Ayat 37:62
أَذَٰلِكَ خَيْرٌ نُزُلًا أَمْ شَجَرَةُ الزَّقُّومِ
Apakah itu lebih baik sebagai jamuan, ataukah pohon zaqqum?
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- أَذَٰلِكَ خَيْرٌ نُزُلًاa-dzaalika khayrun nuzulanapakah itu lebih baik sebagai jamuan
- أَمْ شَجَرَةُ الزَّقُّومِam syajaratu z-zaqquumiataukah pohon zaqqum
Terjemahan per kata (6 kata)
- أَذَٰلِكَa-dzaalikaapakah itu
- خَيْرٌkhayrunlebih baik
- نُزُلًاnuzulanjamuan
- أَمْamataukah
- شَجَرَةُsyajaratupohon
- الزَّقُّومِz-zaqquumizaqqum
Inti bacaan
Susunan (أَذَٰلِكَ خَيْرٌ, a-dzaalika khayrun) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 25:15 dan 37:62.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (أَذَٰلِكَ, a-dzaalika) yang berarti "apakah itu", tersusun dari (أَ, a-) yang berarti "apakah", huruf tanya, dan (ذَٰلِكَ, dzaalika) yang berarti "itu". Kata tunjuk di sini berbeda dari dua ayat sebelumnya, karena 37:60 dan 37:61 memakai (هَٰذَا, haadzaa) yang berarti "ini", sehingga terjemahan berganti dari "ini" ke "itu". Alasan pergantian itu tidak dinyatakan ayat. Susunan (أَذَٰلِكَ خَيْرٌ, a-dzaalika khayrun) muncul dua kali, yaitu di 25:15 dan 37:62. Di 25:15 bunyinya (أَذَٰلِكَ خَيْرٌ أَمْ جَنَّةُ الْخُلْدِ, a-dzaalika khayrun am jannatu l-khuldi) yang berarti "apakah itu lebih baik, ataukah taman yang kekal". Kata "itu" di sana dapat dibaca menunjuk gambaran api dan (مَكَانًا ضَيِّقًا, makaanan dhayyiqan) yang berarti "tempat yang sempit" di 25:11 sampai 25:13. Urutannya berlawanan dengan 37:62: di 25:15 yang disebut lebih dulu api dan pembandingnya taman, sedangkan di 37:62 yang disebut lebih dulu taman di 37:41 sampai 37:49 dan pembandingnya pohon zaqqum.
Kata (خَيْرٌ, khayrun) yang berarti "lebih baik" berakar خ-ي-ر. Huruf (أَمْ, am) yang berarti "ataukah" menyodorkan dua pilihan, sehingga khayrun terbaca sebagai perbandingan dan terjemahan memakai "lebih baik", seperti di 25:15. Ayat ini tidak mencatat jawaban atas pertanyaannya.
Kata (نُزُلًا, nuzulan) yang berarti "sebagai jamuan" berakar ن-ز-ل. Kata nuzul muncul delapan kali di enam surah, yaitu di 3:198, 18:102, 18:107, 32:19, 37:62, 41:32, 56:56, dan 56:93, dengan surah 18 dan surah 56 masing-masing memuatnya dua kali. Empat kali kata itu menyebut taman atau pemberian: (نُزُلًا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ, nuzulan min 'indi llaahi) yang berarti "sebagai jamuan dari sisi Allah" di 3:198, (جَنَّاتُ الْفِرْدَوْسِ نُزُلًا, jannaatu l-firdawsi nuzulan) yang berarti "taman-taman Firdaus sebagai jamuan" di 18:107, nuzulan di 32:19, dan (نُزُلًا مِنْ غَفُورٍ رَحِيمٍ, nuzulan min ghafuurin rahiimin) yang berarti "sebagai jamuan dari yang pengampun lagi pengasih" di 41:32. Tiga kali kata itu menyebut hukuman: (جَهَنَّمَ لِلْكَافِرِينَ نُزُلًا, jahannama li-l-kaafiriina nuzulan) yang berarti "Jahanam bagi orang-orang kafir sebagai jamuan" di 18:102, (هَٰذَا نُزُلُهُمْ, haadzaa nuzuluhum) yang berarti "ini jamuan bagi mereka" di 56:56, dan (فَنُزُلٌ مِنْ حَمِيمٍ, fa-nuzulun min hamiimin) yang berarti "maka jamuan air mendidih" di 56:93. Ayat 37:62 memuat kemunculan kedelapan, dan kata itu dipakai dalam pertanyaan. Terjemahan memakai "jamuan" di kedelapan tempat itu. Ayat 56:52 sampai 56:55 menuturkan makan dari pohon zaqqum dan minum air mendidih, lalu 56:56 menyebut jamuan dengan kata tunjuk yang dapat dibaca menunjuk santapan itu, sehingga teks sendiri memakai kata ini untuk santapan zaqqum. Karena itu "jamuan" di 37:62 tidak membawa penilaian baik atau buruk.
Kata (شَجَرَةُ الزَّقُّومِ, syajaratu z-zaqquumi) yang berarti "pohon zaqqum" tersusun dari syajarah, "pohon", berakar ش-ج-ر, dan zaqqum, berakar ز-ق-م. Zaqqum disebut tiga kali di tiga surah, yaitu di 37:62, di 44:43 dalam (شَجَرَتَ الزَّقُّومِ, syajarata z-zaqquumi), dan di 56:52 dalam (مِنْ شَجَرٍ مِنْ زَقُّومٍ, min syajarin min zaqquumin). Terjemahan memindahkan bunyi zaqqum dan tidak mencari padanan Indonesia, sebab tidak ada ayat yang memberi padanan itu. Ayat 44:44 hanya memberi sifat, yaitu (طَعَامُ الْأَثِيمِ, tha'aamu l-atsiimi) yang berarti "makanan orang yang banyak berdosa". Di 37:62 pohon itu disebut dengan kata sandang, seakan sudah dikenal, dan rupanya baru dituturkan mulai 37:64.
Tafsiran
Ayat ini memindahkan rangkaian dari seruan ke pertanyaan, dan jamuan menjadi ukuran perbandingannya. Taman di 37:41 sampai 37:47 dituturkan lewat apa yang disajikan, yaitu rezeki yang ditentukan, buah-buahan, dan gelas dari mata air yang mengalir. Pohon zaqqum dituturkan sesudah ayat ini lewat apa yang dimakan di 37:66. Kedua sisi pertanyaan sama-sama berupa makanan, sehingga isi hidangan menjadi bahan timbangan dan letak atau bangunan taman tidak ikut ditimbang. Ayat 25:15 membandingkan api dengan taman yang kekal, lalu menyebut taman itu (كَانَتْ لَهُمْ جَزَاءً وَمَصِيرًا, kaanat lahum jazaa'an wa-mashiiran) yang berarti "menjadi balasan dan tempat kembali bagi mereka". Di 25:15 taman ditimbang sebagai balasan dan tempat kembali, dan di 37:62 sebagai jamuan.
