عَلَىٰ سُرُرٍ مُتَقَابِلِينَ

di atas dipan-dipan sambil berhadap-hadapan.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. عَلَىٰ سُرُرٍ مُتَقَابِلِينَ'alaa sururin mutaqaabiliinadi atas dipan-dipan sambil berhadap-hadapan

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. عَلَىٰ'alaaatas
  2. سُرُرٍsururindipan-dipan
  3. مُتَقَابِلِينَmutaqaabiliinaberhadap-hadapan

Inti bacaan

Bentuk (مُتَقَابِلِينَ, mutaqaabiliina) terhitung empat kali dalam seluruh mushaf (15:47, 37:44, 44:53, 56:16), dan dua di antaranya langsung menyusul (سُرُرٍ, sururin).

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (عَلَىٰ, 'alaa) yang berarti "di atas", disusul (سُرُرٍ, sururin) yang berarti "dipan-dipan". Bentuk sururin yang didahului 'alaa muncul empat kali, yaitu di 15:47, 37:44, 52:20, dan 56:15. Dengan akhiran yang berbeda kata dasarnya muncul dua kali lagi, yaitu (سُرُرٌ, sururun) di 88:13 dan (وَسُرُرًا, wa-sururan) di 43:34, sehingga seluruhnya ada enam tempat: 15:47, 37:44, 43:34, 52:20, 56:15, dan 88:13. Terjemahan memakai "dipan-dipan" di keenam tempat itu. Kata Arab lain, (الْأَرَائِكِ, l-araa'iki) di 83:23, juga diterjemahkan "dipan-dipan", dan kata itu berbeda dari sururin. Di tiga tempat dipan itu diberi sifat: (مَصْفُوفَةٍ, mashfuufatin) yang berarti "yang tersusun" di 52:20, (مَوْضُونَةٍ, mawdhuunatin) yang berarti "yang bertatah" di 56:15, dan (مَرْفُوعَةٌ, marfuu'atun) yang berarti "yang ditinggikan" di 88:13.

Ketiga sifat itu berbentuk perempuan tunggal, dan ketiganya menerangkan bendanya. Pada 37:44 kata sesudah dipan adalah (مُتَقَابِلِينَ, mutaqaabiliina) yang berarti "berhadap-hadapan", berbentuk jamak laki-laki seperti (مُكْرَمُونَ, mukramuuna) di 37:42, sehingga kata itu menerangkan orang-orang yang duduk di atas dipan, sedangkan dipannya sendiri tidak diberi sifat. Susunan lengkap (عَلَىٰ سُرُرٍ مُتَقَابِلِينَ, 'alaa sururin mutaqaabiliina) muncul dua kali, yaitu di 15:47 dan 37:44.

Kata mutaqaabiliina berakar ق-ب-ل dan muncul empat kali, yaitu di 15:47, 37:44, 44:53, dan 56:16. Sikap duduk yang dipilih ayat-ayat tentang dipan pun berbeda: di 52:20 kata (مُتَّكِئِينَ, muttaki'iina) yang berarti "bersandar" mendahului (عَلَىٰ سُرُرٍ, 'alaa sururin), sedangkan di 37:44 kata berhadap-hadapan menyusulnya. Di 44:53 kata itu menyusul pakaian sutra halus dan sutra tebal, dan di 56:16 menyusul (مُتَّكِئِينَ عَلَيْهَا, muttaki'iina 'alayhaa) yang berarti "bersandar di atasnya". Bentuk kata ini sepola dengan (يَتَسَاءَلُونَ, yatasaa'aluuna) di 37:50 yang berarti "saling bertanya" dan (يَتَنَازَعُونَ, yatanaaza'uuna) di 52:23 yang berarti "saling mengulurkan", dan pada ketiganya pelaku bertindak satu terhadap yang lain. Karena itu terjemahan memakai pengulangan "berhadap-hadapan", yang dalam bahasa Indonesia menyatakan perbuatan yang berbalas; kata "menghadap" saja akan menyiratkan satu arah. Kata "sambil" ditambahkan di ayat ini untuk menandai bahwa berhadapan menyertai duduk di atas dipan.

