فَإِنَّهُمْ لَآكِلُونَ مِنْهَا فَمَالِئُونَ مِنْهَا الْبُطُونَ

Maka, sesungguhnya mereka benar-benar memakan sebagian darinya, lalu memenuhi perut dengannya.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. فَإِنَّهُمْ لَآكِلُونَ مِنْهَاfa-innahum la-aakiluuna minhaamaka, sesungguhnya mereka benar-benar memakan sebagian darinya
  2. فَمَالِئُونَ مِنْهَا الْبُطُونَfa-maali'uuna minhaa l-buthuunalalu memenuhi perut dengannya

Terjemahan per kata (6 kata)

  1. فَإِنَّهُمْfa-innahummaka sesungguhnya mereka
  2. لَآكِلُونَla-aakiluunabenar-benar akan memakan
  3. مِنْهَاminhaadarinya
  4. فَمَالِئُونَfa-maali'uunamaka mereka pemenuh
  5. مِنْهَاminhaadarinya
  6. الْبُطُونَl-buthuunaperut

Inti bacaan

Susunan (فَمَالِئُونَ مِنْهَا الْبُطُونَ, fa-maali'uuna minhaa l-buthuuna) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 37:66 dan 56:53.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (فَإِنَّهُمْ, fa-innahum) yang berarti "maka sesungguhnya mereka", tersusun dari (فَ, fa-) yang berarti "maka", (إِنَّ, inna) yang berarti "sesungguhnya", dan akhiran -hum yang berarti "mereka", bentuk jamak laki-laki. Di 37:62 sampai 37:65 sebutan orang yang berbentuk jamak laki-laki terdapat di 37:63 saja, yaitu (لِلظَّالِمِينَ, li-zh-zhaalimiina) yang berarti "bagi orang-orang yang zalim", sedangkan setan di 37:65 disebut sebagai pembanding mayang dan tidak disebut memakan apa pun. Karena itu -hum dibaca menunjuk orang-orang yang zalim. Terjemahan memakai "maka" dengan tanda koma, sesuai fa yang menyambung ayat ini dengan rupa pohon di ayat sebelumnya.

Kata (لَآكِلُونَ, la-aakiluuna) yang berarti "benar-benar memakan" tersusun dari huruf penegas la-, yang diterjemahkan "benar-benar", dan aakiluuna, sebutan pelaku jamak dari akar أ-ك-ل. Sebutan pelaku itu menamai mereka sebagai pemakan, dan tidak menyebut peristiwa makan pada saat tertentu. Susunan la-aakiluuna muncul dua kali di dua surah, yaitu di 37:66 dan 56:52, dan di 56:52 bunyinya (لَآكِلُونَ مِنْ شَجَرٍ مِنْ زَقُّومٍ, la-aakiluuna min syajarin min zaqquumin) yang berarti "pasti akan memakan pohon zaqqum". Kata (مِنْهَا, minhaa) yang berarti "sebagian darinya" tersusun dari min, "dari", dan -haa, "-nya", yang menunjuk pohon itu, dan terjemahan memakai "sebagian darinya" karena min menunjuk bagian dari pohon yang dimakan.

Kata (فَمَالِئُونَ, fa-maali'uuna) yang berarti "lalu memenuhi" tersusun dari (فَ, fa-) yang berarti "lalu" dan maali'uuna, sebutan pelaku jamak dari akar م-ل-أ. Fa di sini menandai urutan, yaitu memenuhi perut datang sesudah memakan. Kata (الْبُطُونَ, l-buthuuna) yang berarti "perut" berakar ب-ط-ن dan berbentuk jamak, dan terjemahan memakai "perut" tanpa penanda jamak, seperti di 56:53. Seluruh susunannya, (فَمَالِئُونَ مِنْهَا الْبُطُونَ, fa-maali'uuna minhaa l-buthuuna), muncul dua kali, yaitu di 37:66 dan 56:53. Di 44:45, (يَغْلِي فِي الْبُطُونِ, yaghlii fii l-buthuuni) yang berarti "mendidih di dalam perut", kata perut dipakai untuk akibat dari makanan yang sama, dengan akhiran yang berbeda karena kedudukannya dalam kalimat berbeda. Kata minhaa muncul dua kali dalam satu ayat ini, dan terjemahannya berbeda, yaitu yang pertama "sebagian darinya" karena menyebut bagian yang dimakan, dan yang kedua "dengannya" karena menyebut bahan yang mengisi perut, seperti di 56:53.

Ayat ini memakai "memenuhi" dan tidak memakai "mengenyangkan" atau "membuat puas". Di 88:7, (لَا يُسْمِنُ وَلَا يُغْنِي مِنْ جُوعٍ, laa yusminu wa-laa yughnii min juu'in) yang berarti "yang tidak menggemukkan dan tidak pula mencukupkan dari lapar", sebuah makanan dinyatakan tidak menghilangkan lapar. Pernyataan semacam itu tidak ada di 37:66, dan tidak ada kata Arab di ayat ini yang menyebut kenyang atau lapar. Terjemahan karena itu menyatakan perut yang dipenuhi dan berhenti di situ.

Tafsiran

Ayat ini mengubah pohon dari benda yang digambarkan menjadi benda yang dimakan, dan pokok kalimatnya berpindah dari pohon ke pemakannya. Ayat 37:62 sampai 37:65 berbicara tentang pohon lewat -haa dan thal'uhaa, sedangkan 37:66 dimulai dengan mereka. Dengan ayat ini sisi kedua pertanyaan di 37:62 selesai dituturkan sebagai hidangan, seperti sisi pertama yang di 37:41 sampai 37:47 dituturkan lewat apa yang disajikan.

