ثُمَّ إِنَّ مَرْجِعَهُمْ لَإِلَى الْجَحِيمِ

Kemudian, sesungguhnya tempat kembali mereka pasti menuju neraka yang menyala-nyala.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. ثُمَّ إِنَّ مَرْجِعَهُمْtsumma inna marji'ahumkemudian, sesungguhnya tempat kembali mereka
  2. لَإِلَى الْجَحِيمِla-ilaa l-jahiimipasti menuju neraka yang menyala-nyala

Terjemahan per kata (5 kata)

  1. ثُمَّtsummakemudian
  2. إِنَّinnasesungguhnya
  3. مَرْجِعَهُمْmarji'ahumtempat kembali mereka
  4. لَإِلَىla-ilaabenar-benar kepada
  5. الْجَحِيمِl-jahiimineraka yang menyala-nyala

Inti bacaan

Bentuk (مَرْجِعَهُمْ, marji'ahum) muncul satu kali di Al-Qur'an, dengan akhiran -hum yang menunjuk pelaku jamak.

Penjelasan pilihan kata

Kata (مَرْجِعَهُمْ, marji'ahum) yang berarti "tempat kembali mereka" berakar ر-ج-ع dan memakai akhiran -hum yang berarti "mereka". Bentuk persis itu muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 37:68, sedangkan kata marji' dalam berbagai bentuk dipakai di enam belas ayat, yaitu 3:55, 5:48, 5:105, 6:60, 6:108, 6:164, 10:4, 10:23, 10:46, 10:70, 11:4, 29:8, 31:15, 31:23, 37:68, dan 39:7. Di lima belas ayat di antaranya tujuan kembali adalah Allah, yang disebut dengan kata Allah, -Nya, Aku, Kami, atau Tuhan, misalnya (إِلَيْهِ مَرْجِعُكُمْ, ilayhi marji'ukum) di 10:4 yang berarti "kepada-Nya tempat kembali kalian". Di kelima belas ayat itu kata penunjuk tujuan berdiri sebelum marji', sedangkan di 37:68 marji'ahum berdiri lebih dulu dan tujuannya menyusul di akhir ayat. Di antara enam belas ayat itu, 37:68 saja yang menyebut sebuah tempat sebagai tujuan kembali.

Kata (لَإِلَى, la-ilaa) yang berarti "pasti menuju" tersusun dari huruf (لَ, la) yang menegaskan kalimat dan (إِلَى, ilaa) yang berarti "menuju". Bentuk (لَإِلَى, la-ilaa) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 3:158 dan 37:68. Di 3:158 bunyinya (لَإِلَى اللَّهِ, la-ilaa llaahi) yang berarti "pastilah kepada Allah", dan di 37:68 bunyinya (لَإِلَى الْجَحِيمِ, la-ilaa l-jahiimi) yang berarti "pasti menuju neraka yang menyala-nyala". Dua ayat itu memulai tujuan dengan bunyi yang sama dan mengisinya dengan tujuan yang berbeda. Terjemahan memakai "pasti" untuk la di kedua ayat. Pembuka (ثُمَّ إِنَّ, tsumma inna) yang berarti "kemudian, sesungguhnya" sama dengan pembuka 37:67, dan dua ayat yang bersebelahan memakainya hanya di dua tempat, yaitu 23:15 dengan 23:16 dan 37:67 dengan 37:68.

Kata (الْجَحِيمِ, l-jahiimi) yang berarti "neraka yang menyala-nyala" berakar ج-ح-م. Bentuk persis itu muncul tujuh belas kali di sepuluh surah, yaitu di 2:119, 5:10, 5:86, 9:113, 22:51, 37:23, 37:55, 37:64, 37:68, 37:97, 37:163, 40:7, 44:47, 44:56, 52:18, 57:19, dan 83:16. Enam di antaranya ada di surah 37, yaitu 37:23, 37:55, 37:64, 37:68, 37:97, dan 37:163, dan terjemahan memakai "neraka yang menyala-nyala" di keenamnya. Di tiga ayat surah ini kata yang mendahului jahiim menyebut letaknya: (صِرَاطِ الْجَحِيمِ, shiraathi l-jahiimi) yang berarti "jalan ke neraka yang menyala-nyala" di 37:23, (سَوَاءِ الْجَحِيمِ, sawaa'i l-jahiimi) yang berarti "tengah-tengah neraka yang menyala-nyala" di 37:55, dan (أَصْلِ الْجَحِيمِ, ashli l-jahiimi) yang berarti "dasar neraka yang menyala-nyala" di 37:64. Di 37:68 kata ilaa mendahului jahiim, sehingga jahiim ditempatkan sebagai tujuan.

Dua ayat lain memakai kata yang berbeda untuk jahiim, yaitu (لَصَالُو الْجَحِيمِ, la-shaaluu l-jahiimi) di 83:16 yang berarti "benar-benar masuk ke neraka yang menyala-nyala" dan (صَالِ الْجَحِيمِ, shaali l-jahiimi) di 37:163 yang berarti "masuk ke neraka yang menyala-nyala". Kata masuk di sana menyebut gerak ke dalam, sedangkan marji'ahum di 37:68 menyebut tempat kembali. Keduanya menunjuk jahiim, dan ayat-ayat itu tidak menyebut apakah ada saat mereka berada di luar jahiim sebelum 37:68.

Tafsiran

Ayat ini menutup rangkaian makan di 37:66 dan campuran di 37:67 dengan menyebut ke mana mereka menuju, dan tujuan itu sudah tersebut di 37:64 sebagai tempat pohon itu tumbuh. Ayat 37:64 menaruh pohon di (أَصْلِ الْجَحِيمِ, ashli l-jahiimi) yang berarti "dasar neraka yang menyala-nyala", dan 37:68 menyebut jahiim sebagai tempat kembali sesudah makan dan campuran di atasnya. Ayat-ayat itu tidak menerangkan di mana mereka berada ketika makan, sehingga dua pembacaan tetap mungkin, yaitu tempat makan itu berada di dalam jahiim atau di luarnya, dan teks tidak memberi dasar untuk memilih salah satu.

