بَيْضَاءَ لَذَّةٍ لِلشَّارِبِينَ
putih, lezat bagi orang-orang yang meminumnya,
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- بَيْضَاءَbaydhaa'aputih
- لَذَّةٍ لِلشَّارِبِينَladzdzatin li-sy-syaaribiinalezat bagi orang-orang yang meminumnya
Terjemahan per kata (3 kata)
- بَيْضَاءَbaydhaa'aputih
- لَذَّةٍladzdzatinkenikmatan
- لِلشَّارِبِينَli-sy-syaaribiinabagi para peminum
Inti bacaan
Kata (بَيْضَاءَ, baydhaa'a) dengan akhiran apa pun tercatat enam kali (7:108, 20:22, 26:33, 27:12, 28:32, 37:46), dan lima di antaranya menyifati tangan.
Penjelasan pilihan kata
Kata (بَيْضَاءَ, baydhaa'a) yang berarti "putih" berakar ب-ي-ض dan berbentuk perempuan tunggal. Kata gelas di 37:45, (كَأْسٍ, ka'sin), berbentuk perempuan, sedangkan (مَعِينٍ, ma'iinin) berbentuk laki-laki, sehingga kata putih terbaca menerangkan gelas, dan mata air tidak ikut diterangkan. Ayat ini tidak menyatakan apakah yang putih itu gelasnya atau isinya, dan terjemahan membiarkan "putih" berdiri tanpa kata benda. Dengan akhiran yang berbeda, kata ini muncul enam kali, yaitu di 7:108, 20:22, 26:33, 27:12, 28:32, dan 37:46. Lima ayat selain ayat ini menyebut tangan yang putih: di 7:108 dan 26:33 tertulis (بَيْضَاءُ لِلنَّاظِرِينَ, baydhaa'u li-n-naazhiriina) yang berarti "putih bagi orang-orang yang melihat", dan di 20:22, 27:12, dan 28:32 tertulis (بَيْضَاءَ مِنْ غَيْرِ سُوءٍ, baydhaa'a min ghayri suu'in) yang berarti "putih tanpa cacat". Sesudah lima ayat tentang tangan itu, 37:46 memakai kata yang sama untuk minuman. Akar ب-ي-ض yang sama menamai telur di (بَيْضٌ, baydhun) pada 37:49, tiga ayat sesudah ayat ini.
Kata (لَذَّةٍ, ladzdzatin) yang berarti "lezat" berakar ل-ذ-ذ dan muncul dua kali dengan bunyi ini, yaitu di 37:46 dan 47:15, dan di keduanya langsung mendahului (لِلشَّارِبِينَ, li-sy-syaaribiina). Di 47:15 kata itu menyifati sungai: (مِنْ خَمْرٍ لَذَّةٍ لِلشَّارِبِينَ, min khamrin ladzdzatin li-sy-syaaribiina) yang berarti "dari khamar yang lezat bagi peminumnya", sedangkan 37:46 tidak menyebut nama minumannya. Akar yang sama muncul sebagai kata kerja di 43:71 dalam (وَتَلَذُّ الْأَعْيُنُ, wa-taladzdzu l-a'yunu) yang berarti "dan disedapkan mata", sehingga akar ini dipakai juga untuk apa yang dinikmati mata. Terjemahan memakai "lezat" untuk bentuk kata sifat di 37:46 dan 47:15.
Kata (لِلشَّارِبِينَ, li-sy-syaaribiina) berakar ش-ر-ب dan tersusun dari huruf li- yang berarti "bagi" dan kata pelaku jamak yang berarti "orang-orang yang meminum". Susunan ini muncul tiga kali, yaitu di 16:66, 37:46, dan 47:15. Di 16:66 tertulis (سَائِغًا لِلشَّارِبِينَ, saa'ighan li-sy-syaaribiina) yang berarti "yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya" dan menyifati susu murni dari hewan ternak. Bentuk pelaku jamak dari akar yang sama dalam kedudukan lain, (فَشَارِبُونَ, fa-syaaribuuna), muncul dua kali, yaitu di 56:54 untuk orang-orang yang meminum air mendidih dan di 56:55 untuk mereka yang minum bagaikan unta yang sangat haus. Terjemahan memakai "bagi orang-orang yang meminumnya" di 16:66 dan 37:46, dan "bagi peminumnya" di 47:15.
Ayat ini tidak memberi nama minuman dan tidak menyebut bahannya. Warna lain selain putih dan rasa lain selain lezat juga tidak disebut. Hal yang ditiadakan dari isi gelas ditulis di ayat berikutnya.
Tafsiran
Ayat ini menambahkan dua sifat pada gelas yang diedarkan di 37:45, yaitu warna dan rasa. Keduanya dapat diperiksa pancaindra, putih oleh mata dan lezat oleh lidah, dan ayat ini menyebutnya tanpa kata kerja. Sifat kedua dikaitkan dengan pihak yang merasakannya, yaitu para peminum, sehingga kelezatan itu dinilai dari sisi orang yang minum, seperti putih di 7:108 dan 26:33 dinilai dari sisi orang yang melihat.
Susunan sifat yang sama muncul di 47:15 untuk khamar, dan karena 37:46 memakai bunyi yang sama, dapat dibaca bahwa isi gelas di 37:45 sampai 37:47 sejenis dengan minuman yang di 47:15 disebut dengan nama itu. Pembacaan ini bersifat kemungkinan, sebab 37:46 sendiri tidak menamai minumannya. Di 47:15 sifat itu menyertai satu dari empat sungai yang disebut, yaitu air, susu, khamar, dan madu, sedangkan di 37:46 sifat itu menyertai gelas.
