أَفَمَا نَحْنُ بِمَيِّتِينَ

“Maka, apakah kita tidak akan mati,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. أَفَمَا نَحْنُ بِمَيِّتِينَa-fa-maa nahnu bi-mayyitiinamaka, apakah kita tidak akan mati

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. أَفَمَاa-fa-maamaka apakah tidak
  2. نَحْنُnahnukami
  3. بِمَيِّتِينَbi-mayyitiinaorang-orang yang mati

Inti bacaan

Bentuk (مَيِّتِينَ, mayyitiina) yang berarti "orang-orang yang mati" muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 37:58.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (أَفَمَا, a-fa-maa) yang berarti "maka apakah ... tidak". Kata ini tersusun dari (أَ, a), huruf tanya yang berarti "apakah", (فَ, fa) yang berarti "maka", dan (مَا, maa) yang berarti "tidak". Bentuk a-fa-maa hanya muncul di 37:58. Awalan fa menyambungkan pertanyaan ini dengan kalimat sebelumnya, dan di antara 37:57 dan 37:58 tidak ada kata kerja berkata, sehingga pembicaranya tidak dinyatakan. Terjemahan membuka tanda kutip baru, karena ucapan sebelumnya ditutup di ujung 37:57 dan sapaan "engkau" di sana berganti menjadi "kita" di sini.

Kata (نَحْنُ, nahnu) yang berarti "kita" dapat diterjemahkan "kami" atau "kita", sebab kata Arabnya tidak membedakan keduanya. Terjemahan memakai "kita" di 23:37 dan 44:35, dan "kami" di 6:29, 26:138, dan 34:35. Di 37:58 tidak dimuat siapa yang diajak bicara. Terjemahan memakai "kita" karena 37:50 menyebut para penghuni taman saling menghadap dan saling bertanya, sehingga pembicara dan pendengar terbaca sebagai satu kelompok.

Kata (بِمَيِّتِينَ, bi-mayyitiina) yang berarti "mati" tersusun dari awalan (بِ, bi-) dan (مَيِّتِينَ, mayyitiina) yang berarti "orang-orang yang mati". Susunan (مَا نَحْنُ بِ, maa nahnu bi-) muncul dua belas kali di sebelas surah, yaitu di 6:29, 11:53, 12:44, 23:37, 26:138, 34:35, 37:58, 37:59, 44:35, 45:32, 56:60, dan 70:41. Surah 37 memuatnya dua kali, dan itu sebabnya dua belas kemunculan tersebar di sebelas surah. Di semua tempat itu bi- menyusul maa nahnu dan ikut menegaskan penyangkalan, sehingga terjemahan tidak memberinya padanan sendiri. Di enam ayat kata sesudah bi- menyebut pihak yang dikenai perbuatan, yaitu (مَبْعُوثِينَ, mab'uutsiina) yang berarti "dibangkitkan" di 6:29 dan 23:37, (مُنْشَرِينَ, munsyariina) yang berarti "dibangkitkan" di 44:35, dan (مُعَذَّبِينَ, mu'adzdzabiina) yang berarti "diazab" di 26:138, 34:35, dan 37:59. Kata benda sesudah bi- di 37:58 adalah mayyitiina, dan bentuk persis itu hanya muncul di 37:58. Bentuk jamaknya, (مَيِّتُونَ, mayyituuna), muncul dua kali, yaitu di 23:15 dan 39:30. Di 23:15, (لَمَيِّتُونَ, la-mayyituuna) yang berarti "benar-benar akan mati", dan di 39:30, (وَإِنَّهُمْ مَيِّتُونَ, wa-innahum mayyituuna) yang berarti "dan sesungguhnya mereka pun akan mati", terjemahan memakai "akan mati". Terjemahan 37:58 mengikutinya dengan "tidak akan mati".