Ayat 25:15 dibuka dengan (قُلْ, qul) yang berarti "katakanlah", sehingga pertanyaannya diperintahkan untuk diucapkan. Ayat 37:62 tidak memuat kata semacam itu, dan siapa yang bertanya maupun kepada siapa pertanyaan itu ditujukan tidak disebut. Jawabannya pun tidak dicatat, tetapi 37:63 sampai 37:66 memuat bahan untuk menjawab: tujuan pohon itu, asalnya, rupa mayangnya, dan bahwa penghuninya memakannya. Dengan begitu 37:62 berfungsi sebagai pintu, dan empat ayat sesudahnya mengisi sisi kedua yang di sini baru disebut namanya.
Ayat 56:52 sampai 56:56 memuat unsur yang sama dengan rangkaian ini, yaitu pohon zaqqum, perut yang penuh, air mendidih, dan sebutan jamuan. Bedanya, 56:56 menaruh sebutan jamuan di akhir, sedangkan 37:62 menaruhnya di awal sebagai ukuran perbandingan. Ayat 37:62 juga berdiri di antara 37:61, seruan kepada orang-orang yang beramal, dan 37:63, yang memuat kata Kami dan menyebut pohon itu cobaan. Pertanyaan ini dengan demikian diajukan sesudah seruan beramal dan sebelum pohon itu diberi nama fungsinya.
Renungan dan Hikmah
- Ayat ini membandingkan dua hal dengan satu ukuran, yaitu jamuan. Kata itu dipakai untuk taman di 3:198, yang menyebutnya jamuan dari sisi Allah, dan di 41:32, yang menyebutnya jamuan dari yang pengampun lagi pengasih, juga untuk santapan zaqqum di 56:56. Satu kata menaungi dua keadaan yang berlawanan, sehingga kata itu sendiri tidak menunjukkan apakah sebuah jamuan baik atau buruk. Isi dan asal jamuan yang menjelaskannya. Pembaca yang sedang memilih di antara dua jalan dapat menanyakan ukuran yang dipakainya: rasa pada hari ini atau apa yang tersaji pada akhirnya? Bila penyaji kedua jamuan itu ditanyakan, nama siapa yang akan disebutnya untuk masing-masing?
- Pertanyaan di 37:62 tidak diikuti jawaban, dan 37:63 sampai 37:66 memberi bahan untuk menjawab. Di 25:15 pertanyaan serupa disusul keterangan bahwa taman itu balasan dan tempat kembali, lalu 25:16 menyebut semua itu janji atas Tuhanmu yang diminta. Pertanyaan yang jawabannya dibiarkan kosong menaruh pembaca sebagai penjawab. Orang yang sedang menimbang sebuah pilihan dapat menuliskan jawabannya lebih dulu, lalu membaca rincian pihak kedua dan melihat apakah jawaban itu bertahan. Jawaban apa yang tertulis bila pertanyaan itu diajukan kepadanya hari ini?
- Ayat 3:198 dan 41:32 menyebut asal jamuan taman, yaitu dari sisi Allah dan dari yang pengampun lagi pengasih. Ayat 56:56 menyebut santapan zaqqum sebagai jamuan bagi mereka tanpa menyebut penyajinya. Tentang jamuan semacam itu pembaca dapat bertanya lebih dulu, dari siapa datangnya. Dua ayat tadi menaruh asal jamuan di depan, sebelum isinya. Bagaimana pembaca memperlakukan undangan dari pihak yang sifatnya dikenal dibanding pihak yang namanya tidak disebut, dan apakah sifat yang disebut di 41:32 mengubah rasa jamuan itu?
- Sisi pertama pertanyaan ini sudah dituturkan dengan rincian lewat 37:41 sampai 37:49, yaitu bagi hamba-hamba Allah yang dimurnikan, sedangkan sisi kedua baru disebut dengan satu nama, zaqqum, dan rinciannya menyusul. Pembaca menimbang perbandingan itu pada saat satu pihak punya wajah dan pihak lain baru punya nama. Orang yang pernah memilih di antara dua jalan dapat mengingat sisi mana yang rinciannya diketahui dan sisi mana yang hanya diketahui namanya. Seberapa jauh pilihannya dibuat sebelum rincian sisi kedua selesai dibaca?
- Di 25:15 api disebut lebih dulu dan taman disodorkan sebagai pembanding, sedangkan di 37:62 taman disebut lebih dulu dan pohon zaqqum menjadi pembandingnya. Urutan penyajian dua pilihan itu berlawanan, dan rumus pertanyaannya sama. Pembaca dapat membayangkan dua ayat itu bertukar tempat. Apakah jawabannya akan sama bila pohon zaqqum dituturkan lebih dulu dan taman datang sesudahnya, seperti urutan api dan taman di 25:15?
- Ayat 18:107 menyebut taman Firdaus sebagai jamuan bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan 32:19 menyebut taman sebagai jamuan atas apa yang dahulu mereka kerjakan. Ayat 37:61 menyeru orang-orang yang beramal, dan 37:62 langsung menanyakan jamuan, sehingga seruan beramal dan sebutan jamuan terletak berdampingan di surah ini, seperti di dua ayat tadi. Pembaca dapat mengamati apa yang ia bayangkan ketika bekerja, hasil kerjanya atau jamuan yang menyertainya. Bila pekerjaannya hari ini diletakkan di samping kata jamuan, pekerjaan mana yang terasa seperti benih jamuan itu dan mana yang tidak?