Kata untuk pelaku yang meminum juga dipakai di 56:54 dan 56:55 bagi para peminum air mendidih. Dua gambaran itu memakai kata pelaku yang sama untuk minuman yang berbeda, dan tiap ayat berdiri dengan konteksnya sendiri.
Dalam alur ayat, 37:46 melanjutkan kalimat yang dimulai di 37:45, karena 37:45 berakhir dengan koma dan belum menyebut sifat isi gelas. Sifat yang menyenangkan disebut lebih dulu di sini, lalu 37:47 menyebut apa yang tidak ada pada isi itu. Karena itu gambaran isi gelas terbentuk dari tiga ayat berurutan: asal di 37:45, sifat di 37:46, dan peniadaan di 37:47.
Renungan dan Hikmah
- Putih di 7:108 dan 26:33 ditulis "putih bagi orang-orang yang melihat", dan lezat di 37:46 ditulis "lezat bagi orang-orang yang meminumnya", sehingga kedua sifat diberi penilai, yaitu orang yang melihat dan orang yang meminum. Ayat-ayat itu berbicara tentang hal yang berbeda, tangan di 7:108 dan 26:33 serta minuman di 37:46, dan tidak disamakan. Dapat dicatat bahwa sifat yang tampak jelas pun disandarkan pada pihak yang mengalaminya. Pembaca dapat bertanya, penilaian mana dalam hidupnya yang selama ini dianggap sifat benda, padahal bergantung pada siapa yang melihat atau mencicipinya?
- Di 47:15 kalimat "lezat bagi peminumnya" menyifati khamar dalam daftar empat sungai: air, susu, khamar, dan madu. Sesudah daftar itu ayatnya menyebut segala macam buah dan, sebagai butir terakhir dalam daftar nikmatnya, "ampunan dari Tuhan mereka". Ayat 47:15 berbicara tentang perumpamaan taman yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa, dan 37:46 tentang isi gelas, sehingga keduanya tidak disamakan. Dapat dicatat bahwa dalam 47:15 daftar hal yang menyenangkan lidah berakhir pada sesuatu yang tidak berupa rasa, yaitu ampunan dari Tuhan. Pembaca dapat bertanya, dalam daftar hal yang dinikmatinya, di mana letak ampunan dari Tuhan: di bagian akhir daftar seperti di 47:15, atau tidak tertulis sama sekali?
- Kata putih yang sama menyifati tangan di 20:22 sebagai "tanda yang lain", dan 28:32 menyebut dua tanda yang dibawa kepada Firaun sebagai "dua dalil dari Tuhanmu". Di 20:22, 27:12, dan 28:32 putih disertai kata "tanpa cacat", sedangkan di 37:46 putih disertai kata lezat, dan pernyataan tentang tiadanya yang membahayakan baru datang di 37:47. Ayat-ayat tentang tangan berbicara tentang tanda bagi Firaun dan 37:46 tentang minuman, sehingga tidak disamakan. Pembaca dapat bertanya, bila sesuatu tampak putih dan baik, pertanyaan tentang cacatnya diajukan sebelum atau sesudah menikmatinya, dan kepada siapa pertanyaan itu ditujukan?
- Kata pelaku jamak untuk peminum dipakai bagi orang yang meminum air mendidih di 56:54 dan bagi yang minum bagaikan unta yang sangat haus di 56:55, dan bagi peminum isi gelas di 37:46. Ayat 56:54 sampai 56:55 menyebut pihak lain dan minuman lain, sehingga tidak disamakan dengan 37:46. Kata untuk pelakunya sama, dan apa yang diminum yang membedakan kedua gambaran itu. Dapat dicatat bahwa satu sebutan, peminum, dapat menampung dua nasib yang berlawanan, tergantung isi gelasnya. Pembaca dapat bertanya, apa yang selama ini paling sering diteguknya dari hari ke hari, dalam arti sebenarnya maupun dalam arti apa yang terus diambilnya dari sekelilingnya?
- Susunan "bagi orang-orang yang meminumnya" dipakai di 16:66 untuk susu murni dari hewan ternak, dalam rangkaian ayat yang dibuka 16:65 dengan "Allah menurunkan air dari langit". Ayat 16:66 berbicara tentang minuman di dunia dan 37:46 tentang isi gelas dalam gambaran taman, sehingga keduanya tidak disamakan. Dapat dicatat bahwa kata untuk peminum yang sama menyebut orang yang meminum susu dan orang yang meminum isi gelas itu. Pembaca dapat bertanya, kapan terakhir minuman sehari-hari diterima sebagai pemberian dari Allah yang disebut di 16:65 dan 16:66, atau sebagai barang yang sudah semestinya ada?
- Kata putih di 37:46 berbentuk perempuan tunggal seperti kata gelas, tetapi ayat ini tidak memutuskan apakah yang putih itu gelasnya atau isinya, dan terjemahan membiarkannya demikian. Ayat 37:45 dan 37:46 bersambung dengan koma, sehingga pembaca yang menyambungkan keduanya sendiri akan menambahkan sesuatu yang tidak tertulis. Ketika sebuah teks membiarkan suatu bagian tanpa keputusan, pembaca dapat membedakan apa yang tertulis dari apa yang ditambahkan dalam pikirannya sendiri. Pembaca dapat bertanya, dalam kisah yang sering diceritakannya kepada orang lain, bagian mana yang sebenarnya tidak pernah didengar langsung dan baru ditambahkan kemudian?