إِنَّهُمْ أَلْفَوْا آبَاءَهُمْ ضَالِّينَ

Sesungguhnya mereka mendapati nenek moyang mereka dalam keadaan sesat,

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. إِنَّهُمْ أَلْفَوْا آبَاءَهُمْinnahum alfaw aabaa'ahumsesungguhnya mereka mendapati nenek moyang mereka
  2. ضَالِّينَdhaalliinadalam keadaan sesat

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. إِنَّهُمْinnahumsesungguhnya mereka
  2. أَلْفَوْاalfawmereka mendapati
  3. آبَاءَهُمْaabaa'ahumbapak-bapak mereka
  4. ضَالِّينَdhaalliinaorang-orang yang sesat

Inti bacaan

Bentuk (أَلْفَوْا, alfaw) muncul satu kali di Al-Qur'an, dan akar ل-ف-و tercatat pada tiga ayat saja.

Penjelasan pilihan kata

Kata (إِنَّهُمْ, innahum) yang berarti "sesungguhnya mereka" tersusun dari (إِنَّ, inna) yang berarti "sesungguhnya" dan akhiran -hum yang berarti "mereka". Akhiran itu dapat dibaca menunjuk orang yang sama dengan 37:66 sampai 37:68, yaitu mereka yang disebut (لِلظَّالِمِينَ, li-zh-zhaalimiina) yang berarti "bagi orang-orang yang zalim" di 37:63, sebab di antara ayat-ayat itu tidak ada pelaku baru yang disebut.

Kata (أَلْفَوْا, alfaw) yang berarti "mereka mendapati" berakar ل-ف-و. Bentuk persis itu muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 37:69, dan akarnya dipakai di tiga ayat, yaitu 2:170, 12:25, dan 37:69. Di 2:170 bunyinya (مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا, maa alfaynaa 'alayhi aabaa'anaa) yang berarti "apa yang kami dapati padanya leluhur kami", dan di 12:25 (أَلْفَيَا, alfayaa) yang berarti "keduanya mendapati" bersambung dengan orang yang ditemui di depan pintu. Terjemahan memakai "mendapati" untuk akar ini di ketiga ayat. Untuk menemukan nenek moyang, Al-Qur'an juga memakai kata lain, (وَجَدْنَا آبَاءَنَا, wajadnaa aabaa'anaa) yang berarti "kami mendapati nenek moyang kami", dan susunan itu muncul empat kali, yaitu di 21:53, 26:74, 43:22, dan 43:23. Di 37:69 dan 2:170 benda yang didapati adalah nenek moyang, dan di 12:25 seorang tuan.

Kata (آبَاءَهُمْ, aabaa'ahum) yang berarti "nenek moyang mereka" memakai akhiran -hum yang berarti "mereka". Bentuk persis itu muncul enam kali di enam surah, yaitu di 21:44, 25:18, 33:5, 37:69, 43:29, dan 58:22. Kata per kata memakai "bapak-bapak mereka", dan terjemahan memakai "nenek moyang" karena kata ini dapat mencakup lebih dari satu generasi. Di 12:38 seorang pembicara menyebut tiga nama sebagai (آبَائِي, aabaa'ii) yang berarti "leluhurku", yaitu Ibrahim, Ishaq, dan Ya'qub, padahal seseorang hanya memiliki satu ayah langsung. Di 37:69 ayat tidak menyebut berapa generasi yang dimaksud.

Kata (ضَالِّينَ, dhaalliina) yang berarti "dalam keadaan sesat" berakar ض-ل-ل, dan bentuk persisnya muncul dua kali, yaitu di 23:106 dan 37:69. Di 23:106 bunyinya (وَكُنَّا قَوْمًا ضَالِّينَ, wa-kunnaa qawman dhaalliina) yang berarti "dan kami adalah kaum yang sesat", ucapan sekelompok orang tentang diri mereka sendiri. Di 37:69 kata itu menerangkan nenek moyang sesudah kata kerja mendapati. Karena itu terjemahan 23:106 memakai "kaum yang sesat", sebab kata itu menerangkan benda "kaum", dan terjemahan 37:69 memakai "dalam keadaan sesat", sebab kata itu menerangkan keadaan nenek moyang pada saat mereka didapati. Hal yang sama terlihat di 12:25, tempat kata sesudah objek menyebut letak, (لَدَى الْبَابِ, ladaa al-baabi) yang berarti "di depan pintu", sedangkan di 37:69 kata sesudah objek menyebut keadaan. Dua ayat sesudahnya, 37:71, memakai kata kerja lampau dari akar yang sama, (ضَلَّ, dhalla) yang berarti "telah sesat".

Tafsiran

Ayat ini menyusul gambaran makanan, campuran, dan tempat kembali dengan keterangan tentang apa yang mereka dapati, dan kalimatnya tidak memakai kata karena. Hubungannya dengan 37:62 sampai 37:68 karena itu terbaca dari urutan dan dari kata ganti -hum yang bersambung. Dua pembacaan dapat dicoba: ayat ini menerangkan latar bagi apa yang menimpa mereka, atau ayat ini membuka bagian baru tentang mereka yang tidak harus dibaca sebagai latar. Teks tidak memutuskan di antara keduanya.

Kata mendapati menunjuk apa yang sudah ada ketika mereka tiba, dan ayat tidak menyebut apakah mereka sendiri menyadari bahwa nenek moyang itu sesat. Kata sesat ditulis oleh penutur ayat dan tidak dikutip dari ucapan mereka.