Ayat 37:63
إِنَّا جَعَلْنَاهَا فِتْنَةً لِلظَّالِمِينَ
Sesungguhnya Kami menjadikannya sebagai cobaan bagi orang-orang yang zalim.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- إِنَّا جَعَلْنَاهَا فِتْنَةًinnaa ja'alnaahaa fitnatansesungguhnya Kami menjadikannya sebagai cobaan
- لِلظَّالِمِينَli-zh-zhaalimiinabagi orang-orang yang zalim
Terjemahan per kata (4 kata)
- إِنَّاinnaasesungguhnya Kami
- جَعَلْنَاهَاja'alnaahaaKami menjadikannya
- فِتْنَةًfitnatanujian
- لِلظَّالِمِينَli-zh-zhaalimiinabagi orang-orang zalim
Inti bacaan
Susunan (فِتْنَةً لِلظَّالِمِينَ, fitnatan li-zh-zhaalimiina) muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 37:63.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (إِنَّا, innaa) yang berarti "sesungguhnya Kami". Kata (جَعَلْنَاهَا, ja'alnaahaa) yang berarti "Kami menjadikannya" tersusun dari kata kerja ja'ala yang berarti "menjadikan", berakar ج-ع-ل, akhiran -naa yang berarti "Kami", dan akhiran -haa yang berarti "-nya". Dalam morfologi, -haa bertanda perempuan tunggal, dan di 37:62 hanya syajarah, "pohon", yang bertanda perempuan, sehingga -haa terbaca menunjuk pohon zaqqum. Ayat 37:64 membenarkannya lewat (إِنَّهَا شَجَرَةٌ, innahaa syajaratun) yang berarti "sesungguhnya ia adalah pohon". Bentuk ja'alnaahaa muncul delapan kali di delapan surah, yaitu di 2:66, 10:24, 21:91, 22:36, 29:15, 37:63, 56:73, dan 67:5, dan di tiap tempat disebut kedudukan yang diberikan kepada benda itu. Di 22:36, (جَعَلْنَاهَا لَكُمْ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ, ja'alnaahaa lakum min sya'aa'iri llaahi) yang berarti "Kami jadikan ia untuk kalian sebagai bagian dari syiar Allah". Di 29:15, (وَجَعَلْنَاهَا آيَةً لِلْعَالَمِينَ, wa-ja'alnaahaa aayatan li-l-'aalamiina) yang berarti "dan Kami jadikannya tanda bagi seisi alam". Di 56:73, (جَعَلْنَاهَا تَذْكِرَةً, ja'alnaahaa tadzkiratan) yang berarti "Kami menjadikannya peringatan". Di 67:5, (وَجَعَلْنَاهَا رُجُومًا لِلشَّيَاطِينِ, wa-ja'alnaahaa rujuuman li-sy-syayaathiini) yang berarti "dan Kami jadikan ia pelempar bagi setan-setan". Di 37:63 pohon itu diberi kedudukan sebagai fitnah.
Kata (فِتْنَةً, fitnatan) yang berarti "cobaan" berakar ف-ت-ن. Bentuk persis ini muncul sepuluh kali di sepuluh surah, yaitu di 8:25, 10:85, 17:60, 21:35, 22:53, 25:20, 37:63, 54:27, 60:5, dan 74:31. Terjemahan 37:63 memakai "cobaan", seperti di 21:35, 22:53, 54:27, dan 74:31, dan tidak memakai "fitnah" yang dipakai di 8:25, 10:85, dan 60:5. Pasangan terdekatnya adalah 74:31, (وَمَا جَعَلْنَا عِدَّتَهُمْ إِلَّا فِتْنَةً لِلَّذِينَ كَفَرُوا, wa-maa ja'alnaa 'iddatahum illaa fitnatan li-lladziina kafaruu) yang berarti "dan Kami tidak menentukan bilangan mereka kecuali sebagai cobaan bagi orang-orang kafir", dengan susunan yang sama: Kami menjadikan sesuatu sebagai cobaan bagi satu golongan.
Kata (لِلظَّالِمِينَ, li-zh-zhaalimiina) yang berarti "bagi orang-orang yang zalim" tersusun dari li-, "bagi", kata sandang al-, dan zhaalimiina, bentuk pelaku dari akar ظ-ل-م. Bentuk persis ini muncul sebelas kali di sepuluh surah, yaitu di 2:270, 3:192, 5:72, 18:29, 18:50, 22:71, 25:37, 35:37, 37:63, 39:24, dan 40:18, dengan surah 18 memuatnya dua kali. Di 18:29, (إِنَّا أَعْتَدْنَا لِلظَّالِمِينَ نَارًا, innaa a'tadnaa li-zh-zhaalimiina naaran) yang berarti "sesungguhnya Kami sediakan bagi orang-orang zalim api", dan di 25:37 azab disediakan bagi mereka. Di 2:270, (وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ, wa-maa li-zh-zhaalimiina min anshaarin) yang berarti "dan tidak ada bagi orang-orang zalim seorang penolong pun". Susunan (فِتْنَةً لِلظَّالِمِينَ, fitnatan li-zh-zhaalimiina) muncul satu kali, yaitu di 37:63. Di 10:85 golongan yang sama disebut dengan bentuk lain, (لِلْقَوْمِ الظَّالِمِينَ, li-l-qawmi zh-zhaalimiina) yang berarti "bagi kaum yang zalim", dan di sana orang-orang yang bertawakal memohon agar mereka sendiri tidak dijadikan fitnah bagi golongan itu.
Tafsiran
Ayat ini memberi pohon zaqqum sebuah tujuan sebelum rupanya dituturkan. Ayat 37:62 hanya menyebut nama pohonnya, dan 37:64 sampai 37:66 baru memuat asal, rupa, dan cara pohon itu dimakan. Di antaranya 37:63 menyebut apa yang dijadikan Kami dari pohon itu. Urutan tujuan lebih dulu dan rincian kemudian ada juga di 74:31, tempat Kami menentukan bilangan para penjaga api sebagai cobaan, lalu ayat itu melanjutkan dengan maksud-maksudnya.
Di 74:31 salah satu maksud cobaan itu tampak pada ucapan pendengar, (مَاذَا أَرَادَ اللَّهُ بِهَٰذَا مَثَلًا, maadzaa araada llaahu bi-haadzaa matsalan) yang berarti "apakah yang dikehendaki Allah dengan ini sebagai suatu perumpamaan", yang diucapkan oleh orang yang di hatinya ada penyakit dan oleh orang-orang kafir. Ayat 37:63 tidak mencatat tanggapan siapa pun, dan kapan cobaan itu berlaku tidak dinyatakan. Pembaca hanya diberi tahu bahwa sasarannya golongan tertentu.
Golongan itu sudah muncul di 37:22, (احْشُرُوا الَّذِينَ ظَلَمُوا وَأَزْوَاجَهُمْ, ihsyuru lladziina zhalamuu wa-azwaajahum) yang berarti "kumpulkanlah orang-orang yang zalim beserta pasangan mereka", dan 37:23 menyebut apa yang dahulu mereka sembah selain Allah serta jalan menuju neraka yang menyala-nyala. Ayat 37:63 kembali kepada golongan itu dengan akar yang sama dan menaruh pohon zaqqum sebagai cobaan bagi mereka. Kata "mereka" di 37:66 karena itu dapat dibaca menunjuk golongan yang disebut di ayat ini.
Renungan dan Hikmah
- Ayat 37:63 menyebut penerima cobaan itu, yaitu orang-orang yang zalim, dan tidak menyatakan bahwa cobaan itu berlaku untuk semua orang. Di 74:31 penerimanya orang-orang kafir, dan ayat itu mencatat tanggapan mereka lewat pertanyaan tentang apa yang dikehendaki Allah dengan gambaran itu. Gambaran yang sama dapat menjadi peringatan bagi satu orang dan cobaan bagi orang lain. Sesudah mendengar tentang pohon di dasar neraka, tanggapan pertama yang muncul pada pembaca dapat diperiksa, apakah pertanyaan tentang maksudnya atau pertanyaan tentang siapa yang dimaksud?
