قَالَ قَائِلٌ مِنْهُمْ إِنِّي كَانَ لِي قَرِينٌ

Berkatalah salah seorang di antara mereka, “Sesungguhnya aku dahulu mempunyai seorang teman,

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. قَالَ قَائِلٌ مِنْهُمْqaala qaa'ilun minhumberkatalah salah seorang di antara mereka
  2. إِنِّي كَانَ لِي قَرِينٌinnii kaana lii qariinunsesungguhnya aku dahulu mempunyai seorang teman

Terjemahan per kata (7 kata)

  1. قَالَqaalaberkata
  2. قَائِلٌqaa'ilunseorang yang berkata
  3. مِنْهُمْminhumdari mereka
  4. إِنِّيinniisesungguhnya aku
  5. كَانَkaanaada
  6. لِيliibagiku
  7. قَرِينٌqariinunpendamping

Inti bacaan

Sebutan (قَائِلٌ, qaa'ilun) muncul tiga kali di Al-Qur'an, yaitu di 12:10, 18:19, dan 37:51.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (قَالَ قَائِلٌ مِنْهُمْ, qaala qaa'ilun minhum) yang berarti "berkatalah salah seorang di antara mereka". Frasa ini muncul tiga kali di Al-Qur'an, yaitu di 12:10, 18:19, dan 37:51. Kata (قَائِلٌ, qaa'ilun) yang berarti "seseorang yang berkata" berakar ق-و-ل dan tidak diberi nama di ketiga ayat itu. Di 18:19 frasa tersebut menyusul tepat sesudah (لِيَتَسَاءَلُوا بَيْنَهُمْ, li-yatasaa'aluu baynahum) yang berarti "agar saling bertanya di antara mereka", dan di 37:51 frasa itu menyusul 37:50 yang memuat (يَتَسَاءَلُونَ, yatasaa'aluuna) yang berarti "saling bertanya". Di 12:10 tidak ada kata kerja bertanya sebelum frasa itu. Kata (مِنْهُمْ, minhum) yang berarti "di antara mereka" memuat -hum yang menunjuk para penghuni taman di 37:50, sehingga penutur ini salah satu dari mereka. Terjemahan memakai "salah seorang di antara mereka" seperti di 18:19, tanpa menambahkan nama atau sifat.

Kata (إِنِّي, innii) yang berarti "sesungguhnya aku" tersusun dari (إِنَّ, inna) yang berarti "sesungguhnya" dan (ي, -ii) yang berarti "aku". Susunan (كَانَ لِي, kaana lii) yang berarti "aku dahulu mempunyai" terdiri atas kata kerja kaana yang berbentuk lampau dan (لِي, lii) yang berarti "bagiku". Susunan lengkapnya, (إِنِّي كَانَ لِي قَرِينٌ, innii kaana lii qariinun), berarti "sesungguhnya aku dahulu mempunyai seorang teman". Terjemahan memakai "mempunyai" karena kata benda sesudah lii menyebut sesuatu yang dimiliki penutur, dan memakai "dahulu" karena kaana berbentuk lampau. Ayat ini tidak memuat kata Arab yang menyatakan kapan pertemanan itu berakhir.

Kata (قَرِينٌ, qariinun) yang berarti "seorang teman" berakar ق-ر-ن. Bentuk persis qariinun muncul dua kali, yaitu di 37:51 dan 43:36. Kata yang sama dengan akhiran atau awalan lain ada di 4:38, 43:38, 50:23, dan 50:27, sehingga seluruhnya bentuk tunggal kata ini terdapat di enam ayat. Di tiga ayat kata itu menunjuk setan. Di 43:36 bunyinya (فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ, fa-huwa lahu qariinun) yang berarti "maka ia menjadi teman baginya", sesudah setan ditetapkan bagi orang yang berpaling dari peringatan. Di 4:38 setan menjadi teman bagi orang yang menafkahkan hartanya karena ingin dilihat manusia, dan di 43:38 (الْقَرِينُ, l-qariinu) yang berarti "teman" disebut seburuk-buruk teman. Di 50:23 dan 50:27 kata itu muncul dalam (قَرِينُهُ, qariinuhu) yang berarti "teman yang menyertainya", dan kedua ayat itu tidak menyebut jenisnya. Di 37:51 teman itu tidak diberi nama atau jenis. Ayat 37:52 menuturkan ucapannya, ayat 37:55 menuturkan penutur melihatnya di tengah neraka, dan ayat 37:56 memakai kata "engkau" kepadanya, sehingga ayat-ayat itu memperlakukannya sebagai seseorang yang diajak bicara. Terjemahan memakai "teman" di keenam ayat, dan tidak menambahkan "setan" atau "manusia" di 37:51 karena ayat ini tidak menentukannya.

Terjemahan memakai tanda kutip ganda untuk ucapan penutur dan tanda kutip tunggal untuk ucapan temannya di 37:52 dan 37:53, supaya dua lapis ucapan itu terbaca.

Tafsiran

Ayat ini memindahkan cerita dari gambaran benda ke kisah seseorang, dan kisah itu dibuka dengan hal yang sudah lewat. Penutur berbicara tentang seorang teman dari masa sebelum ini.

