فَاطَّلَعَ فَرَآهُ فِي سَوَاءِ الْجَحِيمِ

Maka ia menengok, lalu melihatnya di tengah-tengah neraka yang menyala-nyala.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. فَاطَّلَعَ فَرَآهُfa-ththala'a fa-ra'aahumaka ia menengok, lalu melihatnya
  2. فِي سَوَاءِ الْجَحِيمِfii sawaa'i l-jahiimidi tengah-tengah neraka yang menyala-nyala

Terjemahan per kata (5 kata)

  1. فَاطَّلَعَfa-ththala'alalu ia melihat
  2. فَرَآهُfa-ra'aahulalu ia melihatnya
  3. فِيfiidi
  4. سَوَاءِsawaa'itengah
  5. الْجَحِيمِl-jahiimineraka yang menyala-nyala

Inti bacaan

Frasa (سَوَاءِ الْجَحِيمِ, sawaa'i l-jahiimi) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 37:55 dan 44:47.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (فَاطَّلَعَ, fa-ththala'a) yang berarti "maka ia menengok". Awalan (فَ, fa) yang berarti "maka" menyambung ayat ini dengan pertanyaan di 37:54, dan kata kerjanya berbentuk lampau untuk satu pelaku laki-laki. Namanya tidak dimuat di ayat ini. Pelaku itu adalah penutur yang dibuka di 37:51, (قَالَ قَائِلٌ مِنْهُمْ, qaala qaa'ilun minhum) yang berarti "berkatalah salah seorang di antara mereka". Bentuk persis fa-ththala'a hanya muncul di 37:55. Di ayat lain, kata kerja dari akar ط-ل-ع yang sama disusul penunjuk sasaran, misalnya (فَأَطَّلِعَ إِلَىٰ إِلَٰهِ مُوسَىٰ, fa-aththali'a ilaa ilaahi muusaa) yang berarti "lalu, aku dapat menengok tuhan Musa" di 40:37. Di 37:55 tidak ada penunjuk sasaran sesudah kata kerja itu, sehingga apa yang ditengok baru terbaca pada kata kerja berikutnya.

Kata (فَرَآهُ, fa-ra'aahu) yang berarti "lalu melihatnya" tersusun dari (فَ, fa) yang berarti "lalu", kata kerja lampau dari akar ر-أ-ي, dan akhiran (هُ, -hu) yang berarti "-nya". Akhiran -hu menunjuk satu laki-laki. Di 37:51 penutur yang sama menyebut (قَرِينٌ, qariinun) yang berarti "teman", dan terjemahan 37:55 tidak menambahkan kata "teman" sesudah "melihatnya" karena tidak ada kata Arab di ayat ini yang melahirkannya. Awalan fa pertama diterjemahkan "maka" karena bersambung ke 37:54, dan awalan fa kedua diterjemahkan "lalu" karena bersambung ke kata kerja sebelumnya dalam ayat yang sama. Bentuk persis fa-ra'aahu muncul dua kali, yaitu di 35:8 dan 37:55. Di 35:8, (فَرَآهُ حَسَنًا, fa-ra'aahu hasanan) yang berarti "sehingga ia memandangnya baik", kata kerja itu disusul kata sifat yang menilai. Di 37:55 kata kerja itu disusul keterangan tempat, sehingga terjemahan memakai "melihat" dan tidak memakai "memandang".

Kata (سَوَاءِ, sawaa'i) yang berarti "tengah-tengah" berakar س-و-ي dan menyusul (فِي, fii) yang berarti "di". Bentuk sawaa'i dengan akhiran -i muncul lima kali di empat surah, yaitu di 5:60, 5:77, 37:55, 38:22, dan 44:47. Surah 5 memuatnya dua kali, dan itu sebabnya lima kemunculan tersebar di empat surah. Di semua tempat itu sawaa'i langsung disusul kata benda lain. Di 5:60 dan 5:77 bunyinya (سَوَاءِ السَّبِيلِ, sawaa'i s-sabiili), dan di 38:22 (سَوَاءِ الصِّرَاطِ, sawaa'i sh-shiraathi). Terjemahan memakai "jalan yang lurus" di tiga ayat itu karena kata benda yang menyusul menyebut sebuah jalan. Di 37:55 dan 44:47 kata benda yang menyusul menyebut sebuah tempat, yaitu neraka, sehingga terjemahan memakai "tengah-tengah". Padanan dipilih menurut kata benda yang menyusul, dan hubungan kedua padanan itu tidak diterangkan di Al-Qur'an.