Urutan di 37:69 sampai 37:70, mendapati nenek moyang lalu bergerak di atas jejak mereka, juga ada di 43:22 sampai 43:23, tempat para pembicara berkata (إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا, innaa wajadnaa aabaa'anaa) yang berarti "sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami", lalu menyebut jejak mereka. Perbedaannya, di surah 43 urutan itu diucapkan pelakunya sendiri, sedangkan di 37:69 sampai 37:70 urutan itu dituturkan sebagai keterangan tentang mereka.

Dengan 37:69 surah menoleh dari akhir yang digambarkan ke apa yang mendahuluinya, dan menoleh makin jauh ke belakang: nenek moyang di 37:69, jejak mereka di 37:70, orang-orang terdahulu di 37:71, dan para pemberi peringatan di 37:72.

Renungan dan Hikmah

  • Kata mendapati menunjuk sesuatu yang sudah ada ketika mereka sampai, dan ayat 37:69 tidak menyebut bahwa mereka memilih nenek moyang itu atau keadaannya. Pembaca dapat mendaftar hal-hal yang sudah ada ketika pembaca lahir, misalnya bahasa, kebiasaan makan, dan cara menyebut Tuhan, lalu melihat betapa panjang daftar yang tidak pernah dipilihnya. Daftar itu bukan sesuatu yang buruk dengan sendirinya, dan ayat ini tidak menyatakan bahwa semua warisan serupa dengan yang disebutnya. Ayat ini hanya menunjukkan bahwa warisan datang lebih dulu daripada penimbangan. Dari semua yang didapati sejak lahir, mana yang pernah ditimbang sendiri oleh pembaca?
  • Di 7:70 sekelompok orang bertanya kepada pembawa seruan, Apakah engkau datang kepada kami agar kami menyembah Allah semata dan meninggalkan apa yang dahulu disembah bapak-bapak kami? Pertanyaan itu menaruh warisan di depan pilihan, dan 37:69 menyebut hal yang sebanding, yaitu nenek moyang yang didapati. Dua ayat itu memuat kejadian yang berbeda, sehingga 7:70 dipakai sebagai bahan perbandingan saja. Pembaca dapat membedakan dua macam pegangan dalam hidupnya, yang dipegang sesudah diperiksa dan yang dipegang karena sudah ada ketika pembaca tiba. Mana dari keduanya yang lebih banyak mengisi cara pembaca menyembah Allah?
  • Di 23:106 sekelompok orang berkata, Tuhan kami, kemalangan kami telah menguasai kami, dan kami adalah kaum yang sesat. Kata sesat yang sama dipakai 37:69 untuk nenek moyang, dan arahnya berbeda: di 23:106 kata itu diucapkan tentang diri sendiri kepada Tuhan, di 37:69 kata itu dituturkan tentang pihak lain. Dua ayat itu tidak saling menjelaskan, dan keduanya hanya memperlihatkan dua cara memakai kata yang sama, menunjuk orang lain dan mengakui diri. Pembaca dapat memeriksa ke arah mana kata itu lebih sering diucapkannya. Kepada siapa pembaca mengucapkan kata sesat, kepada orang lain atau kepada Tuhannya sendiri?
  • Di 37:126 nenek moyang disebut lagi dalam surah yang sama, kali ini sebagai pihak yang mempunyai Tuhan: Allah, Tuhan kalian dan Tuhan nenek moyang kalian yang terdahulu. Ayat itu berupa pertanyaan kepada suatu kaum, dan nenek moyang di dalamnya tidak dinyatakan sama dengan yang di 37:69, sehingga keduanya tidak disamakan. Pembaca dapat mencatat bahwa surah ini memakai kata nenek moyang dengan dua muatan, yang didapati sesat dan yang mempunyai Tuhan yang sama dengan kaum itu. Dua muatan itu membuat kata nenek moyang tidak bisa dijawab dengan satu penilaian saja. Apa yang berubah pada cara memandang nenek moyang bila 37:126 dibaca di samping 37:69?
  • Di 12:6 Tuhanmu disebut menyempurnakan nikmat-Nya kepadamu dan kepada keluarga Ya'qub, sebagaimana Dia menyempurnakannya kepada kedua leluhurmu sebelum ini, Ibrahim dan Ishaq. Leluhur di sana tampil sebagai penerima nikmat, sedangkan di 37:69 nenek moyang tampil sebagai pihak yang didapati sesat. Dua ayat itu menyebut leluhur yang berbeda, dan keduanya hanya ditaruh berdampingan untuk memperlihatkan bahwa kata leluhur memuat banyak kemungkinan. Pembaca dapat mengamati bahwa penilaian atas leluhur tidak bisa diwariskan bersama nama mereka, sebab dua ayat itu menyebut keadaan leluhur yang berlainan. Siapa dari leluhur pembaca yang pertama kali akan disebut bila mereka ditimbang satu per satu?
  • Di 43:22 para pembicara berkata bahwa mereka mendapati nenek moyang mereka menganut suatu umat dan bahwa mereka sendiri mendapat petunjuk atas jejak-jejak nenek moyang itu. Di 37:69 penutur ayat menyebut nenek moyang yang didapati itu dalam keadaan sesat. Dua ayat itu menyangkut jalan yang sama dari dua sudut, penilaian dari dalam dan penilaian dari luar, dan 37:69 tidak mencatat ucapan mereka sendiri. Pembaca dapat membandingkan sebutan yang dipakainya untuk jalannya dengan sebutan yang mungkin dipakai orang yang melihat dari luar. Bagaimana pembaca mengetahui bahwa sebutannya untuk jalan sendiri sama dengan penilaian dari luar?