- Ucapan di 74:31, apakah yang dikehendaki Allah dengan ini sebagai suatu perumpamaan, diucapkan oleh orang yang di hatinya ada penyakit dan oleh orang-orang kafir. Ayat itu menaruh pertanyaan tentang maksud di mulut mereka, dan ayat 37:63 tidak memuat tanggapan apa pun. Pertanyaan yang sama dapat diajukan dengan nada mencari dan dengan nada menolak, dan teks tidak memberi tanda nada pada kalimatnya. Pembaca dapat mengingat sebuah gambaran yang pernah didengarnya dan terasa mengganggu, lalu menimbang nada pertanyaan yang muncul. Apakah pertanyaan itu menunggu jawaban, atau sudah membawa jawabannya sendiri?
- Di 10:85 orang-orang yang bertawakal kepada Allah memohon kepada Tuhan mereka agar tidak dijadikan fitnah bagi kaum yang zalim, dan di 37:63 Kami menjadikan sebuah pohon sebagai cobaan bagi orang-orang yang zalim. Kata kerja menjadikan sama, dan pihak yang menjadikan disebut di kedua tempat, yaitu Tuhan di 10:85 dan Kami di 37:63. Pembaca yang sedang menjadi bahan penilaian orang lain dapat menimbang dalam hal apa dirinya menjadi cobaan bagi pihak yang zalim, dan kepada siapa permohonan seperti di 10:85 dialamatkan. Apakah permohonan itu pernah disebutkannya dengan kata Tuhan?
- Ayat ini menyebut tujuan tanpa menyebut cara kerjanya, karena tidak dikatakan apa yang diuji, bagaimana hasilnya diukur, atau kapan. Biasanya tujuan datang bersama caranya, tetapi di sini tujuan datang sendirian dan rincian pohonnya menyusul di 37:64 sampai 37:66. Orang yang pernah menerima sebuah ujian tanpa penjelasan dapat mengingat bagian mana yang paling berat, ujiannya atau ketidaktahuannya. Apakah kata cobaan di ayat ini membuat pembaca menyimak 37:64 dengan mata yang berbeda dari sebelumnya?
- Orang-orang yang zalim disebut di 37:22 bersama apa yang dahulu mereka sembah selain Allah, dan disebut lagi di 37:63 sebagai penerima cobaan. Dua sebutan itu berjarak puluhan ayat di surah yang sama, dan di keduanya mereka menjadi nama golongan yang menerima sesuatu, yaitu jalan di 37:23 dan cobaan di 37:63. Pembaca dapat menimbang cara memperlakukan nama golongan semacam itu, sebagai pihak lain yang jauh atau sebagai kemungkinan bagi dirinya sendiri. Bila nama itu dibacakan di depan cermin, bagian mana yang terasa jauh dan bagian mana yang terasa dekat?
- Kata kerja Kami jadikan menghasilkan syiar Allah di 22:36, tanda bagi seisi alam di 29:15, peringatan di 56:73, pelempar bagi setan-setan di 67:5, dan cobaan di 37:63. Benda yang dibicarakan di tiap ayat berbeda, jadi hasil-hasil itu tidak dapat dipertukarkan. Satu kata kerja menampung banyak kedudukan, dan kedudukan itu diberikan oleh yang menjadikannya. Pembaca dapat mendaftar benda di sekitarnya yang berkedudukan seperti tanda, peringatan, atau cobaan, lalu bertanya benda mana yang selama ini dikiranya sekadar benda. Apakah ada yang berkedudukan sebagai cobaan tanpa pernah dinamai begitu?
Ayat 37:64
إِنَّهَا شَجَرَةٌ تَخْرُجُ فِي أَصْلِ الْجَحِيمِ
Sesungguhnya ia adalah pohon yang tumbuh di dasar neraka yang menyala-nyala,
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- إِنَّهَا شَجَرَةٌ تَخْرُجُinnahaa syajaratun takhrujusesungguhnya ia adalah pohon yang tumbuh
- فِي أَصْلِ الْجَحِيمِfii ashli l-jahiimidi dasar neraka yang menyala-nyala
Terjemahan per kata (6 kata)
- إِنَّهَاinnahaasesungguhnya ia
- شَجَرَةٌsyajaratunpohon
- تَخْرُجُtakhrujukeluar
- فِيfiidi
- أَصْلِashlipangkal
- الْجَحِيمِl-jahiimineraka yang menyala-nyala
Inti bacaan
Susunan (فِي أَصْلِ, fii ashli) muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 37:64.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (إِنَّهَا, innahaa) yang berarti "sesungguhnya ia", dengan -haa yang menunjuk pohon zaqqum seperti di 37:63. Kata (شَجَرَةٌ, syajaratun) yang berarti "pohon" berakar ش-ج-ر dan tidak memakai kata sandang, berbeda dari 37:62 yang memuat (شَجَرَةُ الزَّقُّومِ, syajaratu z-zaqquumi) yang berarti "pohon zaqqum". Pohon itu sudah disebut namanya dan tujuannya, dan di sini pohon itu diperkenalkan lewat sifat-sifatnya, sehingga terjemahan memakai "adalah pohon" tanpa "itu".
Kata (تَخْرُجُ, takhruju) yang berarti "tumbuh" berakar خ-ر-ج dan berbentuk perempuan tunggal. Arti dasar akar ini adalah keluar, seperti di 54:7, (يَخْرُجُونَ مِنَ الْأَجْدَاثِ, yakhrujuuna mina l-ajdaatsi) yang berarti "mereka keluar dari kubur". Kata kerja yang sama dipakai untuk pohon di 23:20, (وَشَجَرَةً تَخْرُجُ مِنْ طُورِ سَيْنَاءَ, wa-syajaratan takhruju min thuuri saynaa'a) yang berarti "dan pohon yang tumbuh dari Bukit Sinai". Terjemahan memakai "tumbuh" di kedua tempat karena pohon keluar dari tempatnya sebagai tumbuhan. Kata depan di kedua ayat itu berbeda. Di 23:20 kata depannya min, yang berarti "dari", dan di 37:64 kata depannya (فِي, fii) yang berarti "di". Terjemahan memakai "di" untuk fii, seperti di 37:55, (فِي سَوَاءِ الْجَحِيمِ, fii sawaa'i l-jahiimi) yang berarti "di tengah-tengah neraka yang menyala-nyala", dan "dari" untuk min, seperti di 23:20.
Kata (أَصْلِ, ashli) yang berarti "dasar" berakar أ-ص-ل. Di 14:24 kata ini dipakai untuk pohon, (أَصْلُهَا ثَابِتٌ, ashluhaa tsaabitun) yang berarti "akarnya kokoh", dan terjemahan di sana memakai "akar". Di 37:64 kata yang sama dimiliki neraka dan tidak dimiliki pohon, yaitu (أَصْلِ الْجَحِيمِ, ashli l-jahiimi) yang berarti "dasar neraka yang menyala-nyala", sehingga terjemahan memakai "dasar", padanan bagian paling bawah sebuah tempat. Bentuk jamaknya, (أُصُولِهَا, ushuulihaa), ada di 59:5 dan menyebut pokok pohon yang dibiarkan tegak, tidak sebuah tempat.
