قَالَ تَاللَّهِ إِنْ كِدْتَ لَتُرْدِينِ
Ia berkata, “Demi Allah, sungguh engkau hampir membinasakanku,
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- قَالَqaalaia berkata
- تَاللَّهِta-llaahidemi Allah
- إِنْ كِدْتَ لَتُرْدِينِin kidta la-turdiinisungguh engkau hampir membinasakanku
Terjemahan per kata (5 kata)
- قَالَqaalaberkata
- تَاللَّهِta-llaahidemi Allah
- إِنْinsungguh
- كِدْتَkidtaengkau hampir
- لَتُرْدِينِla-turdiinimembinasakanku
Inti bacaan
Bentuk (كِدْتَ, kidta) yang berarti "engkau hampir" muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 17:74 dan 37:56.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (قَالَ, qaala) yang berarti "ia berkata". Kata kerja ini berbentuk lampau untuk satu pelaku laki-laki dan tidak memakai awalan fa, padahal 37:55 memuat dua fa untuk menengok dan melihat. Pelakunya penutur yang sama sejak 37:51, dan terjemahan membuka tanda kutip ganda yang baru karena yang diucapkan sekarang ditujukan kepada orang yang dilihatnya.
Kata (تَاللَّهِ, ta-llaahi) yang berarti "demi Allah" tersusun dari awalan sumpah (تَ, ta-) dan (اللَّهِ, llaahi) yang berarti "Allah". Bentuk ta-llaahi muncul sembilan kali di lima surah, yaitu di 12:73, 12:85, 12:91, 12:95, 16:56, 16:63, 21:57, 26:97, dan 37:56. Dua kata yang berurutan, (تَاللَّهِ إِنْ, ta-llaahi in), hanya ada di 26:97 dan 37:56. Di 26:97, (تَاللَّهِ إِنْ كُنَّا لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ, ta-llaahi in kunnaa la-fii dhalaalin mubiinin) yang berarti "demi Allah, sungguh kami dahulu benar-benar dalam kesesatan yang nyata", kata in dan awalan la- bekerja bersama untuk menegaskan, dan terjemahan memakai "sungguh". Susunan in dan la- yang sama ada di 39:56, (وَإِنْ كُنْتُ لَمِنَ السَّاخِرِينَ, wa-in kuntu la-mina s-saakhiriina) yang berarti "dan sungguh, aku benar-benar termasuk orang-orang yang mengolok-olok". Kata "jika" tidak cocok untuk kedua kalimat itu. Karena susunan di 37:56 sama, in di ayat ini diterjemahkan "sungguh" juga, dan kata "saja" tidak dipakai karena tidak ada kata Arab yang melahirkannya.
Kata (كِدْتَ, kidta) yang berarti "engkau hampir" berasal dari kata kerja yang menyatakan sesuatu hampir terjadi, dan akhiran -ta menunjuk satu laki-laki yang diajak bicara, yaitu teman yang dilihat di 37:55. Bentuk kidta muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 17:74 dan 37:56. Di 17:74, (لَقَدْ كِدْتَ تَرْكَنُ إِلَيْهِمْ شَيْئًا قَلِيلًا, la-qad kidta tarkanu ilayhim syay'an qaliilan) yang berarti "sungguh engkau hampir condong kepada mereka sedikit", kata kerja yang menyusul menyebut perbuatan yang nyaris terjadi, dan ayat itu didahului (وَلَوْلَا أَنْ ثَبَّتْنَاكَ, wa-lawlaa an tsabbatnaaka) yang berarti "dan sekiranya Kami tidak meneguhkanmu". Di 37:56 kata kerja yang menyusul juga menyebut perbuatan yang nyaris terjadi, dan pengandaian seperti di 17:74 datang di ayat berikutnya, 37:57. Dua ayat itu berbicara tentang orang dan peristiwa yang berlainan.