Ayat ini tidak merinci jumlah dipan, bahannya, banyaknya orang di tiap dipan, atau siapa yang berhadapan dengan siapa. Sifat dipan yang disebut di 52:20, 56:15, dan 88:13 tidak dipakai di sini, karena kata Arab di ayat ini tidak memuatnya.

Tafsiran

Ayat ini menempatkan para penghuni taman di atas dipan dan menyebut arah duduk mereka, yaitu berhadapan. Karena ayat ini tidak memuat kata kerja, arah itu digambarkan sebagai keadaan duduk, dan gerakan memutar badan tidak ditulis. Kata berhadap-hadapan berbentuk jamak seperti kata para penghuni di 37:42, sehingga arah itu terbaca sebagai hubungan di antara mereka, dan sikap seorang saja tidak ditulis.

Susunan yang sama muncul di 15:47, tetapi konteksnya berbeda. Di sana ayat dibuka dengan "Dan Kami cabut segala dendam yang ada dalam dada mereka", lalu menyebut kata "bersaudara" sebelum dipan dan arah duduk, dan ayat-ayat sekitarnya memuat ucapan yang di 15:49 menyebut "hamba-hamba-Ku". Di 37:44 hubungan di antara para penghuni hanya tampak dari arah duduk, dan tidak ada keterangan tentang dada atau dendam. Ayat 56:16 dan 44:53 memakai kata berhadap-hadapan bersama tindakan lain, yaitu bersandar dan berpakaian sutra, sedangkan 37:44 tidak menambahkan keterangan semacam itu.

Dalam alur surah, 37:44 melanjutkan rangkaian yang bermula di 37:40 dan masih tanpa kata kerja. Akar ق-ب-ل muncul lagi di 37:50 dalam (فَأَقْبَلَ, fa-aqbala) yang berarti "maka menghadap", dan di sana sebagian penghuni menghadap sebagian yang lain lalu saling bertanya. Dapat dibaca bahwa arah duduk di 37:44 menyiapkan pertemuan di 37:50, meskipun 37:44 sendiri tidak menyebut percakapan. Di antara keduanya, 37:45 sampai 37:49 memuat gelas, isinya, dan pendamping, sehingga dipan yang berhadapan itu dapat dibaca sebagai tempat jamuan dan tempat bertemu sekaligus.

