وَلَوْلَا نِعْمَةُ رَبِّي لَكُنْتُ مِنَ الْمُحْضَرِينَ
dan sekiranya bukan lantaran nikmat Tuhanku, pastilah aku termasuk orang-orang yang dihadirkan.”
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- وَلَوْلَا نِعْمَةُ رَبِّيwa-lawlaa ni'matu rabbiidan sekiranya bukan lantaran nikmat Tuhanku
- لَكُنْتُ مِنَ الْمُحْضَرِينَla-kuntu mina l-muhdhariinapastilah aku termasuk orang-orang yang dihadirkan
Terjemahan per kata (6 kata)
- وَلَوْلَاwa-lawlaadan sekiranya tidak
- نِعْمَةُni'matunikmat
- رَبِّيrabbiiTuhanku
- لَكُنْتُla-kuntusungguh aku adalah
- مِنَminadari
- الْمُحْضَرِينَl-muhdhariinaorang-orang yang dihadirkan
Inti bacaan
Frasa (مِنَ الْمُحْضَرِينَ, mina l-muhdhariina) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 28:61 dan 37:57.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (وَلَوْلَا, wa-lawlaa) yang berarti "dan sekiranya tidak ada". Awalan (وَ, wa) yang berarti "dan" menyambung ayat ini dengan 37:56, yang berakhir dengan koma, sehingga dua ayat itu terbaca sebagai satu kalimat. Di sejumlah ayat lain lawlaa menyebut sesuatu yang menahan terjadinya hal yang buruk. Di 2:64, (فَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَكُنْتُمْ مِنَ الْخَاسِرِينَ, fa-lawlaa fadhlu llaahi 'alaykum wa-rahmatuhu la-kuntum mina l-khaasiriina) yang berarti "maka sekiranya tidak ada karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kalian, niscaya kalian termasuk orang-orang yang rugi", penahannya karunia dan rahmat. Di 68:49, (لَوْلَا أَنْ تَدَارَكَهُ نِعْمَةٌ مِنْ رَبِّهِ, lawlaa an tadaarakahu ni'matun min rabbihi) yang berarti "sekiranya dia tidak segera mendapat nikmat dari Tuhannya", penahannya nikmat. Di 17:74 penahannya peneguhan. Di 37:57 penahannya nikmat, dan hal buruk yang tertahan datang di ujung ayat.
Kata (نِعْمَةُ, ni'matu) yang berarti "nikmat" berakar ن-ع-م, dan (رَبِّي, rabbii) yang berarti "Tuhanku" tersusun dari rabb, "Tuhan", dan akhiran -ii yang berarti "-ku". Frasa (نِعْمَةُ رَبِّي, ni'matu rabbii) muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 37:57. Kata nikmat bersama Tuhan muncul di tempat lain dengan penyapa, yaitu (نِعْمَةِ رَبِّكَ, ni'mati rabbika) yang berarti "nikmat Tuhanmu" di 68:2 dan 93:11, dan di 68:49 dengan kata ganti orang ketiga. Di 37:57 pemilik nikmat itu sendiri yang menyebutnya, dengan kata ganti "-ku". Terjemahan memakai "nikmat" untuk ni'mah di semua tempat itu. Wujud nikmat itu tidak diterangkan di ayat ini.
Kata (لَكُنْتُ, la-kuntu) yang berarti "pastilah aku termasuk" tersusun dari (لَ, la-) yang berarti "pastilah" dan kata kerja lampau (كُنْتُ, kuntu) yang berarti "aku adalah", dengan akhiran -tu untuk satu pembicara. Susunan (لَكُنْتُ مِنَ, la-kuntu mina) muncul dua kali, yaitu di 37:57 dan 39:57. Di 39:57, (لَوْ أَنَّ اللَّهَ هَدَانِي لَكُنْتُ مِنَ الْمُتَّقِينَ, law anna llaaha hadaanii la-kuntu mina l-muttaqiina) yang berarti "seandainya Allah memberiku petunjuk, tentu aku termasuk orang-orang yang bertakwa", diucapkan oleh jiwa yang menyesal di 39:56. Susunannya sama, tetapi hasil yang dibayangkan berlawanan, yaitu di 39:57 sebuah kebaikan yang tidak dimiliki, dan di 37:57 sebuah keburukan yang tidak menimpa. Pengandaiannya pun berlainan, yaitu law anna di 39:57 dan lawlaa di 37:57.