Kata (الْجَحِيمِ, l-jahiimi) yang berarti "neraka yang menyala-nyala" muncul enam kali di surah ini, yaitu di 37:23, 37:55, 37:64, 37:68, 37:97, dan 37:163, dan terjemahan memakai padanan yang sama di keenamnya. Bagian-bagian neraka disebut dengan kata lokasi dua kali di surah ini. Ayat 37:55 menyebut tengah-tengahnya, yaitu (فِي سَوَاءِ الْجَحِيمِ, fii sawaa'i l-jahiimi), dan 37:64 menyebut dasarnya, yaitu (فِي أَصْلِ الْجَحِيمِ, fii ashli l-jahiimi). Pasangan (سَوَاءِ الْجَحِيمِ, sawaa'i l-jahiimi) muncul dua kali, yaitu di 37:55 dan 44:47, dan pasangan fii ashli muncul satu kali, di 37:64.
Tafsiran
Ayat ini memberi pohon zaqqum sebuah tempat. Ayat 37:62 menyebut namanya, 37:63 menyebut tujuannya, dan 37:64 menyebut tempat tumbuhnya, yaitu dasar neraka yang menyala-nyala. Dengan begitu pohon itu masuk ke tempat yang sudah dua kali disebut di surah ini: sebagai ujung jalan orang-orang yang zalim di 37:23 dan sebagai tempat teman penutur terlihat di 37:55. Ayat 37:55 menaruh teman itu di tengah-tengah neraka, dan 37:64 menaruh pohon di dasarnya. Jarak antara keduanya tidak disebut.
Ayat 37:68 menyebut tempat kembali mereka menuju neraka sesudah mereka makan dan minum di 37:66 dan 37:67. Sementara itu 37:64 menaruh pohonnya di dasar neraka. Bagaimana kedua letak itu selaras, apakah pohon itu di dalam neraka atau neraka menjadi tempat kembali sesudah jamuan, tidak dijelaskan ayat mana pun di rangkaian 37:62 sampai 37:68.
Ayat 14:24 menaruh pohon yang baik pada dua titik, akarnya kokoh dan cabangnya menjulang ke langit, sedangkan 37:64 menaruh pohon ini di dasar tempat azab. Kedua ayat berbeda jenisnya, karena 14:24 menuturkan perumpamaan tentang sebuah kalimat yang baik dan 37:64 memberi keterangan tentang pohon tertentu, sehingga keduanya tidak disamakan. Perbandingan itu memperlihatkan bahwa dua ayat memberi perhatian pada tempat tumbuh, satu di sisi atas dan satu di sisi bawah.
Renungan dan Hikmah
- Ayat 14:24 menyebut bahwa Allah membuat perumpamaan sebuah kalimat yang baik, seperti pohon yang baik, akarnya kokoh dan cabangnya menjulang ke langit, dan 14:25 menambahkan bahwa pohon itu memberi buahnya setiap waktu dengan izin Tuhannya. Pohon di 37:64 diberi tempat yang berlawanan, yaitu di dasar neraka. Kedua ayat berbeda jenisnya, sebab 14:24 perumpamaan dan 37:64 keterangan tentang sebuah pohon, jadi keduanya tidak dipadankan. Keduanya sama-sama menaruh perhatian pada tempat tumbuh. Pembaca dapat menanyakan tempat tumbuh apa yang selama ini diperhatikannya pada hal-hal yang diterimanya, seperti kata-kata, kebiasaan, dan penghasilan, dan ke arah mana akarnya menjalar?
- Ayat 37:23 menyebut orang-orang zalim dituntun ke jalan menuju neraka bersama apa yang dahulu mereka sembah selain Allah, dan 37:64 menaruh sebuah pohon di dasar tempat jalan itu berujung. Jalan dan ujungnya disebut di dua ayat yang berjauhan, sehingga pembaca perlu menyambungkannya sendiri. Dengan ayat 37:64, ujung jalan itu diberi satu benda yang dapat dibayangkan. Pembaca dapat bertanya jalan apa yang sedang dilaluinya sekarang, dan benda apa yang menunggu di ujungnya. Apakah ujung itu pernah disebutnya dengan nama bendanya, dan bukan dengan kata yang samar?
- Teman di 37:55 terlihat di tengah-tengah neraka, dan penutur menanggapinya di 37:56 dengan sumpah demi Allah dan di 37:57 dengan menyebut nikmat Tuhannya. Pohon di 37:64 berada di dasar. Jarak antara tengah dan dasar tidak disebut, dan tidak dikatakan apakah teman itu berada dekat pohon. Pembaca dapat membayangkan dirinya melihat orang yang dikenalnya dari tempat yang selamat. Kata apa yang pertama kali terucap, dan apakah kata itu menyebut nama Allah seperti di 37:56 dan 37:57, atau menyebut orangnya saja?
- Ayat 37:68 menyebut tempat kembali mereka menuju neraka sesudah makan dan minum, sedangkan 37:64 menaruh pohonnya di dasar neraka, dan teksnya tidak menjelaskan bagaimana dua letak itu selaras. Pembaca yang menemukan dua keterangan yang belum bertemu dapat memeriksa kebiasaannya sendiri, apakah penyelaras disusun agar keduanya cocok atau keduanya dibiarkan berdiri berdampingan. Dari dua kebiasaan itu, mana yang lebih sering dipakai ketika sebuah bacaan berhenti sebelum selesai dijelaskan?
- Kata kerja takhruju dipakai untuk pohon di 23:20, yang tumbuh dari Bukit Sinai dan memberi minyak bagi orang-orang yang makan, dan untuk pohon di 37:64, yang tumbuh di dasar neraka dan dimakan di 37:66. Dua pohon itu tumbuh dengan kata kerja yang sama dan keduanya dimakan, dengan tempat tumbuh yang berlainan. Ayat 5:88 menyebut makanan halal lagi baik sebagai apa yang Allah rezekikan. Pembaca dapat membandingkan makanan yang dikenalnya dengan asalnya: apakah asal makanan hari ini diketahui, dan dari tangan siapa rezeki itu sampai kepadanya?
- Dua hidangan yang dibandingkan di 37:62 sama-sama diberi alamat dengan kata depan yang sama, yaitu fii. Hidangan pertama berada di taman-taman kenikmatan bagi hamba-hamba Allah yang dimurnikan, menurut 37:40 sampai 37:43, dan hidangan kedua berada di dasar neraka menurut 37:64. Dua alamat itu diperlakukan sejajar oleh teks. Pembaca dapat menanyakan alamat apa yang tertulis untuk rezekinya sendiri, dan apakah alamat itu pernah ditimbangnya sebelum ia menerima hidangan dari tempat itu?