Renungan dan Hikmah

  • Dipan di 52:20 diterangkan dengan kata "yang tersusun", di 56:15 dengan "yang bertatah", dan di 88:13 dengan "yang ditinggikan", yaitu keadaan bendanya. Di 37:44 kata sesudah dipan menerangkan orang yang duduk dan arah mereka, yaitu berhadap-hadapan, tanpa satu pun keterangan tentang bentuk atau bahan dipannya. Ketiga ayat lain berdiri dalam konteksnya masing-masing, sehingga perbedaan ini tidak dibaca sebagai pertentangan. Dapat dicatat bahwa pada ayat ini hubungan antarorang menjadi bagian yang diberi sifat. Pembaca yang menata ruang untuk bertemu dengan orang lain dapat bertanya, apakah yang lebih dahulu dipikirkan rupa perabotnya atau arah duduk orang-orang yang akan berada di sana?
  • Susunan ayat ini muncul juga di 15:47, dan di sana ayatnya dibuka dengan "Dan Kami cabut segala dendam yang ada dalam dada mereka" sebelum disebut dipan dan arah duduk. Di 7:43 kalimat pembuka yang sama dipakai untuk penghuni taman, lalu mereka berkata, "Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada ini". Ayat 37:44 tidak memuat kalimat tentang dendam, sehingga hubungan antara dendam yang dicabut dan arah duduk berhadapan hanya terbaca bila ketiga ayat itu disandingkan. Dapat dibaca bahwa berhadapan di 15:47 datang sesudah sesuatu dicabut dari dada. Pembaca dapat bertanya, terhadap siapa kursinya masih diputar membelakangi, dan apa yang tersimpan di dada sehingga arah itu belum berubah?
  • Kata "bersaudara" dalam bunyi Arab (إِخْوَانًا, ikhwaanan) muncul dua kali, yaitu di 3:103 dan 15:47. Di 3:103 kalimat sekitarnya menyatakan bahwa Allah mempersatukan hati orang-orang yang dahulu bermusuhan, sehingga dengan karunia-Nya mereka menjadi bersaudara. Ayat 3:103 berbicara kepada orang-orang di dunia dan 15:47 tentang penghuni taman, sehingga isi keduanya tidak disamakan. Dari keduanya dapat dicatat bahwa persaudaraan disebut sebagai keadaan yang datang sesudah sesuatu terjadi, yaitu sesudah hati dipersatukan di 3:103 dan sesudah dendam dicabut di 15:47. Pada hubungan yang sedang renggang, pembaca dapat bertanya, pekerjaan apa yang sedang ditunggu lebih dahulu, dan siapa yang di dalam 3:103 disebut sebagai pelakunya?
  • Kata dipan yang sama muncul di 43:34 untuk rumah-rumah orang yang kufur kepada Ar-Rahman, dalam gambaran yang diawali pengandaian di 43:33 dan ditutup 43:35 dengan penilaian bahwa semua itu kesenangan hidup dunia, sedangkan akhirat di sisi Tuhanmu bagi orang-orang yang bertakwa. Ayat 43:34 berbicara tentang pengandaian dan 37:44 tentang keadaan penghuni taman, sehingga keduanya tidak disamakan. Catatan dari kedua gambaran itu: benda yang sama namanya muncul di dua tempat yang nilainya ditimbang berbeda oleh ayat sekitarnya. Pembaca dapat bertanya, bila diundang duduk di atas dipan yang sama, apakah yang ditimbangnya perabot itu sendiri atau siapa yang berhadapan dengannya dan di sisi siapa tempat itu berada?
  • Dari 37:40 sampai 37:44 semua pelaku digambarkan dalam bentuk jamak: hamba-hamba Allah yang dimurnikan, para penerima rezeki yang sudah ditentukan, "orang-orang yang dimuliakan", dan "berhadap-hadapan". Tidak ada seorang pun yang disebut sendirian dalam rangkaian ini, dan ayat yang menyebut seorang pembicara baru muncul di 37:51 dengan "salah seorang di antara mereka". Hamba-hamba Allah di 37:40 disebut lewat kepemilikan, dan 37:44 memperlihatkan mereka berada di antara sesamanya. Ayat ini tidak mengatakan bahwa keadaan sendirian tidak ada nilainya. Pembaca dapat bertanya, dalam gambaran tentang hamba-hamba Allah, di mana pembaca biasa menempatkan dirinya: di tengah orang-orang yang berhadapan atau di sudut yang tidak terlihat siapa pun?
  • Kata berhadap-hadapan di ayat ini sepola dengan "saling bertanya" di 37:50 dan "saling mengulurkan" di 52:23, dan pada ketiganya pelaku bertindak satu terhadap yang lain. Orang yang berhadapan dengan sesamanya menghadapi sekaligus dihadapi, sehingga tidak ada pihak yang melihat tanpa dilihat. Ayat 37:44 tidak menyebut apa yang terjadi di antara mereka, dan percakapan saling bertanya baru ditulis di 37:50. Dapat dibaca bahwa duduk berhadapan membuka kemungkinan saling melihat dan saling menjawab. Pembaca dapat bertanya, dalam percakapan yang diikuti pembaca, siapa yang selama ini dihadapi tanpa pernah dihadap balik?
  • Di 83:23 orang-orang berbakti digambarkan di atas dipan-dipan sambil memandang, dan di 83:24 wajah mereka dikenali dari cahaya kenikmatan. Kata Arab untuk dipan di 83:23 berbeda dari sururin di 37:44, dan ayat itu tidak menyebut arah duduk. Dua ayat itu berbicara tentang tempat yang serupa dengan cara yang berlainan, sehingga keduanya tidak disamakan. Satu pembacaan dapat dicoba: bila arah duduk berhadapan seperti di 37:44, wajah menjadi bagian yang paling mudah terlihat oleh sesama. Pembaca dapat bertanya, wajah apa yang selama ini lebih sering diperlihatkan kepada orang yang dihadapi, dan wajah apa yang baru terlihat sesudah dendam dicabut dari dada?