Kata (الْمُحْضَرِينَ, l-muhdhariina) yang berarti "orang-orang yang dihadirkan" berakar ح-ض-ر dan berbentuk jamak untuk pihak yang dikenai perbuatan. Frasa (مِنَ الْمُحْضَرِينَ, mina l-muhdhariina) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 28:61 dan 37:57. Di 28:61, (ثُمَّ هُوَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنَ الْمُحْضَرِينَ, tsumma huwa yawma l-qiyaamati mina l-muhdhariina) yang berarti "kemudian pada hari Kiamat ia termasuk orang-orang yang dihadirkan", saat itu disebut, sedangkan di 37:57 tidak ada keterangan waktu. Bentuk (مُحْضَرُونَ, muhdharuuna) muncul tujuh kali di empat surah, yaitu di 30:16, 34:38, 36:32, 36:53, 36:75, 37:127, dan 37:158. Terjemahan memakai "dihadirkan" di semua tempat itu dan di 3:30, sehingga pembaca mengenali kata yang sama. Di 37:127 dan 37:158 kata ini berbunyi (لَمُحْضَرُونَ, la-muhdharuuna), dan ayat sesudahnya, 37:128 dan 37:160, memuat (إِلَّا عِبَادَ اللَّهِ الْمُخْلَصِينَ, illaa 'ibaada llaahi l-mukhlashiina) yang berarti "kecuali hamba-hamba Allah yang dimurnikan". Ke mana mereka dihadirkan dan oleh siapa tidak dinyatakan di 37:57, sehingga terjemahan tidak menambahkan "ke neraka" atau "diseret".
Tafsiran
Ayat ini menutup ucapan penutur kepada temannya dengan sebab dan akibat yang tidak terjadi. Penutur menyebut nikmat Tuhannya sebagai sebab, lalu membayangkan dirinya termasuk orang-orang yang dihadirkan seandainya sebab itu tidak ada. Dengan koma di ujung 37:56, bahaya dan penahannya berada dalam satu kalimat. Tanda kutip yang dibuka di 37:56 ditutup di ujung 37:57, dan 37:58 membuka kutipan baru.
Penutur menyebut dirinya sendiri sebagai pihak yang mungkin termasuk orang-orang yang dihadirkan, dan ayat tidak menyebut temannya masuk dalam kelompok itu. Dapat dibaca bahwa sapaan di 37:56 dan pemandangan di 37:55 menjadi alasan penutur menyebut kelompok ini, karena temannya terlihat di neraka. Pembacaan ini bersifat kemungkinan, sebab 37:57 tidak menyebut temannya.
Surah 37 menyebut kelompok yang dihadirkan dua kali lagi, dan keduanya dibatasi dengan pengecualian. Di 37:127 orang-orang yang mendustakan disebut akan dihadirkan, dan 37:128 berkata kecuali hamba-hamba Allah yang dimurnikan. Di 37:158 kata mereka, yang dapat merujuk kepada jin atau kepada orang-orang yang menjadikan nasab antara Dia dan jin, disebut akan dihadirkan, dan 37:160 mengulang pengecualian yang sama. Pengecualian itu sama dengan yang disebut di 37:40 untuk orang-orang yang berada di taman, yaitu tempat penutur 37:57 berada menurut 37:43 dan 37:50. Karena itu percakapan di 37:55 sampai 37:57 memuat dua posisi dalam pembagian yang disebut surah ini, yaitu hamba yang dimurnikan dan orang yang dihadirkan.
Penutur menyebut nikmat Tuhannya sebagai alasan, dan amalnya sendiri tidak disebut di ayat ini. Hubungan antara nikmat itu dan kedudukan penutur di antara hamba-hamba yang dimurnikan dibiarkan terbuka oleh teks.
Renungan dan Hikmah
- Ketika penutur di 37:57 menyebut mengapa dirinya tidak termasuk orang-orang yang dihadirkan, penutur menunjuk nikmat Tuhannya, dan amalnya sendiri tidak disebut di ayat itu. Ayat 37:58 sampai 37:60 juga tidak memuat daftar kebaikan siapa pun. Pembaca dapat membandingkan jawaban itu dengan jawabannya sendiri bila suatu hari ditanya mengapa dirinya berada di tempatnya sekarang, di antara orang-orang yang dekat dengannya, di pekerjaannya, atau di tengah keluarganya. Apakah jawaban pertama yang muncul menyebut kerja kerasnya, atau menyebut nikmat Tuhannya yang menyertai kerja itu? Dua jawaban itu memberi tempat yang berbeda bagi diri sendiri dan bagi Tuhan.