Ayat 37:65
طَلْعُهَا كَأَنَّهُ رُءُوسُ الشَّيَاطِينِ
mayangnya seperti kepala-kepala setan.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- طَلْعُهَا كَأَنَّهُthal'uhaa ka-annahumayangnya seperti
- رُءُوسُ الشَّيَاطِينِru'uusu sy-syayaathiinikepala-kepala setan
Terjemahan per kata (4 kata)
- طَلْعُهَاthal'uhaamayangnya
- كَأَنَّهُka-annahuseakan-akan ia
- رُءُوسُru'uusukepala
- الشَّيَاطِينِsy-syayaathiinisetan-setan
Inti bacaan
Bentuk (طَلْعُهَا, thal'uhaa) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 26:148 dan 37:65.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (طَلْعُهَا, thal'uhaa) yang berarti "mayangnya", tersusun dari thal' yang berarti "mayang", berakar ط-ل-ع, dan akhiran -haa yang berarti "-nya", menunjuk pohon zaqqum yang bertanda perempuan di 37:64. Kata thal' muncul empat kali di empat surah, yaitu di 6:99, 26:148, 37:65, dan 50:10. Tiga ayat lainnya menyebut pohon kurma: (وَمِنَ النَّخْلِ مِنْ طَلْعِهَا, wa-mina n-nakhli min thal'ihaa) yang berarti "dan dari pohon kurma, dari mayangnya" di 6:99, (طَلْعُهَا هَضِيمٌ, thal'uhaa hadhiimun) yang berarti "mayangnya lembut" di 26:148, dan (بَاسِقَاتٍ لَهَا طَلْعٌ نَضِيدٌ, baasiqaatin lahaa thal'un nadhiidun) yang berarti "yang tinggi, yang mayangnya bersusun-susun" di 50:10. Di 37:65 kata itu dipakai untuk pohon yang bukan kurma. Bentuk persis thal'uhaa muncul dua kali, yaitu di 26:148 dan 37:65, dan terjemahan memakai "mayang" di keempat ayat.
Kata (كَأَنَّهُ, ka-annahu) yang berarti "seperti" tersusun dari ka-anna, yang menyerupakan dua hal, dan akhiran -hu yang berarti "ia" untuk satu benda laki-laki. Dalam morfologi, thal' bertanda laki-laki dan syajarah bertanda perempuan, sehingga -hu terbaca menunjuk mayang dan tidak menunjuk pohonnya. Karena itu kepala setan disamakan dengan mayang pohon itu, dan tidak dengan pohonnya secara keseluruhan. Terjemahan ini memakai dua padanan untuk ka-anna. Di 54:7, (كَأَنَّهُمْ جَرَادٌ مُنْتَشِرٌ, ka-annahum jaraadun muntasyirun) yang berarti "seperti belalang yang beterbangan", padanannya "seperti", sedangkan di 37:49, (كَأَنَّهُنَّ بَيْضٌ مَكْنُونٌ, ka-annahunna baydhun maknuunun) yang berarti "seakan-akan mereka telur yang tersimpan", padanannya "seakan-akan". Di 37:65 dipakai "seperti", sama dengan 54:7.
Kata (رُءُوسُ, ru'uusu) yang berarti "kepala-kepala" berakar ر-أ-س dan berbentuk jamak. Kata ru'uusu muncul dua kali di dua surah, yaitu di 2:279 dan 37:65. Di 2:279, (فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ, fa-lakum ru'uusu amwaalikum) yang berarti "maka bagi kalian pokok harta kalian", terjemahan memakai "pokok" karena yang disebut harta. Di 37:65 yang disebut makhluk, sehingga terjemahan memakai "kepala-kepala". Susunan (رُءُوسُ الشَّيَاطِينِ, ru'uusu sy-syayaathiini) muncul satu kali, yaitu di 37:65.
Kata (الشَّيَاطِينِ, sy-syayaathiini) yang berarti "setan-setan" berakar ش-ط-ن dan berbentuk jamak. Bentuk persis ini tanpa awalan muncul empat kali di empat surah, yaitu di 17:27, 21:82, 23:97, dan 37:65. Di tiga ayat lain tidak ada keterangan tentang rupa atau kepala setan: (إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ, ikhwaana sy-syayaathiini) yang berarti "saudara-saudara setan" di 17:27, (وَمِنَ الشَّيَاطِينِ, wa-mina sy-syayaathiini) yang berarti "dan sebagian setan" di 21:82, dan (مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ, min hamazaati sy-syayaathiini) yang berarti "dari bisikan-bisikan setan" di 23:97. Terjemahan 37:65 karena itu menyampaikan "kepala-kepala setan" tanpa tambahan sifat atau bentuk.
Tafsiran
Ayat ini memberi pohon zaqqum sebuah rupa. Sesudah nama di 37:62, tujuan di 37:63, dan tempat di 37:64, ayat 37:65 menyebut mayangnya dan menyerupakannya dengan kepala-kepala setan. Dari seluruh pohon itu hanya mayangnya yang digambarkan, sedangkan batang dan daunnya tidak disebut.
Surah ini memakai ka-anna di dua tempat, yaitu 37:49 untuk taman dan 37:65 untuk neraka. Di 37:49 pembandingnya telur yang tersimpan, dan di 77:33, (كَأَنَّهُ جِمَالَتٌ صُفْرٌ, ka-annahu jimaalatun shufrun) yang berarti "seakan-akan iringan unta kuning", pembandingnya unta kuning. Kedua pembanding itu benda yang disebut dengan namanya. Di 37:65 pembandingnya kepala setan, dan rupa kepala itu tidak diterangkan di ayat ini maupun di tiga ayat lain yang memuat bentuk sy-syayaathiini tanpa awalan. Pembaca dengan begitu menerima gambaran yang satu sisinya sudah dikenal, yaitu mayang, dan sisi lainnya tidak memuat bentuk. Ayat ini juga tidak menyatakan dari segi apa kemiripan itu dimaksud, apakah bentuk, warna, atau kesan.
Rupa pohon disampaikan sebelum pohon itu dimakan. Ayat 37:66 baru menyebut bahwa mereka memakannya, sehingga ayat yang menceritakan makan datang kepada pembaca yang sudah mendengar rupa hidangannya. Urutan itu tidak ada pada taman, yang di 37:41 sampai 37:42 dituturkan lewat rezeki dan buah-buahan yang disebut dengan namanya saja.
Renungan dan Hikmah
- Pembanding di 37:65 adalah kepala setan, dan di tiga ayat lain yang memuat bentuk sy-syayaathiini tanpa awalan, yaitu 17:27, 21:82, dan 23:97, tidak ada penggambaran rupanya. Pembaca menerima perbandingan yang satu sisinya jelas, yaitu mayang, dan sisi lainnya tanpa bentuk. Orang yang pernah diberi tahu bahwa sesuatu digambarkan seperti hal yang belum pernah dilihatnya dapat mengingat bagaimana maksudnya tertangkap. Apa yang tersisa dalam benak pembaca dari kata kepala-kepala setan, bentuknya atau rasa takutnya?