Kata (لَتُرْدِينِ, la-turdiini) yang berarti "sungguh engkau membinasakanku" tersusun dari (لَ, la-) yang berarti "sungguh", kata kerja (تُرْدِي, turdii) yang berarti "engkau membinasakan", dan akhiran -ni yang berarti "aku" sebagai sasaran perbuatan. Akarnya ر-د-ي dipakai di enam ayat, yaitu 5:3, 6:137, 20:16, 37:56, 41:23, dan 92:11. Di 6:137, (لِيُرْدُوهُمْ, li-yurduuhum) yang berarti "agar membinasakan mereka", dan di 41:23, (أَرْدَاكُمْ, ardaakum) yang berarti "telah membinasakan kalian", ada pelaku yang membuat pihak lain binasa, sama dengan 37:56. Di 20:16, (فَتَرْدَىٰ, fa-tardaa) yang berarti "sehingga engkau binasa", dan di 92:11, (تَرَدَّىٰ, taraddaa) yang berarti "dia telah binasa", pelaku dan yang binasa adalah orang yang sama. Di 5:3, (وَالْمُتَرَدِّيَةُ, wa-l-mutaraddiyatu) yang berarti "dan yang jatuh", terjemahan memakai kata lain karena kata itu berada dalam daftar bangkai dan hewan yang mati. Padanan "mencelakakanku" tidak dipakai untuk akar ini di ayat lain, sehingga terjemahan memakai "membinasakanku" seperti di 6:137 dan 41:23.
Tafsiran
Ayat ini adalah ucapan pertama penutur kepada temannya sejak 37:51. Sampai 37:54 teman itu hanya dibicarakan kepada para pendengar dengan sebutan "seorang teman" atau dikutip ucapannya, dan di 37:56 teman itu disapa langsung dengan "engkau". Perubahan dari berbicara tentang seseorang menjadi berbicara kepadanya terjadi sesudah penutur melihat orang itu di tengah neraka.
Ucapan ini terdiri dari sumpah, lalu penilaian atas apa yang hampir terjadi. Kalimatnya belum selesai di ujung ayat, sebab terjemahan berakhir dengan koma dan 37:57 menyambungnya dengan sebab perbuatan itu tidak sampai terjadi. Karena itu 37:56 menyebut bahaya lebih dulu, dan 37:57 menyebut apa yang menahan bahaya itu. Penutur tidak menyebut apa yang dilakukan temannya, dan hubungan dengan pertanyaan teman di 37:52 sampai 37:53 hanya dapat dibaca dari kedekatan ayat-ayatnya.
Sumpah dengan ta-llaahi di sini mengingatkan pada 26:97, tetapi arahnya lain. Di 26:96 orang-orang yang bertengkar di dalam neraka bersumpah tentang diri mereka sendiri, bahwa mereka dahulu dalam kesesatan yang nyata. Di 37:56 sumpah itu diucapkan oleh orang yang berada di taman, ditujukan kepada orang yang berada di neraka, dan isinya tentang bahaya yang nyaris menimpa penutur sendiri. Dua ayat itu sama-sama menaruh sumpah atas nama Allah di dekat gambaran neraka, tetapi pelaku, tujuan, dan isinya berbeda.
Teman yang disapa tidak dikutip menjawab. Sampai 37:60 tidak ada kata kerja berkata yang menunjuk dia, dan ucapan di 37:58 sampai 37:59 memakai kata kita tanpa menyebut siapa yang diajak bicara.
Renungan dan Hikmah
- Penutur di 37:56 mengukur jaraknya sendiri dari kebinasaan dengan kata hampir, dan tidak dengan kata sudah. Perbuatan yang nyaris terjadi itu tidak sampai terjadi, dan 37:57 menamai penahannya, yaitu nikmat Tuhannya. Dua ayat itu tidak merinci peristiwa apa yang hampir menimpanya. Orang yang pernah lolos dari sesuatu dengan jarak sangat tipis dapat memperhatikan bagaimana kejadian itu diceritakannya kemudian, apakah sebagai keberuntungan pribadi atau sebagai pemberian dari pihak lain? Di 37:57 penutur memilih kata nikmat Tuhannya. Jarak tipis mana dalam hidup pembaca yang belum pernah diberinya nama, dan siapa yang berdiri di sisi lain jarak itu?