- Kalimat di 37:57 membayangkan sebuah keburukan yang tidak menimpa penutur, yaitu termasuk orang-orang yang dihadirkan. Di 39:57 kalimat dengan susunan yang sama membayangkan kebaikan yang tidak dimiliki, yaitu termasuk orang-orang yang bertakwa, dan diucapkan oleh jiwa yang menyesal di 39:56 setelah mengaku lalai terhadap Allah. Dua pengandaian itu berasal dari ucapan orang yang berlainan, di saat yang berlainan. Pengandaian di 37:57 membuat orang berterima kasih atas apa yang tidak terjadi, dan pengandaian di 39:57 membuat orang menyesali apa yang tidak dimiliki. Kejadian apa dalam hidup pembaca yang tidak menimpanya, dan pernahkah pembaca menyebutnya dengan nama nikmat?
- Surah 37 menyebut orang-orang yang dihadirkan di 37:127 dan 37:158, dan sesudah keduanya datang pengecualian untuk hamba-hamba Allah yang dimurnikan. Penutur di 37:57 berada di antara kedua posisi itu dalam ucapannya sendiri, sebagai orang yang berada di taman dan sebagai orang yang membayangkan dirinya di kelompok yang lain. Dalam kalimat penutur, jarak antara dua kelompok itu dibuka oleh kata sekiranya tidak ada. Ayat tidak menjelaskan apa yang menempatkan seseorang pada sisi yang satu atau sisi yang lain, dan tidak menyebut temannya berada di kelompok mana. Pembaca dapat bertanya, pada hal apa dalam hidupnya garis itu terasa tipis, dan apakah dirinya pernah meminta kepada Allah agar dirinya tetap berada di sisi yang benar?
- Di 93:11 ada perintah kepada orang yang diajak bicara agar mengisahkan nikmat Tuhannya, dan di 68:2 nikmat Tuhan disebut dalam kalimat tentang orang yang diajak bicara di sana. Dua ayat itu memakai kata engkau dan menyapa orang lain. Di 37:57 penutur menyebut nikmat Tuhannya dalam ucapan kepada seorang kawan, tanpa perintah yang dimuat di ayat itu. Dua keadaan itu tidak disamakan, karena 93:11 berupa perintah dan 37:57 berupa ucapan. Dapat dibaca bahwa penutur melakukan sendiri apa yang diminta di 93:11, yaitu mengisahkan nikmat Tuhan. Nikmat Tuhan apa yang pernah dikisahkan pembaca kepada orang yang tidak mengalaminya?
- Penutur menyebut nikmat Tuhannya di hadapan teman yang menurut 37:55 berada di neraka. Ucapan syukur di 37:57 diucapkan kepada orang yang tidak mendapat apa yang didapat penutur, dan ayat tidak mencatat sambutan dari teman itu. Dalam ucapan itu penutur menempatkan dirinya di sisi yang nyaris terbawa, dan nikmat Tuhan sebagai sebab dirinya tidak terbawa. Satu pembacaan dapat dicoba, yaitu bahwa syukur yang diucapkan di depan orang yang kehilangan hal itu membawa beban perasaan yang tidak ada dalam syukur yang diucapkan sendirian. Bagaimana pembaca menyebut nikmat Tuhannya di depan orang yang kehilangan hal serupa?
- Akar kata dihadirkan di 37:57 dipakai juga di 3:30, tempat kebaikan yang dikerjakan setiap jiwa disebut dihadirkan, dan ayat itu ditutup dengan pernyataan bahwa Allah penuh iba kepada hamba-hamba-Nya. Di 37:57 orang-orang disebut dihadirkan, dan di 3:30 kebaikan. Dua ayat itu berbicara tentang peristiwa yang berlainan, dan keduanya tidak menyebut tempat atau pelaku yang menghadirkan. Penutur di 37:57 membayangkan dirinya berada di antara yang dihadirkan, dan 3:30 membayangkan apa yang dihadirkan bersama setiap jiwa. Kebaikan apa yang akan dihadirkan bersama diri pembaca sendiri, dan apakah ia siap bila kebaikan itu disandingkan dengan nikmat Tuhan yang menyertainya?