- Di 6:99 kata mayang berada dalam ayat tentang Dia yang menurunkan air dari langit, dan menjadi salah satu tanda bagi kaum yang beriman. Di 50:10 mayang bersusun pada pohon kurma yang tinggi, dan 50:11 menyebut semua itu rezeki bagi hamba-hamba. Di 37:65 kata yang sama dipakai untuk pohon di dasar neraka. Kata yang di tempat lain menyertai rezeki dan tanda, di sini menyertai kepala setan. Pembaca dapat memperhatikan perasaan yang muncul ketika kata sehari-hari dipakai di tempat ini. Adakah kata lain yang akrab di telinga yang belum pernah dibayangkannya di tempat seperti ini?
- Di 23:97 dan 23:98 orang berseru kepada Tuhannya, memohon perlindungan dari bisikan-bisikan setan dan dari kehadiran mereka. Ayat 37:65 menyebut setan dari sisi lain, yaitu sebagai pembanding rupa sebuah mayang. Dua ayat itu menaruh kata yang sama di kalimat yang berbeda, satu berupa doa dan satu berupa gambaran. Pembaca dapat memeriksa ke mana pikirannya berjalan ketika kata setan muncul, ke gambaran atau ke doa. Apakah doa seperti di 23:97 terlintas lebih dulu, atau sesudah gambarannya selesai terbayang?
- Taman di 37:42 dituturkan lewat buah-buahan yang disebut dengan namanya, dengan penerimanya hamba-hamba Allah yang dimurnikan menurut 37:40, sedangkan pohon di 37:65 dituturkan lewat pembanding yang tidak memuat bentuk. Dua sisi pertanyaan di 37:62 itu tidak disajikan dengan cara yang sama. Sisi pertama dapat dibayangkan lewat benda yang dikenal, dan sisi kedua lewat pembanding yang rupanya tidak diterangkan. Pembaca yang menimbang dua pilihan dapat memeriksa apakah bahan yang diterimanya dari keduanya setara, dan ke mana bahan yang tidak setara itu mengarahkan penimbangannya?
- Rupa pohon disampaikan di 37:65, dan makan baru disebut di 37:66. Pembaca mendengar rupa hidangan lebih dulu, lalu mendengar bahwa hidangan itu dimakan. Urutan ini memberi pembaca waktu untuk memandang sebelum menelan. Orang yang akan menerima sebuah hidangan dapat memeriksa urutannya sendiri, apakah rupanya diperhatikan sebelum ditelan atau sesudahnya, dan apakah rasa ngeri pada rupa itu cukup untuk menahan tangan?
- Ayat 37:65 memakai kata seperti dan tidak menyatakan bahwa mayang itu kepala setan. Dari segi apa keduanya serupa tidak disebut, apakah bentuk, warna, atau kesan. Pembaca memegang kemiripan, dan identitas tidak diberikan. Orang yang mendengar sebuah perumpamaan memilih sendiri segi kemiripannya, dan pilihan itu memperlihatkan apa yang lebih dulu tertangkap pada sebuah gambaran. Segi mana yang dipilih pembaca untuk ayat ini, dan apakah segi itu berubah bila ayat 37:64 dibaca ulang lebih dulu?
Ayat 37:66
فَإِنَّهُمْ لَآكِلُونَ مِنْهَا فَمَالِئُونَ مِنْهَا الْبُطُونَ
Maka, sesungguhnya mereka benar-benar memakan sebagian darinya, lalu memenuhi perut dengannya.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- فَإِنَّهُمْ لَآكِلُونَ مِنْهَاfa-innahum la-aakiluuna minhaamaka, sesungguhnya mereka benar-benar memakan sebagian darinya
- فَمَالِئُونَ مِنْهَا الْبُطُونَfa-maali'uuna minhaa l-buthuunalalu memenuhi perut dengannya
Terjemahan per kata (6 kata)
- فَإِنَّهُمْfa-innahummaka sesungguhnya mereka
- لَآكِلُونَla-aakiluunabenar-benar akan memakan
- مِنْهَاminhaadarinya
- فَمَالِئُونَfa-maali'uunamaka mereka pemenuh
- مِنْهَاminhaadarinya
- الْبُطُونَl-buthuunaperut
Inti bacaan
Susunan (فَمَالِئُونَ مِنْهَا الْبُطُونَ, fa-maali'uuna minhaa l-buthuuna) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 37:66 dan 56:53.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (فَإِنَّهُمْ, fa-innahum) yang berarti "maka sesungguhnya mereka", tersusun dari (فَ, fa-) yang berarti "maka", (إِنَّ, inna) yang berarti "sesungguhnya", dan akhiran -hum yang berarti "mereka", bentuk jamak laki-laki. Di 37:62 sampai 37:65 sebutan orang yang berbentuk jamak laki-laki terdapat di 37:63 saja, yaitu (لِلظَّالِمِينَ, li-zh-zhaalimiina) yang berarti "bagi orang-orang yang zalim", sedangkan setan di 37:65 disebut sebagai pembanding mayang dan tidak disebut memakan apa pun. Karena itu -hum dibaca menunjuk orang-orang yang zalim. Terjemahan memakai "maka" dengan tanda koma, sesuai fa yang menyambung ayat ini dengan rupa pohon di ayat sebelumnya.
Kata (لَآكِلُونَ, la-aakiluuna) yang berarti "benar-benar memakan" tersusun dari huruf penegas la-, yang diterjemahkan "benar-benar", dan aakiluuna, sebutan pelaku jamak dari akar أ-ك-ل. Sebutan pelaku itu menamai mereka sebagai pemakan, dan tidak menyebut peristiwa makan pada saat tertentu. Susunan la-aakiluuna muncul dua kali di dua surah, yaitu di 37:66 dan 56:52, dan di 56:52 bunyinya (لَآكِلُونَ مِنْ شَجَرٍ مِنْ زَقُّومٍ, la-aakiluuna min syajarin min zaqquumin) yang berarti "pasti akan memakan pohon zaqqum". Kata (مِنْهَا, minhaa) yang berarti "sebagian darinya" tersusun dari min, "dari", dan -haa, "-nya", yang menunjuk pohon itu, dan terjemahan memakai "sebagian darinya" karena min menunjuk bagian dari pohon yang dimakan.
Kata (فَمَالِئُونَ, fa-maali'uuna) yang berarti "lalu memenuhi" tersusun dari (فَ, fa-) yang berarti "lalu" dan maali'uuna, sebutan pelaku jamak dari akar م-ل-أ. Fa di sini menandai urutan, yaitu memenuhi perut datang sesudah memakan. Kata (الْبُطُونَ, l-buthuuna) yang berarti "perut" berakar ب-ط-ن dan berbentuk jamak, dan terjemahan memakai "perut" tanpa penanda jamak, seperti di 56:53. Seluruh susunannya, (فَمَالِئُونَ مِنْهَا الْبُطُونَ, fa-maali'uuna minhaa l-buthuuna), muncul dua kali, yaitu di 37:66 dan 56:53. Di 44:45, (يَغْلِي فِي الْبُطُونِ, yaghlii fii l-buthuuni) yang berarti "mendidih di dalam perut", kata perut dipakai untuk akibat dari makanan yang sama, dengan akhiran yang berbeda karena kedudukannya dalam kalimat berbeda. Kata minhaa muncul dua kali dalam satu ayat ini, dan terjemahannya berbeda, yaitu yang pertama "sebagian darinya" karena menyebut bagian yang dimakan, dan yang kedua "dengannya" karena menyebut bahan yang mengisi perut, seperti di 56:53.