Kata (الْجَحِيمِ, l-jahiimi) yang berarti "neraka yang menyala-nyala" berakar ج-ح-م. Kata ini muncul enam kali di surah 37, yaitu di 37:23, 37:55, 37:64, 37:68, 37:97, dan 37:163. Terjemahan memakai "neraka yang menyala-nyala" di 37:23, 37:64, 37:68, dan 37:97, sehingga pembaca mengenali kata yang sama di tiap tempat. Frasa utuh (سَوَاءِ الْجَحِيمِ, sawaa'i l-jahiimi) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 37:55 dan 44:47. Di 44:47, (خُذُوهُ فَاعْتِلُوهُ إِلَىٰ سَوَاءِ الْجَحِيمِ, khudzuuhu fa-'tiluuhu ilaa sawaa'i l-jahiimi) yang berarti "tangkaplah dia, lalu seretlah dia ke tengah-tengah neraka yang menyala-nyala", frasa itu didahului dua kata perintah dan memakai (إِلَىٰ, ilaa) yang berarti "ke". Di 37:55 yang dipakai fii, "di", dan tidak ada kata perintah ataupun pelaku yang membawa. Cara orang itu sampai di sana tidak dimuat di ayat ini, sehingga terjemahan tidak menambahkan "dibawa" atau "diseret".

Tafsiran

Ayat ini memuat jawaban atas pertanyaan di 37:54, dan jawabannya berupa tindakan. Penutur bertanya, "Maukah kalian menengok?", lalu 37:55 memuat satu kata kerja tunggal, yaitu menengok. Kata "ya" atau "tidak" dari para pendengar tidak dicatat. Dari sini pembicaraan di taman beralih dari kutipan ucapan teman ke apa yang dilihat dan apa yang dikatakan kepada yang dilihat.

Suara dalam ayat ini adalah suara pencerita. Dari 37:51 sampai 37:54 setiap kalimat adalah ucapan yang dikutip, yaitu ucapan penutur dan ucapan temannya, sedangkan 37:55 menuturkan dua gerakan dan satu tempat tanpa tanda kutip. Dua kata kerja itu berurutan, menengok lalu melihat, dan sesudahnya baru ada ucapan di 37:56. Pencerita tidak menambahkan kata sifat perasaan di antara melihat dan berbicara.

Dua tempat hadir dalam satu percakapan. Menurut 37:43, orang-orang yang mengobrol sejak 37:50 berada di taman kenikmatan, dan menurut 37:55 teman itu berada di tengah neraka. Pemandangan di neraka masuk ke percakapan itu lewat penglihatan penutur. Ayat ini tidak menyebut jarak antara dua tempat itu, tidak menyebut apakah penutur berpindah tempat, dan tidak memuat cara penglihatan itu terjadi.

Teman itu terlihat, tetapi tidak terdengar. Kata-kata terakhir yang dikutip darinya ada di 37:52 sampai 37:53, berupa pertanyaan tentang pembenaran dan pertanggungjawaban, dan 37:55 tidak mencatat ucapan apa pun darinya di neraka. Ucapan yang ada sesudahnya, di 37:56 sampai 37:57, datang dari penutur seorang diri. Ayat ini juga tidak memakai kata sebab untuk menghubungkan keraguan di 37:53 dengan tempat di 37:55, sehingga hubungan keduanya baru dapat dibaca dari urutan ayat.

