dari apa yang dirasakan ketika menolak, dari kalimat yang didengar, dari orang yang mengucapkannya, atau dari sesuatu yang dipegang erat. Bila ayat sendiri tidak merinci, apa yang membuat pembaca merasa dapat merincinya sendiri?
- Ayat 37:26 menyebut mereka berserah pada hari itu, dan 37:35 menyebut mereka menyombongkan diri pada masa dahulu. Dua kata itu menunjuk dua sikap pada dua waktu, dan ayat tidak menyebut apa yang terjadi di antara keduanya. Pembaca dapat menimbang bahwa sikap berserah dan sikap menyombongkan diri bisa bergantian pada orang yang sama tanpa ada kata yang menjelaskan peralihannya. Dalam hidup pembaca sendiri, apakah ada kalimat yang dahulu ditolak dengan sikap tegak dan kini disebut dengan sikap lain, dan apa yang menjadi perantaranya?
- Kata dikatakan di 37:35 berbentuk tanpa pelaku, sehingga ayat tidak menyebut siapa yang menyampaikan kalimat tidak ada tuhan selain Allah kepada mereka. Perhatian ayat tertuju pada yang menerima kalimat itu, dan tidak pada yang membawanya. Pembaca dapat memperhatikan bahwa dalam ayat ini sosok penyampai tidak perlu diketahui agar tanggapan penerima bisa dinilai. Bila yang tertulis adalah tanggapan penerima saja, kepada siapa pembaca menaruh perhatiannya ketika membaca sebuah ayat tentang penolakan, kepada yang menolak atau kepada yang menyampaikan?
- Di 2:13 tanggapan atas apabila dikatakan kepada mereka dikutip lengkap, yaitu apakah kami akan beriman seperti orang-orang yang kurang akal beriman, dan di 37:35 tanggapan atas tidak ada tuhan selain Allah hanya berupa satu kata kerja. Ayat 37:35 tidak mencatat satu pun alasan yang diajukan mereka. Pembaca dapat memperhatikan bahwa sebuah penolakan dapat tercatat tanpa satu pun argumen, dan catatan seperti itu menyisakan sikapnya sebagai bahan bacaan. Bila sebuah penolakan tidak memuat alasan, apa yang tersisa untuk didiskusikan dengan pihak yang menolaknya?