Ayat ini memakai "memenuhi" dan tidak memakai "mengenyangkan" atau "membuat puas". Di 88:7, (لَا يُسْمِنُ وَلَا يُغْنِي مِنْ جُوعٍ, laa yusminu wa-laa yughnii min juu'in) yang berarti "yang tidak menggemukkan dan tidak pula mencukupkan dari lapar", sebuah makanan dinyatakan tidak menghilangkan lapar. Pernyataan semacam itu tidak ada di 37:66, dan tidak ada kata Arab di ayat ini yang menyebut kenyang atau lapar. Terjemahan karena itu menyatakan perut yang dipenuhi dan berhenti di situ.
Tafsiran
Ayat ini mengubah pohon dari benda yang digambarkan menjadi benda yang dimakan, dan pokok kalimatnya berpindah dari pohon ke pemakannya. Ayat 37:62 sampai 37:65 berbicara tentang pohon lewat -haa dan thal'uhaa, sedangkan 37:66 dimulai dengan mereka. Dengan ayat ini sisi kedua pertanyaan di 37:62 selesai dituturkan sebagai hidangan, seperti sisi pertama yang di 37:41 sampai 37:47 dituturkan lewat apa yang disajikan.
Ayat 56:51 sampai 56:55 menuturkan urutan yang sama, yaitu makan dari pohon zaqqum, memenuhi perut, lalu minum air mendidih di atasnya, tetapi ditujukan kepada orang yang di 56:51 disebut (أَيُّهَا الضَّالُّونَ الْمُكَذِّبُونَ, ayyuhaa dh-dhaalluuna l-mukadzdzibuuna) yang berarti "wahai orang-orang yang sesat lagi mendustakan". Ayat 44:44 menyebut pemakan zaqqum (الْأَثِيمِ, l-atsiimi) yang berarti "orang yang banyak berdosa". Tiga ayat menyebut pemakan zaqqum dengan tiga sebutan, yaitu orang yang zalim di 37:63, yang sesat lagi mendustakan di 56:51, dan yang banyak berdosa di 44:44. Teks tidak menyamakan ketiganya.
Ayat 37:66 menyebut mereka memakan tanpa menyatakan apakah mereka memilih memakannya atau dipaksa. Akibat makanan itu pada tubuh juga tidak disebut di ayat ini, padahal di 44:45 disebut sebagai mendidih di dalam perut. Di taman, minuman disebut lengkap dengan akibatnya, yaitu (لَا فِيهَا غَوْلٌ, laa fiihaa ghawlun) yang berarti "tidak ada di dalamnya yang membahayakan" di 37:47. Dengan begitu 37:66 menyebut seberapa penuh perut itu, dan akibatnya disampaikan oleh ayat lain. Ayat 37:67 melanjutkan dengan minuman yang datang di atas makanan itu.
Renungan dan Hikmah
- Ayat 88:7 menyebut makanan yang tidak menggemukkan dan tidak mencukupkan dari lapar, dan ayat 37:66 hanya menyebut perut yang dipenuhi, tanpa menyebut kenyang atau lapar. Teks membiarkan penuh dan cukup terpisah di ayat ini. Pembaca dapat mengingat saat terakhir ketika perutnya penuh tetapi rasa cukup belum datang, entah pada makanan, pekerjaan, atau pencapaian. Apa yang masih dicari pada saat itu, dan apakah pencarian itu diarahkan ke tempat yang sama dengan tempat pengisian tadi?
- Di 2:174 orang yang menyembunyikan isi Kitab yang Allah berikan disebut tidak menelan ke dalam perut mereka kecuali api, dan di 4:10 orang yang memakan harta anak yatim secara zalim memakan api ke dalam perut mereka. Dua ayat itu berbicara tentang perbuatan yang berbeda, jadi tidak disamakan, tetapi keduanya menaruh akibat di perut, seperti 37:66 yang menaruh pohon di perut mereka. Pembaca dapat bertanya perbuatan mana yang akibatnya paling dulu dirasakan di dalam dirinya, dan apakah ada perbuatan hari ini yang akibatnya baru terbayang di tempat itu?
- Taman di 37:47 menyebut gelas yang tidak membahayakan, dan penerimanya hamba-hamba Allah yang dimurnikan menurut 37:40. Ayat 37:66 menyebut perut yang dipenuhi tanpa akibatnya, dan akibat itu disebut di 44:45 sebagai mendidih di dalam perut. Pembaca yang menerima sebuah hidangan dapat bertanya tentang rasanya dan juga tentang apa yang terjadi sesudah ditelan. Pertanyaan itu pernah diajukannya sebelum menerima, atau baru sesudah hidangan habis?
- Ayat 37:66 menyebut mereka pemakan dan pemenuh perut, dan tidak menyebut apakah mereka memilih memakannya atau dipaksa. Sebutan semacam itu menaruh orang pada apa yang dikerjakannya, dan alasannya tidak ikut tertulis. Pembaca dapat membayangkan dirinya disebut dengan satu kata yang mengikuti perbuatannya yang paling sering, misalnya pekerja atau penunda. Dalam kata itu alasan apa yang ikut hilang, dan alasan itu pantas dibawa atau cukup dilepas?
- Pemakan zaqqum disebut orang yang zalim di 37:63, orang yang sesat lagi mendustakan di 56:51, dan orang yang banyak berdosa di 44:44. Teks tidak menyamakan tiga sebutan itu, dan masing-masing memakai kata yang berbeda. Pembaca yang mendengar sebutan bagi orang bersalah dapat menimbang sebutan mana yang paling terasa dekat, dan apakah rasa dekat itu muncul pada sebutan yang paling ringan atau yang paling berat? Sebutan manakah yang pertama kali ingin dihindarinya?
- Ayat 37:66 tidak memuat satu pun ucapan dari mereka yang makan. Ayat 16:114 mengaitkan makan dengan syukur, sebab makanan yang halal lagi baik disebut apa yang diberikan Allah, disusul perintah menyukuri nikmat Allah, dan 56:70 menanyakan mengapa tidak bersyukur. Ayat 37:66 tidak menyatakan apakah ada syukur di meja itu, dan 37:67 melanjutkan tanpa ucapan apa pun. Pembaca dapat memperhatikan kata yang pertama kali keluar di mejanya sendiri, sebelum atau sesudah suapan. Kepada siapa kata itu ditujukan, kepada yang menyajikan atau kepada yang memberi rezeki?