Kalimat saling bertanya di 37:27, 37:50, dan 52:25 disusul kata kerja yang berbeda bentuknya. Di 37:28 dan 52:26 kata kerjanya jamak, (قَالُوا, qaaluu) yang berarti "mereka berkata", sedangkan di 37:51 kata kerjanya tunggal, (قَالَ, qaala) yang berarti "berkatalah", disusul qaa'ilun. Dua dari tiga percakapan dibuka oleh ucapan kelompok, dan percakapan di 37:51 dibuka oleh satu suara. Ayat 18:19 memuat susunan yang sama dengan 37:50 sampai 37:51, yaitu saling bertanya lalu salah seorang berkata, tetapi isinya berlainan. Di 18:19 ucapan salah seorang itu berupa pertanyaan, (كَمْ لَبِثْتُمْ, kam labitstum) yang berarti "sudah berapa lama kalian tinggal", sedangkan di 37:51 ucapan itu berupa cerita tentang seorang teman. Pertanyaan yang saling diajukan di 37:50 tidak dikutip, dan satu pengakuan tertulis sebagai gantinya.

Ayat ini membuka lapisan pertama dari kisah yang berlapis tiga. Penutur berbicara di 37:51, teman penutur berbicara di 37:52 sampai 37:53, dan penutur kembali berbicara di 37:54 sampai 37:57. Terjemahan ayat ini berakhir dengan koma karena kalimat penutur belum selesai, dan keterangan tentang teman itu baru datang di 37:52. Ayat 37:55 menuturkan bahwa teman itu terlihat di tengah neraka, sehingga pertemanan yang disebut dengan kata dahulu di 37:51 berada di masa yang berbeda dari keadaan yang kemudian dilihat penutur.

Renungan dan Hikmah

  • Dari seluruh keadaan taman yang baru digambarkan, hal pertama yang diceritakan penutur di 37:51 adalah seorang teman, dan tidak satu pun dari kenikmatan di 37:41 sampai 37:49. Penghuni taman itu menurut 37:40 adalah hamba-hamba Allah yang dimurnikan, dan ayat tidak menjelaskan mengapa teman itu yang pertama teringat. Satu pembacaan dapat dicoba: hubungan dengan manusia tetap tersimpan dalam ingatan bahkan di tempat yang penuh kenikmatan. Pembaca dapat bertanya, siapa yang akan teringat lebih dulu bila semua keperluannya sudah terpenuhi, dan apakah nama itu sudah pernah disebutnya dengan jujur?
  • Penutur memakai bentuk lampau, dahulu mempunyai, untuk pertemanan itu, sehingga ayat menaruhnya di masa sebelum percakapan di taman. Bentuk itu diucapkan oleh orang yang kemudian melihat temannya di 37:55, dan ayat tidak menyebut kapan pertemanan itu berakhir. Dua keadaan berdampingan dalam satu kalimat: sesuatu yang pernah dimiliki dan sesuatu yang sekarang tidak lagi ada di tangan. Hubungan mana dalam hidup pembaca yang sudah disebutnya dengan kata dahulu, dan apakah kata itu ditulis karena jarak atau karena pilihan?
  • Kata qariin dipakai di 43:36, 4:38, dan 43:38 untuk setan, dan di 50:27 teman yang menyertai seseorang berkata, "Tuhan kami, aku tidak membuatnya melampaui batas." Ayat 37:51 tidak menyebut jenis teman itu, dan kata yang sama di ayat-ayat tadi terdapat dalam kisah yang berbeda sehingga tidak dipakai untuk mengisinya. Ayat 37:52 mencatat apa yang diucapkan teman itu, dan pembacaan atas ucapan itu bergantung pada isinya, tidak pada jenis pelakunya. Pembaca dapat bertanya, ucapan siapa yang paling sering memengaruhi pegangan hidupnya, dan apakah ucapan itu pernah ditimbangnya seperti sebuah pertanyaan?
  • Ayat 37:51 berhenti sebelum isi ucapan teman itu tiba. Terjemahannya berakhir dengan koma, dan 37:52 melanjutkan. Pembaca menunggu satu ayat untuk mengetahui apa yang dikatakan teman itu, sama seperti pendengar cerita menunggu kalimat berikutnya. Cerita ini menaruh pengenalan tokoh lebih dulu dan isi ucapan sesudahnya. Seberapa sering pembaca menilai sebuah ucapan sebelum mengetahui isinya, hanya karena sudah mengenal orang yang mengucapkannya?
  • Penutur yang dibuka di 37:51 menutup ceritanya di 37:57 dengan menyebut nikmat Tuhannya sebagai sebab dirinya tidak termasuk orang-orang yang dihadirkan. Awal kisah memuat seorang teman, dan akhir kisah memuat nikmat Tuhan. Penutur tidak menyebut ketekunan atau kecerdasannya sebagai sebab. Pembaca dapat menimbang sebab apa yang biasanya disebutnya ketika ditanya mengapa berada di tempat yang sekarang, dan apakah nikmat Tuhan termasuk di dalamnya?
  • Penutur di 37:51 disebut salah seorang tanpa nama, seperti pada 12:10 dan 18:19. Di 18:19 kelompok yang dibangunkan berkata bahwa Tuhan mereka lebih mengetahui berapa lama mereka tinggal, sehingga seorang tanpa nama dapat bertanya atau bercerita di dalam kelompok yang menyerahkan pengetahuan kepada Tuhan. Kisah ini mencatat apa yang dikatakan penutur dan tidak mencatat siapa namanya. Pembaca dapat menimbang berapa banyak kebaikan yang sampai kepadanya lewat orang yang namanya tidak pernah dicatat, dan apakah itu mengubah cara menghargai ucapan?