Akarnya م-و-ت sama dengan (مِتْنَا, mitnaa) yang berarti "kami telah mati" di 37:53, dalam (أَإِذَا مِتْنَا, a-idzaa mitnaa) yang berarti "apakah apabila kami telah mati". Dua ayat itu sama-sama dibuka dengan huruf tanya a, dan keduanya membicarakan kematian dengan memakai kata "kami" atau "kita". Terjemahan 37:58 tidak menambahkan kata "lagi" sesudah "mati", karena tidak ada kata Arab di ayat ini yang melahirkannya. Pembatasan kematian yang mana yang dimaksud baru datang di 37:59, dengan kata kecuali.

Tafsiran

Ayat ini membuka kutipan baru berupa satu pertanyaan tentang kematian, dan pertanyaan itu baru selesai di 37:59. Kutipan sebelumnya, ucapan kepada teman di 37:56 sampai 37:57, ditutup dengan kata nikmat Tuhan penutur. Kutipan ini memakai kata kita tanpa menyebut siapa yang diajak bicara, sedangkan kutipan sebelumnya memakai kata aku dan engkau untuk dua orang yang berhadapan. Pembicara kutipan ini tidak dinyatakan, karena tidak ada kata kerja berkata di depannya. Karena ayat-ayat ini berada dalam percakapan para penghuni taman sejak 37:50 dan tidak memuat tanda pergantian ke pihak lain, ucapan ini dibaca sebagai ucapan penghuni taman.

Pertanyaan ini menyerupai pertanyaan di 37:53 dalam dua hal. Keduanya dibuka dengan huruf tanya dan keduanya membicarakan mati. Di 37:53 teman itu bertanya, apabila kami telah mati dan menjadi tanah dan tulang-belulang, apakah kami akan dimintai pertanggungjawaban. Di 37:58 pertanyaannya apakah kita tidak akan mati, dan lanjutannya di 37:59 menyebut azab. Isi dua pertanyaan itu berbeda arah. Yang pertama menyangsikan apa yang menyusul sesudah mati, dan yang kedua menanyakan apakah selain kematian pertama masih ada kematian lain dan azab. Ayat ini tidak menjelaskan hubungan antara dua pertanyaan itu.

Urutan 37:56, 37:57, dan 37:58 menggeser pembicaraan dari bahaya yang hampir menimpa seorang kawan, ke nikmat Tuhan, lalu ke kematian. Ucapan tentang kematian datang sesudah ucapan tentang nikmat, dan bukan sebelumnya. Dapat dibaca bahwa pembicara membicarakan kematian dari tempat yang sudah aman, tetapi pembacaan ini bersifat kemungkinan karena ayat tidak menyebut perasaan siapa pun. Pertanyaan ini tidak dijawab dengan kutipan ucapan lain, dan 37:60 menyusul dengan penilaian dalam bentuk pernyataan.