Kalimat ini memakai bentuk yang di ayat lain dipakai untuk kembali kepada Allah. Lima belas ayat memasangkan marji' dengan Allah, dan 3:158 memakai bunyi la-ilaa untuk dihimpun kepada Allah. Di 37:68 bunyi yang sama diisi dengan jahiim. Ayat 37:68 sendiri tidak menghubungkan kedua tujuan itu, sehingga hubungannya tidak dapat disimpulkan dari ayat ini.

Sesudah 37:68 bentuk kalimat berganti. Ayat 37:69 dibuka dengan (إِنَّهُمْ, innahum) tanpa tsumma, dan isinya bergeser dari apa yang menimpa mereka ke apa yang mereka dapati pada nenek moyang mereka. Dengan demikian 37:68 menjadi ujung gambaran yang dimulai di 37:62, dan 37:69 membuka bagian yang menoleh ke belakang.

Renungan dan Hikmah

  • Di lima belas ayat lain kata tempat kembali dipasangkan dengan Allah, misalnya 5:48, kepada Allah tempat kembali kalian semua, dan 11:4, kepada Allah kembali kalian. Ayat 37:68 memasangkan kata yang sama dengan neraka yang menyala-nyala, dan tidak menghubungkan keduanya dalam kalimat yang sama. Pembaca dapat memperhatikan bahwa tempat kembali selalu disertai nama tujuannya, entah Allah entah neraka. Di lima belas ayat itu nama tujuan disebut lebih dulu, dan 37:68 menaruhnya di bagian paling akhir kalimat, sesudah semua kata lain selesai diucapkan. Bila hidup pembaca ditulis sebagai satu perjalanan pulang, nama apa yang disebut pembaca sebagai tujuannya, dan di bagian hidup yang mana nama itu mulai disebut?
  • Ayat 3:158 menyatakan, pastilah kepada Allah kalian dihimpun, dan 37:68 memakai penegas yang sama untuk tempat kembali yang lain. Dua ayat itu berbicara tentang hal yang tidak sama, yaitu dihimpun kepada Allah dan kembali ke neraka yang menyala-nyala, sehingga keduanya tidak disamakan. Pembaca yang terbiasa menjawab pertanyaan besar dengan kata mungkin dapat memperhatikan bahwa kedua ayat memakai kata pasti dan tidak memakai kata yang berarti mungkin. Pada hal apa saja pembaca berkata pasti, dan pada hal apa pembaca masih berkata mungkin?
  • Ayat 37:22 sampai 37:23 memerintahkan agar orang-orang yang zalim dikumpulkan beserta apa yang dahulu mereka sembah selain Allah, lalu ditunjukkan jalan ke neraka yang menyala-nyala. Jalan di 37:23 dan tempat kembali di 37:68 menyebut jahiim dari dua sisi, yang pertama sebagai jalan dan yang kedua sebagai tujuan. Kedua bagian itu memakai sebutan zalim, tetapi ayat-ayatnya tidak menyatakan bahwa kelompok di 37:22 dan kelompok di 37:63 adalah orang yang sama. Dari dua sisi itu pembaca dapat bertanya tentang jalan yang sedang dilaluinya dan ke mana jalan itu bermuara. Jalan mana yang kini dilalui pembaca, dan nama apa yang tertulis di ujungnya?
  • Ayat 37:64 menaruh pohon di dasar neraka yang menyala-nyala, dan 37:68 menyebut neraka yang sama sebagai tempat kembali, tanpa menerangkan bagaimana tempat makan dan tempat kembali berhubungan. Pembaca yang ingin segera menggambar peta dari dua ayat itu akan menemukan bahwa teks berhenti pada dua titik dan tidak menggambar garis di antaranya. Pilihan bagi pembaca ada dua, mengisi garis itu dengan dugaan atau membiarkannya kosong seperti ayat membiarkannya. Apa yang biasanya dilakukan pembaca terhadap pertanyaan yang tidak dijawab ayat, mengisinya atau membiarkannya terbuka?
  • Rangkaian 37:66 sampai 37:68 bergerak dari yang paling dekat dengan tubuh, yaitu perut yang dipenuhi, ke yang paling jauh, yaitu tempat kembali. Dua ujung itu disambung oleh campuran di atas makanan, dan ketiganya dipisahkan oleh kata kemudian tanpa angka waktu. Pembaca dapat memeriksa pada ujung mana perhatiannya lebih sering berhenti, apakah pada isi perut atau pada tempat kembali. Ayat 37:68 menaruh keduanya dalam satu urutan dan tidak menyebut berapa lama jedanya. Bagian mana dari urutan itu yang paling sering terisi dalam percakapan pembaca dengan dirinya sendiri?
  • Ayat 37:68 menyebut akibat, dan 37:69 sesudahnya menyebut apa yang mereka dapati pada nenek moyang mereka, tanpa kata karena. Urutan yang mendahulukan akibat memberi pembaca waktu berhadapan dengan tempat kembali sebelum mendengar keterangannya. Pembaca dapat mengamati bagaimana menerima kabar yang akibatnya datang lebih dulu daripada sebabnya, dan apakah sanggup menunggu satu ayat untuk mendengar keterangan itu. Ayat 37:69 tidak memuat kata karena, sehingga hubungannya dibaca dari urutan. Bagaimana pembaca biasanya bereaksi bila akibat diberitakan lebih dulu daripada sebabnya?