Renungan dan Hikmah

  • Percakapan yang dibuka di 37:50 berlangsung di taman kenikmatan menurut 37:43, dan 37:55 menaruh seorang teman di tengah neraka di dalam percakapan yang sama. Dua tempat yang berlawanan itu hadir dalam satu cerita yang dituturkan oleh satu orang, sehingga cerita itu memuat dua orang yang dahulu berteman dan sekarang berada di dua tempat yang berbeda. Menurut 37:40 sampai 37:43, taman itu ditempati hamba-hamba Allah yang dimurnikan. Ayat tidak menjelaskan jarak antara dua tempat itu. Dua orang yang hari ini duduk semeja dapat bertanya kepada dirinya sendiri, apakah keduanya yakin akan berada di tempat yang sama kelak, dan apa yang membuat keyakinan itu terasa wajar?
  • Ayat 37:55 menyebut tempat teman itu dan tidak menyebut langkah yang mengantarnya ke sana. Di 44:47 jalan itu disebut dalam bentuk dua kata perintah, menangkap lalu menyeret, dan di 37:22 sampai 37:23 ada perintah mengumpulkan orang-orang zalim beserta apa yang mereka sembah selain Allah, lalu menunjukkan jalan ke neraka. Ketiga ayat itu berbicara tentang peristiwa yang berlainan, dan 37:55 tidak menghubungkan teman itu dengan salah satunya. Pembaca yang menyaksikan akhir hidup seseorang dapat bertanya, apakah dirinya pernah melihat langkah-langkah kecil yang mengantar orang itu ke sana, dan apa yang dilakukannya ketika langkah itu masih terasa kecil?
  • Teman di 37:53 meragukan bahwa dirinya akan dimintai pertanggungjawaban, dan penutur di 37:55 melihat teman itu di tengah neraka, dengan satu ayat ajakan di antaranya. Ayat tidak mengatakan bahwa teman itu mengubah pendapatnya dan tidak mencatat kata apa pun darinya di sana. Penutur mendengar sendiri keraguan itu di 37:52 sampai 37:53, dan penutur pula yang kemudian melihat keadaan pengucapnya. Orang yang pernah menyampaikan keraguannya kepada seorang kawan dapat bertanya, apakah dirinya siap bila ucapan itu dikenang oleh orang yang mendengarnya, dan bagaimana dirinya ingin diingat oleh kawan yang kelak berdiri di tempat yang lain dari tempatnya?
  • Ayat 37:55 melaporkan dua kata kerja dan satu tempat tanpa kata sifat perasaan, lalu 37:56 membuka ucapan dengan sumpah atas nama Allah. Pemandangan dicatat lebih dulu, dan penilaian datang sesudahnya dalam ucapan kepada orang yang dilihat. Urutan itu memberi ruang antara melihat dan berkata. Orang yang baru melihat sesuatu yang berat dapat memperhatikan bagaimana bicaranya terdengar pada saat pertama, apakah kata-katanya menyusul penglihatan dengan sabar atau mendahuluinya? Dalam 37:56 ucapan pertama penutur kepada temannya memuat nama Allah, sehingga kata pertama sesudah pemandangan itu menyebut Dia sebelum menyebut apa pun tentang temannya.
  • Akhiran pada kata melihatnya di 37:55 menunjuk seseorang yang terakhir disebut di 37:51, yaitu teman penutur, dan ayat tidak memperkenalkannya lagi. Teman itu dikutip di 37:52 sampai 37:53, lalu tidak disebut di 37:54, dan baru muncul kembali lewat penglihatan di 37:55. Cara penutur mengenali temannya tidak dimuat di ayat itu, dan penutur tidak dikutip bertanya siapa orang itu. Orang yang kini berada di taman, menurut 37:43, masih mengingat seorang kawan dari masa lalu, dan di 37:56 orang itu menyebut nama Allah ketika berbicara kepadanya. Pembaca dapat bertanya, teman lama mana yang masih terbayang jelas dalam ingatannya, dan apakah dirinya pernah menyebut nama Allah ketika berbicara kepadanya?
  • Urutan di 37:55 sampai 37:57 adalah melihat teman, berbicara kepadanya, lalu menyebut nikmat Tuhannya. Penutur tidak mulai dengan pernyataan syukur. Penutur mulai dengan melihat keadaan orang lain, dan baru di 37:57 ia mengatakan bahwa sekiranya tidak ada nikmat Tuhannya, dirinya termasuk orang-orang yang dihadirkan. Ayat 37:55 sendiri tidak menyebut Tuhan, sehingga hubungan antara melihat dan menyebut nikmat baru terbaca dari ayat sesudahnya. Satu pembacaan dapat dicoba, yaitu bahwa kesadaran akan nikmat Tuhan dapat tumbuh ketika keadaan sendiri disandingkan dengan keadaan orang lain. Dapatkah pembaca menyebut nikmat Tuhannya tanpa lebih dulu menengok keadaan orang yang lain?