Renungan dan Hikmah

  • Pertanyaan di 37:53 dan pertanyaan di 37:58 sama-sama dibuka dengan huruf tanya dan sama-sama membicarakan mati, tetapi yang pertama diucapkan oleh teman yang menyangsikan pertanggungjawaban, dan yang kedua oleh pembicara yang dibaca sebagai penghuni taman dan membayangkan dirinya tidak diazab. Di antara keduanya ada 37:56, tempat nama Allah disebut dalam sumpah. Bentuk pertanyaan yang sama dapat lahir dari keraguan dan dapat lahir dari kelegaan. Pembaca dapat memeriksa pertanyaannya sendiri tentang kematian, dari tempat mana pertanyaan itu diajukan, apakah dari tempat yang ragu atau dari tempat yang lega, dan apa yang membuat dirinya yakin berada di tempat yang kedua?
  • Ucapan di 37:57 memakai kata aku dan Tuhanku untuk satu orang yang bersyukur, dan ucapan di 37:58 memakai kata kita untuk sebuah kelompok yang bertanya. Dari nikmat pribadi, pembicaraan bergerak ke keadaan bersama. Ayat tidak mengatakan siapa yang diajak bicara dengan kata kita, dan terjemahan memakai kata itu karena percakapan sejak 37:50 berlangsung di antara orang-orang yang saling menghadap. Orang yang bersyukur atas nikmat Tuhannya dapat memperhatikan kapan syukurnya berhenti menjadi urusan dirinya sendiri dan mulai memuat orang-orang di sekitarnya. Siapa saja yang masuk dalam kata kita ketika pembaca menyebut nikmat yang diterimanya?
  • Di 23:15 orang-orang yang diajak bicara disebut benar-benar akan mati, dan di 39:30 orang yang diajak bicara dan orang-orang lain disebut akan mati. Dua ayat itu menyatakan kematian sebagai kenyataan yang berlaku bagi pihak yang disebut. Di 37:58 kalimat yang sama bentuknya diucapkan sebagai pertanyaan yang memakai penyangkal, dan 37:59 menambahkan pembatasan kematian pertama. Dua ayat itu berbicara tentang saat dan pembicara yang berlainan. Pembaca dapat menimbang bagaimana kenyataan itu dipegangnya, apakah sebagai pernyataan yang dibenarkan dengan kepala atau sebagai pertanyaan yang sungguh dirasakan? Apa yang berubah pada cara pembaca menjalani hari bila kenyataan itu diucapkan dengan kata kita?
  • Kerangka kalimat maa nahnu bi- dipakai di 26:138 dan 34:35 oleh orang-orang yang menolak peringatan untuk menyatakan bahwa mereka tidak akan diazab, dan di 6:29, 23:37, serta 44:35 untuk menyatakan bahwa mereka tidak akan dibangkitkan. Di 37:58 kerangka yang sama dipakai pembicara yang dibaca sebagai penghuni taman, sebagai pertanyaan. Di 34:36 jawaban atas ucapan di 34:35 menyebut Tuhanku yang melapangkan rezeki, dan tidak membahas azab. Bentuk kalimat itu tidak menentukan isinya, sebab penolak dan penghuni taman memakainya. Pembaca dapat bertanya, kalimat apa dalam ucapannya yang bunyinya sama dengan ucapan orang yang dianggapnya keliru, dan apa yang membedakan isi keduanya?
  • Pembicara di 37:58 sampai 37:59, yang dibaca sebagai penghuni taman, berbicara dalam bentuk pertanyaan. Pertanyaan itu datang sesudah 37:57, tempat penutur menyebut nikmat Tuhannya sebagai sebab dirinya selamat. Dapat dibaca bahwa orang yang menerima nikmat menyampaikan kelegaannya dengan nada bertanya, tetapi pembacaan ini bersifat kemungkinan karena ayat tidak menyebut perasaan siapa pun. Pembaca dapat bertanya, bila pembaca menerima kabar baik tentang dirinya, apakah kabar itu dinyatakan sebagai kepastian atau disambut sebagai pertanyaan yang takjub, dan bagaimana nikmat Tuhannya disebut sesudah itu?
  • Di 56:60 pembicara yang berkata Kami menyebut dirinya sebagai pihak yang telah menentukan kematian di antara kalian, dan memakai kerangka maa nahnu bi- untuk menyatakan bahwa dirinya tidak dapat didahului. Di 37:58 kerangka yang sama dipakai oleh orang-orang yang akan mengalami kematian itu. Kerangka yang sama muncul di mulut pihak yang menentukan dan di mulut pihak yang ditentukan. Dua ayat itu berbicara tentang peristiwa dan pembicara yang berlainan, dan tidak ada kata penghubung di antaranya. Orang yang membicarakan kematian dapat menyadari dari posisi mana kalimatnya diucapkan, dari posisi yang menentukan atau dari posisi yang ditentukan? Ketika pembaca membicarakan batas umurnya, siapa yang dianggapnya menentukan batas itu?