- Ayat 37:56 menyapa teman itu dengan kata engkau, dan sapaan pertama itu membawa nama Allah dalam sumpah. Orang yang hampir dibinasakan oleh temannya tidak dikutip memakai kata kasar atau kata benci di ayat ini. Kata pertama yang keluar sesudah pemandangan di 37:55 adalah sumpah atas nama Allah, lalu penilaian atas apa yang nyaris terjadi. Ayat tidak menyebut perasaan penutur terhadap temannya, dan pembaca tidak perlu menambahkannya. Pembaca dapat bertanya, bila suatu hari pembaca berhadapan dengan orang yang pernah hampir menjatuhkannya, kata pertama apa yang akan diucapkannya, dan apakah ada nama Allah di dalamnya?
- Rangkaian ta-llaahi in dipakai di 26:97 oleh orang-orang yang bertengkar di neraka untuk mengaku bahwa mereka dahulu dalam kesesatan yang nyata, dan di 37:56 oleh orang dari taman untuk menyebut bahaya yang hampir menimpanya. Sumpah atas nama Allah di sana mengantar pengakuan tentang kesalahan diri sendiri, dan di sini mengantar kesaksian tentang jarak antara dua orang. Dua ayat itu berbicara tentang peristiwa yang berlainan, dan tidak ada kata sebab yang menghubungkannya. Dapat dibaca bahwa sumpah yang sama cocok untuk dua hal yang berat diucapkan, yaitu mengaku salah dan bersyukur selamat. Kalimat berat apa yang pernah pembaca ucapkan dengan menyebut nama Allah, dan hal apa yang ingin disaksikannya sebelum mengucapkan kalimat serupa?
- Orang yang hampir membinasakan penutur di 37:56 adalah teman yang disebut di 37:51, yaitu kawan yang dahulu dekat dengannya. Ayat tidak merinci caranya, dan dapat dibaca bahwa pertanyaan teman di 37:52 sampai 37:53 termasuk di dalamnya, sebab pertanyaan itu menyangsikan pembenaran dan pertanggungjawaban. Pembacaan ini bersifat kemungkinan, karena 37:56 tidak menyambungkannya dengan kata sebab. Bahaya yang disebut di sini datang dari kawan yang berada di dekat, dan tidak dari pihak asing. Pembaca dapat bertanya, pertanyaan dari siapa yang pernah hampir menggoyahkan hal yang dipegangnya, dan apakah pertanyaan itu pernah dibawanya ke hadapan Allah sebelum dibicarakan dengan kawannya?
- Kata kerja membinasakan di 37:56 berasal dari akar yang sama dengan 41:23, tempat pelakunya adalah sangkaan, yaitu sangkaan terhadap Tuhan yang telah dipegang orang-orang yang diajak bicara di ayat itu. Di 37:56 pelakunya seorang teman, dan di 41:23 pelakunya sangkaan. Dua ayat itu berbeda suasana dan tidak disamakan, tetapi keduanya memakai kata kerja yang sama untuk sesuatu yang membuat orang lain binasa. Pembaca dapat bertanya, sangkaan apa tentang Tuhannya yang pernah dipegangnya tanpa pernah diperiksa, dan siapa atau apa yang memasukkan sangkaan itu ke dalam pikirannya?
- Ayat 37:56 menyebut bahaya yang hampir menimpa penutur, dan penyelamat disebut di ayat sesudahnya, 37:57, dengan kata nikmat Tuhanku. Kalimat itu berakhir dengan koma di ujung 37:56, sehingga pembaca harus menanggung gambaran bahaya sejenak sebelum mengetahui apa yang menahannya. Ucapan syukur penutur dibangun dengan urutan itu, bahaya lebih dulu dan penolongnya kemudian. Orang yang menceritakan kembali kejadian yang hampir menimpanya dapat memperhatikan urutannya sendiri, apakah ceritanya dimulai dari bahaya atau dari Tuhan yang menahannya?