Ayat 56:51 sampai 56:55 menuturkan urutan yang sama, yaitu makan dari pohon zaqqum, memenuhi perut, lalu minum air mendidih di atasnya, tetapi ditujukan kepada orang yang di 56:51 disebut (أَيُّهَا الضَّالُّونَ الْمُكَذِّبُونَ, ayyuhaa dh-dhaalluuna l-mukadzdzibuuna) yang berarti "wahai orang-orang yang sesat lagi mendustakan". Ayat 44:44 menyebut pemakan zaqqum (الْأَثِيمِ, l-atsiimi) yang berarti "orang yang banyak berdosa". Tiga ayat menyebut pemakan zaqqum dengan tiga sebutan, yaitu orang yang zalim di 37:63, yang sesat lagi mendustakan di 56:51, dan yang banyak berdosa di 44:44. Teks tidak menyamakan ketiganya.

Ayat 37:66 menyebut mereka memakan tanpa menyatakan apakah mereka memilih memakannya atau dipaksa. Akibat makanan itu pada tubuh juga tidak disebut di ayat ini, padahal di 44:45 disebut sebagai mendidih di dalam perut. Di taman, minuman disebut lengkap dengan akibatnya, yaitu (لَا فِيهَا غَوْلٌ, laa fiihaa ghawlun) yang berarti "tidak ada di dalamnya yang membahayakan" di 37:47. Dengan begitu 37:66 menyebut seberapa penuh perut itu, dan akibatnya disampaikan oleh ayat lain. Ayat 37:67 melanjutkan dengan minuman yang datang di atas makanan itu.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat 88:7 menyebut makanan yang tidak menggemukkan dan tidak mencukupkan dari lapar, dan ayat 37:66 hanya menyebut perut yang dipenuhi, tanpa menyebut kenyang atau lapar. Teks membiarkan penuh dan cukup terpisah di ayat ini. Pembaca dapat mengingat saat terakhir ketika perutnya penuh tetapi rasa cukup belum datang, entah pada makanan, pekerjaan, atau pencapaian. Apa yang masih dicari pada saat itu, dan apakah pencarian itu diarahkan ke tempat yang sama dengan tempat pengisian tadi?
  • Di 2:174 orang yang menyembunyikan isi Kitab yang Allah berikan disebut tidak menelan ke dalam perut mereka kecuali api, dan di 4:10 orang yang memakan harta anak yatim secara zalim memakan api ke dalam perut mereka. Dua ayat itu berbicara tentang perbuatan yang berbeda, jadi tidak disamakan, tetapi keduanya menaruh akibat di perut, seperti 37:66 yang menaruh pohon di perut mereka. Pembaca dapat bertanya perbuatan mana yang akibatnya paling dulu dirasakan di dalam dirinya, dan apakah ada perbuatan hari ini yang akibatnya baru terbayang di tempat itu?
  • Taman di 37:47 menyebut gelas yang tidak membahayakan, dan penerimanya hamba-hamba Allah yang dimurnikan menurut 37:40. Ayat 37:66 menyebut perut yang dipenuhi tanpa akibatnya, dan akibat itu disebut di 44:45 sebagai mendidih di dalam perut. Pembaca yang menerima sebuah hidangan dapat bertanya tentang rasanya dan juga tentang apa yang terjadi sesudah ditelan. Pertanyaan itu pernah diajukannya sebelum menerima, atau baru sesudah hidangan habis?
  • Ayat 37:66 menyebut mereka pemakan dan pemenuh perut, dan tidak menyebut apakah mereka memilih memakannya atau dipaksa. Sebutan semacam itu menaruh orang pada apa yang dikerjakannya, dan alasannya tidak ikut tertulis. Pembaca dapat membayangkan dirinya disebut dengan satu kata yang mengikuti perbuatannya yang paling sering, misalnya pekerja atau penunda. Dalam kata itu alasan apa yang ikut hilang, dan alasan itu pantas dibawa atau cukup dilepas?
  • Pemakan zaqqum disebut orang yang zalim di 37:63, orang yang sesat lagi mendustakan di 56:51, dan orang yang banyak berdosa di 44:44. Teks tidak menyamakan tiga sebutan itu, dan masing-masing memakai kata yang berbeda. Pembaca yang mendengar sebutan bagi orang bersalah dapat menimbang sebutan mana yang paling terasa dekat, dan apakah rasa dekat itu muncul pada sebutan yang paling ringan atau yang paling berat? Sebutan manakah yang pertama kali ingin dihindarinya?
  • Ayat 37:66 tidak memuat satu pun ucapan dari mereka yang makan. Ayat 16:114 mengaitkan makan dengan syukur, sebab makanan yang halal lagi baik disebut apa yang diberikan Allah, disusul perintah menyukuri nikmat Allah, dan 56:70 menanyakan mengapa tidak bersyukur. Ayat 37:66 tidak menyatakan apakah ada syukur di meja itu, dan 37:67 melanjutkan tanpa ucapan apa pun. Pembaca dapat memperhatikan kata yang pertama kali keluar di mejanya sendiri, sebelum atau sesudah suapan. Kepada siapa kata itu ditujukan, kepada yang menyajikan atau kepada yang memberi rezeki?